Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 79 Pengeroyokan


__ADS_3

Saat di parkiran, Deni m e l u m a t bibir Nia beberapa lama. Membuat kelelakiannya menggeliat di balik celana jeansnya.


Karena sudah tak bisa menahan hasrat, Deni segera melajukan mobilnya dan mencari motel atau hotel terdekat.


Sepanjang perjalanan tangan Nia tak berhenti berbuat nakal. Dibukanya kancing dan resleting celana jeans Deni. Nia merogoh pusaka Deni yang sudah menegang sempurna dibalik celana boxernya.


Akibat perbuatan Nia, Deni sedikit memelankan laju mobilnya karena konsentrasi yang terganggu.


Nia mengeluarkan pusaka Deni dan menggerakkan tangannya naik turun.


"Ssshhhh... tangan kamu nakal" ujar Deni. Lalu Deni memegang kemudi hanya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya sudah menyusup ke dalam kaos Nia dan memainkan puncak salah satu gunung Nia dengan jari terampilnya, membuat Nia menggelinjang dan mende*sah lirih.


"Hisap!" perintah Deni.


Tanpa dikomando dua kali Nia menundukkan kepalanya lalu memasukkan pusaka Deni ke dalam mulutnya.


"Uuuffff... enak sekali. Kamu semakin mahir sayang" desah Deni sambil melajukan mobilnya dengan pelan. Tangan Deni menyibakkan rambut Nia, dan menggerakkan kepala Nia naik turun. Sesekali Deni menghentakkan bokongnya keatas agar miliknya masuk sempurna ke mulut mungil Nia. Membuat Nia tersedak tapi lalu menghisap kuat milik Deni sebagai serangan balasan.


Akhirnya Deni membelokkan mobilnya dipelataran sebuah motel. Hari masih sore dan terang, tapi Deni tak peduli. Deni hanya ingin menuntaskan hasratnya saat ini juga.


Petugas motel mengarahkan mobil Deni menuju kamar yang di depannya terdapat rolling door setengah terbuka. Petugas motel membuka lebar rolling door agar mobil Deni bisa masuk. Saat petugas itu hendak menutup rolling door, Deni memanggil petugas itu dengan sedikit membuka kaca jendela mobilnya.


"Mas! Saya langsung bayar! Jangan ganggu saya selama saya di dalam kamar ini. Mengerti?" titah Deni lalu menyerahkan empat lembar uang berwarna merah. Petugas itu tahu, karena Deni bisa dibilang adalah langganan.


"Siap, Bos!" lalu menutup pintu rolling door.


Sementara itu, mulut Nia masih sibuk dengan pusaka Deni. Deni yang sudah tidak mampu membendung hasratnya, melepaskan mulut Nia dari miliknya lalu m e l u m a t bibir itu. Deni menurunkan sendiri celananya sampai sebatas lutut.


Nia yang saat itu hanya mengenakan rok ketat sejengkal di atas lutut, menaikkan rok itu ke arah perut lalu memelo*rotkan sendiri CD-nya.


Mesin mobil masih menyala, demikian pula AC-nya. Deni membimbing Nia menaiki tubuhnya. Mobil berguncang dan dipenuhi de*sah nafas dua insan itu. Setelah beberapa saat, mereka berdua memekik bersamaan. Puncak kenikmatan melanda mereka.


Tapi mereka belum puas sampai disitu. Setelah membenahi pakaian apa adanya, mereka masuk ke kamar motel. Bersiap memulai babak baru untuk saling memberi kepuasan dan mereguk kenikmatan bersama.


Sudah hampir pukul sepuluh malam saat Deni dan Nia keluar dari motel itu. Setelah menurunkan Nia di depan rumahnya Deni langsung tancap gas pulang.


Deni menurunkan kaca jendela dan mematikan AC mobilnya. Menyalakan sebatang rokok lalu menghisapnya dalam. Memikirkan cara bagaimana agar bisa membuat Wulan bertekuk lutut padanya.


Jalanan sudah sepi. Desa Karang Gayam memang masih bisa dikatakan desa. Di atas jam sembilan malam, jalanan pasti sudah sepi.


Tiba-tiba dari arah belakang, tiga buah motor menyalip mobil Deni dan berhenti mendadak untuk mencegatnya. Deni mengerem mendadak, lalu memaki.


Deni keluar dari mobil untuk melihat siapa orang kurang ajar yang berani menghadangnya. Nyalinya ciut saat melihat pria kekar bertato diseluruh lengannya yang tidak tertutup pakaian. Pria itu adalah Bang Jimbrut. Entah siapa nama aslinya, tapi orang-orang memanggilnya demikian.


Siapa yang tidak kenal Bang Jimbrut. Dia adalah residivis, penjahat kambuhan yang sudah empat kali masuk penjara. Kasusnya selalu sama. Perampokan, penjambretan atau pencurian yang disertai kekerasan.


"Ada apa ini, Bang?" cicit Deni ketakutan.


Dua orang rekan Bang Jimbrut berdiri di samping kiri-kanan Deni lalu memegangi lengan Deni.


"Berani kamu menyentuh pacarku, hah?!" lalu melayangkan pukulan ke perut Deni.

__ADS_1


Deni tak paham.


"Siapa? Mana berani saya, Bang" ucap Deni sambil meringis menahan sakit.


"Gendis tadi siang ke rumahku. Menangis karena merasa dipermainkan olehmu. Setelah bosan sama Gendis kamu gaet sahabat Gendis" Bang Jimbrut melayangkan dua pukulan ke wajah Deni.


Deni bagai tersambar petir. Dia tak tahu bahwa Gendis adalah pacar seorang residivis.


"Aku ga tahu Gendis pacar Abang. Gendis sendiri yang dengan senang hati menyerahkan tubuhnya untuk kunikmati" ujar Deni ketus. Tak terima dirinya dipukuli.


"Aku ini bajingan, tapi aku setia pada satu wanita" kata Bang Jimbrut lalu menendang kelelakian Deni sekuat tenaga.


Deni limbung. Dua orang yang tadi memegang Deni melepaskan pegangannya. Deni membungkuk memegangi barangnya yang yang berdenyut menyakitkan.


Belum hilang rasa sakitnya, lima orang melayangkan tendangan dan pukulan ke tubuh Deni. Deni tersungkur. Seseorang membalikkan tubuhnya, lalu menginjak miliknya berkali-kali. Deni merasa lebih baik mati.


Deni sudah tak sadar saat sebuat mobil mendekati mereka. Dari dalam mobil Adit mengamati aktifitas lima orang pria yang menendang dan memukul seseorang yang tampak terkapar tak berdaya. Menyadari aksi pengeroyokan itu Adit langsung mengklakson mobilnya untuk memberi peringatan.


Tiiiiiiiiiinnnnn tiiinn tiiiiiiiinnnn.


Lima orang pelaku sontak menghentikan aksinya dan secepat kilat kabur.


Adit keluar dari mobilnya hendak menolong korban. Prioritasnya adalah korban itu, bukan mengejar pelaku. Setelah menelepon 110 melaporkan kejadian itu, Adit memeriksa korban yang tengah terkapar.


Adit terkejut saat mengenali pria itu adalah Deni. Walaupun wajahnya bonyok dimana-mana, tapi Adit masih bisa mengenalinya.


Adit tak menunggu kedatangan polisi, langsung mengangkat dan memapah Deni ke mobilnya. Membawa Deni ke rumah sakit terdekat.


"Ya, Mas?" jawab Wulan di seberang panggilan.


"Aku di rumah sakit. Aku menemukan Deni dikeroyok lima orang laki-laki di jalan. Aku tak tahu harus menghubungi siapa" ucap Adit cepat.


Hening beberapa saat.


"Rumah sakit mana?" tanya Wulan.


Adit menyebutkan nama sebuah rumah sakit pemerintah.


Aku sampai di rumah sakit yang disebutkan oleh Mas Adit 30 menit setelah panggilan telepon. Tampak Mas Adit mondar-mandir menanti kedatanganku. Rasa kemanusiaan mendorongku untuk tidak mengabaikan panggilan Mas Adit.


"Apa yang terjadi, Mas?" tanyaku saat tiba di depannya.


Mas Adit menjelaskan singkat.


"Deni sedang CT Scan. Kau sudah menghubungi ayah Deni?" tanya Mas Adit mengakhiri penjelasannya.


"Kata ART-nya, Pak Darma dilarikan ke rumah sakit. Jatuh di kamar mandi. Tapi aku tidak tahu ke rumah sakit mana" ujarku menjelaskan.


"Terus gimana dong?" tanya Mas Adit bingung.


Aku mengedikkan bahu. Aku juga tak mengenal keluarga Deni yang lain selain Pak Darma.

__ADS_1


Seorang dokter laki-laki datang mendekati Mas Adit.


"Keluarga pasien, Mas?" tanya dokter pada Mas Adit tapi menatapku.


"Bukan, Dok. Saya temannya" Aku sebenarnya tak rela mengaku sebagai teman Deni.


"Keluarganya?"


Aku menjelaskan singkat alasan ketidakhadiran wali Deni.


"Lalu dengan siapa saya harus bicara. Saya harus segera melakukan tindakan" ujar dokter itu.


"Dengan saya saja, Dok. Biar saya yang menjadi penanggung jawab" ucapku membuat keputusan.


"Saya harus melakukan operasi pengangkatan tes*tis. Kedua tes*tis pasien hancur karena hantaman berkali-kali. Jika saya mengangkat tes*tis pasien, sudah bisa dipastikan dia tidak akan bisa punya anak. Tapi tetap masih bisa melakukan aktifitas s e k s u a l seperti biasa" jelas dokter.


Adit meneguk ludahnya dengan susah. Ngeri membayangkan apa yang terjadi pada Deni.


"Hanya itu jalan satu-satunya, Dok?" tanyaku prihatin.


Dokter mengangguk.


"Baik. Akan saya tandatangani berkas persetujuan tindakan oleh wali" jawabku mantab.


Aku dan Mas Adit menunggu proses operasi Deni sampai dokter keluar dari ruang operasi. Dokter keluar dari OR pukul empat lewat sedikit. Dokter menerangkan bahwa masa kritis telah lewat.


Aku sedikit merasa lega. Kepalaku rasanya pusing sekali akibat semalaman tidak tidur.


Setelah Deni dipindahkan ke ruang ICU, aku pamit pada Mas Adit untuk pulang. Begitupun Mas Adit.


Sampai di rumah, aku memarkirkan motor di samping mobil Erempatku.


Aku sudah membuka pintu kamarku saat Bune keluar dari kamar mandi.


"Dari mana, Nduk?" tanya Bune heran yang melihatku menggunakan jaket.


Aku menghela nafas berat.


"Wulan boleh tidur dulu, Bune? Wulan belum tidur semalaman. Kepala rasanya sakit sekali. Bangun tidur nanti Wulan ceritain. Maaf, ga bisa bantu masak" ujarku meminta izin beliau.


Bune mengangguk mengerti.


Aku masuk kamar, lalu menggantungkan jaket di balik pintu. Merebahkan badan tanpa berniat mengganti pakaian. Badanku lelah sekali. Dengan cepat, lelap menghampiriku.


Rasanya baru sekejap aku memejamkan mata saat seseorang mengguncang pelan bahuku.


"Nduk, maaf mengganggu istirahatmu" ujar Bune lembut.


"Hmmm" aku bergumam mengantuk.


"Ada temanmu datang" ucap Bune.

__ADS_1


Teman siapa lagi? pikir Wulan kesal.


__ADS_2