
Bidan memintaku menurunkan ****** ***** yang kukenakan. Dari rumah ibu sudah menyuruhku untuk menggunakan rok lebar, agar memudahkan proses aborsi nanti. Setelah itu aku duduk pada kursi yang ditunjuk dengan posisi kaki yang aku letakkan pada tempat yang tersedia kiri dan kanan. Kakiku terbuka lebar dan posisi tubuhku setengah berbaring. Aku malu sekali rasanya.
Untuk mengenyahkan rasa maluku, aku mengamati peralatan yang disediakan oleh Bidan Lastri. Ada berbagai macam alat dari bahan stainless steel yang membuatku menelan ludah karena merasa ngeri.
"Saya anastesi lokal dulu ya. Prosedur kuret cukup menyakitkan tanpa anastesi", kata bidan padaku yang telah mengenakan sarung tangan latex pada kedua tangannya. Bidan Lastri sengaja tidak meminta bantuan pada asistennya karena ingin menjaga kerahasiaan kegiatan ilegal ini.
Aku meringis saat jarum suntik ditusukkan di area kewanitaanku. Kemudian sebuah alat seperti gunting diambil dari meja peralatan di sebelahnya. Dinginnya alat stainless steel masih dapat kurasakan karena pengaruh obat bius yang belum sepenuhnya merasuk, membuat kudukku merinding ketakutan. Membuat dadaku bergemuruh dan berdebar sangat cepat.
"Hentikan, Bu!" aku memekik seketika saat alat tersebut mencoba membuka kewanitaanku lebih lebar.
Bidan Lastri seketika menghentikan aktifitasnya, menatapku yang saat itu mulai menangis dengan sorot penuh tanya.
"Saya takut, Bu. Hiks hiks. Saya kasian, ga tega. Janin ini bahkan belum bisa menyuarakan pendapatnya, apakah ia ingin hidup atau mati. Dia tidak berdaya. Dia tidak berdosa, Bu. Saya kejam sekali, Bu. Huhuhu" kataku dengan terisak.
"Kamu berubah pikiran, Nak?" Bidan Lastri menanyaiku lembut.
"Tapi saya juga takut dengan omongan orang, saya malu" tukasku kebingungan.
__ADS_1
"Ikuti kata hatimu, Nak! Hati tidak pernah salah, karena suara hati adalah bisikan dari Tuhan"
Aku memejamkan mataku sejenak. Mencoba meredakan tangis dan gemuruh dalam dadaku. Mengambil nafas panjang dan menghembuskan dengan perlahan. Dalam benakku berkali-kali teringat perkataan dokter kandungan, "Tuhan tidak akan menimpakan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya".
Akhirnya aku membuka mataku kembali dan menatap mantap pada Bidan Lastri.
"Saya akan melahirkan anak ini, Bu".
"Saya dukung apapun keputusanmu, Nak", tukas Bidan Lastri lembut. Ada sorot haru dan kesedihan terpancar dari matanya. Bu Lastri kagum sekaligus iba pada pilihan yang dipilih oleh anak temannya itu.
Aku merapikan kembali pakaian yang aku kenakan, sementara Bidan Lastri merapikan kembali peralatannya. Setelah selesai, kami berdua keluar menuju tempat ibuku menunggu. Ibu tampak heran saat melihat kami berdua keluar dari ruang bersalin.
"Wulan akan melahirkannya, Bu. Bagaimanapun, dia tidak berdosa", tukasku menjawab pertanyaan ibuku pada temannya.
"Gila kamu! Kamu ga malu jadi bahan gunjingan orang? Apalagi kamu bilang mau kuliah. Apa kata teman-teman kuliahmu nanti kalau melihat perutmu yang membesar tanpa suami? Dipikir kalau mau membuat keputusan itu!" ibu berang mendengar jawabanku.
"Aku tidak peduli orang lain mau bilang apa, Bu. Kita hidup dan cari makan sendiri, bukan mengemis pada orang lain. Untuk apa kita memusingkan apa omongan orang tentang kita. Dan lagi, tidak ada larangan bahwa wanita hamil tidak boleh kuliah. Wulan ga malu mempertahankan apa yang menurut Wulan benar", jawabku tegas.
__ADS_1
"Kamu belum tahu bagaimana repotnya mengurus dan membesarkan anak. Kamu pikir gampang, hah?!" suara ibuku mulai meninggi.
"Aku tahu semuanya tidak akan mudah, Bu. Tapi salah jika aku menyalahi kehendak Tuhan. Sudah takdir Tuhan bahwa janin ini dititipkan dalam rahimku, artinya Tuhan percaya padaku bahwa aku mampu melaluinya. Wulan punya rencana, Bu. Wulan pasti akan melakukan semua yang terbaik atas apa yang telah Wulan pilih", ucapku mencoba meyakinkan ibu.
"Kamu tidak tahu beratnya membesarkan anak seorang diri, beratnya wanita yang menyandang gelar sebagai seorang single mother. Banyak cap buruk yang akan disematkan orang-orang padamu. Ibu hanya memikirkan masa depanmu. Meski ibu belum bisa menjadi ibu yang baik untukmu, tapi kamu tetap anak ibu. Ibu juga tidak sudi punya cucu yang ga jelas siapa bapaknya", kata ibu ketus di akhir kalimatnya.
"Retno, coba hargai keputusan anakmu. Aku sendiri sebenarnya tidak setuju dengan aborsi ini. Jika tidak mengingat persahabatan kita dulu, mungkin aku tidak akan bersedia membantu. Kita salah jika mendahului kehendak Tuhan. Kita tidak tahu apa rencana Tuhan untuk anakmu", Bidan Lastri ikut menimpali, berusaha meyakinkan temannya.
"Ibu sudah mengingatkan, ya! Lagipula sebentar lagi Ibu akan berangkat jadi TKW dan tidak akan ikut malu bersamamu!" tukas ibuku.
"Maafkan Wulan, Bu. Wulan belum bisa jadi anak berbakti untuk Ibu", ujarku disertai air mata yang menetes.
"Sudah, sudah. Bagaimana kalau kita makan siang. Sudah hampir jam sebelas. Kalian ingin makan sesuatu? Mau sego punel khas Bangil ga? Enak sekali lho rasanya", kata Bidan Lastri mencoba mencairkan suasana.
Ibu dan aku hanya diam tak menyahuti. Akhirnya Bidan Lastri menggiring kami menuju ruang tamu rumahnya yang terletak di belakang area rumah praktek bidannya. Bidan Lastri meminta asistennya untuk membelikan sego punel yang terdekat dengan rumahnya.
Setelah makan ibu mulai menanyakan rencana-rencanaku kedepannya. Aku tak dapat menceritakan apa rencanaku selanjutnya karena memang belum terpikirkan rencana apapun. Akhirnya justru ibu yang menceritakan rencananya yang akan menjadi TKW.
__ADS_1
Hari sudah menjelang sore saat akhirnya kami pamit kepada Bidan Lastri. Bidan Lastri mengantar kepergian kami sampai depan gerbang rumahnya. Melambai dan berpesan agar kami hati-hati di jalan.
Dalam perjalanan pulang ke Desa Karang Gayam, Wulan dan ibunya hanya saling diam. Wulan diam karena memikirkan langkah kedepan yang harus dia ambil. Sementara Bu Retno diam karena berpikir, apakah keputusan yang diambil anaknya sudah benar?