Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 63 Hadiah-Hadiah


__ADS_3

Sebelum telapak tangan Pak Darma mendarat di pipiku, sebuah tangan menahannya. Aku melirik dari ekor mataku tangan itu adalah tangan Mas Adit. Mas Adit menghempas tangan Pak Darma ke depan sehingga pria tua tersebut terhuyung mundur.


"Woi woi, dateng-dateng mau nampar orang!"


"Aki-aki bau tanah kurang ajar!"


Itulah teriakan para pekerja melihat sikap Pak Darma padaku. Sebagian dari mereka tampak merangsek maju hendak mengeroyok Pak Darma. Tapi aku mengulurkan tangan pada para pekerja tersebut.


"Sudah, Pak. Tak perlu diladeni orang seperti dia ini. Buang-buang energi" aku mencegah karena tak ingin terjadi keributan.


Dengan wajah murka Pak Darma menuding ke arahku.


"Dasar gadis ja lang! Lihat saja nanti. Aku pasti bikin gagal proyek kalian! Tunggu saja kamu ya!" lalu beranjak pergi setelah sebelumnya meludah ke arahku.


Aku menatapnya dengan ekspresi geli. Melihat Pak Darma seperti itu benar-benar lucu menurutku. Dia tampak seperti anak kecil yang mainannya direbut, merengek dan marah-marah. Ada perasaan puas dalam hatiku.


Pabrik ini belum berdiri, kau sudah kalang kabut seperti itu. Bagaimana kalau nanti karyawan-karyawanmu berbondong-bondong pindah kemari? Aku mendengus puas.


"Maaf atas gangguan kecil tadi. Silahkan bapak-bapak dilanjutkan menikmati makanannya. Lalu bisa kembali bekerja ya" ujarku lalu pamit.


Sementara di dalam mobilnya Pak Darma berteriak-teriak marah.


"Kurang ajar, kurang ajar! Dasar gadis sialan!!!!" teriak Pak Darma sambil memukul-mukul kemudi mobilnya.


Desas-desus dibangunnya sebuah pabrik baru di Desa Karang Gayam memang sudah didengar oleh Pak Darma. Rekan-rekannya di Pemkot memberi selentingan bahwa sebentar lagi pabrik Pak Darma akan memiliki saingan.


Tapi dia sama sekali tak menyangka seorang wanita yang dulu pernah diremehkannya, kini akan menjadi boomerang bagi dirinya. Apalagi pabrik yang akan dibangun itu memiliki besar nyaris tiga kali lipat dari pabriknya sendiri.


Pabrik tersebut di gadang-gadang akan menyerap 1000 tenaga kerja lebih, dan menjalankan sistem 24 jam/7 hari. Sistem shifting dan lembur bergantian akan diterapkan di pabrik baru itu. Dengan tawaran gaji yang lebih menggiurkan, sudah bisa dipastikan pabriknya akan kalah pamor.


"Deni, dimana kamu?!" tanya Pak Darma setelah beberapa saat lalu memarkirkan mobil di garasi rumahnya.


"Pabrik, Pa" jawab Deni dari seberang telepon.


"Kamu jangan terus-terusan menggoda karyawan-karyawan perempuan disana. Tiap hari ada saja wanita yang minta pertanggungjawaban sama kamu. Sakit hati mereka lihat kamu gonta-ganti pasangan setelah kamu puas meniduri wanita-wanita itu!" Pak Deni bersungut-sungut karena sikap anak laki-laki semata wayangnya itu.


"Bukan Deni yang godain. Mereka yang menawarkan diri. Kucing dikasih ikan mana ada yang nolak sih, Pa? Lagian sama mereka enak, gratis. Daripada sama pel*c*r mesti keluar duit" ujar Deni tergelak dan membela diri.


"Pulang sekarang!"


Pak Darma mondar-mandir menanti kepulangan anaknya. Bagaimanapun proyek itu harus dihentikan. Jika tidak bisa dihentikan, proyek itu harus jadi miliknya!


Beberapa saat menunggu, akhirnya Deni sampai di rumah. Deni tetap santai melihat raut wajah ayahnya yang keruh.


"Kamu rayu si Wulan. Buat dia bertekuk lutut padamu!" perintah Pak Darma pada anaknya.

__ADS_1


"Papa tahu Wulan sudah kembali?" tanya Deni heran.


"Ya. Tadi Papa lihat sendiri dia memimpin pembangunan proyek pabrik baru" geram Pak Darma.


"Wow" jujur Deni terkesima.


"Papa tahu, Wulan ternyata melahirkan anak itu. Bisa jadi anak Deni, cucu Papa" ujar Deni dengan segudang rencana licik.


"Papa tugasin kamu urus Wulan. Papa mau coba hubungi teman-teman di Pemkot. Pasti bisa dicari celahnya. Terutama di masalah perijinan" tukas Pak Darma sambil mulai menghubungi rekan-rekannya di Pemkot.


Setelah kepergian Pak Darma, aku masuk ke dalam kantor. Selain perasaan puas, secercah rasa takut mulai menyusup. Bagaimana kalau mereka mencoba menyakitiku lagi? Bagaimana kalau mereka juga mengusik Bune dan Langit?


Tenang, Wulan, tenang. Kamu bukan lagi wanita lemah seperti dulu. Bisikku dalam hati.


Aku duduk bersedekap, mencoba menenangkan diri. Sembari mensugesti diri, bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Siapa pria itu?" tanya Mas Adit saat aku menghidangkan semangkuk cwimie di atas mejanya.


"Makasih dulu, kek!" dengusku sebal.


"Oh iya, maaf. Thanks cwimienya" gumamnya.


"Anggap saja pria tua gila" jawabku sambil duduk di mejaku sendiri.


"Itu tidak menjelaskan pertanyaanku, Nona. Aku sudah tahu kalau dia pria gila. Tapi ada hubungan apa pria gila itu denganmu? Aku tak ingin proyek ini terkendala karena masalahmu dengan pria gila itu" ucapnya sambil mengaduk-aduk cwimie dengan sumpit.


Sepanjang sisa hari itu aku lalui dengan tenang. Aku memeriksa dan memperbaiki budgeting bulan ini untuk pabrik di Tailand. Sementara Mas Adit lebih banyak turun ke lapangan.


Keesokan harinya seperti biasa aku berangkat ke proyek setelah sarapan. Siang ini aku membekal nasi bakar. Hanya untuk diriku sendiri. Cukup sekali aku berbagi makanan dengan Mas Adit, sebagai salam perkenalan. Aku tak ingin pria itu berpikir macam-macam jika aku terlalu sering membawa makanan untuknya.


Saat tengah asyik memeriksa laporan keuangan, suara ketukan pintu terdengar olehku. Aku membukanya, dan tampak seorang pria dengan jaket hoodie dan helm full face membawa sebuket bunga.


"Dengan Wulan Febriana Lestari?" tanyanya saat aku membuka pintu.


"Ya?" jawabku dengan alis bertaut.


"Ada kiriman untuk Anda. Silahkan tanda tangan disini" ucapnya sambil menyodorkan buket bunga dan selembar kertas yang dijepit pada sebuah clipboard folio.


Walaupun dengan perasaan heran aku menerima dan menandatanganinya. Setelah kurir tersebut pergi aku membawa buket campuran bunga mawar merah dan putih itu ke mejaku.


Kuperiksa kartu ucapan yang terselip diantara tatanan bunga-bunga itu. Kubuka dan kubaca tulisan tangan yang rapi dan elegan itu.


...Hai, apa kabar?...


...Aku rindu....

__ADS_1


...Dari orang yang mengagumimu sejak dulu,...


...Deni Wiratmaja...


Aku langsung meremas kartu ucapan itu. Mengambil buket bunga tersebut dan mencampakkannya ke dalam tong sampah.


Dasar pria tak tahu malu! Rutukku dalam hati.


Hari-hari berikutnya selama seminggu, kiriman tak pernah absen datang ke proyek. Mas Adit terlihat heran, tapi tak mau terlalu banyak bertanya.


"Belum lama disini, kau sudah punya secret admirer" begitu selorohnya sesekali saat melihat tong sampah telah terisi oleh kotak hadiah dari Deni.


Aku tak menggubrisnya, dan lebih memilih diam. Menekuni pekerjaanku yang selalu menumpuk.


Saat itu Mas Adit sedang pamit membeli material penting yang harus segera ada. Sudah hampir satu jam sejak kepergian Mas Adit, Pak Adi sudah dua kali menanyakan kapan Mas Adit akan kembali. Aku hanya bisa menjawab bahwa aku tak tahu kapan dia akan kembali.


Ceklek.


"Pak Adi dari ta..." Aku mendongak dari setumpuk dokumen, berpikir bahwa yang datang adalah Mas Adit. Tapi saat melihat siapa yang datang, seketika kalimatku terputus.


Senyum yang sempat terkembang langsung menghilang saat aku tahu siapa yang datang.


"Pergi!" sergahku kasar.


"Hei, hei. Kasar sekali" seringai sinis terpampang di bibir Deni.


"Pergi!" aku kembali mengusirnya.


"Kau tak merindukanku? Aku sangat merindukanmu. Tak ada yang senikmat dirimu, kau tahu?" ucap Deni tak menggubris kata-kataku.


Perlahan Deni berjalan menuju mejaku. Mengangkat satu-satunya kursi yang tersisa di ruangan kantor ini, kursi Mas Adit, dan meletakkannya di sebelah kursiku. Aku berusaha beringsut sejauh mungkin darinya, tapi terhalang tembok.


Aku menatapnya nyalang, dan mataku mulai memanas akibat amarah.


"Kau tetap saja sombong. Tak sedikitpun membalas kiriman-kirimanku padamu" Deni menatap lekat ke arahku.


Aku tak bisa melakukan apapun. Tubuhku rasanya kaku seperti papan, tak dapat kugerakkan. Kelebatan bayangan malam itu kembali memenuhi pikiranku.


"Kumohon jangan lakukan itu" lirihku dengan mata terpejam.


"Hei aku belum melakukan apapun" ucap Deni. Tapi aku sama sekali tidak mendengar apapun yang diucapkan Deni.


"Lepaskan, ampun. Ampun...ampun"


"Kubilang aku belum melakukan apapun!" bentak Deni dan mencengkram daguku. Mataku tetap memejam. Air mata sudah bercucuran.

__ADS_1


"Bibirmu memang selalu menggoda" seringaian muncul kembali di wajah Deni.


Deni sudah mendekatkan bibirnya pada bibir Wulan. Apakah Wulan akan kembali mendapat perlakuan tidak pantas dari Deni?


__ADS_2