Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 95 Kecelakaan


__ADS_3

"Bang, disuruh ke ruang Pak Manager" kata Deswita, sekpri Pak Jamal melalui sambungan telepon extention di atas meja kerjanya.


"Oke" jawab Adit singkat, men-save desain setengah jadi yang ia kerjakan.


Adit mengangguk singkat pada Deswita yang meja kerjanya tepat di depan ruang kerja Pak Jamal. Lalu mengetuk pintu ruangan sang Manager.


"Ya, masuk!" Perintah Pak Jamal dari dalam ruangannya.


Adit masuk dan langsung duduk karena Pak Jamal sudah menunjuk kursi di seberang mejanya.


"Kamu mau naik jabatan? Kinerja kamu bagus selama jadi tim lapangan" tanya Pak Jamal tanpa basa-basi.


"Ya mau lah, Pak. Mana ada orang yang ga mau naik jabatan" jawab Adit dengan wajah gembira. Ditawari naik jabatan, orang mana yang tidak akan merasa senang.


"Pak Danu, manager cabang Jakarta pensiun tiga bulan lagi. Dari sekian banyak nama calon yang diajukan ke direktur, kamu yang terpilih. Track record kamu bagus. Proyek nyaris tak pernah molor. Masalah-masalah teknis di lapangan bisa kamu atasi sendiri dengan baik" terang Pak Jamal.


Adit menyimak semua perkataan Pak Jamal.


"Saya sebenarnya sayang kehilangan anak buah yang oke kaya kamu. Kamu bisa nolak kalau kamu ga bersedia ditempatkan di Jakarta" lanjut Pak Jamal.


"Kalau saya ambil, saya ga jadi tim lapangan lagi, Pak?" Tanya Adit dengan pertanyaan yang sudah jelas jawabnya. Adit bangga, kerja keras dan kinerjanya diakui.


"Lha ya, iya. Justru kamu nanti yang atur kerjaan orang tim lapangan" jawab Pak Jamal.


Tapi Jakarta? Jarak mengusiknya. Pasuruan-Surabaya saja rasanya menyebalkan. Apalagi Jakarta-Pasuruan? Adit takut kehidupan asmaranya bersama Wulan akan semakin renggang.


"Saya diskusikan dengan keluarga dulu, boleh Pak?"


"Tentu. Kabari kalau sudah ada keputusan. ASAP!" pinta Pak Jamal.


"Baik, Pak"


"Kamu bisa kembali bekerja" perintah Pak Jamal.


Setelahnya, Adit tidak dapat berkonsentrasi penuh. Adit ingin sekali menerima tawaran itu. Tapi bagaimana nasib hubungannya dengan Wulan.


Apalagi Wulan saat ini menjabat sebagai Manajer Operasional sekaligus Manajer Accounting. Wulan sedang berada di masa kejayaannya dalam urusan karir. Haruskah ia meminta Wulan berkorban? Di satu sisi Adit tidak ingin menjadi lelaki yang egois dengan memaksa Wulan memilih antara dirinya atau karir.


Adit bingung harus bagaimana. Hari ini Jum'at. Besok ia akan ke Pasuruan, kunjungan dan kencan rutin seminggu sekali. Dan besok Adit berencana akan membicarakan hal ini dengan Wulan.


Pagi hari, Adit masih tidur. Semalaman begadang menyelesaikan desain gedung pencakar langit yang rencananya akan menjadi kawasan apartemen mewah di Surabaya.


Dering ponsel membangunkan Adit. Dengan masih terpejam, Adit meraba-raba nakas. Diintipnya ponsel dengan hanya sebelah mata, hendak melihat siapa yang menelpon di pagi buta begini.


My Wonder Woman incoming call.


"Ya, sayang?" Jawab Adit parau karena masih mengantuk.


Wulan mengatakan ada hal penting yang ingin didiskusikannya. Wulan menekankan kata 'penting' dalam nada bicaranya di telepon, membuatnya bertanya-tanya ada masalah apa.


Adit terpaksa sedikit terlambat keluar kantor karena ada beberapa perhitungan yang meleset dalam desainnya. Untunglah Adit menyadari hal itu sebelum menyerahkannya ke Pak Jamal. Kalau tidak, dia bisa disemprot berjam-jam oleh beliau. Pak Jamal terkenal keras dalam urusan pekerjaan, tapi mengayomi kepada bawahannya.


Pukul 14.20 Adit baru selesai mematikan komputernya. Berkemas, lalu bergegas menuju tempat parkir.


Aku otw, Lan. Wait, ya -emo kiss love-


Adit menyalakan stereo mobilnya untuk mengusir bosan. Lagu-lagu random mengalun.


Tinggal beberapa kilo lagi, Adit akan keluar dari gerbang tol.


I don't wanna close my eyes


I don't want to fall asleep


'Cause I'd miss you baby


And I don't want to miss a thing


'Cause even when I dream of you


The sweetest dream will never do


I'd still miss you baby

__ADS_1


And I don't want to miss a thing


(Aerosmith ~ I Don't Wanna Miss a Thing)


Adit sedang mendedangkan lirik lagu dari Aerosmith. Saat tiba-tiba.


Bruakk!! Sebuah truk dari arah berlawanan menghantam pembatas jalan. Lalu seperti dalam adegan slow motion, truk tersebut terguling. Mobil Adit dan dua mobil di belakangnya tak mampu menghindar, tertimpa body truk.


Bagian atas mobilnya ringsek, dan Adit terjepit oleh atap mobil. Kepala Adit menghantam kemudi dengan sangat keras, karena airbag tidak mengembang. Sensor airbag yang terletak di bagian depan sebelah kanan dan kiri mobil, tidak dapat membaca benturan yang berasal dari atas.


Adit pingsan seketika. Darah mengucur dari pelipisnya akibat benturan keras dengan kemudi mobil. Tubuhnya luka-luka karena pecahan kaca.


Lalu lintas tol langsung macet. Beberapa orang yang melintas segera melaporkan kejadian kepada pihak berwajib dan paramedis agar bantuan segera datang.


Remote TV di tanganku langsung jatuh begitu mendengar nama Aditya Perdana. Mas Adit? Mas Adit kecelakaan? Akal sehatku berusaha menolak hal itu.


Aku mendial nomor Mas Adit. Terhubung, tapi tidak ada jawaban. Aku menggigiti bibirku cemas.


Tadi katanya dilarikan ke rumah sakit. Tapi rumah sakit mana? Saking terkejutnya, aku tak mampu mendengar keterangan korban dilarikan kemana.


Sial!! Aku merutuki diriku sendiri.


Aku mondar-mandir tak tenang. Bune membawakan sepiring kroket ke ruang tamu. Setiap Mas Adit akan berkunjung, Bune dan Ibu akan bekerja sama memasak aneka menu untuk menyambutnya.


"Ada apa, Nduk?" Tanya Bune yang melihat ekspresi cemas pada wajahku.


"Tadi di berita bilang, ada orang nama Aditya Perdana kecelakaan. Wulan khawatir itu Mas Adit. Tapi..." Aku belum selesai melanjutkan kata-kataku ketika ponselku berdering.


Tante Yuni incoming call.


Deg! Ada apa mamanya Mas Adit meneleponku?


"Ya, Tante? Apa kabar?" Aku berusaha berbasa-basi.


"Adit kecelakaan, Lan. Dibawa ke RSUD xxx (menyebut nama rumah sakit pemerintah di Pasuruan). Tante lagi di perjalanan sama Om"


Aku langsung terduduk lemas.


Aku langsung meraih remote car yang tergeletak di meja televisi. Berlari ke kamar untuk mengambil dompet.


"Mas Adit kecelakaan" ujarku pada Bune dan Ibu yang heran melihat tingkahku. Langit sedang berada di kamarnya, pasti bermain game mengingat besok hari Minggu.


"Hati-hati!" Pekik Bune dan Ibu berbarengan saat aku melesat menuju halaman tempat mobilku terparkir.


Aku melajukan mobilku dengan sedikit mengebut. Setelah memarkirkan mobilku di tempat parkir UGD aku langsung melesat masuk ke UGD.


"Sus, pasien atas nama Aditya Perdana. Korban kecelakaan di tol Pasuruan-Surabaya, sekarang ada dimana?" Tanyaku pada seorang suster di bagian penerimaan.


Suster tersebut langsung mengecek pada layar komputer.


"Sedang menjalani tes CT scan dan MRI. Tunggu ya, Mbak. Sedang ditangani oleh dokter. Itu dokternya datang" tunjuk suster tersebut pada seorang pria berjas putih bersih yang datang menghampiri.


"Keluarga pasien?" Tanya dokter itu.


"Aditya Perdana. Saya temannya. Orang tua pasien sedang dalam perjalanan" jawabku cepat.


"Perkenalkan, saya dokter Rangga, ahli bedah syaraf. Saya butuh persetujuan wali untuk segera melakukan tindakan. Tuan Aditya, kondisinya tidak bisa dikatakan baik" kata dokter itu.


"Seberapa parah?" Tanyaku gemetar dan tercekat menahan tangis.


Dokter sudah hendak menjawab pertanyaanku ketika suara Tante Yuni terdengar.


"Adit gimana, Lan?"


"Ini orang tua Mas Adit, Dok" ujarku.


Dokter Rangga membawa kami ke depan komputer di meja resepsionis, lalu dengan bolpoinnya dokter menunjuk-nunjuk gambar tengkorak hitam putih yang merupakan hasil CT scan Mas Adit.


"Bisa dilihat disini, saudara Adit mengalami epidural hematoma. Kondisi ini terjadi akibat benturan di kepala, membuat pembuluh darah yang berada di antara tulang tengkorak dan dura pecah. Lalu darah menggumpal dan menekan otak. Posisi gumpalan juga tidak menguntungkan, menekan otak kecil. Harus segera tindakan operasi untuk mengangkat hematomanya karena bisa mengancam jiwa"


"Efek samping dari timbulnya hematoma ini, saudara Adit bisa lumpuh atau mati rasa sementara, mengalami gangguan gerak atau penglihatan. Otak kecil yang tertekan hematoma bisa menyebabkan amnesia untuk sementara. Saya harap Anda bersiap untuk segala kemungkinan" jelas Dokter Rangga panjang lebar.


"Lakukan yang terbaik, Dok!" Cetus Om Wisnu (Papa Mas Adit).

__ADS_1


"Saudara Adit juga mengalami patah tulang lengan. Kami akan melakukan operasi gabungan dengan dokter bedah ortopedi" tambah Dokter Rangga.


"Iya, Dok. Lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan anak saya" ratap Tante Yuni.


Setelah Om Wisnu menandatangani persetujuan operasi, Mas Adit segera dibawa ke ruang operasi.


Aku dan orang tua Mas Adit menjajari brankar yang di dorong menuju OR. Setelah Mas Adit masuk, pintu OR ditutup rapat, dan lampu penanda operasi berlangsung menyala berwarna merah.


Operasi berlangsung lama sekali. Sudah hampir jam sembilan, artinya sudah empat jam lebih operasi berlangsung. Aku mempersilahkan orang tua Mas Adit makan malam. Aku menolak saat mereka mengajakku, tidak merasa lapar dan tidak berselera sama sekali.


Pukul 22.15 akhirnya lampu penanda mati dan pintu OR terbuka. Orang tua Mas Adit sudah kembali dari kantin rumah sakit sepuluh menit yang lalu.


Kami bertiga menyongsong dokter yang sedang melepas masker dan hairnet.


"Bagaimana anak saya, Dok?" Tanya Tante Yuni.


"Syukurlah, operasi berjalan lancar. Kita tunggu saudara Adit sadar beberapa hari ke depan. Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang ICU" jawab Dokter Rangga.


Kami menghembuskan nafas lega, lalu secara bersamaan terduduk lemas di kursi tunggu depan OR.


"Om dan Tante tidur dimana nanti?" Tanyaku.


"Om dan Tante, sudah booking hotel dekat rumah sakit tadi" jawab Om Wisnu.


"Ga mau tidur di rumah Wulan saja?" Tawarku pada mereka.


"Jangan, Nak. Kami tidak ingin merepotkan" jawab Tante Yuni.


Aku mengangguk, menghargai keputusan mereka.


"Om dan Tante istirahat saja. Biar Wulan yang temani Mas Adit" cetusku karena melihat wajah letih mereka.


"Titip Adit, ya" pinta Om Wisnu menyetujui tawaranku.


Beberapa menit kemudian, suster mempersilahkan pendamping pasien masuk ruang ICU untuk menemani. Tampak Mas Adit terbaring dengan berbagai alat terpasang di tubuhnya. Ventilator, kabel-kabel yang terhubung pada monitor pendeteksi kinerja organ tubuh, selang infus, selang makanan yang dimasukkan dalam hidung dan langsung menyambung ke lambung, dan juga kateter.


Aku duduk di kursi yang disediakan. Menggenggam tangan Mas Adit lalu mulai terisak.


"Mas segeralah sadar. Aku sayang Mas Adit" lirihku lalu mengecup lembut pipinya.


Mas Adit tak sadarkan diri selama empat hari. Saat itu sore sepulang kerja aku langsung menuju rumah sakit. Om dan Tante pamit ke hotel untuk mandi dan beristirahat sejenak.


"Mas, segeralah bangun. Aku mau kasih kabar gembira sama Mas Adit" gumamku sambil menggenggam tangannya.


Tiba-tiba jari dalam genggamanku berkedut. Lalu mata Mas Adit perlahan terbuka.


Aku kelabakan, lalu segera memanggil dokter melalui interkom.


Dokter Rangga datang lalu langsung memeriksa Mas Adit.


"Reaksi pupil mata bagus. Denyut, tekanan darah, juga stabil" cetus dokter Rangga.


Aku sudah menghubungi Tante Yuni bahwa Mas Adit sudah sadar. Dan tak lama mereka datang dengan tergopoh-gopoh.


Alat ventilator dan selang makanan dicabut karena Mas Adit sudah sadar dan bisa bernapas secara mandiri.


"Ma, haus" lirih Mas Adit.


"Boleh minum, Dok?" Tanyaku.


Dokter Rangga tersenyum dan mengangguk.


Karena aku yang lebih dekat dengan gelas yang berisi air putih, maka aku yang membantu Mas Adit minum.


Sebelum minum Mas Adit tampak sedikit ragu. Lalu menyesap sedikit air putih melalui sedotan.


"Ma..." Panggil Mas Adit pada Tante Yuni.


"Ya, sayang?" Tante Yuni mendekat.


"Wanita ini, siapa?" Lirih Mas Adit sambil melirik ke arahku.


Jedeeeerr!! Wulan bagai tersambar petir. Adit tidak mengenali dirinya?

__ADS_1


__ADS_2