
Enam bulan sudah sejak aku resmi 'jadian' dengan Mas Adit. Hubungan kami bisa dikatakan 'lancar'. Acara kencan kami lebih banyak dilakukan di rumahku. Makan bersama di rumah, nonton bersama di rumah, Mas Adit menemani Langit belajar atau Mabar.
Sesi 'latihan' dengan Mas Adit masih terus kami jalani. Hasilnya masih nihil. Jika Mas Adit mulai sedikit berani, nafasku akan menjadi tercekat dan aku benar-benar seperti layaknya orang yang terserang asma. Jika sudah demikian, kami berdua akan berakhir dengan saling minta maaf.
Pengerjaan proyek sudah bisa dikatakan selesai. Hari ini akan menjadi hari terakhir bagi para pekerja proyek menyelesaikan pembangunan pabrik. Dan hari ini pula, akan diadakan sidang putusan untuk kasusku.
Angga berhasil dibekuk di Surabaya, di apartemen kekasihnya. Saat digelandang oleh polisi Angga pasrah dan tak melakukan perlawanan sedikitpun. Begitu ditanya oleh petugas Angga bersaksi dengan mengakui semua perbuatan bejat mereka.
Deni tak dapat menyangkal lagi, karena semua bukti dan kesaksian menyebutkan hal yang terjadi sebelas tahun lalu adalah benar adanya. Lisa dan Tama membeberkan segalanya, sebagai bentuk rasa terima kasih mereka padaku dan Mas Adit.
Setelah menjalani serangkaian tes, antara lain tes computed tomography, tes Doppler ultrasound, tes ekokardiogram, serta pengecekan riwayat kesehatan, Mas Aditlah yang dinyatakan sesuai untuk mendonorkan hatinya pada Tama. Karena operasi transplantasi liver adalah termasuk operasi besar, Mas Adit juga sudah meminta restu dari kedua orang tuanya.
Orang tua Mas Adit sebenarnya tidak begitu setuju karena efek samping pasca donor hati, entah dengan cara apa Mas Adit meyakinkan mereka. Tapi saat D-Day orang tua Mas Adit datang mendampingi, dan juga menjadi ajang bagi Mas Adit untuk memperkenalkanku.
Dan tanpa diduga, orang tua Mas Adit begitu welcome terhadapku dan Langit. Mereka juga bilang, tak sabar agar aku segera masuk menjadi bagian keluarga mereka. Dan syukurlah apa yang dikhawatirkan oleh orang tua Mas Adit, mengenai efek samping pasca operasi, tidak terjadi sama sekali.
Justru Tama yang sempat mengalami reaksi penolakan pasca operasi transplantasi. Sistem imunnya membaca bahwa hati baru adalah benda asing yang harus dilawan. Penggunaan obat-obatan imunosuspresan membuat imun Tama melemah dan sulit mengatasi infeksi yang terjadi pasca operasi. Sehingga setelah operasi, kondisi Tama tidak bisa pulih sesuai yang diharapankan.
Pukul satu siang, aku dan Mas Adit berjanji akan menghadiri sidang putusan bersama. Setelah berbincang dengan Pak Adi sebentar, pukul 12.30 aku dan Mas Adit mendatangi Pengadilan Negeri.
Sepanjang perjalanan Mas Adit terus menggenggam tanganku. Seolah memberi kekuatan dan mengatakan, bahwa aku adalah wanita hebat dan layak mendapat keadilan. Sebuah lagu lama mengiringi perjalanan kami.
Kalau cinta sudah dibuang
Jangan harap keadilan akan datang
Kesedihan hanya tontonan
Bagi mereka yang diperkuda jabatan
Wo o ya o ya o ya bongkar
Wo o ya o ya o ya bongkar
Sabar, sabar, sabar dan tunggu
Itu jawaban yang kami terima
Ternyata kita harus ke jalan
Robohkan setan yang berdiri mengangkang
Wo o ya o ya o ya bongkar
Wo o ya o ya o ya bongkar
__ADS_1
Wo o ya o ya o ya bongkar
Wo o ya o ya o ya bongkar
(Bongkar ~ Iwan Fals)
Saat kami sampai di PN, semua sudah masuk ke dalam ruang sidang. Aku dan Mas Adit duduk bersebelahan di deret bangku tengah. Pak Darma dengan ART-nya duduk di deret paling depan. Begitu pula Bu Ani dan Lisa. Tama tidak bisa menghadiri sidang karena kondisinya kian memburuk.
Majelis hakim masuk ke ruang sidang, dan kami semua peserta sidang diharap berdiri. Angga dan Deni sudah duduk di meja terdakwa dengan wajah penuh menunduk penuh penyesalan.
Sebelum hasil putusan dibacakan, jaksa penuntut dan pengacara menyampaikan kalimat pembuka. Jaksa penuntut meminta agar hakim memberikan hukuman seberat-beratnya pada para terdakwa demi keadilan. Dan pengacara meminta agar Hakim yang terhormat memberikan keringanan atas dasar kemanusiaan, karena para terdakwa telah menunjukkan penyesalan yang dalam.
Seorang hakim laki-laki paruh baya yang duduk di tengah tampak memegang selembar kertas, lalu membenarkan posisi kacamatanya. Didekatkannya mulutnya pada microphone. Hakim Ketua mulai membacakan hasil putusan.
"Putusan Nomor : xx/Pid.B/2021/PNPasuruan pada sidang tingkat pertama. Demi Keadilan Berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa, memutuskan bahwa..."
Kami semua mendengarkan hasil putusan dengan seksama. Selama pembacaan hukuman untuk para terdakwa, bahu para terdakwa dan keluarga berguncang karena tangis penuh penyesalan.
Setelah hakim membacakan putusan, aku merasa sangat lega. Seolah bebanku selama ini terangkat, dan aku menangis haru di pundak Mas Adit.
Aku bisa mendengar lirih Pak Darma mengucap maaf berkali-kali pada Deni. Hilang sudah kesombongan yang selama ini melekat pada diri mereka.
"Maafkan Papa, Nak. Maafkan Papa. Semua ini salah Papa" isak Pak Darma pada Deni sambil meraba-raba wajah anaknya. Dan Deni tak mampu berucap apa-apa selain menepuk-nepuk bahu Pak Darma.
"Ayo, Mas" lirihku mengajak Mas Adit beranjak.
Mas Adit merengkuh bahuku, dan kami berdiri bersamaan. Saat aku berbalik dan hendak berjalan, terdengar suara Deni memanggilku.
"Lan!"
Aku dan Mas Adit menoleh.
Deni berjalan mendekatiku dengan tangan diborgol, dan dua orang polisi berdiri di belakangnya.
"Maafkan aku" ucap Deni penuh penyesalan.
"Jalani hukumanmu dengan baik. Renungkan semua perbuatan burukmu, dan jangan pernah kau ulangi lagi" nasihatku pada Deni.
"Boleh aku tahu, Lan. Langit anak siapa?" tanya Deni lembut.
"Aku tidak tahu, Den. Dan aku juga tidak ingin tahu. Langit memang sudah menjalani tes DNA. Tapi hasil tes itu tidak akan terungkap sampai Langit sendiri yang memintanya. Jika ternyata Langit tidak ingin tahu siapa ayahnya, hasil tes yang masih tersegel itu akan kami bakar" jawabku jujur.
"Boleh aku bertemu Langit?" jujur dalam hatinya Deni ingin menganggap Langit adalah darah dagingnya. Terutama setelah ia tahu bahwa ia tidak akan bisa memiliki keturunan lagi. Deni merasa, dirinya terlalu banyak menyia-nyiakan waktu dan keadaan dengan bersikap terlalu arogan. Kini ia sadar, bahwa Tuhan tengah menghukumnya dengan sepedih-pedihnya hukuman.
"Untuk apa? Anggap saja aku telah menggugurkan anak itu sepuluh tahun yang lalu!" ucapku dingin.
__ADS_1
"Baiklah, aku mengerti. Sekali lagi, maafkan aku" ujar Deni.
Aku hanya menanggapinya dengan anggukan, lalu berbalik pergi. Selama aku dan Deni berbincang, Mas Adit tetap memeluk bahuku erat. Sesekali meremas lembut lenganku untuk memberikan kekuatan padaku.
Saat kami sudah di mobil, aku kembali menangis haru. Sapu tangan yang kupegang telah lembab oleh keringat, dan tanktop dibalik kemejaku juga terasa basah.
Mas Adit membiarkanku menangis beberapa saat. Setelah aku puas, Mas Adit melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Hari sudah sore, matahari mulai merosot di ufuk barat. Menampilkan warna jingga yang mempesona.
"Mau cari makan malam dulu?" tawar Mas Adit.
"Boleh, Mas. Aku pengen makan besar hari ini. Atau mau makan di restoran rame-rame?" cetusku.
"Boleh..boleh" Mas Adit menyetujui usulku.
Sampai di rumah, Ibu dan Bune langsung menyambut kami. Langit duduk di ruang tamu sambil mengerjakan tugas.
"Gimana hasilnya?" todong Bune dan Ibu begitu aku dan Mas Adit memasuki ruang tamu.
Aku tersenyum penuh kebahagiaan.
"Deni 15 tahun penjara, denda 2,5 miliyar subsider enam bulan kurungan. Angga dan Tama masing-masing 10 tahun" jawabku singkat.
Bune dan Ibu langsung memelukku dan menangis haru.
"Selamat, Nduk" ucap Bune sambil menepuk-nepuk punggungku.
Akhirnya perjuangan Wulan mendapatkan keadilan berakhir sudah. Perjuangan penuh liku akhirnya melabuhkan Wulan pada keadilan yang diinginkannya.
Lalu bagaimanakah perjalanan kisah Wulan menemukan cinta sejatinya? Apakah juga akan penuh liku seperti perjalannannya mencari keadilan?
*************************************************
•> *Tahapan mendonorkan hati. Pendonor harus melakukan serangkaian tes untuk menentukan kecocokan antara hati yang akan ditransplantasikan sesuai dengan penerima organ.
Serangkaian tes yang harus dijalankan antara lain :
~Pengecekan riwayat kesehatan, meliputi riwayat penyakit berat, penggunaan NAPZA, dan ketergantungan alkohol.
~Tes Computed Tomography, berfungsi untuk melihat apakah hati calon pendonor dalam ukuran yang cukup dan dalam kondisi sehat.
~Tes Doppler ultrasound, untuk mengetahui apakah pembuluh darah berfungsi dengan baik mengalirkan darah dari dan ke hati.
~Tes Ekokardiografi, untuk mengetahui kecocokan golongan darah, kemampuan darah membekukan diri, dan ada tidaknya penyakit.
•> imunosuspresan, obat-obatan untuk menekan sistem imun*.
__ADS_1