
Hari dimana pernyataan bahwa aku diterima bekerja di PT. Textile Globalindo adalah Rabu. Praktis aku mempunyai waktu yang cukup untuk mempersiapkan semuanya.
"Nduk, Bu, kita liburan yuk. Besok kita berangkat. Langit mau 'kan, ya?" tukas Pakne sembari membulat-bulatkan adonan bakso.
"Yibuyan? Tapan? Temana?" tanya Langit semangat.
"Kok tumben, Pak?" aku dan Bune bertanya berbarengan.
"Sebentar lagi Wulan sudah kerja, waktu buat kita bisa liburan pasti akan sangat jarang-jarang. Lagipula sudah lama kita ndak liburan bareng, Bu. Terakhir waktu ulang tahun Langit yang pertama" jelas Pakne.
"Ya sudah, besok kita berangkat" aku menengahi, karena nampak Bune yanh hendak membantah.
Jadilah hari ini kami berempat berangkat ke Malang. Pukul enam pagi kami berempat sudah berada dalam mobil Innova abu-abu milik Pakne. Perbekalan sudah dipersiapkan sejak semalam.
Aku membuat kue brownies dan membeli beberapa snack di Betamidi. Bune menyiapkan nasi goreng dan mie goreng jawa untuk sarapan di perjalanan. Mulai makan siang dan besok kami akan melakukan wisata kuliner di daerah Malang.
Untuk tempat wisata Pakne memilih Taman Safari dan Jatim Park 1. Pakne benar-benar memanjakan Langit selama wisata 2 hari 1 malam kami. Semua permintaan Langit dituruti oleh Pakne.
Termasuk saat Langit meminta hal yang paling ditakuti oleh Pakne.
"Tatung, tatung. Ayo foto cama uyay" ujarnya menarik-narik celana beliau sambil menunjuk sebuah stand dengan ular phyton sebesar betis orang dewasa dan sepanjang 2 meter lebih berwarna kuning, celengkap dengan pawangnya.
"Langit mau foto sama ular?" terlihat raut muka Pakne yang tampak ngeri.
Langit mengangguk semangat.
"Langit ga takut?" tanyaku mencoba meyakinkan putraku itu. Aku tak tega melihat wajah ngeri Pakne.
"Uyaynya cantiiik" ujarnya dengan mata berbinar.
Pakne menenggak ludahnya, berusaha menenangkan hati.
"Ayo wes. Opo ae gawe putu kesayangan Kakung" ujar Pakne dan menggendong Langit.
(Ayo sudah. Apa saja untuk cucu kesayangan Kakung)
Bune terheran.
"Pakne padahal takut bener-bener lho sama ular, Nduk"
Aku hanya bisa nyengir merasa bersalah atas permintaan Langit.
Dan hasilnya, pose foto yang dilakulan Pakne bersama Langit benar-benar membuat kami tergelak.
Pakne menggendong Langit menghadap depan. Ular dikalungkan keleher Pakne, dan kedua tangan Langit memegangi badan ular di kanan-kirinya.
Ekspresi Langit begitu riang. Matanya berbinar melihat ular yang dipegangnya. Berbanding 180° dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Kakungnya.
Pakne memejamkan mata dan merengutkan wajahnya menahan ngeri. Mulut terkatup rapat dengan bahu yang dinaikkan setinggi mungkin.
__ADS_1
Kami bertiga tergelak melihat hasil foto tersebut. Lalu Pakne menyimpan foto tersebut ke dalam tas pinggangnya.
Hari kedua kami pergi ke Jatim Park 1. Langit sangat menikmati bermacam wahana yang ada. Pakne dengan senang hati menemani.
Mulai dari memvideo Langit yang menaiki Happy Boat, Mini Train, dan Convoy Car. Lalu menemani Langit bermain di Plyground Children, menaiki Boom-Boom Car, menaiki Dragon Coaster, Volcano Coaster dan komidi Putar.
Puas bermain kami berfoto ria di beberapa wahana edukasi. Mulai dari Galeri Etnik, Indonesia Heritage Museum, Science Center, bahkan wahana rumah hantu. Dimana Langit menyembunyikan wajahnya di bahu Kakungnya selama melintasi wahana Rumah Hantu.
Keasyikan bermain membuat kami lupa waktu, sudah pukul tiga lewat. Langit merengek meminta bermain di water boom, padahal hari sudah cukup sore.
"Sudah, ga apa-apa. Kapan lagi bisa main sama cucu seharian" ujar Pakne saat aku berkali-kali mencoba membujuk Langit agar mau diajak pulang.
"Ayo, nak Ganteng. Main air sama Kakung"
"Aciiiikk"
Aku dan Bune hanya bisa pasrah.
Pukul 16.30 pengumuman bahwa terdengar di seantero Jatim Park 1.
"Pengunjung sekalian yang saya hormati. Seluruh Wahana Jatim Park 1 akan segera ditutup. Para pengunjung dimohon segera bersiap-siap. Periksalah kembali barang bawaan Anda sebelum meninggalkan area wahana. Terima kasih"
Pakne segera mengajak Langit berganti baju dan bergegas keluar dari area Jatim Park 1.
Dari Jatim Park 1, Pakne mengajak makan di sebuah restoran bertema Jawa dan alam. Tempatnya benar-benar "njawani", asri, dan sangat cozy. Lengkap dengan pemandangan sungai, karena restauran memang berlokasi dekat dengan tepi sungai.
Berbagai menu makanan dipesan oleh Pakne. Mulai dari sup buntut bakar, rawon iga bakar, bebek kremes, gurame bakar asam manis, dan chicken vegetable clear soup untuk Langit.
"Seminggu lagi usia perkawinan kita genap 40 tahun, Bu" ujar Pakne ditengah acara makan kami.
"Wah, Wulan harus nyiapin hadiah nih. Pakne dan Bune mau hadiah apa?" tukasku.
"Jangan repot. Kita sekeluarga hidup sehat dan umur panjang, sudah hadiah yang tak ternilai harganya" jawab Bune.
"Bapak sudah nyiapin hadiah buat Bune. Terima kasih sudah menemani saya dalam suka dan duka selama 40 tahun ini" ujar Pakne sembari menggenggam tangan Bune yang duduk disebelahnya.
"Hadiah apa? Kok Bune ga tahu?"
"Hadiah kejutan masa bilang-bilang sih" ucapku menimpali.
"Ibu, aaaa!" pinta Langit karena aku lupa menyuapinya.
"Aduh maaf, Ibu sampai lupa"
Kami bertiga terkekeh melihat Langit yang cemberut.
Hampir pukul tujuh akhirnya kami meninggalkan restauran. Untunglah jalanan tidak macet, karena kami pergi saat hari weekday. Aku menggantikan Pakne mengemudikan mobil untuk perjalanan pulang dari Malang ke Surabaya.
Pukul 21.10 kami sudah sampai di rumah. Langit sudah tertidur dalam gendongan Bune. Aku segera mengambil Langit dari gendongan Bune agar orang tuaku itu bisa segera beristirahat.
__ADS_1
#Di kamar Pak Jaka dan Bu Nimas#
Ssssshhh
Terdengar desisan lolos dari mulut Pak Jaka.
"Kenapa, Pak?" tanya Bu Nimas dengan sorot khawatir.
"Ini, Bu. Ulu hati sama punggung Pakne rasanya panas"
"Ke dokter, yuk? Biar diantar sama Wulan" pinta Bu Nimas.
"Jangan, Wulan juga pasti lelah. Besok saja kalau ternyata besok belum membaik. Kita istirahat saja sekarang"
"Bune kalau penasaran sama hadiahnya, boleh diambil sekarang" lanjut Pakne.
"Hadiahnya apa?"
"Lihat saja dalam laci paling bawah di lemari" tunjuk Pakne pada lemari yang dimaksud.
Laci di lemari paling bawah memang hanya berisi barang-barang penting. Seperti perhiasan, surat-surat berharga, dan buku tabungan.
"Ah, seminggu lagi aja. Nunggu hari H-nya" ujar Bune tersenyum malu-malu.
"Ya sudah, ayo istirahat Bu" ajak Pak Jaka.
Bu Nimas beringsut mendekati suaminya yang sudah berbaring di ranjang. Memeluk tubuh suaminya yang mulai tampak renta.
"Oh iya, masalah pencarian pegawai baru serahkan sama Wulan saja ya?" tanya Pak Jaka sambil mengelus puncak kepala istrinya.
"Hhmmm" jawab Bu Nimas dengan mengantuk.
"Selamat tidur, kekasih abadiku" lirih Pak Jaka dan mengecup dahi istrinya.
Krrriiiiinnggg Kriiiiiiinnngggg
Pukul 04.00 alarm dari jam weker kecil di nakas sebelah ranjang Bu Nimas dan Pak Jaka berdering. Membuat sang empunya terbangun lalu meraba-raba nakas di sampingnya. Setelah berhasil meraih weker tersebut, Bu Nimas mematikan alarmnya.
"Pak, sudah subuh" Bu Nimas mengguncang pelan tubuh suaminya.
Tak ada reaksi dari tubuh Pak Jaka yang berbaring miring menghadap Bu Nimas. Hanya ekspresi seperti orang tidur lelap yang didapati Bu Nimas dari wajah suaminya.
"Bune mandi dulu ya" tetap tak ada reaksi.
Selesai mandi Bu Nimas heran melihat suaminya yang masih juga tidur.
"Pak, Pak. Ayo bangun!" Bu Nimas mulai menepuk pelan pipi suaminya.
Kok dingin? batin Bu Nimas.
__ADS_1
"Pak, Pak!" suara Bu Nimas mulai meninggi dan mengguncang keras bahu suaminya.
Pak Jaka tak kunjung bangun. Bu Nimas mulai ketakutan dan berderai air mata. Panik karena mendapati suaminya yang tak kunjung mau membuka mata.