Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 11 Dan Langitpun Menangis Untukku


__ADS_3

Aku tak tahu sudah berapa lama berbaring di gubuk ini. Aku pun tak tahu sudah jam berapa saat ini. Aku hanya dapat merasakan bahwa aku hancur lebur. Sekujur tubuhku rasanya remuk redam, hatiku luluh lantak tak bersisa, dan duniaku terasa goncang. Aku sudah tak dapat mengeluarkan air mata lagi, air mataku terasa mengering. Suaraku pasti terdengar serak jika aku berbicara, tenggorokanku terlalu lelah berteriak meminta tolong entah kepada siapa. Juga lelah berteriak meminta pengampunan kepada mereka.


Setelah mengg*g*hiku mereka pergi meninggalkanku begitu saja sambil tertawa-tawa puas. Aku merasa diriku layaknya binatang. Mereka tak memberikan sedikitpun belas kasihan kepadaku. Sepertinya iblis telah merasuki mereka saat melakukan perbuatan bejat itu padaku.


Perlahan aku bangun dan mengumpulkan pakaianku yang berserakan. Tubuhku gemetar hebat saat mengenakan pakaianku kembali. Gemetar karena berbagai macam perasaan berkecamuk. Merasa marah, sedih, getir, bodoh, dan tak berdaya pada saat bersamaan.


Setelah mengenakan pakaianku kembali, aku berusaha berjalan. Rasanya sakit sekali pada bagian intiku. Dengan tertatih aku menyusuri sepanjang jalan area persawahan menuju rumahku. Rintik hujan mulai turun, semakin lama semakin deras. Aku tak sanggup lagi berjalan, akhirnya aku jatuh terduduk di pinggir jalan. Aku pasrah. Aku hanya ingin mati saat ini juga. Aku sudah tak tahu lagi apakah aku sanggup melanjutkan hidup.


Sebuah cahaya perlahan mendekat. Aku takut mereka kembali. Secara reflek aku memeluk lututku erat-erat sebagai bentuk pertahanan diri. Suara motor semakin dekat lalu berhenti di depanku.


"Lan? Kamu Wulan kan, anak Bu Retno? Kamu kenapa? Kamu abis dirampok?" tanya pria yang berdiri di depanku.


"Rumah sakit, Pak. Tolong antar saya ke rumah sakit", pintaku. Ternyata pria tersebut adalah Pak Broto, seorang pria baik, tetangga yang berjarak lima rumah dari rumahku. Pak Broto juga salah satu buruh di pabrik garment Pak Darma. Tapi Pak Broto orang yang anti berhutang. Beliau lebih memilih bekerja keras dengan melakukan pekerjaan sampingan di tengah malam seperti ini. Pekerjaan sampingan Pak Broto adalah mencari belut sawah dan siput sawah untuk dijual ke pasar. Hasilnya memang tak seberapa, tapi dia berprinsip itu lebih baik daripada berhutang.

__ADS_1


Pak Broto menuntunku bangun dan naik ke atas motornya. Pak Broto perlahan melajukan motornya mengantarku ke rumah sakit. Pak Broto menyerah meminta penjelasan padaku, karena yang bisa kulakukan hanya bisa menangis. Derasnya air hujan mengiringi tangisanku yang tadi telah berhenti. Rupanya air mataku tadi tak dapat mengalir karena perasaanku kebas ketika mereka berempat menggilirku. Saat ada yang bertanya ada apa, otakku mengingat kembali apa yang telah terjadi. Membuat hatiku terkoyak dan air mata kembali mengalir.


Saat pertama ditanya ada apa oleh Pak Broto tadi, akal sehatku sedikit demi sedikit kembali. Maka dari itu hal pertama yang aku minta dari Pak Broto adalah mengantarkanku ke rumah sakit. Aku akan menjalani visum. Aku akan mencari bukti agar dapat menjerat mereka ke ranah hukum. Aku tak peduli bagaimana nanti orang lain akan memandangku, aku hanya ingin mereka berempat mendapat hukuman yang setimpal.


Sampai di rumah sakit, Pak Broto menuntunku ke bagian penerimaan pasien. Jalanku masih tertatih karena rasa sakit di sekujur tubuhku.


"Ya, ada yang bisa dibantu?" seorang suster di balik meja menanyaiku. Di seberang meja tersebut duduk dua orang suster yang ditugaskan sebagai penerima pasien. Suster yang menanyaiku keningnya berkerut melihat penampilanku yang carut marut, compang camping, dan basah kuyup. Paket komplit rasanya. Ada lebam dipipiku, beberapa bercak kemerahan di leherku, dan darah kering di sudut bibirku.


"Ya Tuhan, benar Wulan yang barusan kamu katakan? Ya Allah, nduk... kenapa baru bilang sekarang?", Pak Broto terperanjat mendengar pengakuanku. Dua suster tadi hanya mampu menbekap mulut dengan tangannya.


Suster yang menanyaiku dengan cekatan menuntunku ke ranjang pasien yang ada di ruang UGD rumah sakit tersebut. Pak Broto mengekor di belakang kami.


"Sebentar lagi saya akan panggilkan dokter jaga", suster dengan name tag bertuliskan 'Dina L' berkata lembut padaku. "Bapak siapanya? Jika bapak walinya, saya minta tolong untuk mengisi berkas yang diperlukan di bagian penerimaan pasien. Jika bukan, tolong walinya untuk segera dipanggilkan kemari. Mbak-nya perlu didampingi", suster Dina melanjutkan perkataannya pada Pak Broto.

__ADS_1


"Saya bukan walinya, Sus. Baik, kalau begitu saya akan segera menjemput ibunya", Pak Broto menerima instruksi Suster Dina. "Kamu yang tabah ya, nduk. Bapak siap bersaksi jika dibutuhkan keterangan oleh pihak berwajib", lanjut Pak Broto padaku.


Aku hanya bisa mengangguk lemah. Suster Dina pamit meninggalkanku. Beberapa saat kemudian suster lain datang dengan seorang dokter wanita paruh baya dengan membawa beberapa peralatan untuk visum. Tak lupa seragam pasien dan seperangkat alat infus.


"Bajunya dibuka semua dulu ya, mbak. Tidak apa-apa, demi mendapatkan bukti sebanyak-banyaknya. Tolong dibantu, Sus", dokter tersebut berkata lembut.


Gorden disekeliling tempat tidurku sudah ditutup oleh suster Dina saat pamit tadi. Tanganku bergetar saat membuka kancing sweater dan celana jeansku. Tangisku kembali merebak, aku merasa kotor sekali.


Dokter mengusap punggungku sesekali sembari menjalankan proses visum. Setelah mengambil semua bukti yang diperlukan dari tubuhku, dokter meminta suster yang mendampinginya untuk membantuku berpakaian. Pakaian yang aku kenakan diminta pihak rumah sakit untuk mendukung barang bukti. Dokter juga mengijinkanku untuk mandi. Segera setelah dokter pergi, aku meminta suster untuk membantuku ke kamar mandi.


Sesampai di kamar mandi aku menangis tersedu. Dengan gemetar aku membuka kancing baju pasienku. Aku mengguyur tubuhku dengan air. Menggosok seluruh tubuhku keras-keras. Aku merasa teramat sangat kotor. Aku jijik pada tubuhku yang telah dijamah oleh pria-pria yang aku benci. Aku menggosok lagi dan lagi seluruh tubuhku. Berharap tubuh dan pikiranku akan kembali bersih seperti sedia kala. Hampir satu jam aku berada di kamar mandi. Berusaha membersihkan apa yang tak bisa dibersihkan.


Wulan hanya bisa meratapi nasibnya. Merutuki kebodohannya yang mau dengan polosnya mau masuk ke mobil Deni. Mempertanyakan pada Tuhan kenapa dirinya ditimpakan kejadian yang begitu tragis. Jika tak memiliki harapan akan keadilan hukum, pasti saat ini Wulan akan menggantung dirinya sendiri. Wulan bersumpah, dia akan mencari keadilan untuk dirinya.

__ADS_1


__ADS_2