
Adit sedang melajukan mobilnya kembali ke proyek. Di perjalanan dilihatnya seorang anak dengan pakaian seragam putih merah sedang menuntun sepedanya.
Diliriknya jam di dasboard mobilnya. Pukul 13.25. Matahari sedang terik-teriknya. Kasihan sekali anak itu.
Akhirnya Adit memutuskan menghentikan mobilnya 20 meter di depan anak tersebut.
"Hai, sepedanya kenapa?" tanya Adit pada anak laki-laki yang mengernyit menahan teriknya matahari.
"Kena paku om" jawab anak tersebut
"Mau om bantu sampai dapat tambal ban?" Adit menawarkan bantuan.
"Ga usah om, makasih. Ibu Langit bilang, Langit ga boleh berbincang apalagi ikut sama orang asing" jawab anak laki-laki yang bernama Langit itu.
"Hmm gimana ya... Coba kamu telepon ibu kamu? Bilang kalau kamu lagi kesusahan dan ada om-om yang mau bantuin. Biar om juga nanti yang ngomong sama ibu kamu" Adit menawarkan solusi.
"Ibu lagi sibuk kerja"
"Ayah mungkin? Oh, ayahmu pasti juga kerja. Ada orang dewasa lain yang bisa Langit hubungi?" Adit salut dengan anak ini. Dia tidak mau begitu saja mudah percaya pada orang lain. Terlebih orang yang baru ditemuinya.
"Langit ga punya ayah" ujarnya sedih.
"Tapi ada uti. Sebentar saya telepon uti dulu ya, Om" ujar Langit.
Setelah berbicara dengan Uti Langit dengan memberikan jaminan foto KTP dan foto nomor plat mobilnya, akhirnya Adit diizinkan membantu Langit.
Setelah menaikkan sepeda ke dalam bagasi, Adit menyusuri jalan mencari tukang tambal ban.
Selama perjalanan Langit hanya diam. Begitupun Adit. Adit memang orang yang kurang bisa berbasa-basi.
Adit mengamati Langit. Dalam hati ia berpikir, jika Aluna, putrinya masih hidup pasti sudah seumuran Langit.
Adit hanya bisa mendesah sedih. Sudah lama dia tak menyambangi makam anak dan istrinya. Sejak kepergian Aluna, Adit meminta untuk dimutasi ke Kalimantan. Mencoba melupakan kesedihannya dengan jauh dari apapun yang bisa mengingatkannya akan kenangan tentang Aluna dan (terutama) kenangan tentang Anin.
Adit menghentikan mobilnya saat dilihatnya di pinggir jalan ada sebuah bengkel tambal ban. Dikeluarkannya sepeda dari bagasi.
"Pak, tolong. Ban belakang kena paku" tukas Adit pada tukang tambal ban.
"Om pulang aja. Dari sini Langit bisa pulang sendiri. Makasih sudah bantuin Langit" ujar Langit padanya.
"Om tunggu sampai selesai" jawab Adit.
Beberapa menit menunggu, akhirnya sepeda selesai ditambal.
"Berapa, Pak?" ujar Langit lalu merogoh tasnya hendak mengeluarkan uang.
"Lima belas, Dek" jawab si Bapak.
Adit menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan.
"Kembalinya buat bapak" tukas Adit. Dan si Bapak tukang tambal ban mengucapkan terima kasih berkali-kali.
"Ga usah om, Langit ada" Langit mencoba menolak.
__ADS_1
"Uang Langit bisa ditabung atau buat jajan"
"Makasih banyak om. Om namanya siapa?" tanya Langit
"Adit"
"Makasih banyak Om Adit udah bantu Langit" ujar bocah itu dengan senyum lebar.
"Mau om antar sampai rumah?" tawar Adit pada Langit.
"Ga usah om. Rumah Langit sudah dekat"
"Kalau gitu om pergi dulu ya"
"Iya, Om. Makasih banyak Om Adit. Hati-hati di jalan"
Adit meninggalkan Langit yang masih melambaikan tangan sampai mobilnya tak terlihat. Adit merasa senang bisa membantu bocah itu.
Sampai di proyek, Adit melihat ada sebuah mobil sport Tiger abu-abu terparkir disamping mobil Erempat milik Wulan.
Pintu kantor tampak terbuka. Adit menaikkan alisnya heran. Seharusanya Wulan menutup pintunya. Percuma ada AC kalau pintu terbuka lebar. Adit berdecak kesal.
Pemandangan saat dia berdiri di ambang pintu membuat darahnya mendidih. Seorang pria sedang mencengkram dagu Wulan, tetapi derai air mata dan rasa takut yang tampak pada wajah Wulan.
Seandainya gadis itu tampak menikmati, mungkin Adit akan memberi ruang pada mereka berdua.
Dengan langkah lebar, Adit menghampiri pria yang hendak mendekatkan bibirnya pada bibir Wulan. Dicengkeramnya kerah bagian belakang kemeja pria itu, lalu menyeretnya menjauhi Wulan.
"Bang sat, siapa kau mau ikut campur urusan kami?" maki Deni pada pria yang menyeret dirinya menjauhi Wulan.
Sementara di belakang Adit, Adit bisa mendengar rintih lirih ketakutan Wulan.
"Kumohon, lepaskan aku. Ampun... Jangan lakukan itu"
"Bacot!" maki Deni
Bug!! Sebuah hantaman mendarat di pipi kiri Adit.
Adit yang tak menyangka atas serangan itu tak sempat mengelak dan terhuyung mundur. Asin. Darah muncul di sudut bibir Adit.
Deni hendak melayangkan pukulan keduanya. Tapi Adit yang sudah dapat mengantisipasi tindakan Deni selanjutnya, langsung memegang tangan Deni yang hendak mendaratkan pukulan dan melayangkan sebuah tendangan ke perut Deni.
Samar-samar di tengah kekalutanku, aku mendengar suara Deni dan Mas Adit yang sedang baku hantam. Perlahan kesadaranku pulih dan aku membuka mata.
Tampak olehku Deni yang mengerang sambil memegang perutnya. Deni sudah mulai merangsek maju degan tangan terkepal.
"Cu...cukup!" ucapku dengan suara bergetar.
"Pe...pergi! Atau aku akan memanggil polisi!" hardikku dengan terbata-bata. Aku mengambil ponselku dan menekan 110.
Kutunjukkan layar ponselku pada Deni, menunjukkan bahwa aku serius akan kata-kataku.
"Aku akan kembali!" ancam Deni kemudian berlalu pergi.
__ADS_1
Aku kembali terduduk lemas. Jantung masih berdebar dengan kencang dan nafasku terengah-engah. Aku berusaha menenangkan diriku.
Tampak Mas Adit mendekatiku dan membawa sebotol air mineral.
"Kau tak apa-apa?" tanya Mas Adit sembari hendak menyentuh pipiku, berusaha mengusap air mataku.
Tapi dengan kasar aku menepisnya.
"Ma..maaf" ucapku saat melihat sorot tersinggung dari wajah Mas Adit.
Mas Adit hanya diam dan menyodorkan air mineral yang telah dibuka padaku.
Dengan tergesa aku meminumnya.
Uhuk uhuk. Saking tergesanya membuatku tersedak.
"Pelan-pelan" gumam Mas Adit. Tampak dia hendak menepuk punggungku, tapi mengurungkan niatnya dan menarik tangannya kembali.
"Thanks, Mas" ucapku tulus.
"Siapa pria tadi?" tanyanya tajam.
"Bukan siapa-siapa" jawabku singkat. Enggan membahas tentang Deni.
"Bukan siapa-siapa tapi berani hendak mencium paksa dirimu!" geram Mas Adit.
"Anggap saja orang gila. Ah, dia memang anak dari pria tua yang gila itu" tukasku datar.
"Ayah dan anak sama gilanya" gumam Mas Adit.
"Aku mau pulang dulu Mas" pamitku.
"Perlu kuantar? Kau masih gemetaran" Mas Adit tampak khawatir.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Sebentar lagi aku pasti akan tenang. Aku hanya perlu beristirahat" tolakku.
"Baiklah. Hati-hati di jalan"
Aku melajukan mobil dengan tergesa. Ingin segera tiba dirumah dan mengadukan apa yang menimpaku hari ini pada Bune. Ibuku itu sangat sabar dan selalu mampu menenangkan kegelisahanku.
Aku memarkirkan mobilku di halaman. Di sisi lain halaman rumah, tepat di depan pintu sebuah motor matic tampak terparkir.
Aku mendesah kesal. Aku sedang tak ingin menerima tamu.
Dengan enggan aku masuk ke dalam rumah. Di kursi ruang tamu duduk Bune dan seorang wanita yang posisinya membelakangi pintu.
"Wulan sudah datang, silahkan berbincang" ujar Bune saat melihatku di ambang pintu.
Wanita yang duduk membelakangi pintu menolehkan kepalanya padaku. Nafasku tercekat saat melihat dan mengenali siapa wanita berambut sebahu itu
"Pulang cepat, Nduk?" sapa Bune padaku.
Tapi aku tak menjawab sapaan Bune.
__ADS_1
"Untuk apa kau datang kemari?" tanyaku ketus.
Siapa wanita yang bertamu ke rumah Wulan?