Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 82 Perasaan yang Belum Usai (?)


__ADS_3

**Ngebajak HP pak suami buat update novel 🤭 happy reading all.. jgn lupa like dan komennya 😘😘**


"Yo, ke Taman Dayu, yuk! Bete nih hari Minggu gini tapi diem di rumah"ajak Ika pada Ryo melalui panggilan telepon.


"Masih ngantuk, Ika Noona" jawab Ryo dengan suara serak. Jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi.


Ika dan Ryo telah berhubungan sekitar tiga bulan. Awal perkenalan Ika dan Ryo, saat Ryo bertandang ke rumah rekan kerjanya yang bernama Galih untuk sekedar ngopi setelah pulang dari shift tiga. Galih adalah adik Ika.


Ika yang saat itu hendak berangkat kerja menyapa Ryo ramah. Selanjutnya, dengan berbekal nomor handphone Ryo yang didapatkannya dari sang adik, Ika gencar mendekati Ryo secara intens.


Ya, memang Ikalah yang mendekati Ryo terlebih dahulu. Ika jatuh cinta pada Ryo pada pandangan pertama. Ika pulalah yang lebih dulu menyatakan perasaan pada Ryo.


Ika tidak peduli pada pendapat orang lain. Daripada menyesal, begitu pikir Ika.


Ryo sendiri, sejak putus dengan Wulan sudah beberapa kali berhubungan dengan wanita. Tapi tak pernah bertahan lama. Paling lama hanya bertahan delapan bulan.


Wulan menjadi sosok yang selalu dirindukan oleh Ryo. Perasaan bersalah karena tak mampu membela Wulan saat itu selalu membayangi Ryo. Meski sempat berjanji akan sesekali berkunjung, Ryo tak berani menemui Wulan lagi. Ryo takut akan penolakan Wulan. Dan juga, Ryo merasa kehadiran anak laki-laki yang diberi nama Langit oleh Wulan benar-benar tak diharapkan oleh Ryo.


Entah apa yang dicari Ryo dari seorang wanita. Setiap dekat dengan seorang wanita, Ryo pasti akan membanding-bandingkannya dengan Wulan. Wulan lebih begini daripada si A. Wulan lebih begitu daripada si B. Atau lebih parahnya lagi Si C tidak memiliki lesung pipi yang manis seperti Wulan.


Saat Ika 'menembak' Ryo, awalnya Ryo merasa aneh. Tapi sebenarnya dia juga merasa tersanjung. Ini kali pertama ada seorang wanita yang menyatakan perasaannya lebih dulu pada Ryo.


Akhirnya Ryo menerima Ika yang seorang K-drama addict. Ika yang lebih tua tiga tahun dari Ryo, meminta Ryo menggunakan Ika Noona sebagai panggilan kesayangan.


Ika menawarkan memanggil Ryo dengan sebutan Ryo Dongsaeng, tapi Ryo menolaknya mentah-mentah. Ryo merasa panggilan demikian sangatlah norak.


Karena Ika merasa tak mungkin memanggil Mas pada pria yang lebih muda darinya, akhirnya Ika hanya memanggil Ryo. Tanpa embel-embel 'say', 'yank', 'beb' dan sejenisnya. Ika juga merasa panggilan demikian sangatlah norak.


"Kok kamu mau sih, Mas, sama perawan tua kaya Mbak Ika?" ledek Galih. Ryo akhirnya mau (dengan terpaksa) menuruti permintaan Ika untuk ke Taman Dayu.


Keplak!! Sebuah tas tangan mendarat di kepala Galih.


"Galiiihh!" Sang Bunda memperingatkan anaknya yang hendak membalas pukulan kakaknya.


"Lo sendiri bujang lapuk. Udah 25 tahun tapi belum pernah bawa cewek ke rumah. Jangan-jangan lo doyannya pisang, ya?" Begitulah Ika jika sedang kesal pada adiknya, menggunakan lo-gue.


"Sembarangan!!" Galih berucap sewot.


"Ikaaa" giliran sang Bunda mengingatkan anak sulungnya itu. Ayah Ika dan Galih sudah tiada setahun yang lalu.


Ika nyengir ditegur oleh ibunya, dan mendelik sebal pada sang adik.


"Ika pergi dulu ya, Bun" pamit Ika sambil menyalami ibunya.

__ADS_1


"Permisi dulu, Tant" pamit Ryo dan juga menyalami beliau.


Ryo melajukan motornya dengan Ika yang memeluk pinggangnya dari belakang. Jarak 40 km lebih bukan menjadi masalah berarti (bagi Ika)


Sampai di hutan Pinus, sudah hampir pukul sembilan pagi. Ika dan Ryo mengabadikan kebersamaan mereka. Meski yang lebih banyak berfoto adalah Ika seorang, karena Ryo terlihat setengah hati.


Setelah puas berfoto, mereka makan siang di gerai ayam goreng ternama dengan logo orang tua berkacamata.


"Renang, yuk! Males banget di jalan panas-panasan gini. Di Taman Dayu water park ada sewa baju renangnya" usul Ika. "Aku yang bayar" tambah Ika saat melihat ekspresi enggan dari wajah Ryo.


Tiga bulan menjalani hubungan dengan Ryo membuat Ika tahu bahwa Ryo adalah anak sulung, dengan empat orang adik yang masih sekolah. Separuh gaji Ryo yang bekerja sebagai supervisor maintenance dikirimkan kepada orang tuanya di desa.


"Aku aja yang bayar" Ryo merasa menjadi pria yang tak bisa diandalkan saat ini.


"Hutan Pinus sama makan udah kamu yang bayar. Sekarang giliranku" tukas Ika.


Akhirnya setelah membayar tiket masuk, Ika dan Ryo memasuki area water park. Ryo menanti Ika yang sedang menyewa dan langsung berganti pakaian dengan duduk di salah satu meja kosong di sekitar area kolam.


Pandangannya menyapu sekeliling. Dilihatnya water park sarat pengunjung mengingat ini adalah hari Minggu. Wajah-wajah ceria menghiasi wajah mereka yang sedang bermain dengan air.


Tiba-tiba tatapan Ryo tertumbuk pada seorang wanita mengganakn tankini hitam, sedang melakukan pemanasan singkat sebelum berenang. Ryo yakin itu adalah sosok wanita yang selalu dirindukannya.


Ryo mendekatinya. Tapi sebelum Ryo sampai di tempat Wulan, wanita itu sudah terlebih dahulu melompat ke dalam kolam.


Wulan mendongak sambil memicingkan mata karena sinar matahari terik yang menyilaukan.


"Ryo?" Tanya Wulan sambil berdiri.


Saat Wulan telah berdiri sempurna, Ryo menarik tangan Wulan yang terulur meminta jabat tangannya. Tapi, bukan jabat tangan yang diterima Wulan, tapi sebuah pelukan erat yang langsung mendapat protes dari Wulan.


Tak dihiraukannya protes Wulan. Ryo hanya ingin menyalurkan rasa rindu bertahun-tahun yang menghimpitnya.


Tiba-tiba dari arah belakang ada tangan yang mencengkram lengan Ryo, dan menghardiknya kasar. Membuat Ryo terpaksa melepas pelukannya pada Wulan.


"Dia sudah minta dilepas!" Hardik pria itu.


Ryo menyentakkan tangannya.


"Orang asing ga usah ikut campur" Ryo balas menghardik.


"Lho, Wulan?" Suara Ika terdengar dari belakang Adit.


"Lho, mbak Ika? Sama siapa?" Ya, Mbak Ika adalah rekan satu divisiku di perusahaan yang sama. Tapi kini Mbak Ika adalah seorang auditor internal.

__ADS_1


"Sama cowokku" kata Mbak Ika, lalu meraih lengan Ryo.


Aku sempat terpana sesaat.


Terlihat Mbak Ika hendak mengenalkan Ryo padaku.


"Ga usah dikenalin, Mbak. Aku sama Ryo teman SMA" aku mengerling pada Ryo, berharap dia paham agar tak perlu mengungkap hubungan kami yang sebenarnya.


Mas Adit yang tadi sempat berperilaku kasar tampak salah tingkah, dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Kenalin, ini jagoan aku. Langit, kenalan dulu sama teman-teman Ibu" pintaku pada Langit yang sudah meraih tanganku untuk di gandengnya.


Ryo menatap lekat pada Langit.


"Syukurlah, dia sangat mirip denganmu. Tak mengambil apapun ciri salah satu dari mereka" gumam Ryo padaku tapi tetap menatap Langit.


"Hah?" Mbak Ika tampak tak mengerti. Pun Mas Adit yang mendengar gumaman itu tampak bingung, dan berusaha mencari jawaban dari raut wajahku.


"Bukan apa-apa" jawab Ryo datar.


"Noona, bersenang-senanglah. Aku boleh 'kan ngobrol sama Wulan sebentar?" Kata Ryo pada Mbak Ika.


Mas Adit dan Langit pamit untuk berganti pakaian. Sementara aku hanya membalut tubuhku dengan bathrobe yang kubawa dari rumah.


"Lan, aku minta maaf" Adit memulai percakapan saat kami sudah duduk dengan segelas jus jeruk di masing-masing tangan kamu.


"Apa kalau suatu saat kita bertemu lagi, kau akan menguap maaf lagi?" Tanyaku sambil menyesap minumanku.


Ryo terdiam.


"Tak perlu minta maaf lagi. Aku sudah memaafkan" ujarku sambil melihat mata Ryo. Aku ingin Ryo tahu bahwa aku sudah benar-benar memaafkannya.


"Aku masih sayang kamu, Lan" ujarnya lirih. Pandangan kami tetap beradu.


"Mbak Ika wanita yang baik. Jangan kamu sia-siakan karena rasa bersalahmu padaku. Kau bukan masih menyayangiku, tapi rasa bersalah masih membelenggumu"


"Selama sekian tahun ini aku sudah banyak merenung. Ini takdirku. Dan aku sudah ikhlas menjalaninya. Kau segeralah bangkit, buang rasa bersalahmu. Mulai cinta yang baru bersama wanita yang baru" nasihatku pada Ryo.


Kami saling tatap beberapa saat lamanya. Kulihat tatapan mata Ryo mulai berubah. Senyum tipis tersungging di bibirnya.


"Aku ganti baju, dulu. Udah dingin" pamitku padanya.


Selesai mandi dan berganti pakaian, semua orang sudah tampak menantiku. Dan kulihat Ryo sedang memeluk erat Mbak Ika, yang mencoba mendorong tubuh Ryo. Mungkin Mbak Ika tak ingin pakaian Ryo menjadi basah.

__ADS_1


Wulan tersenyum senang melihatnya. Wulan berharap firasatnya benar, bahwa Ryo telah lepas dari belenggu rasa bersalah. Wulan berdoa dengan tulus agar pria yang pernah mengisi hatinya itu, bisa menemukan wanita yang tepat. Sehingga Ryo mampu melabuhkan cinta pada wanita itu.


__ADS_2