Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 84 Kemarahan Deni


__ADS_3

**Maafkan author yang dua hari kemarin tidak bisa update cerita. Author lagi super sibuk, ada acara turun tanah putri ketiga tercinta 🤗. happy reading all**


*Flashback On*


"Dok, pasien operasi pengangkatan tes*tis sudah sadar" kata seorang suster wanita melalui sebuah interkom.


Setelah hampir dua hari tak sadarkan diri, Deni akhirnya siuman. Begitu terbangun, kepala Deni terasa begitu berat dan pening.


Deni melayangkan pandangan ke sekeliling. Setelah melihat infus yang terpasang ditangannya, Deni yang sempat bingung akhirnya sadar sedang dimana ia berada.


Seribu tanya bergelayut dalam benak Deni. Dia berpikir dia akan mati di tangan para preman malam itu. Siapa yang menolongnya? Siapa yang membawanya ke rumah sakit? Dimana papanya?


Dokter datang saat Deni tengah berusaha menginventaris apa saja bagian tubuhnya yang terasa menyakitkan. Dirabanya muka dan tubuhnya. Semua terasa kebas.


"Bagaimana perasaanya, Mas Deni?" Tanya seorang dokter pria paruh baya berbasa-basi sambil memasang steteskop pada telinganya.


Deni tak menjawab. Kepalanya masih terasa pening.


"Denyut jantung dan tekanan darah normal" ucap dokter setelah melakukan pemeriksaan standar.


"Ada keluhan, Mas" tanya dokter.


"Bagaimana....? Apa yang....?" Deni bingung harus bertanya apa. Ribuan pertanyaan berloncatan dalam benaknya.


"Bingung?" Tanya dokter maklum.


Deni mengangguk.


"Saya jelaskan saja kronologi secara garis besar. Seorang pria membawa Anda kemari malam-malam. Lalu seorang wanita datang, memberi persetujuan pada pihak rumah sakit untuk melakukan tindakan. Wali anda saat ini sedang dalam kondisi tidak dapat mengambil keputusan. Papa Anda juga sedang dirawat di rumah sakit ini" jelas dokter tersebut.


"Pria? Wanita? Tindakan? Papa dirawat?" Tanya Deni bertubi-tubi dengan nada tidak sabar. Bukannya semakin paham, Deni malah semakin tidak mengerti.


"Pria yang membawa Anda bernama Aditya Perdana. Wanita yang memberi kami wewenang untuk melakukan tindakan, Wulan Febriana L" jawab dokter sembari memeriksa dokumen yang diklip dalam paper holder.


"Tindakan apa?" Tanya Deni tegang. Deni tak menyangka nama-nama itu akan disebutkan oleh sang dokter.


"Dengan sangat menyesal, kami harus melakukan operasi pengangkatan tes*tis pada dua tes*tis Anda. Kedua tes*tis Anda rusak parah akibat hantaman berkali-kali"


"Efek samping dari operasi tersebut adalah, Anda tidak akan bisa mempunyai keturunan, berkurangnya hasrat untuk berhubungan, kesulitan untuk mengalami e r e k s i, dan peningkatan berat badan" dokter berusaha menjelaskan selembut mungkin kepada Deni.


Penuturan dokter membuat Deni merasa bagai tersambar petir. Dibukanya segera selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Deni tidak memakai apa-apa dibawah selimut itu.


Mata Deni mendelik tak percaya. Ekspresinya ngeri bercampur marah.


"Bolaku!! Kembalikan bolaku!!" Pekik Deni.


"Maaf, Mas. Jika operasi tidak dilakukan akan terjadi peradangan serius pada tes*tis Anda. Dan jika tidak segera ditangani, bisa terinfeksi dan menyebar ke organ-organ yang lain" ujar dokter.


"Aaaaaaaaaaaarrrrrgggghhhhhh!!" Deni berteriak sejadi-jadinya.


"Mas, mohon tenang. Pasiean yang lain bisa terganggu" dokter tersebut berusaha menenangkan Deni.


Bukannya tenang Deni malah mulai meraih apa saja yang bisa diraihnya untuk dilemparkan. Bantal, botol air minum, gelas, sebungkus roti, sebotol selai, tak ada yang selamat dari amukan Deni.


"Suster, tolong suntikkan diazepam 5 mg" perintah dokter.


Suster menyuntikkan obat yang diperintahkan dokter dalam cairan infus. Sesaat kemudian Deni mulai tenang dan tertidur.


Seminggu setelah dirawat di rumah sakit, akhirnya Deni sudah diizinkan pulang. Pak Darma menjemput dengan menggunakan kacamata hitam dan sebuah tongkat penuntun. Oleh dokter Pak Darma divonis tidak bisa melihat lagi. Saat jatuh dengan posisi duduk, benturan keras mengenai saraf tulang belakang yang terhubung ke mata.


Dengan dibantu ART-nya, Pak Darma mendekati Deni dan meraba-raba wajah anaknya.


"Papa kenapa, Pa?" Tanya Deni sedih.


Pak Darma tidak mampu menjawab pertanyaan anaknya. Untuk mengatakan bahwa dirinya buta, Pak Darma merasa sangat berat. Seolah dengan tidak mengatakan hal itu Pak Darma dapat menghindar dari kenyataan.

__ADS_1


"Ayo pulang!" Perintah Pak Darma.


Perjalanan pulang ke rumah dilalui dalam diam.


"Duduklah!" Perintah Pak Darma saat mereka sudah sampai di rumah.


"Langit itu cucu Papa. Papa yakin dia anak kandungmu. Rebutlah dia, apapun caranya. Keluarga Wiratmaja harus punya penerus" alih-alih menanyakan keadaannya anaknya, Pak Darma justru mengkhawatirkan keberlangsungan nama Wiratmaja.


"Diam kau, Pak Tua! Tanpa kau suruh pun itu yang akan aku lakukan!" Deni gusar. Kenyataan bahwa dia tidak bisa memiliki anak menghantamnya kembali. Deni lalu pergi menuju kamarnya tanpa menghiraukan ayahnya yang berteriak-teriak memanggilnya.


Langit. Langit. Dan Langit. Itulah yang selalu Deni pikirkan setelah dokter menginformasikan bahwa ia tak akan lagi bisa mendapat keturunan. Disamping itu, masalah gangguan e r e k s i juga mengusiknya.


Setiap pagi selama di rumah sakit Deni memantau pusakanya. Masih bisa berdiri, tapi terasa tak setegang dan sekeras biasanya.


Deni meraih laptop, lalu diputarnya film panas koleksinya. Hasratnya terusik, kelelakiannya mulai bereaksi. Tapi hanya sebatas itu. Tak mampu menegang dengan sempurna.


"Brengsek!!!" Maki Deni entah kepada siapa.


Hari-hari berikutnya Deni terus berlatih untuk mengembalikan kesaktian pusakanya. Entah itu dengan cara 'bersolo karir' maupun menyewa jasa wanita bayaran. Deni merasa malu jika harus memanggil salah satu wanita yang pernah dekat dengannya.


Setelah latihan berhari-hari, walaupun tak pernah bisa bertahan sampai berjam-jam seperti sebelumnya kelelakian Deni mulai kembali seperti sebelumnya.


Sepuluh menit cukup, yang penting hasratnya tersalurkan. Aku bisa memuaskan wanita dengan lidah dan jariku. Pikir Deni jumawa.


Akhirnya, Minggu pagi itu Deni memutuskan untuk menghukum Wulan yang telah dengan lancang mengambil keputusan itu untuknya. Deni tak peduli apapun alasan Wulan, yang pasti Deni merasa marah dan malu karena wanita yang selama ini selalu meremehkannya tahu kelemahan terbesarnya.


*Flashback Off*


Awalnya Deni memantau keadaan sekeliling rumah Wulan. Sepi. Deni berencana akan menyeret Wulan entah kemana, bagaimanapun caranya. Jika tidak bisa lembut, dia akan menggunakan cara kasar.


Tapi Deni merasa beruntung, dilihatnya Langit dan wanita yang selama ini tinggal bersama Wulan menaiki mobil berwarna silver dan pergi.


Semesta sedang mendukung usahanya. Diintipnya Wulan dari kaca rumahnya yang transparan. Wajah ayu Wulan yang tengah membaca mempesona Deni. Tapi Wulan memang selalu mempesona. Ingatan akan penolakan-penolakan Wulan selama ini membuat egonya terusik.


"Mau apa kau kemari?" Sergah Wulan kasar lalu berdiri.


"Gadis brengsek! Kau membuatku, cacat! Kau harus merasakan hukuman dariku!" Nada bicara Wulan yang kasar membuat Deni merasa kesal.


"PERGI!!" Wulan mulai berteriak.


Bukannya pergi, Deni malah menyunggingkan seringainya yang kejam pada Wulan.


"Aku masih ingin bersenang-senang denganmu sebelum pergi"


Menyadari gelagat tak baik dari Deni, aku beringsut mundur. Deni semakin merangsek maju.


Aku berlari menuju kamarku. Deni mengikuti. Saat aku hendak menutup pintu kamar, tangan Deni lebih cepat menahannya sekuat tenaga.


Aku tak sanggup menahan dorongan Deni pada pintu, dan akhirnya aku kalah. Pintu menjeblak terbuka, dan Deni melenggang melewati pintu pertahanan terakhirku. Deni menutup pintu itu.


Aku tak mampu berkata-kata. Kulihat Deni membuka ikat pinggangnya dengan perlahan.


"Aku akan bersikap lembut jika kau menurut. Akan kubuat kau melayang. Percayalah!" ucap Deni dengan seringai kejam.


Selangkah demi selangkah Deni mendekatiku. Aku sudah terpojok pada nakas disamping ranjangku. Adegan malam itu berkejaran dalam kepalaku.


Aku merosot dan memeluk lututku. Menyembunyikan wajahku pada lengan yang memeluk lutut.


Ketika Deni menyentuhku, aku meronta.


"Lepaskan! Jangan lakukan itu! Kumohon!"


"Kau memang tak bisa dikasih hati" rontaan Wulan menyulut emosi Deni.


Deni menarik Wulan dengan mudah. Dicengkeramnya kedua tangan Wulan, lalu diikatnya dengan ikat pinggangnya. Deni menghempaskan Wulan ke ranjang.

__ADS_1


Wulan menangis tersedu sambil merintih memohon. Mata Wulan terpejam rapat.


Deni ******* bibir ranum Wulan, dengan penuh naf*su. Disingkapnya kaos yang dikenakan Wulan, lalu menaikkan penutup dadanya. Deni kalap merasakan dada yang terasa sangat pas dalam genggamannya. Dire*masnya dengan kuat dada Wulan. Ciuman Deni beringsut turun menuju dada Wulan.


Wulan tak berdaya. Saat ini seperti malam itu. Wulan hanya bisa gemetar dan menangis, sembari memohon belas kasih dari Deni.


Sementara di luar, Adit beberapa kali mengucap salam pada pintu ruang tamu yang terbuka. Adit ingin mengajak Wulan sekeluarga ke Surabaya. Adit berpikir, mungkin Bu Nimas dan Wulan ingin memantau kondisi usaha mereka di Surabaya.


Tak ada jawaban, tapi pintu ruang tamu terbuka lebar. Apalagi ada mobil sport Deni di depan pagar. Menuruti firasatnya yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres, Adit melangkah masuk.


"Bu Nimas? Wulan? Langit?" Deni mencoba memanggil satu per satu penghuni rumah.


Tak ada jawaban. Saat memasuki ambang pemisah antara ruang tamu dan ruang dalam rumah Wulan, Adit justru mendapati suara teredam aneh yang berasal dari kamar dengan pintu tertutup. Suara isak tangis dan rintihan minta tolong.


Wulan?! Rintihan minta tolong? Tak mungkin Wulan baik-baik saja. Batin Adit panik.


Pintu yang awalnya Adit pikir terkunci, ternyata tidak.


Brakkk!! Suara pintu menghantam dinding dengan keras.


Deni menoleh. Adit mendelik menyaksikan pemandangan di depannya. Wulan sudah setengah telanjang, tangan terikat, dengan Deni menindihnya.


"Brengsek!" Kedua pria memaki bersamaan.


Deni maju hendak melayangkan pukulan pada Adit. Adit yang sudah bersiap berhasil menghindari pukulan Deni, dan melayangkan tendangan pada perut Deni.


Deni terhuyung memegang perutnya. Adit melayangkan pukulan ke wajah Deni. Pada pukulan ketiga Deni berhasil menghindar dan melakukan pukulan balasan.


Tapi Adit yang pernah menekuni Muay Thai sebentar, bukanlah lawan bagi Deni. Satu kali pukulan balasan cukup, dan Adit berhasil menghindar pada pukulan kedua. Adit menjegal kaki Deni, sehingga Deni jatuh terjungkal. Adit menindih Deni dan memukulinya. Deni hanya bisa telentang tak berdaya.


Adit masih bisa berpikir waras. Melihat wajah Deni yang sudah babak belur, Adit menghentikan pukulannya dan berdiri dari atas badan Deni.


"Pergi!" Perintah Adit.


"Tunggu pembalasanku" ancam Deni kemudian berlalu pergi.


Sementara Wulan masih telengtang dengan tubuh setengah telanjang. Adit memperhatikan kondisi Wulan yang seperti trans dan matanya tertutup rapat.


"Jangan!"


"Kumohon lepaskan aku... Jangan lakukan itu"


"Sakiiitt" rintihan Wulan akhirnya mencapai gendang telinga Adit.


Adit meraih selimut yang terlipat di ujung ranjang, lalu menutup bagian tubuh atas Wulan.


Saat Adit hendak membuka ikatan tangan Wulan, Wulan justru meronta dan menangis melolong-lolong dengan mata terpejam.


"Lepaass!! Jangan, kumohon! Maafkan aku.. aku akan melakukan apapun asal kalian tidak melakukan itu" rintih Wulan.


Kalian? Adit sangat tidak mengerti apa yang dibicarakan Wulan.


Untuk menenangkan Wulan, Adit memeluk dan berbisik lirih.


"Ssshh.. dia sudah pergi. Aku tak akan menyakitimu. Ini aku, Adit"


Adit menepuk punggung Wulan sambil mengucapkan kalimat-kalimat menenangkan.


Perlahan, kesadaranku berangsur pulih. Suara-suara Mas Adit yang menenangkan mulai menenangkan hati dan perasaanku.


Masih dalam pelukan Mas Adit, aku mulai bercerita.


"Malam itu terasa begitu dingin. Langit gelap dan tak berbintang. Mendung"


Wulan memulai kisahnya. Kisah tentang malam itu yang terpatri kuat dalam benaknya. Kisah yang tak pernah ia ungkapkan pada orang lain.

__ADS_1


__ADS_2