
Selama tiga hari berikutnya aku tak mampu berangkat ke sekolah. Selain karena enggan bertemu orang-orang yang telah dzalim kepadaku, aku juga merasa malu. Masih terlihat memar di pipiku, dan juga beberapa bercak kemerahan di leher dan sekitar dadaku. Bercak kemerahan di leher pasti akan terlihat karena seragam sekolahku tak mampu menutupinya.
Aku menulis sendiri surat permohon ijin tidak masuk sekolahku, alasan yang aku tuliskan adalah sakit. Aku meletakkan surat ijin yang aku tulis di meja makan bersama selembar catatan bertuliskan, "Tolong ibu tanda tangan surat ijinku, kemudian antarkan ke sekolah". Aku tak peduli surat tersebut akan sampai ke pihak sekolah atau tidak.
Aku tak berbicara pada ibuku sejak aku pulang dari rumah sakit. Aku masih sakit hati. Aku merasa ibu menggadaikan aku, memaksaku menikah dengan Deni demi bisa menikmati kekayaan Wiratmaja. Selama tiga hari aku di rumah, aku sama sekali tidak keluar kamar kecuali untuk ke kamar mandi dan mengambil makanan.
Selama tiga hari itu pula ibu yang memasak. Hidangan ala kadarnya terhidang di meja makan. Sebenarnya aku malas sekali untuk makan, kalau bisa aku ingin mati kelaparan. Tapi mengingat cita-cita besarku, aku seperti mendapat semangat untuk mempertahankan hidup.
Selama tiga hari aku berkurung dalam kamar aku meyakinkan diri sesuai dengan nasihat dokter kandungan yang aku kunjungi beberapa waktu lalu. Beberapa kali pula aku menghitung, apakah saat hari kejadian adalah masa suburku. "Sepertinya bukan", gumamku berkali-kali berusaha menghibur diri.
Dengan semangat "Sepertinya bukan" aku kembali mencoba menjadi diriku yang dulu. Aku memulai kembali rutinitasku di sore hari ketiga aku mengurung diri dalam kamar. Aku mulai keluar kamar dan memilih membersihkan rumah.
__ADS_1
Rumah sangat kotor saat aku keluar kamar dan memperhatikan kondisi rumah. Lantai rumah berdebu, cucian baju menumpuk, begitu pula cucian piring. Aku mulai memasukkan baju ke dalam mesin cuci dan menjalankannya. Sembari menunggu mesin cuci selesai melakukan tugasnya, aku memeriksa persiadaan di lemari pendingin. Ada dori fillet dalam freezer lalu aku keluarkan agar memudahkanku saat akan mengolahnya. Aku menyapu dan mengepel lantai rumah, kemudian dilanjutkan mencuci piring.
Suara motor ibu terdengar memasuki pagar saat aku baru saja selesai memasak. Aku berusaha menghindari bertemu dengan ibuku dengan masuk ke kamar mandi. Aku tahu tak akan bisa selamanya menghindari ibuku, tapi aku masih enggan bertemu beliau.
Sekarang acara mandi menjadi waktu penyiksaan yang aku nikmati. Sejak kejadian itu, aku mandi tak pernah kurang dari tiga puluh menit. Aku selalu menggosok kuat-kuat seluruh tubuhku menggunakan shower puff, berusaha mengenyahkan sisa-sisa sentuhan pria-pria bajingan itu. Alhasil, tiap kali selesai mandi kulitku yang kuning langsat menjadi kemerahan. Beberapa kali sampai pernah terasa pedih saking kuatnya aku menggosok.
Keluar dari kamar mandi, ibu telah duduk di meja makan dan masih mengenakan pakaian kerjanya.
"Anak ibu sudah kembali rupanya. Ibu mandi dulu ya, setelah itu kita makan malam bareng", kata ibu dengan senyum sumringah.
Selesai mengganti baju dan menyisir rambut sepinggangku, aku menuju meja makan. Tampak ibu sudah menunggu di tempat biasa ia duduk. Ibu mengambil makan untuk dirinya sendiri, kemudian dilanjutkan giliranku. Aku masih tak begitu berselera makan sehingga mengambil sedikit sekali nasi.
__ADS_1
"Makan sedikit sekali, Nak?" tanya ibu.
Aku mendengus, jarang sekali ibu memanggilku dengan sebutan "Nak". Pasti ada maunya, pikirku. Aku masih enggan berbicara dengan beliau, sehingga aku hanya mengangkat bahu sebagai jawaban.
"Tadi Deni nanyain kabar kamu. Tiga hari ga liat kamu di sekolah, kangen katanya. Deni juga mulai manggil dengan sebutan 'Ibu' sama ibu, biasanya manggil 'Bu Retno, Bu Retno' gitu. Mungkin latihan karena sebentar lagi bakal jadi mantu", ibuku tersenyum lebar saat mengatakannya tanpa peduli perasaanku.
***** makanku lenyap seketika. Aku mendelik marah pada ibuku. "Jangan harap!", sergahku kasar sambil membanting sendok yang aku pegang. Aku langsung berdiri dari dudukku dan berlalu menuju kamarku tanpa merapikan meja makan terlebih dahulu seperti kebiasaanku selama ini.
"Dasar anak tidak tahu sopan santun! Ibu belum selesai bicara denganmu!", ibu memekik karena geram melihatku pergi meninggalkannya.
Aku tak mempedulikannya. Aku masuk kamar dan mencoba tidur walau dengan perasaan kesal. Walaupun aku takut untuk tidur, tetapi aku tetap butuh istirahat. Aku takut mimpi buruk tentang kejadian malam itu kembali. Aku selalu terbangun dengan terengah-engah dan keringat dingin yang membasahi sekujur tubuhku. Alasannya tentu saja karena mimpi buruk yang sama yang selalu menghantui tidurku, baik itu siang maupun malam. Jika sudah seperti itu, aku akan mendekap lututku erat-erat. Mencari ketenangan, karena itu adalah bentuk pertahanan diriku yang terakhir.
__ADS_1
Biasanya setelah terbangun aku tak bisa lagi memejamkan mata untuk melanjutkan tidur. Waktu tersebut aku manfaatkan untuk belajar. Aku tak ingin pelajaranku tertinggal karena tidak masuk sekolah selama tiga hari.
Dengan semangat untuk menata kehidupannya kembali, Wulan mencoba melupakan malam nahas itu. Sambil tak putus berdoa agar Tuhan tidak membiarkan apa yang selama ini ditakutkan oleh Wulan terjadi. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, Tuhan yang menentukan.