
Setelah delapan hari dirawat di rumah sakit, Langit akhirnya dinyatakan sembuh. Jika infus yang kini tersisa tak sampai setengah itu telah habis, Langit sudah diizinkan pulang.
"Pagi menjelang siang, Bu" ujar Dokter Brama, dokter yang selama ini menangani Langit. Kulirik jam tangan di pergelangan tangan kananku, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat.
"Eh, iya, Dok. Selamat pagi, eh siang" ujarku gelagapan karena bingung.
Dokter Brama terkekeh.
"Adek Langit gimana, masih sering mual?" tanya dokter pada Langit.
Langit hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Sudah tidak mual, demam juga sudah tidak. Masih agak lemes tapi, ya?"
Langit mengangguk.
"Infus habis sudah boleh pulang, Bu. Mungkin nanti sore-sorean sudah bisa pulang. Di rumah, makan dan istirahatnya dijaga. Makan yang halus-halus dulu, seperti bubur atau lontong. Hindari buah-buahan yang ada rasa asamnya. Pepaya atau semangka boleh. Hindari merica juga ya, Bu. Lambungnya masih perlu pemulihan, karena typhus ini kan menyerang pencernaan. Istirahat cukup minimal 10 jam untuk balita, dan makan serta minum obat teratur. Antibiotik harus habis, ya" dokter menitipkan berbagai pesan dan saran kepadaku.
"Baik, Dok. Terima kasih" jawabku singkat.
"Yangit cudah boyeh puyang?" tanya Langit begitu dokter dan perawat sudah berlalu.
"Iya. Nanti sore Langit sudah bisa pulang. Langit sudah kangen rumah, ya?"
"Uti sama Kakung, nanti siang datang. Biar nanti Ibu urus keperluan buat pulang ya. Langit yang anteng sama Uti dan Kakung. Oke?"
Langit hanya mengangguk.
"Sekarang bobo dulu, ya? 'Kan barusan habis sarapan sama minum obat. Langit dengar tadi Pak Dokter bilang apa? Makan dan minum obat teratur, istirahat cukup, biar cepat apa?"
"Cembuuuhh" jawabnya semangat.
"Pinter anak Ibu. Yuk, sekarang bobo duyu, yuk" ujarku sambil membaringkan Langit, membenarkan posisi selimut, kemudian mendendangkan lagu untuknya.
Kebiasaan menyanyikan lagu pengantar tidur sudah sejak Langit lahir aku lakukan. Langit lebih cepat terlelap jika di'nina bobokan'kan. Lagunya bervariasi. Kadang kidung atau tembang jawa seperti "Lir-ilir", "Gundul Pacul", atau "Sluku-Sluku Bathok". Kadang lagu Bahasa Indonesia pada umumnya, seperti "Nina Bobo", "Ambilkan Bulan, Bu", "Bunda Piara" dan sejenisnya. Atau juga lagu-lagu barat seperti "Twinkle Litlle Star", "The Phonics Song", atau lagu sejenis dengan nada mendayu. Harapanku, Langit tidak akan kehilangan jati dirinya sebagai orang Jawa dan orang Indonesia. Tapi juga mengenal bahasa internasional, yakni Bahasa Inggris.
Tak lama bersenandung, dengkur halus terdengar. Menandakan Langit sudah pulas.
Aku mengambil smartphone dan mulai berselancar mencari-cari iklan lowongan pekerjaan di dunia maya. Meng-apply lowongan-lowongan yang cocok dan sesuai dengan background pendidikan, gaji yang ditawarkan, dan deskripsi pekerjaan.
Selama Langit dirawat, hal itulah yang aku lakukan. Disamping membuat draft-draft aplikasi lamaran yang diminta dikirimkan lewat pos.
Sudah banyak aplikasi yang aku masukkan ke berbagai perusahaan, baik offline maupun online. Aku berdoa dan berharap ada perusahaan yang tertarik pada curiculum vitaeku. Mengingat diriku yang hanya seorang fresh graduate, tak urung membuatku sedikit keder melihat persyaratan yang salah satunya adalah minimal dua tahun pengalaman kerja.
Aku hendak menghubungi Pakne, mengabarkan bahwa Langit sudah diizinkan pulang sore ini. Tiba-tiba ponselku berdering. Kulihat nomor tak dikenal dengan kode area (+62)31, membuatku berdebar. Apa mungkin salah satu perusahaan yang aku kirimkan aplikasi?
"Iya, halo selamat siang?" jawabku mengangkat panggilan telepon.
"Selamat siang, dengan Saudari Wulan Febriana Lestari?" jawab suara pria di seberang sambungan.
__ADS_1
"Iya, benar. Dengan siapa saya bicara?"
"Saya Ronald, staff recruitment karyawan PT. Textille Globalindo. Menanggapi surat lamaran yang Saudari Wulan kirimkan kepada kami untuk posisi Junior Accounting, kami menyatakan bahwa Saudari lolos tahapan screening berkas. Saya ucapkan selamat sebelumnya"
Aku nyaris bersorak kegirangan. Tapi dengan cepat aku menguasai diri.
"Ya, Pak?" jawabku singkat.
"Saya mengundang Saudari untuk melakukan tahapan proses seleksi selanjutnya, yaitu Psikotest, tes wawasan bidang, dan tes Bahasa Inggris pada hari Kamis, lusa besok, pukul 10.00 pagi. Apa anda bisa hadir dalam test tersebut? Jika tidak bisa pada hari atau waktu tersebut, kami bisa me-reschedule jadwal Anda"
"Oh, tentu, tentu. Saya bisa hadir. Ada sesuatu yang harus saya persiapkan untuk saya bawa?"
"Silahkan membawa alat tulis. Berpakaian bebas rapi dan bersepatu. Karena aplikasi anda kami terima secara online, mohon juga membawa berkas lamaran lengkap"
"Baik, Pak" jawabku mantab.
"Untuk alamatnya, Jl. Bratang Gede no. xx"
"Baik, Pak" Aku hanya bisa menjawab iya dan baik.
"Ada yang ingin ditanyakan, Saudari Wulan?"
"Tidak ada, Pak. Cukup jelas"
"Baik, kalau begitu kehadiran Anda kami tunggu pada hari Kamis besok. Terima kasih telah bersedia untuk meluangkan waktu menjawab panggilan ini. Selamat siang"
Panggilan diputus oleh pihak seberang. Jika tidak mengingat ada pasien dan keluarga pasien lain yang sedang berada satu ruangan dengan Langit, mungkin aku sudah melonjak-lonjak kegirangan.
Aku segera mengirimkan pesan teks pada Diva. Diva bilang dia ingin mendengar kabarku sekalipun aku dan Diva sudah jarang bertemu.
"Va, PT. Textille Globalindo. Doain aku Kamis besok, ya.. Psiko, wawasan, sm bing, Va. Aduh aku bisa ga yaaa" ketikku pada aplikasi dengan lambang hijau itu.
Centang dua, tapi belum berubah warna menjadi biru.
Aku memutuskan menghubungi Pakne, mengabarkan Langit boleh pulang sore nanti.
Tuuuttt Tuuuuttt Tuuutttt
Pada dering ketiga panggilanku dijawab, bersamaan pintu ruang rawat yang terbuka.
"Ya, ada apa, Nduk?" terdengar suara Pakne ditelingaku melalui speaker gawai, tetapi sosoknya dan Bune ada di ambang pintu.
Aku nyengir lebar melihat tingkah konyol bapakku satu itu.
"Pakne ini. Orang sudah masuk ruangan pake acara angkat telepon segala"
Pakne terkekeh, Bune hanya geleng-geleng sambil tersenyum.
"Langit kapan diizinkan pulang, Nduk?" tanya Bune.
__ADS_1
"Saya baru mau kasih kabar Bune, makanya telepon. Nanti sore Langit sudah boleh pulang" jawabku.
"Akhinya, bisa main sama cucu Kakung lagi. Kakung sudah kangen" ujar Pakne yang melihat Langit mengerjapkan mata.
"Tatung, Uti. Nanti coye Yangit uda boyeh puyang. Yangit bocan di yuma catit" ujarnya riang.
Kami bertiga terkekeh mendengar ucapan Langit.
"Oh iya, Bune, Pakne...." ucapanku terpotong oleh kedatangan perawat yang membawakan makan siang. Lalu tak lama kemudian dilanjutkan perawat yang melepas infus Langit.
Ucapanku yang terpotong akhirnya terlupakan untuk kubahas. Setelah menyuapi Langit, dengan dibantu Bune, aku mengemasi barang-barang. Sementara Pakne mengurus administrasi dan menebus obat.
Ditengah acara berkemas, balasan dari Diva datang. Intinya dia mengucapkan selamat, dan berdoa semoga sukses. Tak lupa dia berharap aku bisa menggeretnya ke perusahaan yang sama jika aku diterima nanti.
Pukul 03.20 akhirnya kami berempat sudah berada dalam mobil Innova abu-abu.
"Tadi mau ngomong apa, Nduk?" tanya Bune saat mobil menembus jalanan yang padat merayap.
"Hah?" aku mengerutkan kening mencoba mengingat-ingat.
"Ah, iya. Hari Kamis besok Wulan ada psikotest di Bratang, Bune. Perushaan tekstil besar, perusahaan besar, perusahaan multinasional. Doain ya, Bune, Pakne" ujarku bersemangat.
"Pasti, Nduk, pasti" ujar Bune dengan senyum sumringah.
Kulihat dari kaca spion depan, Pakne tersenyum bangga.
.
.
.
Hari Kamis akhirnya tiba. Aku mengenakan setelan terbaikku. Sebuah blouse lengan panjang warna peach dengan aksen pita di bagian dada. Untuk bawahan aku mengenakan rok span sedikit dibawah lutut warna abu-abu. Kupadukan dengan sepatu heels pendek warna senada dengan blouse yang kukenakan. Sebagai aksesoris tambahan aku mengenakan tas selempang warna hitam berukuran sedang.
Dari semua barang yang kukenakan tak ada satupun yang harga di atas seratus ribu. Aku memang orang biasa, jadi tak pernah membeli barang-barang branded seharga jutaan bahkan ada yang sampai puluhan atau ratusan juta. Tak terjangkau olehku. Tidak seperti teman-teman kuliahku yang rata-rata berasal dari keluarga berada.
Tapi aku tak pernah minder atau rendah diri. Yang terpenting bagiku, pantas dan sesuai peruntukannya. Seperti yang kukenakan saat ini.
Rambut sebahuku kukuncir kuda seperti biasa. Sebuah jepit mungil kukenakan untuk menahan poniku agar tak mengganggu dahiku. Penampilan rapi dan elegan pasti akan diperhatikan oleh pihak HRD.
Pukul delapan lewat aku sudah siap. Aku kemudian berpamitan pada Langit, Bune, dan Pakne. Meminta doa dari mereka agar usahaku dilancarkan.
Tiga puluh menit perjalanan aku tempuh dengan motor matic-ku yang selalu setia menemani. Motor yang dulu selalu dipakai ibuku untuk berangkat dan pulang bekerja. Setelah merapikan rambut yang berantakan akibat terkena helm, akhirnya aku memasuki gedung berlantai sepuluh tersebut. Masih pukul 09.05, tak mengapa daripada terlambat.
Hati Wulan berdebar-debar. Sembari tak putus doa, Wulan mantap melangkahkan kakinya. Perjalanan masih panjang. Langkah demi langkah, mantap, demi mencapai cita-cita.
************************************************
HRD merupakan singkatan Human Resource Development, adalah sebuah divisi atau departemen dari perusahaan yang memiliki tugas utama untuk mengelola sumber daya manusia di dalam perusahaan tersebut. Mulai dari peraturan perusahaan, pengembangan kualitas SDM (karyawan) dengan adanya pelatihan-pelatihan dan payroll (penggajian)
__ADS_1