Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 35 Gejala Trauma


__ADS_3

Rutinitasku sejak menjadi anak angkat Pakne dan Bune sangat kunikmati. Aku senang bisa membantu mereka. Sempat terpikir olehku jika musibah itu tak terjadi, mungkin aku akan menjadi anak kost-kost-an biasa di rumah kost ini.


Para penghuni kost sudah kembali menempati kamarnya masing-masing. Rata-rata penghuninya keturunan etnis Cina, mungkin karena rumah kost ini dekat dengan UK Petra. Pun penghuninya rata-rata adalah mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan di universitas tersebut.


Seperti yang telah disepakati bersama, aku memperkenalkan diriku sebagai keponakan Pakne jika ada yang bertanya. Jika tidak ditanya, aku hanya akan mengenalkan diriku sebagai Wulan mahasiswi jurusan Akuntansi Bisnis di Petra.


Tak terasa perkuliahan sudah berjalan dua bulan, dan kandunganku kini sudah 19 minggu. Belum ada perubahan berarti yang terlihat, perutku hanya nampak sedikit menggembung dan berat badanku tidaklah naik terlalu signifikan, bertambah hanya 4 kg saja.


Aku cukup terkenal di kalangan jurusanku, karena aku masuk dalam golongan minoritas. Aku juga satu-satunya mahasiswi beasiswa di jurusan Akuntansi Bisnis. Maksudku minoritas adalah bahwa aku salah satu dari sedikit mahasiswa-mahasiswi yang tidak memiliki kulit putih dan bermata sipit. Di jurusanku sendiri hanya ada sepuluh orang yang non Chinesse, sisanya 68 orang adalah keturunan Chinesse. Ada yang orang Batak, beberapa orang Jawa, orang Bugis, dan juga orang Sumba.


David, seorang pria keturunan Cina yang kutemui saat pendaftaran ulang beberapa waktu lalu, terang-terangan menunjukkan niatnya mendekatiku. Sebenarnya David pria yang baik, humoris, dan tampan tentu saja. Kulit putih, mata sipit, tinggi, dan atletis. Tapi aku tidak bisa. Ketika ada seorang pria mendekatiku, terutama sampai melakukan kontak fisik seperti memegang tangan atau sekedar memegang bahuku, jantungku akan berdebar kencang disertai keringat mengucur deras dari seluruh pori-pori kulitku.


Seperti yang terjadi pada suatu sesi setelah mata kuliah piutang selesai. Dari belakang David memegang bahuku dan berkata, "Eh, Lan. Kamu tahu ga bahwa perasaanku ke kamu itu ibaratnya seperti utang?"


Aku terlonjak, jantungku berdebar kencang dan keringat mulai membanjir. Dengan tergagap aku membalas ucapan David, "Ah, eh kok bisa Vid? Mesti dicicil gitu?" Aku sudah tak menggunakan 'Ko' karena aku tahu bahwa kami seumuran. Keringat mulai muncul di dahi, leher, atas bibirku, dan juga area tubuhku yang lain. Telapak tanganku sudah basah. Aku mencoba menutupinya dengan menyeka keringat di area yang terlihat oleh pandangan dengan tissue.


"Bukan. Perasaanku ke kamu itu ibarat utang, Lan. Didiemin, lama-lama jadi banyak" tukas David sambil nyengir.


Diva, salah satu dari mahasiswi minoritas sepertiku, berasal dari Surabaya asli, terbahak mendengar ucapan David.


"Hahaha gombal aja kerjaanmu sama Wulan, Vid" kata Diva, teman yang akhir-akhir ini dekat denganku. Selalu duduk disampingku di setiap mata kuliah.


"Namanya juga usaha, Va. Aku udah naksir doi sejak ketemu pas daftar ulang", jelas David.


Aku tertawa sumbang mendengar pengakuan David. Diva hanya mengacungkan tangannya yang terkepal dan mengucap "Fighting!"


"Va, Vid, aku duluan ya. Udah hampir waktunya makan siang. Warung bakso Pakne pasti ramai sebentar lagi" ujarku berpamitan, selain merasa canggung karena pengakuan David aku juga tak mau dua orang temanku melihat leher dan tanganku yang sudah basah padahal di dalam ruangan kelas ber-AC.

__ADS_1


"Nanti aku main, ya, Lan?" seru David padaku yang memilih segera berlalu.


"Ga janji, takut repot bantuin Pakne dan Bune" ucapku menghindar.


Dalam perjalanan menuju parkiran aku merenung, sejak kapan kondisi ini terjadi padaku. Hari ini aku menggunakan kemeja biru langit dengan lengan ¾ dan celana denim abu-abu, dipadukan dengan sepatu kets warna biru gelap. Kaos dalam yang kukenakan di balik kemejaku sudah basah kuyup. Telapak tanganku masih saja basah, titik-titik keringat masih bermunculan di leherku, dan pergelangan tanganku juga basah.


Waktu menunjukkan jam sebelas lewat saat aku sampai di depan motorku. Aku bergegas menuju rumah untuk berganti pakaian, merasa risih karena kaos dalamku yang basah. Aku tak lagi menyebutnya rumah kost. Pakne beberapa kali menyatakan bahwa rumah tersebut juga adalah rumahku karena aku adalah anak Pakne.


Saat aku menyeberang jalan warung sudah tampak ramai, semua meja terisi penuh. Bune tampak sibuk mengiris lontong, sementara Pakne menyiapkan beberapa porsi bakso. Aku berinisiatif membuat beberapa gelas teh tanpa es, sehingga ketika ada yang memesan es teh tinggal memasukkan es batu saja.


Aku yang kelaparan menyomot beberapa butir bakso menggunakan garpu. Bune tersenyum geli akan tingkahku.


"Tadi ga makan siang dulu, Nduk?" tanya Bune.


"Saya lihat warung sudah ramai, Bune. Diganjel dulu pakai bakso bisa kok", jawabku.


"Warung masih lumayan ramai nih, Vid. Sorry ga bisa nemenin" ucapku dengan penyelasalan yang kubuat-buat.


"Aku kesini mau makan bakso kok. Geer kamu", tukas David dengan nada geli.


Aku tersenyum menanggapi gurauannya. Menampakkan lesung pipi yang kata banyak orang adalah pesonaku.


"Mau pesan apa?” tanyaku.


"Duh, lesung pipimu bikin aku langsung kenyang. Pesan kamu aja boleh?" tukas David dengan senyum yang membuat matanya tampak tinggal segaris.


"Kalau mau ngegombal aku tinggal, nih!" ujarku.

__ADS_1


"Hehehe. Iya iya. Pesan bakso aja ya, pake nasi ada? Tadi aku ga makan siang pas di Cito, bosan. Anak-anak ngajakin makan pizza, aku ga selera" jelasnya padaku. Cito atau City Of Tomorrow adalah salah satu pusat perbelanjaan di pinggiran kota Surabaya. Mall paling dekat dengan kampusku.


"Minumnya apa?” tanyaku lagi.


"Es jeruk aja"


"Tunggu bentar ya, Vid"


Aku lalu berlalu mengabarkan pesanan David pada Pakne, lalu beranjak membuatkan es jeruk.


Saat tengah membuat es jeruk, Bune bergumam disebelahku.


"Dia sering main kesini ya, Nduk? Suka kamu sepertinya"


"Tapi Wulan ga bisa, Bune. Nanti kalau dia melihat perut saya yang membesar pasti bakalan mundur teratur" ujarku berbisik. Tak ada nada sedih dalam perkataanku karena aku sangat menyadari hal itu. Pria mana yang mau berhubungan dekat dengan seorang wanita yang sedang hamil.


Bune menepuk tanganku dengan senyum sedih.


Aku mengantarkan pesanan David ke tempatnya. Saat aku meletakkan semangkuk bakso di depannya, David memegang tanganku. Seketika jantungku berdebar dan keringat bercucuran. Aku nyaris menyentakkan tanganku, tapi aku segera tersadar agar tak melakukan itu karena bisa membuatnya tersinggung.


"Nanti kalau warung udah agak sepi aku bisa ngobrol ga, Lan? Aku ada mau ngomong serius sama kamu" tanya David yang tangannya masih di atas tanganku.


Aku melepaskan tanganku perlahan darinya.


"Ehm, kita lihat nanti ya Vid. Aku ga bisa janji. Aku balik bantu jualan dulu ya" ujarku.


Aku segera berlalu meninggalkan David. Jantungku masih berdebar tak karuan. Aku segera mencari tissue dan menyeka keringat ditempat-tempat yang terlihat oleh pandangan. Aku tak bisa terus menghindar. Sepertinya aku harus menegaskan sesuatu pada David.

__ADS_1


Apa yang hendak dibicarakan oleh David pada Wulan? Bisakah David menerima kenyataan saat mengetahui kondisi Wulan yang tengah hamil? Wulan yakin, David pasti akan memilih mundur saat mengetahui bahwa dirinya hamil.


__ADS_2