
Selama hampir satu jam mandi, tak ada siapapun yang mengetuk pintu kamar mandi untuk mengingatku. Mungkin para dokter dan staf rumah sakit paham bagaimana perasaanku.
Aku keluar kamar mandi dengan lesu, kembali menuju ranjang pasienku. Aku melirik jam digital pada dinding ruang UGD, menunjukkan pukul 01.35 dini hari. Sampai di tempat tidurku, tampak ibuku telah duduk di kursi sebelah ranjangku. Rautnya tampak cemas, bagaimanapun dia ibuku.
"Wulan, apa yang terjadi nak? Pak Broto bilang kamu di rumah sakit. Dia juga bilang kamu menjadi korban perkosaan. Siapa pelakunya? Pasti pria miskin itu kan? Ibu sudah sering bilang padamu, lebih baik kau tidak pacaran dengannya. Sekarang kau menyesal kan tidak mendengarkan ucapan Ibu!" ibu membombardirku dengan berbagai pertanyaan dan pernyataan begitu melihatku.
"Bukan Ryo. Deni dan kawan-kawannya", jawabku singkat. Aku lelah. Aku ingin tidur, tapi takut mimpi buruk datang menyergapku. Aku yakin kejadian itu akan selalu menghantui seumur hidupku.
"Hah? Deni dan kawan-kawannya? Maksud kamu tiga anak yang sering terlihat bersama Deni itu? Kamu diperkosa empat orang, Lan?" tanya Bu Retno tak percaya.
Aku hanya mengangguk lemah. Tak sanggup berkata-kata lagi.
Tiba-tiba senyum tersungging di bibir ibuku.
__ADS_1
"Uh, Oh. Ibu tak tahu ini musibah atau anugrah, Lan! Kamu bisa meminta pertanggungjawaban pada salah satu dari mereka. Syukur-syukur Deni yang mau menikahimu. Ibu sudah membayangkan kau akan jadi Ny. Wiratmaja. Ya, Ibu yakin Deni pasti mau menikahimu. Dia sudah lama menyukaimu", ucap ibuku bersemangat.
Aku tersentak mendengar ucapannya. Ibuku sendiri akan menikahkan aku dengan salah satu pelaku pemerkosaku! Aku tak percaya dia sanggup berkata demikian. Air mataku mulai merebak, merasa terkhianati oleh ucapan ibuku. Padahal aku berharap ibu akan memberikan dukungan moril terhadapku. Mendukungku untuk menyeret mereka ke meja hijau. Aku tak rela!
"Jangan pernah! Jangan pernah bermimpi aku akan bersedia dinikahi bajingan-bajingan itu! Aku jijik, Bu! Aku jijik! Aku tak sudi tubuhku dijamah kembali oleh salah satu dari mereka!", seruku.
"Kamu bodoh! Setidaknya dengan menikahi salah satu dari mereka hidup dan masa depan kamu terjamin. Tak perlu kamu susah-susah kuliah. Kamu hanya berfatamorgana dengan mimpimu akan menjadi orang sukses. Lagipula ibu tak akan sanggup membiayayi kuliahmu, dan itu sudah ibu sampaikan sejak lama. Mimpi tak selalu menjadi kenyataan, Lan!" tukas ibu tanpa ampun.
"Tidak, Bu! Tidak! Aku tak sudi dinikahkan dengan salah satu dari mereka!!" aku berteriak menolak yang dikatakan ibuku.
"Ada apa mbak? Mbak tarik nafas panjang lalu keluarkan perlahan. Iya benar, seperti itu. Sekali lagi, tariiiikkk-hembuskan. Mbak Wulan tenang ya, disini mbak aman. Tidak akan ada yang berani mengganggu mbak disini" ujar perawat menenangkanku.
Setelah perawat merasa aku sudah kembali tenang, perawat tersebut pamit dan berpesan pada ibuku agar ibu menjaga kestabilan mentalku.
__ADS_1
Setelah perawat pergi, kami larut dalam diam. Ibu memintaku untuk beristirahat, tapi aku tak mampu memejamkan mata barang sejenakpun. Setelah hampir satu jam aku membolak balikkan diri di atas ranjang aku bergegas bangun.
Ibu tertidur diatas kursinya dengan posisi bersandar pada dinding dan tangannya bersedekap di dada. Aku membongkar tas yang dibawa ibuku dari rumah. Benar dugaanku, isinya baju ganti. Aku segera mengganti seragam pasienku dengan celana jeans panjang dan kaos rajut lengan panjang.
Setelah berganti pakaian, aku menyambar kunci motor ibuku yang diletakkan di atas nakas samping ranjang pasien. Aku mengguncang bahu ibuku, " Bu, bangun. Aku pinjam motornya. Aku sudah lebih baik. Aku mau Polsek", ujarku cepat.
Ibu mengucek matanya, mencerna dengan lambat apa yang aku sampaikan karena tiba-tiba aku bangunkan.Lima detik kemudian, ibu rupanya mulai memahami apa yang aku ucapkan. Terdengar suara teriakan beliau menahan apa yang ingin aku lakukan. Tapi terlambat, aku sudah berlalu menuju area parkir. Tak banyak motor yang terparkir di area parkir, sehingga mempermudahku menemukan motor ibuku. Aku segera menaikinya dan melaju kencang menuju Polsek.
Tekad Wulan untuk menjerat para pelakunya sekeras baja. Wulan tak akan tinggal diam diperlakukan semena-mena. Tapi ada rencana licik Pak Darma yang siap menghadang tekadnya. Mampukah tekad Wulan melawan rencana licik Pak Darma?
**********************************
Halo semuanya, mau kasi sedikit revisi nih. Bab di atas ini harusnya Bab 12 tapi aku salah kasi judul Bab 13. Ini Bab 13 juga judulnya, tapi tenang ceritanya beda kok bukan kedobelan.
__ADS_1
Tak lupa mengingatkan utk like dan komennya. Big Hug daeri wulaaaann 🤗🤗