
"Mas, pulang jam berapa?" Padahal hari masih sore, tapi aku sudah tak sabar menunggu kepulangan suamiku. Usia kehamilanku kini menginjak 20 minggu, hampir lima bulan. Sudah seminggu ini tingkahku berubah aneh, selalu merasa rindu saat tidak melihat Mas Adit.
"Habis Maghrib, sekalian tunggu biar ga terlalu macet" jawab Mas Adit dari seberang panggilan telepon.
Sudah sebulan lebih kami tinggal di Jakarta. Surabaya dan Jakarta, siapa bilang tidak terlalu jauh berbeda karena sama-sama kota besar di Indonesia. Menurutku sangat berbeda. Kemacetan lah yang paling membuatku geleng-geleng kepala. Hampir tidak ada jalanan di Jakarta yang tidak macet.
"Aku udah kangen, Mas. Cepetan pulang!" rajukku manja.
"Iya, sabar ya, sayang. Hari ini ngapain aja?" Tanya Mas Adit untuk mengalihkan perhatianku.
"Hari ini aku nyobain resep baru, Mas. Bikin tteokboki sama bulgogi. Tadi nyari gochujangnya sama Ibu ke r*nch market. Enak ternyata, pedes-pedes asem gitu. Ada Carolina reaper juga tadi, aku jadi pengen cobain" jawabku mencerocos. Akhir-akhir ini kesukaanku pada makanan pedas sedang menggila.
"Jangan aneh-aneh, sayang. Kalau perut kamu ga kuat, bisa berabe nanti" ujar Mas Adit menasihati.
"Mas cepet pulang! Aku udah pengen liat Mas..." Ujarku sambil senyum-senyum geli.
"Aduh" Mas Adit terdengar bergumam mengaduh.
"Kenapa, Mas?"
"Gapapa, kepentok meja" jawab Adit beralasan. Padahal Adit sedang sedikit frustasi dengan kebiasaan baru istrinya.
"Iya udah, aku tunggu kepulangan suamiku tercinta. Udah kangen pake banget nget ngeeeeett! Sun-nya mana?" Rengekku manja. Mas Adit memberikan ciuman online padaku.
Aku heran pada diriku sendiri, kenapa bisa jadi semanja ini. Padahal dulu saat hamil Langit aku begitu mandiri. Apa mungkin karena dulu aku tidak memiliki seorang pasangan sebagai tempat bermanja dan bersandar, makanya aku bisa segalanya sendiri. Atau memang ini yang dinamakan perubahan akibat hormon kehamilan? Entahlah.
Di kantornya Adit berbincang dengan bawahannya yang saat itu baru saja selesai mengkonsultasikan gambar desain proyek baru.
"Gas, istrimu pas hamil ngidam aneh-aneh ga?" Bagas yang istrinya baru saja melahirkan dua minggu lalu, menjadi sasaran Adit untuk mengorek informasi.
"Anak kedua ini, ga aneh-aneh, Mas. Saya bersyukuuurr banget. Dulu masih hamil anak pertama, ampun-ampun saya" jawab Bagas pada Adit. Adit memang tak bersedia dipanggil Pak, karena dirinya merasa belum setua itu untuk dipanggil Pak.
"Emangnya dulu kenapa?" Adit penasaran.
"Istri saya maunya tidur di rumah orang. Ga bisa tidur katanya kalau di rumah sendiri. Ga mungkin dong saya numpangin istri saya tidur di rumah tetangga. Akhirnya saya terpaksa ngalah, istri saya pulangin ke Cilacap selama hamil" cerita Bagas.
"Hmm, masih mending lah daripada istriku" celetuk Adit.
"Emang istri Mas Adit kenapa?" Tanya Bagas penasaran.
"Ga perlu tahu, deh. Segera perbaiki kesalahan yang saya tandai. Besok saya tunggu. Kalau sudah fix, bisa langsung Konsul sama klien" perintah Adit. Karena hari sudah hampir menjelang Maghrib, Adit memilih berkemas dan segera pulang.
Dan disinilah Adit kini, berdua dikamar bersama sang istri. Setelah makan malam, Adit bemain sebentar dengan Langit. kemudian bersiap meladeni permintaan sang istri.
"Ayo, Mas, cepetan dibuka!" Rengek Wulan manja.
"Dingin lho, sayang!" Adit lagi-lagi mencoba mengelak.
"Ya udah, matiin dulu AC-nya. Alasan aja sih!" Istrinya mulai bersungut. Jika sudah seperti itu, Adit tak berani mengelak lagi.
Adit akhirnya menarik lepas kaos oblongnya, lalu melepaskan juga celana yang dikenakannya. Kini Adit tinggal mengenakan underwear saja.
__ADS_1
"Berdiri, Mas. Hadap belakang!" Perintah istrinya, dan Adit manut saja.
"Kaki dibuka dikit, tangan di pinggang. Kepala noleh sini!" Pinta Wulan yang sedang bersandar pada headboard ranjang.
"Au, so seksii. Raaawwwrr" desis istrinya. Lalu mengambil beberapa potret dirinya. Sebagai koleksi pribadi, buat kalau Mas pergi kerja. Begitu yang dikatakan istrinya saat ia melayangkan protes.
Sudah seminggu ini Wulan selalu meminta suaminya untuk 'pamer' bentuk tubuh sang suami yang atletis dihadapannya. "Ga ah, ngapain!" Begitu tolak Adit seminggu yang lalu.
"Ya udah, besok aku pergi ke gym. Mau lihat cowok-cowok macho di sana, pasti banyak!" Ancam Wulan.
Mata Adit membelalak, membayangkan istrinya benar-benar akan pergi dan mencari 'pemandangan' dari pria lain. "Eh, mana boleh gitu" ucap Adit sembari cemberut.
"Ya makanya, Mas Adit nurut, dong. Ini 'kan permintaan si Adek. Ya 'kan, Dek?" Ujar Wulan sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.
Akhirnya Adit hanya bisa menurut. Setelah puas berfoto, istrinya tetap tidak mengizinkan Adit mengenakan pakaian kembali. Wulan akan meringkuk dalam dekapannya sampai terlelap. Walaupun awal-awal sempat jengah, tapi kini ia sudah mulai terbiasa dan menikmati saat-saat kemanjaan sang istri.
Hari-hari berlalu, tak terasa kehamilanku memasuki trimester ketiga, perutku sudah semakin membuncit. Aku sudah jarang meminta Mas Adit melakukan pose-pose aneh dengan hanya menggunakan underwear. Tapi, bukan berarti masa ngidamku telah berakhir.
"Mas..." Ujarku sambil memainkan jari secara melingkar di otot sixpack Mas Adit, setelah sesi bercinta kami barusan. Tubuh kami polos, dan hanya bagian pusar ke bawah yang tertutup selimut.
"Kenapa sayang? Mau nambah lagi?" Ucap Mas Adit dengan kerlingan nakal.
"Mas, ih...! Maunya gitu-gituan terus. Pegel tahu, Mas" aku bersungut.
"Heleh, kalau udah digoyang suka aja kok. Lagian, Mas terus yang kerja. Kamu cuma merem melek keenakan!" Cibir suamiku sambil me-re-mas lembut dadaku.
"Serius ah, Mas. Aku laper" cetusku.
"Tapi aku pengennya makan tiwul" kataku.
"Haa??" Mulut Mas Adit sukses melongo dibuatnya. "Jakarta emang ada yang jual tiwul? Terus ini udah malam sayang, mau cari dimana?"
"Tapi aku laper, mau makan tiwul" mataku mulai berkaca-kaca.
"Makan yang ada dulu aja, ya?" Tawar Mas Adit.
"Ga mau! Mas ga sayang aku sama anakku! Aku cuma mau makan tiwul, bukan berlian! Tapi Mas ga mau usahain!" Air mataku sudah berlinangan. Aku sendiri merasa heran, mengapa tiba-tiba air mata sudah membanjir
"Waduh!" Mas Adit bergumam sambil mengusal rambutnya frustasi, "Jangan nangis sayang. Besok Mas usahain, ya. Ssshhh, maaf maaf. Jangan nangis terus, kasian adek di dalam. Lagian kalau kamu makan berlian, kuda lumping dong!" Mas Adit mencoba berseloroh.
"Tapi aku ga mau bikinan sendiri, harus beli!" Pintaku tegas.
"Iya, besok Mas tanyain sama temen kalau mau beli tiwul dimana" janji Mas Adit.
Keesokan harinya, Adit bertanya pada Dani, bawahannya yang sama-sama berasal dari Jawa Timur. "Dan, di Jakarta nyari tiwul dimana?"
"Ah, mana ada, Mas. Bikin sendiri kenapa?" Usul Dani.
"Istriku maunya beli. Ngidam kok aneh-aneh!" Adit bersungut, tapi di depan istrinya ia tak mau berlaku demikian.
"Gimana kalau istriku bikinin, tapi Mas bilang aja beli. Toh, istrinya ga bakalan tahu"
__ADS_1
"Ide bagus! Kok aku ga kepikiran ya. Tapi beli bahannya gimana?" Kebingungan lain menghampiri.
"Banyak dijual di toko-toko online, kok. Mas pesan aja bahannya. Nanti kalau udah ada biar saya kasi istri saya buat dimasak. Atau bisa langsung dialamatin ke rumah saya, jadi dateng bisa langsung eksekusi" tawar Dani.
"Boleh, boleh. Aku cari sekarang kalau gitu" jawab Adit lalu kembali ke ruangannya.
Di rumah, Adit merayu istrinya agar bersedia menunggu. Karena tepung tiwul instan baru akan ia terima dua hari kemudian. "Sabar ya, sayang. Masih dicari-cariin info sama temenku. Di Jakarta agak susah nyarinya" dalih Adit pada sang istri.
Tiga hari berikutnya tiwul sudah di tangan Adit. Dan betapa bahagianya ia, mendapati mata istrinya berbinar bahagia sambil melahap tiwul yang sudah dimasak dengan cita rasa sedikit manis dan di taburi parutan kelapa. Adit juga bahagia, yang merasa senang dengan kehadiran tiwul itu tak cuma istrinya, tapi juga kedua ibu mertuanya dan Langit. Mereka rupanya juga rindu pada masakan khas Jawa Timur-an.
Seminggu berikutnya, Wulan kembali meminta makanan khas Jawa Timur, lontong balap. Tapi Adit kini tak pusing, karena bahan-bahan bisa di pesan secara online. Thanks to kemajuan teknologi, batin Adit ceria. Tak lupa juga Adit berterima kasih ada istri Dani, yang tak pernah menolak menerima pesanannya.
Sepanjang sisa kehamilanku, aku masih sering meminta makanan-makanan khas Surabaya. Seperti nasi jagung, rujak cingur, rujak tolet, tahu Tek, tahu campur. Terakhir kemarin, aku meminta ote-ote Porong pada suamiku. Aku tidak tahu dari mana Mas Adit memperoleh semua makanan yang aku minta, tapi aku selalu senang saat memakan makanan-makanan itu.
Kini kehamilanku sudah mencapai 33 Minggu 3 hari. Dokter bilang, aku bisa menjalani persalinan normal jika aku terus menjaga kondisi tetap prima. Hari ini aku bersama Ibu dan Bune membuat salah satu menu favorit Mas Adit, sop buntut dan empal daging. Ibu juga membuat kue soes rougut gulung sebagai camilan.
Sebenarnya sejak dua hari lalu, aku merasakan sesekali mulas. Tapi intervalnya masih panjang, hampir sejam sekali, bahkan bisa lebih dari sejam baru akan muncul kembali. Jadi aku memilih mengabaikan rasa mulas itu, dan berpikir mungkin itu adalah kontraksi palsu.
Siang ini aku ingin memberi kejutan pada Mas Adit, dengan membawakan makan siang ke kantor. Dengan mengenakan halter dress warna hijau toska, bermotif polkadot putih, dan sebuah cape blazer untuk menutupi bahuku.
Setelah turun dari mobil ojek online, aku langsung menuju ruang kantor suamiku.
"Suami saya ada?" Aku berbasa-basi sebentar pada rekan kerja Mas Adit.
"Ada, Mbak. Masuk aja!" Jawab pria yang kutahu bernama Bagas. Bagas tak tahu, bahwa managernya itu sedang ada tamu, karena baru setengah jam yang lalu Bagas kembali ke kantor setelah meninjau lokasi proyek di Jakarta Utara.
Lalu aku melenggang menuju ruang kantor Mas Adit. Aku yang memang berniat memberi kejutan langsung membuka pintu tanpa mengetuknya.
"Sur...!" Kata-kataku langsung terhenti, senyumku langsung sirna.
Brak!! Aku membanting pintu menutup kembali. Aku marah!! Bagaimana tidak, pemandangan yang aku lihat sungguh memuakkan. Dengan setengah berlari, aku menghambur keluar dari kantor Mas Adit. Saat aku hendak mencapai gerbang kantornya, tangan Mas Adit mencengkeram menahan kepergianku. Air mata marah dan kecewa sudah merebak pada kedua mataku.
"Sayang, tunggu. Kamu salah paham" kata Mas Adit dengan lembut.
"Salah paham apa?! Yang aku lihat sudah membuktikan semuanya! Mas Adit...Mas...!" Aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku.
"Sayang, Mas mohon dengarkan dulu penjelasanku. Semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan" tukas Mas Adit.
"Ga butuh! Aku ga butuh penjelasan apapun! Apa yang aku lihat udah--!" Kalimatku terputus, saat menyadari ada air yang merembes pada pahaku.
Sedetik kemudian, rasa sakit hebat melanda perut sampai ke area sekitar pinggulku, membuatku mengaduh seketika, "Ah, aduuhh, sakiiiitt!" Air mata langsung jatuh, menahan sakit pada perut dan karena rasa sakit hati.
Mas Adit langsung berusaha merengkuh bahuku, "Jangan sentuh! Aku ga mau Mas pegang-pegang aku!" Aku menyentakkan bahuku.
"Tapi kamu harus ke rumah sakit sekarang juga!" Adit tak mempedulikan penolakan istrinya, justru langsung membopong tubuh sang istri menuju tempat parkir.
*******************************************
~*Carolina reaper, dinobatkan sebagai cabai terpedas di dunia oleh Guiness Book of Record. Cabai ini memiliki kepedasan 1.400.000-2.200.000 SHU, lebih panas 175-880 kali cabai jalapeno.
Reader semua apa sudah ada yang mampir ke karyaku yang satu lagi? Judulnya* "Sang Pemulung". *Tapi mohon maaf belum bisa up story lagi karena mau menyelesaikan WML dulu. Kisah Wulan sudah sampai di ujung nih 🤗 kalau nanti ada muncul PoV Langit dan PoV Deni itu artinya WML sudah ada di chapter terakhir.
__ADS_1
Jangan lupa*, jempolnya dipencet dong ciiinnn 😘😘