Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 83 Menolak Brika


__ADS_3

"Hai, apa kabar? Ini nomorku. Save ya 😉 Brika"


Itulah awal mula dari serentetan pesan yang kuterima dari Brika setiap harinya. Setelah kepulangan rombongan Mas Ronald ke Surabaya, Brika secara intens sering menghubungiku dengan pesan-pesan singkat. Sesekali juga melalui telepon.


"Lagi ngapain?"


"Hobby kamu apa?"


"Film kesukaan kamu apa?"


"Musik favoritmu?"


"Siapa penyanyi favoritmu?"


"Suka ini ga? Suka itu ga?"


"Selamat siang. Udah maem belum?"


"Langit apa kabar? Sampaikan salamku untuk Langit juga, ya!"


Itulah isi pesan yang sering dikirimkan Brika. Hingga suatu saat akhirnya Brika berani menyatakan perasaannya padaku melalui telepon setelah hampir satu bulan pendekatan.


Saat itu aku masih berada di proyek. Masih sore, sekitar pukul tiga.


"Lan, aku mau ngomong serius" ujarnya setelah hampir lima belas menit berbasa-basi.


"Hhmmm?" Aku bergumam menanggapi. Saat itu pintu kantor terdengar membuka kemudian kembali tertutup.


Aku sedang membelakangi pintu dan meja kerja Mas Adit saat ini. Tapi aku bisa merasakan ada sepasang mata yang sedang menatap tajam punggungku. Tak kuhiraukan dan mendengar dengan seksama apa perkataan Brika.


"Aku tertarik sama kamu, bahkan sejak liat foto kamu di laptop Kak Ronald" lanjut Brika.


"Lalu?" Tanyaku pura-pura lugu.


"Kamu bersedia jika aku ingin semakin dekat denganmu? Maksudku, kamu mau jadi kekasihku?" Tanya Brika lirih.


"Mas Ronald atau Diva tak pernah mengatakan sesuatu padamu mengenai diriku?"


"Sesuatu apa?" Tanya Brika bingung.


"Apa saja. Apa yang dikatakan Mas Ronald atau Diva tentang diriku?" Aku ingin memastikan apa mereka telah mengatakan tentang kondisiku pada Brika.


"Tidak ada yang spesial. Kak Ronald mengatakan sebaiknya aku mundur. Kak Diva bilang, kamu adalah tipe wanita yang sangat sulit didekati" jawab Brika.


"Hanya itu?" Aku bersyukur. Setidaknya Diva dan Mas Ronald menghargai privasiku. Tidak mengatakan kondisiku pada orang lain tanpa izinku.

__ADS_1


Brika berdeham menanggapi.


"Sebelumnya, aku ingin membenarkan saran Mas Ronald. Sebaiknya kamu mundur. Perempuan lain yang lebih baik dari aku banyak. Aku..."


"Tapi aku tertarik sama kamu, Lan" Brika memotong perkataanku.


"Tolong dengarkan aku dulu. Aku mempunyai trauma yang membuatku tak bisa dekat dengan lelaki manapun. Tapi aku minta maaf, tak bisa menjelaskan lebih jauh kondisiku padamu" ujarku meminta pengertiannya.


"Apa kamu sedang beralasan, Lan?" Nada Brika terdengar tersinggung.


"Tidak, tentu tidak. Aku tak masalah jika kamu tidak mempercayai kata-kataku. Aku hanya ingin jujur padamu mengenai salah satu alasanku tidak bisa menerimamu, Ka"


"Salah satu? Apa ada alasan yang lain?" Tanya Brika.


"Ya, dan ini adalah alasan utamaku" aku diam beberapa lama.


Brika menanti.


Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya berat. Aku berharap kata-kataku selanjutnya tidak akan menyakiti Brika.


"Aku berterima kasih atas perasaanmu. Tapi maaf, aku tidak bisa membalasnya, karena aku tidak memiliki perasaan yang sama terhadapmu. Aku hanya menganggamu teman, tak bisa lebih dari itu" jawabku mantap.


"Mungkin karena kita baru kenal. Jika kamu lebih mengenalku, mungkin kamu akan berubah pikiran, Lan" Brika mencoba meyakinkan bahwa suatu saat aku bisa tertarik padanya.


"Maaf, Ka" gumamku.


"Hhmmm" aku berdeham mengiyakan.


"Oke. Kamu tahu prinsipku, Lan? Selama janur kuning belum melengkung, kesempatan itu selalu ada. Aku tidak akan menyerah. Jangan bosan membalas pesan-pesanku, ya?" Ujar Brika dengan nada mantap.


"Terserah padamu. Yang penting aku sudah mrmperingtkan" kataku dengan nada geli.


Brika mengakhiri panggilan teleponnya. Meski telepon sudah ditutup aku tetap meletakkan ponsel pada telingaku. Aku sedang ingin berbuat iseng.


Dengan cepat aku berbalik pada Mas Adit.


"Hayo nguping!!" Tukasku dengan senyum jenaka.


Mas Adit yang tak menyangka akan seranganku gelagapan dan mukanya memerah. Tangannya yang ditopangkan ke dagu, merosot sehingga menyebabkan wajahnya nyaris menghantam meja.


"Dih, sok tahu!" Sungutnya lalu melengoskan wajah.


Aku tergelak lalu melanjutkan pekerjaanku. Kulirik, Mas Adit mulai mengamati gambarnya.


Adit sebenarnya memang mendengarkan percakapan Wulan saat gadis itu bertelepon dengan seseorang, yang ia tebak adalah Brika. Pemuda yang sebulan lalu dikenalkan padanya sebagai sepupu dari seorang pria bernama Ronald.

__ADS_1


Diam-diam Adit tersenyum saat mendengar perkataan Wulan yang mengatakan bahwa dirinya tak memiliki perasaan yang sama pada pemuda itu. Adit bisa menyimpulkan bahwa Wulan baru saja menolak Brika.


Adit merasa dirinya kurang ajar, bahagia di atas penderitaan orang lain. Sambil berpura-pura mengamati gambar desainnya, Adit menikmati perasaan berbunga-bunga dalam hatinya.


Beberapa saat tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila, sejurus kemudian senyum itu mendadak sirna.


Anin, Aluna, maafkan Papa. Apa Papa kini telah berubah menjadi laki-laki tak setia? Bolehkah Papa merasakan perasaan seperti ini terhadap wanita lain? Batin Adit muram.


Dalam kemuramannya Adit memutuskan, hari Minggu esok dia akan mengunjungi makam anak dan istrinya. Sudah lama ia tidak mengunjungi mereka. Terakhir adalah sebelum keberangkatannya ke Pasuruan, sekitar tiga bulan yang lalu.


Tak terasa, proyek sudah berjalan tiga bulan. Pondasi sudah dipasang, dan dinding-dinding mulai terbangun disekeliling bangunan yang akan berfungsi sebagai pabrik garment.


Hari Minggu Tiba.


Pukul delapan pagi Bune mengajak Langit ke pasar lalu belanja keperluan bulanan ke Duperindo. Aku yang sedang mager alias males gerak, memilih diam di rumah sambil membaca novel Harry Potter yang ingin kubaca ulang.


Aku sedang duduk di ruang tamu sambil menyemil camilan yang disebut oleh orang dengan nama 't a i koceng' karena memang bentuknya yang menyerupai kotoran kucing.


Ah, kenapa namanya menjijikkan tapi rasanya enak begini? Batinku sambil mengamati camilan berbalut gula itu.


"Au ah, gelap" gumamku sendiri lalu melahap makanan itu.


Sambil membalik-balik halaman yang telah selesai kubaca, aku menikmati waktu me time-ku.


Brakk!!


Pintu ruang tamu yang tidak dikunci menjeblak terbuka.


Aku sedikit terlonjak kaget saat mendengar pintu yang tiba-tiba dibuka seseroang dengan kasar. Aku mendelik saat melihat orang yang telah membuka pintu rumahku dengan kasar.


"Mau apa kau kemari?" Sergahku kasar lalu berdiri. Bersiap kabur ke kamar setiap saat jika diperlukan.


"Gadis brengsek! Kau membuatku, cacat! Kau harus merasakan hukuman dariku!"


*********************************


Hai reader sekalian.. kalian tahu jajanan yang diberi nama t a i koceng? Ada yang pernah makan. Itu tuh camilan favoritku.


Manis, renyah, krenyes-krenyes.


Terbuat dari kanji, telur, dan mentega. Setelah kalis digulung kecil-kecil lalu digoreng. Setelah dingin, dimasukkan dalam larutan gula kental yang masih panas. Nanti kalau gulanya udah dingin, gulanya nempel-nempel di kuenya. Author sering bikin buat cemilan krucil-krucil 😁


Heran sama orang Indo, ngasih nama jajanan suka aneh-aneh. Padahal menurutku, bentuknya lebih mirip t a i tikus dalam bentuk jumbo. Aiiihh, nyeleneh pisan pikirannya 😂😂


Jangan lupa, jempol jangan kelewat yaa..

__ADS_1


Love you all 😘😘


__ADS_2