Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 70 Licik


__ADS_3

Beberapa hari terakhir ini Deni sibuk menyebarkan rumor tak baik tentang dibangunnya pabrik baru. Tidak seperti biasanya, Deni sengaja ikut nimbrung di salah satu warkop yang terkenal banyak dikunjungi oleh warga desa terutama di saat jam-jam pulang kerja.


Di Desa Karang Gayam, tempat usaha terbesar adalah milik Pak Darma. Pabrik garment milik Pak Darma memang bukan satu-satunya tempat usaha di desa itu. Tapi usaha-usaha lain, hanyalah usaha kecil seperti home industry dengan gaji yang relatif kecil.


"Denger-denger pabrik baru bakal buka di desa ini. Itu pembangunannya udah mulai" kata seorang pemuda yang sedang apel dengan kekasihnya.


"Pabrik apa ya kira-kira?" tanya sang kekasih.


"Denger-denger pabrik garment, beb. Aku mau lamar, aku kan punya pengalaman di bagian cutting" ujar pemuda itu.


"Aku bisa ikut lamar ga ya? Aku ga bisa jahit. Pabrik gede gitu pasti gajinya juga gede" kata si wanita dengan sedih.


"Mas sama mbak yakin bisa kerja disana? Denger-denger itu perusahaan asing. Ga yakin aku warga sini dikasih kesempatan gabung di perusahaan itu. Pasti nyarinya yang lulusan tinggi-tinggi" celetuk Deni yang duduk di sebelah meja pasangan itu.


"Ah masak sih, Mas?" kata si wanita dengan sorot tak percaya.


"Pabrik segede gitu, pastinya punya asing. Kalau pabrik asing pasti cari pegawai yang pinter bahasa inggris. Ga mungkin mau sama orang desa kaya kita-kita" ucap Deni meyakinkan.


Dan akhirnya berita dari mulut ke mulut pun tersebar. Tersiar kabar bahwa pabrik baru itu tidak menerima penduduk lokal jika sudah beroperasi nanti.


Tersiar kabar pula, bahwa pabrik itu nantinya menolak segala bentuk pungutan desa baik legal ataupun ilegal. Padahal ada peraturan di Desa Karang Gayam bahwa setiap pelaku usaha di desa tersebut wajib menberikan kontribusi terhadap kegiatan desa. Entah itu dana untuk perbaikan jalan, pembangunan tempat ibadah, perbaikan sekolah atau fasilitas-fasilitas umum lainnya. Yang lebih parahnya lagi, terdapat desas-desus bahwa limbah pabrik akan dibuang sembarangan dan pasti akan mencemari lingkungan.


Pemuda-pemudi dan warga desa angkatan kerja Desa Karang Gayam akhirnya merasa geram mengenai berita tersebut. Mereka merasa tidak memerlukan pabrik yang hanya mau merusak lingkungan desanya, tapi menolak memberi sumbangsih terhadap desanya.


Akhirnya pada hari yang telah disepakati mereka beraksi.


Sementara aku dan Mas Adit langsung menuju lokasi proyek begitu menurunkan Langit dan Bune di rumah. Waktu tempuh perjalanan yang harusnya memakan waktu 30 menit, kami tempuh hanya 15 menit.


Begitu kami sampai di proyek, tampak ratusan orang berdiri sambil membawa spanduk penolakan pabrik. Para pekerja proyek tampak diam di sisi lain dari para pendemo. Bukan karena mereka takut, tapi lebih karena tak ingin memicu kejadian yang tidak diinginkan.


...TOLAK PEMBANGUNAN PABRIK ASING!!!...


...TOLAK PELAKU USAHA YANG TIDAK MEMBERIKAN SUMBANGSIH BAGI DESA KARANG GAYAM!!!...


...KALAU BISA JADI SUMBER MATA PENCAHARIAN SIH, IYES!...


...TAPI KALAU MAU NGERUSAK LINGKUNGAN, MINGGAAAATTT!!!...


Aku terhenyak membaca isi spanduk-spanduk itu. Ada apa ini sebenarnya?


"Oh, jadi kamu, Lan, yang mau bikin pabrik disini!" ucap seorang pria berkumis yang aku kenali sebagai Pak Naryo. Salah satu orang yang setia pada Pak Darma.

__ADS_1


"Dasar gadis ga tahu malu! Setelah memfitnah putra orang terpandang desa ini, kamu malah balik kesini mau menyaingi Pak Darma. Ngimpi kamu! Kami ga akan tinggal diam!" lanjut Pak Naryo.


Ah, aku mulai paham siapa biang keladi masalah ini. Dasar manusia-manusia brengsek!


"Bapak-bapak dan Mas-mas yang saya hormati...." ucapku mencoba berbicara. Tapi belum selesai aku berbicara pekikan seorang pendemo yang selanjutnya diamini oleh yang lain terdengar bersahut-sahutan.


"Wanita murahan ga usah banyak omong! Pergi dari desa ini!"


"Pergi!!"


"Hentikan proyeknya!!"


Aku benar-benar merasa kebingungan.


Ditengah kebingunganku, tampak Mas Adit belari masuk ke kantor. Saat keluar, sebuah megaphone berukuran sedang ada dalam genggamannya.


Mas Adit berdiri di sebelahku.


Ngiiiiiiiiiiiiiingggg!! Denging suara megaphone diperdengarkan oleh Mas Adit.


Aku yang berada di sebelahnya sontak meringis dan menutup kedua telingaku. Pun para peserta demo seketika terdiam.


"Bapak-bapak dan Mas-mas sekalian, kami mohon sebelum Anda sekalian menghakimi kami, izinkan kami memberi penjelasan atas setiap tuduhan yang Anda layangkan kepada kami!" tukas Mas Adit melalui megaphonenya


"Alasan! Mau kabur pasti!" pekik seseorang. Kata-kata yang sangat tidak logis.


"Iya, alasan!" pekik yang lain bersahut-sahutan.


"Kabur bagaimana? Rugi kami kalau kabur. Proyek mandeg. Dan lagi Anda semua pasti tahu membeli tanah seluas tiga hektare ini harganya pasti cukup fantastis" tukas Mas Adit realistis.


Mau tidak mau mereka akhirnya sepakat dengan ucapan Mas Adit bahwa kami tidak mungkin kabur.


"Begini saja. Agar Anda sekalian percaya pada kami, kami akan menghentikan pengerjaan proyek sementara sampai kita menemukan kata mufakat" tawar Mas Adit pada para pendemo.


"Baik. Besok jam delapan pagi kami akan kembali lagi!" ucap Pak Naryo tegas.


"Kalau bisa cukup perwakilan saja, Pak. Saya yakin, diantara Bapak-bapak dan Mas-masnya sekalian, besok harus pergi bekerja mencari nafkah" Mas Adit mulai bernegosiasi.


"Baik. Lima orang dari kami besok akan kembali kemari. Awas, jangan ingkar janji kalian!" jawab Pak Naryo garang.


Akhirnya para pendemopun pergi. Aku menghela nafas lega.

__ADS_1


"Makasih banyak, Mas"


"Santai aja. Dulu pas di Kalimantan juga sering begini. Penolakan warga lokal itu biasa. Mereka cuma pengen didengerin" jawab Mas Adit.


"Ayo, aku antar Mas Adit pulang. Bentar lagi maghrib"


Baru saja hendak membuka pintu mobil, sebuah mobil sport menghampiri kami. Seorang pria yang sangat kubenci keluar dari mobil tersebut. Deni!


Dengan sambil memainkan kunci mobilnya Deni berjalan mendekatiku.


"Hai, sayang. Suka hadiahnya?" seringai Deni licik.


"Pergi!" sergahku kasar.


"Kasar banget. Tapi itu yang aku suka dari kamu" ucap Deni sambil mencoba meraih daguku.


Aku menepis kasar tangannya.


"Jangan berani-berani kau sentuh aku dengan tangan kotormu!" ucapku sengit.


"Galak bener! Kamu mau tahu, kunci sukses supaya proyek kamu lancar tanpa kendala apapun?" tanya Deni.


Aku diam. Mas Adit sedari tadi juga diam. Tampak tak terlalu ingin mencampuri urusan pribadiku.


"Nikah denganku. Maka aku jamin, pembangunan pabrik kamu ini akan lancar dan mulus" Deni semakin mendekati diriku. Aku dan Deni sudah nyaris tak berjarak


"Semulus tubuhmu!" bisik Deni lirih di dekat telingaku, lalu memamerkan seringainya.


Tubuhku sudah mulai bergetar, tapi aku mencoba menguatkan diri.


Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi Deni. Tak keras, tapi aku yakin itu melukai harga dirinya.


"Berani kamu menamparku?! Perlu kuingatkan bagaimana aku menghukummu dulu atas kesombonganmu? Dengan senang hati akan kulakukan" desis Deni dengan menyeringai.


Melihat gelagat tidak menyenangkan dari pria yang sedang berbicara dengan Wulan, akhirnya Adit mendekat. Tampak wajah Wulan sudah pucat pasi.


"Sopanlah pada wanita! Apa kau masih belum cukup merasakan tendangan dan pukulanku kemarin?!" hardik Mas Adit sambil mencengkeram lengan Deni.


Deni menyentakkan tangannya dari cengkeraman Mas Adit.


"C u k! Aku tak ada urusan denganmu!" maki Deni.

__ADS_1


Mas Adit dan Deni sudah saling tatap dengan garang. Akankah baku hantam kembali terjadi?


__ADS_2