
**Hai hai hai, para reader tercinta.. itu gambar jempol di atas jangan dianggurin pleaseee 😁 Komennya juga selalu dinanti yaa😘😘 Hepi riding para kesayangan Wulaaaann**
"Langit Anugrah Dirgantara, nama yang gagah, Nduk. Terimakasih sudah melahirkan cucu untuk kami. Walaupun kita tidak punya pertalian darah, ijinkan Pakne menganggapnya sebagai cucu Pakne sendiri" ujar Pakne takzim.
Aku hanya mengangguk dengan senyum haru.
"Bune gendong, ya?"
Lalu Bune menggendong Langit dan menimangnya. Terlihat bayi mungil yang tadi sudah tertidur disisiku, menggeliat pertanda merasa tidurnya terganggu.
"Persis kamu sekali, Nduk. Bibirnya, hidungnya, alisnya" kata Bune sambil mengecup pipi Langit berkali-kali.
Aku hanya bisa tersenyum lemah. Aku merasa lelah sekali. Karena Pakne dan Bune sedang terfokus pada Langit, tanpa terasa aku jatuh tertidur.
Untuk pertama kalinya, tidurku tenang tanpa mimpi.
"Nduk, Wulan. Ayo bangun, sarapan dulu!" terdengar suara Bune membangunkan dan mengguncang pelan bahuku.
Aku mengerjapkan mata, lalu menguap. Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 07.15 pagi, matahari nampak menerobos dari jendela kamar VK.
"Langit mana, Bune?" tanyaku panik yang tak melihat anakku digendongan Bune.
"Dibawa suster barusan untuk di jemur. Kemudian nanti langsung dimandikan" jawab Bune menjelaskan.
"Pakne?" tanyaku lagi.
"Pakne ada perlu di rumah. Sekalian mau kasih pengumuman bakso libur dulu selama kamu di rumah sakit"
"Maaf ya, Bune. Merepotkan" ujarku dengan sedih.
"Merepotkan apa tho? Kamu itu anak Bune. Langit cucu Bune. Tidak ada orang tua yang merasa direpotkan oleh anaknya. Ayo sekarang makan dulu. Nanti kalau Langit sudah selesai dimandikan bisa langsung kamu susuin. ASI-nya sudah keluar kan?"
Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaan dan perintah Bune yang berentetan. Aku makan disuapi oleh Bune. Aku merasa sangat kelaparan sehingga seporsi sup sehat bersama sepiring nasi tandas dalam waktu 10 menit. Bahkan setelah meminum segelas susu untuk ibu menyusui, aku masih menyomot sepotong roti sobek di nakas sebelah ranjang.
"Kelaparan, Bune. Eh, Bune udah makan? Kok dari tadi saya asyik sendiri" ujarku dengan malu. Lupa menanyakan apakah Bune sudah makan atau belum.
"Sudah. Tadi Pakne sebelum pergi membelikan nasi campur buat Bune"
"Bune capek ya? Dari semalam belum istirahat?" tanyaku.
__ADS_1
"Gampang. Nanti kalau sudah dipindah ke ruang rawat Bune bisa istirahat. Ambil yang kelas II ya, biar ga terlalu ramai. Ada sofa untuk yang datang berkunjung. Nanti Bune bisa istirahat disitu. Tadi Pakne lihat-lihat ruang rawatnya dan mendaftarkan kamu untuk masuk ke kelas II. Nanti setelah Dokter Erna visit kamu sudah bisa pindah ke ruang rawat, kata suster yang tadi membawa Langit" jelas Bune panjang lebar.
Beberapa saat kemudian, seorang suster datang membawa bayiku yang sudah segar karena baru saja dimandikan. Mulutnya terbuka mencari-cari sumber makanannya.
"Anaknya disusui dulu ya, Bu. Biar ASI-nya cepat lancar" kata suster.
Suster membantuku memposisikan Langit agar nyaman menyusu. Suster juga mulai memijat dadaku bergantian, dia bilang agar ASI yang keluar lancar.
Selang 20 menit menyusu Langit akhirnya tertidur. Sudah kenyang rupanya.
Setelah aku menyusui, suster menawarkan bantuan untuk menemaniku mandi. Tawaran tersebut kusambut dengan senang hati. Tubuhku sudah lengket semua rasanya, lengket karena keringat.
Akhirnya pukul 10.00 Dokter Erna visit, dan menyatakan aku sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat. Infusku juga sudah bisa dilepas jika sudah habis.
Ruang rawat kelas II yang dipilih Bune berisi ranjang pasien, sofa berukuran sedang dan tempat tidur bayi yang masing-masing berjumlah dua buah. Lalu terdapat sekat tirai di sekelilingnya. Rupanya sudah ada pasien lain yang juga baru melahirkan yang telah mengisi salah satu ranjang lain di ruang tersebut. Setelah dipindahkan ke ruang rawat, akhirnya Bune pamit padaku beristirahat di sofa.
Aku melihat Bune meringkuk di sofa, sementara Langit sudah tidur di tempat tidur bayi dengan tirai transparan disekelilingnya. Melihat Bune yang meringkuk seperti itu membuatku merasa haru.
Aku perlahan turun dari ranjang dan mulai belajar berjalan. Masih terasa sedikit nyeri. Kemudian aku menyelimutkan sebuah sarung bersih yang aku ambil dari tas perlengkapanku. Kusibakkan beberapa helai rambut beruban yang mencuat menutupi wajahnya.
"Terima kasih, Bune" bisikku lembut.
Baru saja membaringkan diri, seorang perawat datang membawa makan siang. Menu siang ini, sayar asam dengan lauk ikan kakap yang sudah dipotong menjadi dua, tahu dan tempe goreng.
Kurang sambalnya, Sus! Teriakku dalam hati dengan ringisan pada mulutku.
Aku makan sendiri dengan lahap, tak ingin mengganggu istirahat Bune yang sudah lelap. Energiku rasanya terkuras habis untuk melahirkan bayi dengan berat 3200 gram subuh tadi, sehingga butuh asupan energi yang memadai.
Baru saja selesai makan siang, terdengar rengekan dari tempat tidur bayi, yang kemudian berubah menjadi tangis kencang.
Oooaaaaa Ooooaaaaaa
Tangisan yang mengejutkan dan berhasil membangunkan Bune. Bune bergegas bangun dan menghampiri Langit.
"Eh eh eh, cucu Uti sudah bangun rupanya. Laper ya? Yuk, mimik ASI dulu. Itu Ibu baru selesai isi amunisinya" kata Bune yang telah melihat piringku sudah kosong, licin tandas, menyisakan duri-duri ikan kakap. Bune membantu menggendong Langit dan mengangsurkannya padaku. Overbed table yang kugunakan untuk makan tadi di bereskan oleh Bune ke pinggir ranjang.
"Bune ga makan siang dulu? Sudah hampir jam satu. Nanti Bune sakit kalau terlambat makan" tanyaku sambil menyusui Langit.
"Nanti, habis gini" hanya itu jawaban Bune.
__ADS_1
"Pakne kok lama?"
"Pakne memang bilang kalau nanti akan agak lama. Mungkin sore nanti baru bisa balik sini" jawab Bune.
"Selain pasang pengumuman, ada apa lagi Bune? Kok lama sekali?" tanyaku penasaran.
Bune hanya mengangkat bahu dengan senyum misterius.
"Dilihat saja nanti di rumah" jawabnya singkat.
"Ada apa sih?"
Bune hanya tersenyum melihat rautku yang penasaran.
Setelah beberapa menit menyusu akhirnya Langit kembali tertidur. Mulutnya terlepas dengan sendiri dari puncak dadaku, dan tampak membuka. Gemas sekali aku melihatnya.
Bune mengembalikan Langit ke tempat box bayinya, lalu pamit untuk makan siang di kantin rumah sakit. Aku hanya mengangguk mengiyakan.
Sepeninggal Bune, aku merenung. Aku bahagia melahirkan Langit. Aku bahagia memiliki orang tua yang walaupun tak memiliki hubungan darah denganku, tapi sangat menyayangi dan mendukung apapun keputusanku asal itu baik untukku.
Menilik kehidupanku sembilan bulan yang lalu, dimana aku merasa sangat hancur. Yang saat itu sempat terpikir untuk kuakhiri. Aku memohon ampun pada Tuhan jika mengingat kembali hal itu. Mengingat kesulitan dan kesedihan yang aku alami, ternyata Tuhan juga telah mempersiapkan jalan yang begitu manis untukku. Berkelok dan berliku, tapi indah.
Senin besok perkuliahan semester genap akan dimulai. Urusan KRS sudah aku bereskan saat minggu kedua libur semester gasal dengan dosen waliku. Sepertinya aku akan absen selama seminggu untuk memulihkan diri. Lagipula, awal-awal perkuliahan biasanya dosen hanya akan melakukan perkenalan terhadap mata kuliahnya.
Beberapa saat melamun sendiri membuatku mengantuk dan tertidur. Mimpi itu hadir lagi. Aku kembali terbangun dengan nafas ngos-ngosan dan keringat bercucuran.
Aku mengangsurkan pandangan. Aku melirik jam dinding, 04.20 sore. Tampak Pakne dan Bune duduk di sofa menatapku heran.
"Mimpi buruk, Nduk?" tanya Pakne dengan alis bertaut.
Aku hanya mengangguk dan meminum segelas air yang terletak di atas nakas. Bune dan Pakne memang belum tahu perihal mimpi buruk yang senantiasa menghantui tidurku.
"Langit sedang dimandikan suster" kata Bune yang melihat arah pandangku ke box bayi.
Kemudian nampak Pakne dan Bune beranjak dari sofa dan berjalan ke arahku. Pakne memegang sebuah kotak yang di atasnya dihiasi oleh pita.
"Selamat ulang yang ke-19 tahun, Anakku. Selamat sudah menjadi seorang ibu" ujar Pakne.
Kado apa yang didapatkan Wulan dari orang tuanya?
__ADS_1
**********************************************
~KRS singkatan dari Kartu Rencana Studi, merupakan daftar mata kuliah yang akan diikuti atau diambil oleh mahasiswa dalam satu semester ke depan.