
Aku mengalihkan pandanganku dari tatapan Mas Adit dengan berpura-pura meminum teh kotak yang tak disentuh oleh Lisa tadi. Aku masih bisa merasakan tatapan tajam Mas Adit menanti jawabanku.
"Aku...aku ga bisa, Mas" jawabku lirih, masih tak berani menatap matanya.
"Tatap aku" pinta Mas Adit.
Aku perlahan mendongakkan wajahku, tapi bola mataku berkelana. Tidak berani menatap matanya.
"Lan..." pinta Mas Adit halus.
Aku sudah tak bisa mengelak. Menatap matanya yang tajam membuat nafasku serasa tercekat.
"Aku ga bisa, Mas" ulangku.
"Kenapa? Apa kamu tidak menyukaiku?" tanya Mas Adit dan menyelidik mataku dalam.
"Aku...aku punya trauma. Mas Ronald dulu mendiagnosisku kemungkinan aku mengidap PTSD. Mas tahu 'kan, gangguan pasca trauma?" terangku pada Mas Adit.
"Aku tahu" cetus Mas Adit singkat.
"Mas Adit tahu?" tanyaku heran.
"Maksudku, aku tidak tahu gejala seperti apa yang kamu milikki. Tapi aku tahu, kejadian setragis itu pasti akan meninggalkan bekas pada dirimu. Usiamu masih terhitung belia saat itu. Mentalmu pasti terluka, dan pasti meninggalkan bekas" jelas Mas Adit.
"Mas Adit tidak akan sanggup. Aku tidak tahu kapan kondisiku akan berakhir" ujarku skeptis.
"Tapi aku perlu memastikan sesuatu. Apa kau tidak menyukaiku?" tanya Mas Adit. Tatapannya kian dalam dan sendu.
"Aku...aku..." aku tergagap. Aku takut aku akan mengecewakannya. Bagaimana jika selamanya aku tidak bisa bersentuhan dengan pria. Hubungan antara pria dan wanita, tentu tak bisa lepas dari kontak fisik.
Mas Adit menanti.
"Bukan aku tidak menyukai Mas Adit,..." gumamku menggantung.
"Berarti kau menyukaiku?" Adit merasa seperti menanyai seorang anak TK yang harus ditanyai berulang-ulang, baru menjawab. Adit merasa gemas. Wulan masih diam sambil menatap mata Adit bingung.
Rasa gemas membuat keberanian Adit terkumpul. Direngkuhnya pipi Wulan, lalu dikecupnya sekilas bibir ranum nan sensual yang sedari tadi memanggil-manggil agar Adit segera mendaratkan bibirnya disana.
Cup!
Mata Wulan membelalak dengan indahnya. Adit memperhatikan Wulan yang saat itu berdandan seperti biasanya. Rambut sebahunya selalu dikuncir kuda, separuh poninya menutupi dahinya, dan dijepit dengan sebuah jepit kecil yang manis. Sebuah kalung emas dengan liontin berbentuk hati kecil menghiasi lehernya.
Dan apa itu? Titik-titik keringat mulai bermunculan di leher, di dahi, di atas bibir Wulan. Dan semakin basah seiring detik demi detik yang berlalu.
Diraihnya tangan Wulan, yang mengenakan kemeja lengan panjang. Kain lengan kemeja itu sudah basah. Adit meraba telapak tangan Wulan, juga basah kuyub. Padahal ruangan ini ber-AC dan disetel pada suhu yang relatif dingin.
__ADS_1
"Inikah?" tanya Mas Adit setelah beberapa saat menjelajahi keadaanku.
Aku menggigit bibirku dan mengangguk.
"Jangan lakukan itu!" Lirih Mas Adit.
"Hah??" Aku menatapnya bingung.
"Menggigit bibir seperti itu, kau tahu, itu membuatku..." Kata Mas Adit sembari mengedikkan bahu dan tersenyum kecut sekaligus sungkan.
"Oh! Maaf" ujarku paham. Aku tahu bahwa aku memang menarik di mata laki-laki.
"Kita hadapi bersama, oke?" Cetus Mas Adit sambil menautkan jari di kedua tangan kami.
"Tapi, Mas..." Aku sudah berniat mendebat Mas Adit. Jujur aku merasa tidak percaya diri.
"No debate, no argument" tegas Mas Adit.
Aku mengatupkan mulutku.
"Kalau Mas sudah ga tahan sama aku bilang, ya. Aku ga akan mempersulit Mas Adit, kok" ujarku dengan nada yang sengaja kubuat riang, walaupun aku merasa rendah diri.
"Hei, hei. Belum apa-apa kok udah mikir yang buruk-buruk" ucap Mas Adit dengan cemberut.
Aku tersenyum canggung menanggapi.
Aku menggigit bibirku dan mengangguk malu-malu.
"Ish, udah dibilang jangan gigit bibir gitu kok" kata Mas Adit gemas.
"Eh, sorry" ucapku nyengir.
"Jangan salahin aku, kamu yang goda" gumam Mas Adit lalu membungkukkan badannya melepaskan salah satu tautan tangan kami untuk meraih daguku.
"Sebagai latihan!" Ucapnya saat bibir kami hanya berjarak tak lebih dari satu senti.
Lalu Mas Adit me-lu-mat bibirku. Bibirnya bergerak dengan lembut, dan menggigiti bibirku dengan sama lembutnya.
Aku memejamkan mata dan membuka mulutku agar lidah Mas Adit dapat menerobos masuk. Bibir Mas Adit layaknya angin, menggerakkan apapun yang dilaluinya. Dan bibirkulah yang dilalui oleh bibir Mas Adit. Bibirku bergerak seirama dengan gerakan bibir Mas Adit.
Kutepis debaran jantung yang bertalu-talu seolah ingin meloncat keluar dari rusukku. Kuabaikan keringat yang mengucur di sekujur tubuhku.
Ciuman kami semakin panas, seperti api yang semakin berkobar. Tautan jari Adit pada jari Wulan semakin kuat. Tangan Adit yang tadi meraih dagu Wulan, telah berpindah ke tengkuk Wulan dan meremasnya lembut.
Sebenarnya Adit ingin sekali menjelajahi dan mengenali bagian-bagian Wulan dengan sentuhannya. Tapi Adit menahan diri. Adit tak ingin menyakiti wanita yang masih tampak begitu rapuh akibat luka masa lalunya.
__ADS_1
Beberapa menit berciuman, akhirnya Mas Adit melepaskan pagutan bibir kami. Entah mengapa, ada rasa tak rela menyusup dalam hatiku.
"Kamu basah" gumam Mas Adit sambil menunjukkan tangan yang masih saling bertaut.
Aku tersenyum malu, dan mencoba melepaskan tanganku. Tapi Mas Adit menahannya.
Tangan Mas Adit yang tadi berada pada tengkukku, kini berpindah ke bibirku. Mengelus bibirku lembut sambil menatapku dalam. Aku merinding dibuatnya.
"Tapi bibir ini candu" gumam Adit lalu menyatukan bibirnya dengan bibir ranum itu sekali lagi. Bibir mereka bergerak lagi dengan seirama. Saling menyesap dan menggigit lembut.
Tangan Wulan yang dari tadi memegang meja, pada ciuman kedua ini telah berani me-re-mas kemeja Adit. Membuat bagian depan kemeja itu pasti kusut saat dilepaskan nanti.
"Eheemm! Maaf mengganggu" gumam Pak Adi lalu menutup pintu kembali.
Saking asyiknya bercumbu kami tak menyadari Pak Adi membuka pintu ruangan dan menyaksikan keseruan kami.
Aku yang terkejut sontak mendorong Mas Adit menjauh. Tapi rupanya aku tak sempat mengukur kekuatanku. Mas Adit (kembali) jatuh terjengkang.
Mas Adit meringis kesakitan, lalu mendelik sebal.
"Kamu kalau kaget suka ngejatuhin orang, ya!" Sungut Mas Adit lalu berusaha berdiri dan menepuk-nepuk bokongnya.
"Maaf, maaf" ujarku sambil mengulurkan tangan mencoba membantu.
"Harus dicatat ini, ga boleh bikin kamu kaget" cetus Mas Adit sambil tersenyum geli. Senyum yang menambah kadar ketampanannya, dan membuatku 'meleleh'.
Mas Adit meraih uluran tanganku, dan bangkit berdiri.
"Practices, success" gumamnya lalu menarikku dan memelukku erat.
Aku membalas pelukan Mas Adit. Sehingga praktis membuat tubuh kami saling berhimpitan. Dan tentu saja, dadaku menekan area antara dada dan perut Mas Adit.
"Aduh, ga sanggup aku, Lan! Jangan bikin Imron semakin berontak, nanti iman bisa runtuh" gumam Mas Adit sambil melepaskan pelukan kami.
"Yang main tarik dan peluk siapa, ya?" Cibirku pada Mas Adit.
Mas Adit terkekeh.
"Nanti ke Polres bareng aku, ya. Aku dipanggil untuk dimintai keterangan sebagai saksi" kata Mas Adit.
"Boleh" aku mengiyakan.
"Aku ke Pak Adi dulu. Kayaknya ada yang mau disampaikan" pamit Mas Adit.
Aku mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Setelah kepergian Adit, Wulan meraba bibirnya sendiri. Tak bisa dipungkiri, ia menikmati ciuman itu. Saat teringat kembali akan ciuman 'panas' tadi pipinya memanas. Ah, aku belum lupa bagaimana cara berciuman rupanya. Batin Wulan malu.