
"Cukup, Mas Adit. Jangan buang energi untuk bajingan seperti dia!" tukasku mencegah terjadinya perkelahian.
Mas Adit melepas Deni. Sementara Deni mengibaskan tangannya yang tadi di cengkeram Mas Adit seolah mengibaskan kotoran.
"Turuti saranku, Lan! Aku selalu ada untukmu" ucap Deni santai kemudian berlalu.
Aku segera mengantarkan Mas Adit pulang, karena hari sudah hampir malam.
Keesokan harinya pukul tujuh pagi aku sudah berangkat ke proyek. Aku sudah menceritakan masalah yang terjadi pada Bune. Sebelum berangkat Bune membekaliku 5 kotak brownies dan setermos teh chamomile.
"Untuk menjamu 'tamu-tamu' yang mau datang. Sisanya buat dibagi sama pekerja proyek" begitu kata Bune saat mengemas kotak-kotak brownies itu.
Tamu mau bikin onar, ngapain dijamu! pikirku gemas saat itu.
Sampai di proyek, lima orang tampak sudah menanti. Para pekerja proyek sudah dilarang melakukan pengerjaan apapun selama proses musyawarah masih berlangsung.
Diantara lima orang tersebut, sudah tentu ada Pak Naryo. Aku yakin penggagas ide demo adalah Pak Naryo dan diakomodir oleh Pak Darma. Dasar manusia-manusia licik.
Mas Adit muncul tak lama setelah kedatanganku. Dia menggotong lima buah kursi plastik masuk ke kantor.
"Masak tamunya nanti disuruh berdiri" begitu gumam Mas Adit menjawab tatapan mataku.
Setelah aku menyiapkan potongan-potongan brownies di atas meja dan juga teh chamomile dalam gelas sekali pakai, aku mempersilahkan para "tamu" masuk ke dalam kantor.
"Jadi apa tuntunan Anda sekalian kepada kami?" tanyaku tanpa berbasa-basi.
"Sambil dinikmati, Pak, Mas, suguhannya" Mas Adit menimpali.
"Silahkan di baca" kata Pak Naryo sambil menyerahkan selembar kertas kepadaku.
Aku membaca kertas tersebut bersamaan dengan Mas Adit.
...SURAT PERNYATAAN...
Kami selaku warga Desa Karang Gayam (yang selanjutnya disebut Pihak Pertama) menolak keras dibangunnya pabrik baru yang digawangi oleh Wulan Febriana Lestari (yang selanjutnya disebut sebagai Pihak Kedua). Alasan penolakan kami adalah sebagai berikut :
1. Perusahaan yang sedang dalam tahap pembangunan ini adalah perusahaan asing yang hanya menyerap tenaga luar daerah tanpa memberi kesempatan kepada warga lokal untuk berkontribusi.
2. Limbah yang dihasilkan pabrik dapat mencemari lingkungan sekitar yang bisa berimbas pada kesehatan tanah dan sumber mata air penduduk Desa Karang Gayam.
3. Pihak Pertama dikabarkan menolak pungutan dalam segala bentuk.
Pihak Pertama bersedia mencabut penolakan, jika Pihak Kedua bersedia mengabulkan seluruh tuntutan dari Pihak Pertama. Tuntutan tersebut antara lain :
__ADS_1
1. Pegawai pabrik baru 80% harus berasal dari Pihak Pertama.
2. Tidak boleh ada limbah cair yang dibuang oleh Pihak Kedua di lingkungan Desa Karang Gayam.
3. Seluruh limbah padat yang dapat diolah kembali harus diserahkan kepada Pihak Pertama (diserahkan, bukan dibeli)
4. Pihak Kedua wajib menyerahkan iuran kepada Pihak Pertama sebesar 5% keuntungan bulanan yang dihasilkan oleh Pihak Kedua.
Demikian Surat pernyataan ini dibuat untuk disetujui.
Pihak Kedua Pihak Pertama
(Wulan F.L.) (Desa Karang Gayam)
"Perampokan ini namanya!" geramku setelah selesai membaca kertas tersebut.
Mas Adit menenangkanku dengan mengelus lembut bahuku. Aku merinding dibuatnya.
Pak Naryo nampak tersenyum puas melihat kegusaranku. Sementara empat orang yang lain menampakkan ekspresi angkuh dan garang.
"Tidak bisa dinegosiasikan lagi tuntutan-tuntutannya, Pak?" tanya Mas Adit dengan tenang.
"Sudah keputusan bulat!" jawab Pak Naryo ketus.
"Dan jika memang tidak bisa dinegosiasikan bersama, terpaksa kami akan menempuh jalur hukum. Perusahaan Bu Wulan ini punya kuasa-kuasa hukum handal. Masalah seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari untuk tim legal PT. Textile Globalindo" tukas Mas Adit masih dengan tenang sekalipun ada ketegasan dalam suaranya.
"Jadi kamu mengancam?" ucap Pak Naryo dengan gusar.
"Bukan mengancam Pak, tapi saya mencoba membuat kesepakatan" jawab Mas Adit kalem.
Aku terkesan dengan cara Mas Adit bernegosiasi. Tampak kelima orang tersebut berpikir keras. Rupanya ancaman Mas Adit benar-benar dipertimbangkan oleh mereka.
"Baik, kalau begitu apa penawaran kalian?" tanya Pak Naryo angkuh.
"Silahkan, Bu Wulan. Waktu dan tempat saya persilahkan" seloroh Mas Adit.
"Pertama, saya jelaskan mengenai alasan-alasan penolakan Anda terhadap didirikannya pabrik ini sama sekali tidak berdasar. Perusahaan kami membuka kesempatan sama besarnya bagi siapapun untuk bergabung bersama kami. Hanya satu syaratnya, skill yang baik. Baik soft skill maupun hard skill" aku memaparkan pendapatku.
"Ah, ga ngerti kami sekil-sekil gitu! Kami maunya dituruti" ucap Pak Naryo gusar.
"Silahkan dilanjutkan, Bu" kata seorang pemuda. Pemuda ini tampak lebih bisa diajak berdiskusi.
"Terima kasih, Mas. Selanjutnya masalah 'upeti'" ucapku sambil membuat tanda kutip pada kata 'upeti'
__ADS_1
"Perusahaan kami tidak pernah menolak memberikan 'upeti' dimanapun kami mendirikan pabrik. Sudah jadi rahasia umum bahwa 'upeti' merupakan hal sunnah demi kelancaran proses produksi kami. Saya sebut sunnah karena tidak ada peraturan tertulis mengenai masalah tersebut. Tapi mendatangkan kebaikan jika kami lakukan"
"Ketiga masalah limbah. Perlu Anda sekalian tahu, pabrik ini rencananya khusus untuk memproduksi kemeja dan non washing. Jadi tidak akan ada limbah cair dalam prosesnya. Hanya ada scrap, yang berasal dari sisa potongan-potongan kain"
"Sampai disini bisa dipahami, Pak?" tanyaku mengakhiri penjelasanku.
Mereka tampak manggut-manggut, kecuali Pak Naryo yang terlihat merengut. Penjelasanku mementahkan semua tuduhannya.
"Untuk tuntutan Anda, semuanya benar-benar tidak masuk akal. Silahkan anda kalkulasikan sendiri. Pabrik kami akan beroperasi 24 jam/7 hari dengan sistem shift dan lembur bergilirian. Diperkirakan akan menyerap 1000 tenaga kerja lebih, dan Anda meminta kuota minimal 800 orang? Apa itu masuk akal?"
"Masalah penyerahan scrap. Per hari dari hasil penjualan scrap kami bisa mendapat 2-4 juta. Perbulan? 60-120 juta! Anda memang berniat merampok sepertinya"
"Dan yang paling konyol adalah upeti 5% dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Apa Anda semua berpikir ini pabrik ecek-ecek dengan keuntungan 5-10 juta per bulan? Ini pabrik besar, Pak! Tak hanya kebutuhan lokal, kami juga memenuhi kebutuhan ekspor. Keuntungan bersih perbulan minimal 15-20 miliar. Dan Anda mau 5%-nya? Apa Anda sedang melucu?" jelasku panjang lebar dengan berapi-api.
Selama penjelasanku, Mas Adit berkali-kali mengelus pundakku berusaha menenangkan. Tapi tak kupedulikan perasaan merinding yang menderaku.
"Terserah! Pokoknya kami mau tuntutan kami dipenuhi! Kalau tidak, silahkan angkat kaki!" ucap Pak Naryo sambil menggebrak meja.
Empat orang yang lain tampak bingung. Mereka terkejut dengan hal-hal yang dipaparkan oleh Wulan. Tak menyangka pabrik sebesar itu akan dibangun di desa mereka.
"Saya akan buat penawaran yang lebih masuk akal. Intinya kesepakatan yang akan menguntungkan kedua belah pihak. Bukan berat sebelah"
"Sekarang izinkan saya berpikir terlebih dahulu" tukasku lalu kembali ke meja kerjaku.
Mereka berlima tampak saling berbisik-bisik. Mendiskusikan informasi baru yang mereka terima. Rupanya mereka terkesima akan semua besaran yang aku paparkan.
"Baik, Bu. Kalau begitu kami akan pikirkan lagi bagaimana caranya supaya berimbang" ucap pemuda yang tadi tampak lebih bisa diajak berdiskusi. Pemuda itu tak mempedulikan ekspresi Pak Naryo yang tampak memberengut.
"Kami permisi. Besok kita diskusikan lagi masalah ini" ucap bapak yang duduk di samping kiri Pak Naryo.
Aku hanya mengangguk. Mas Adit mengantar kepergian para 'tamu' sampai depan pintu kantor.
"Sabar, Lan. Menghadapi orang-orang seperti itu kita harus punya pelampung. Ibarat kita lagi berenang di dalam sungai dengan arus deras. Kita harus ikut arus agar tidak melelahkan. Tapi kita juga memegang pelampung agar tidak tenggelam" tukas Mas Adit menenangkan.
"Tuntutan mereka bener-bener ga masuk akal, Mas!" geramku.
"Iya, tapi te..." ucapan Mas Adit terpotong oleh ketukan di pintu.
Mas Adit membuka pintu dan tampak tiga orang berpakaian dinas warna coklat memasuki ruangan.
"Ya, Pak?" tanyaku pada mereka sambil menyalami mereka satu per satu.
"Dengan sangat menyesal, kami menyampaikan bahwa proses pembangunan harus dihentikan!" ucap seorang dengan name tag "Subandi" terpasang pada dada kirinya.
__ADS_1
Wulan terkejut dengan ucapan orang tersebut. Masalah satu belum selesai, kenapa muncul masalah yang lain? batin Wulan merana.