Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 100 Ujian Jelang Pernikahan (2)


__ADS_3

**Hai para reader setia Wulan di Malam Luka, maaf kemarin ga ada update. authornya lagi banyak pikiran, jadi kemarin sempat stuck. ide cerita ada, tapi sulit menuangkan dalam bentuk tulisan. akhirnya, bab ini rasanya kurang maksimal. mohon maaf ya, kalau dirasa kurang greget di bab ini 🙏


anyway, mohon tetap dukungannya utk like dan komen 🤗 kalo boleh rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan remahan vote vouchernya yaaa. tengkyuuu 😘😘**


"Siapa itu?" Ketus Mas Adit.


"Teman kuliah, Mas" jawabku singkat.


"Teman kok pake main peluk-peluk gitu?!" Kata Mas Adit sambil melirik kesal pada meja tempat David dan teman perempuannya duduk.


"Itu juga kesini sama ceweknya, Mas. Udah ah, makan yuk!" Cetusku mencoba mengalihkan perhatian.


Mas Adit makan dengan muka yang ditekuk kesal.


Sementara ditempat David dan kekasihnya, Celine.


"Beneran Wulan ternyata. Makin cakep aja" gumam David.


"Siapa yank?" Tanya Celine, mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang sejak David ijin pergi tadi ditekuninya.


"Teman kuliah" jawab David singkat.


"Oh!" Respon Celine singkat. Lalu kembali menekuni ponselnya.


"Aku sempat naksir dia dulu. Kisah hidupnya tragis" ucap David.


"Terus?" Tanya Celine sambil lalu tanpa melepaskan pandangan dari ponselnya.


"Lagi ngapain sih?" David mulai kesal. David merasa dirinya diacuhkan. Dan Celine sering sekali berbuat demikian.


"Lagi nyari ide buat konten" jawab Celine.


"Bisa ga, kalau kita kencan kamu ga mikirin kerjaan?" Protes David. Celine memang bekerja sebagai content creator.


"Eh, iya. Sorry sorry" jawab Celine meletakkan ponselnya, lalu meraih lengan David dan mencoba bermanja padanya.


"Ck!" David berdecak kesal.


"Join sama temenku, yuk!" Ajak David.


"Jangan, ah! Nanti ganggu" tolak Celine.


"Sebentar aja. Aku pengen kenalan sama calon suaminya" David memaksa. David penasaran pada sosok pria yang berhasil menaklukkan hati gadis yang terkenal dingin itu.


Cakep sih, sayang janda anak satu.


Cakep sih, sayang judes.


Wulan emang body yahud, tapi kalau sama dia mesti rela dikintilin anaknya pas kencan.


Begitu para teman-teman kuliah yang berjenis kelamin pria mengomentari sosok Wulan. Sementara mereka yang perempuan lebih cenderung bersikap skeptis dan tak peduli. Mereka yang tersentuh dengan nasib yang menimpa Wulan hanya mampu berkata bahwa Wulan wanita hebat.


Dengan setengah memaksa akhirnya David membawa Celine menghampiri tempat dimana Wulan dan calonnya duduk. "Hai, boleh join ga?" Sapa David saat sudah di depan mereka. David senang melihat ekspresi dingin di wajah calon suami Wulan, dan mata Wulan yang sedikit mendelik akibat perbuatannya.


Aku mendelik kesal pada David yang seenaknya duduk di seberang kami tanpa izin. Aku melihat Mas Adit menatap David dengan dingin.


"Aku David, teman kuliah Wulan. Ini Celine, pacarku" David mengulurkan tangannya pada Mas Adit.


"Adit" jawabnya singkat dan membalas uluran tangan David.


Wanita yang bernama Celine itu mengenakan dress press body model off shoulder berwarna merah sejengkal di atas lutut. Sebuah kalung emas berbandul bentuk hati mungil menghiasi leher putihnya. Tampilannya sangat cantik, menawan dan seksi. Celine mengulurkan tangannya dan menjabat tanganku dan Mas Adit.

__ADS_1


"Kenal dimana sama Wulan?" Tanya David berbasa-basi.


"Tempat kerja" jawab Mas Adit masih dengan ekspresi dingin.


"Rekan kerja tho..." David manggut-manggut. "Wulan ini di kampus terkenal karena kejudesannya lho! Ga gampang mendapatkan hati seorang Wulan. Makanya aku pengen tahu sama cowok yang berhasil dapetin dia" cerocos David.


"Hmm" respon Mas Adit singkat dan dingin.


"Eh, kapan married Vid? Aku tinggal menghitung hari nih" aku mencoba mengalihkan obrolan tentang diriku di masa lalu.


"Wah, selamat ya. Ditunggu undangannya! Kalau kita sih, Asap. Doain aja ya, Mbak" Celine yang menjawab, dengan senyum manisnya.


"Dulu aku sempat naksir sama Wulan. Tapi ditolak mentah-mentah. Apa rahasianya, Mas?" David seolah tak tertarik berbicara mengenai kehidupan percintaannya.


"Ga ada!" Jawab Mas Adit datar dan dingin. Wajahnya sudah menunjukkan rasa tidak nyaman.


Tapi David seolah tak terganggu dengan sikap tidak bersahabat yang ditunjukkan Mas Adit. Tetap saja mengoceh tentang kehidupan kami masa-masa kuliah dulu. Yang hanya ditanggapi 'oh' atau 'hmm' oleh Mas Adit. Sementara aku menyibukkan diri dengan dimsum, dan Celine dengan ponselnya.


Aku terpaksa mengakhiri ocehan David yang tak ada habisnya.


"Vid, sorry kita duluan. Waktunya jadwal tayang bioskop kami!" Dustaku. Padahal masih ada 45 menit lagi sebelum film kami ditayangkan.


"Oh, oke! Aku tunggu undangannya, ya" ujar David sambil mengedipkan sebelah matanya.


Geuleuh pisan!!! Udah bawa ceweknya masih aja main mata sama cewek lain!! Batinku masygul.


Akhirnya Mas Adit mengambil tongkat elbownya. Karena sudah merasa lebih baik, Mas Adit memilih menggunakan tongkat elbow dan menanggalkan kruknya.


"Eh, kenapa?" Celetuk David saat Adit berusaha berdiri.


Rasa-rasanya Adit ingin menyurukkan tongkat elbow ke muka pria bermata sipit itu. Orang mau pergi, masih sempat-sempatnya nyinyir!


Saat berada dalam ruang tunggu theater, Adit masih tampak bermuka keruh.


"Kamu ga bilang kalau dia sempat naksir kamu!" Adit merasa kesal melihat gadisnya dipeluk pria lain. Terlebih fakta bahwa Wulan tidak mengatakan bahwa pria itu pernah menaruh hati padanya, Adit merasa dibohongi.


"Aihh, cemburu ya??" Godaku pada Mas Adit. Aku sedang berusaha mencairkan suasana.


"Kenapa ga bilang?!" Suara Mas Adit mulai meninggi, tapi sebisa mungkin ditahannya.


"Lalu apa bedanya?! Mas denger sendiri tadi aku tolak dia mentah-mentah!" Akupun mulai terpancing emosi.


"Kalau kamu bilang sendiri, aku ga akan merasa dibohongi seperti ini!"


"Siapa yang membohongi Mas?! Menurutku fakta bahwa dia pernah menyukaiku itu tidak penting. Yang terpenting bagaimana aku menanggapi perasaannya dulu! Dan asal Mas tahu, dia langsung mundur begitu kuberitahu bahwa aku sedang hamil Langit!" Balasku sengit.


"Tapi buat aku itu penting!!" tukas Mas Adit dengan muka memerah.


"Mas ga usah mengada-ada deh! Aku sendiri lihat Mas curi-curi pandang sama Celine! Bilang aja seneng lihat yang seksi-seksi, yang bening-bening!" ujarku tak mau mengalah.


"Dia di depan mata, ga perlu aku curi-curi pandang!" balas Mas Adit.


"Hah! Ngaku juga! Mungkin aku mesti pakai yang seksi-seksi gitu biar Mas Adit ga lirak-lirik kanan kiri!" aku mensedekapkan tangan di dada.


"Awas kamu kalau berani! Kamu kalau mau penampilan seksi cukup di depan aku aja!"


Aku melengos. Dasar laki-laki!


"Kita pulang saja! Aku kehilangan mood nonton!" ajak Mas Adit.


"Terserah!" Jawabku. Lalu kami beriringan menuju tempat parkir.

__ADS_1


Sementara Celine dan David memutuskan keluar dari area pusat perbelanjaan itu setelah kepergian Wulan dan Adit.


"Kamu masih suka sama dia?" tanya Celine sambil bergelayut manja di lengan David. Mereka sedang menaiki eskalator menuju tempat mereka memarkir mobilnya.


"Hmm, sebatas kagum" jawab David singkat.


"Kalau suka perjuangin aja, sih! Mumpung janur kuning belum melengkung ini!" cetus Celine. Celine ingin mengetahui seperti apa perasaan kekasihnya pada wanita bernama Wulan itu.


"Wulan itu ibarat Jessica Alba. Artis yang aku kagumi. Aku cuma bisa suka, tapi bukan untuk aku miliki" jawab David ringan.


"Mumpung orangnya ada, ga ada salahnya dicoba" tantang Celine.


"Untuk apa mengejar yang ga mungkin aku bisa dapat. Buang energi, buang waktu. Mending sama kamu yang jelas-jelas cinta sama aku, dan aku cinta sama kamu" ungkap David.


"Gombal!" Celine tersenyum senang mendengar penuturan David. Celine semakin mengeratkan pelukannya pada sang kekasih.


Saat sudah sampai di tempat parkir, Mas Adit meminta key remote mobil padaku.


"Mas yakin? Kaki Mas??" Tanyaku ragu.


"Aku bisa!!" Adit berkeras menyetir. Adit ingin mengalihkan perhatiannya terhadap rasa cemburu yang melandanya. Adit tak menyangka dirinya adalah tipe pria pencemburu.


Kami berkendara dalam diam. Kesunyian yang menyesakkan.


Aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Apa Mas Adit memang tipe pria pencemburu? Aku tak tahu bagaimana mengatasi kecemburuan, karena aku tak memiliki pengalaman dalam hal cemburu-cemburuan sebelumnya.


Fuuuhh. Aku menghembuskan nafas kasar melalui mulut. Apakah memang selalu seperti ini cobaan menjelang pernikahan?


"Mas?? Jangan marah lagi ya?" Cetusku memecah kesunyian.


Mas Adit diam tak menanggapi. Fokus melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Aku menunggu reaksinya beberapa lama.


"Aku mesti gimana biar Mas Adit ga marah lagi? Apa perlu aku menceritakan semua laki-laki yang naksir dan mantanku dulu? Tapi sekarang Mas udah tahu semua dink! Kata Diva sih, yang naksir aku dulu banyak. Tapi aku cuek bebek. Satu-satunya yang berani bilang ya cuma David itu, tapi aku langsung tolak. Terus mantanku cuma Mas Ronald, dan Mas Adit juga udah tahu kalau dia suami sahabat aku" cerocosku.


"Aku ga minta kamu cerita!" Ketus Adit. Cerita tentang laki-laki yang pernah dekat dengan Wulan justru membuatnya merasa semakin kesal.


"Waduh, malah makin ngambek" gumamku.


Aku benar-benar bingung bagaimana mengatasi orang yang sedang cemburu. Tapi tiba-tiba ide gila melintas dalam pikiranku.


Aku mendaratkan tanganku di paha Mas Adit dan me-re-masnya lembut.


"Kalau marah terus aku kasih service sekarang juga nih!" Ancamku dengan senyum nakal.


"Jangang ganggu, ah! Aku lagi fokus nyetir" ucap Mas Adit panik.


"Makanya, jangan marah lagi dong!" Aku mengelus paha Mas Adit, dan semakin mengarah pada pusakanya.


"Laaann!!" Mas Adit tampak dilema. Antara mau tapi masih trauma pada kecelakaan.


Aku menyentuh kelelakian Mas Adit dari luar, dan Mas Adit terlihat menahan nafasnya. Aku me-re-mas sedikit, berusaha meruntuhkan pertahanannya. Aku bisa merasakan, milik Mas Adit sudah mulai beraksi.


"Ampun, ampuuun! Oke, aku ga marah lagi" Akhirnya Mas Adit mengalah. Rasa khawatirnya akan kecelakaan lebih besar ketimbang menuruti hasratnya.


"Senyum dong!" Pintaku, tangan masih di atas milik Mas Adit. Mas Adit menyunggingkan senyum kekalahannya.


"Awas kamu, ya! Kalau udah sah, aku bikin ampun-ampun kamu!" Ujar Mas Adit sambil mencubit lembut pipiku.


"Siapa takuuutt!" Tantangku. Kamipun tergelak.


Hmm, akhirnya Wulan menyadari sesuatu. Untuk meredakan emosi pria yang sedang marah cukup diraba, dielus dan di-re-mas. Apalagi ditambah main dokter-dokteran, dijamin bablaaaaassss.

__ADS_1


__ADS_2