Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 42 Terima Kasih


__ADS_3

Aku tercengang, rupanya aku melupakan hari ulang tahunku sendiri. Lalu menyadari bahwa Langit lahir dan akan berulang tahun di hari yang sama sepertiku.


"Bune, Pakne, ini apa?" tanyaku dengan nada penasaran.


"Bukalah." perintah Bune.


"Sekarang?"


Pakne dan Bune hanya mengangguk.


Aku membuka perlahan kotak yang di bungkus kertas warna emas glossy dengan pita merah mungil yang menghiasnya. Tampak tutup kotak beludru warna putih dibaliknya. Aku membukanya, dan membaca untaian huruf-huruf mungil yang terjalin membentuk "Langitnya_Wulan" pada sebuah gelang emas bertali tipis. Aku tak dapat berkata-kata, hanya beralih-alih pandangan dari gelang kemudian kepada kedua orangtuaku.


"Kamu suka, Nak?" tanya Pakne


"Terimakasih, Pakne, Bune. Wulan suka sekali gelangnya. Bisa tolong bantu pakaikan?" sodorku pada Bune.


Bune memasangkan gelang pada peregelangan tanganku.


"Cantik" gumamku.


"Kado kedua", ujar Pakne sembari menyodorkan sebuah paperbag kecil dengan logo merek smartphone yang yang sedang booming saat ini, S*ms*ng G*l*xy S Series.


"Kenapa jadi repot begini?" tanyaku sungkan, tapi tetap menerima paperbag yang disodorkan oleh Pakne.


"Gelang dari Bune, HP dari Pakne. Pakne lihat HP kamu masih bertahan dengan HP cetik cetik yang cuma bisa dipakai buat telepon dan sms. Padahal kan sekarang sedang ngetren yang namanya BBM-BBM-an gitu" seloroh Pakne yang diusianya sudah kepala lima tapi masih update mengenai gadget.


"Pakne juga HP-nya masih begitu-begitu saja" ujarku dengan bibir manyun.


"Pakne sudah tua. Sudah tidak butuh yang begitu-begitu itu. Kamu yang masih muda, sarana komunikasi yang memadai itu penting"


"Terima kasih, Bune. Terima kasih, Pakne. Rasa-rasanya ucapan terima kasih tidak akan cukup" ucapku haru.


"Sama-sama, sama-sama. Terima kasih juga sudah hadir dan menghadirkan Langit dalam hidup kami" kata Bune sambil mengelus rambutku, dan Pakne yang menepuk tanganku.


"Nanti malam kita pesan makanan saja gimana? Bosan 'kan makanan rumah sakit? Sekalian perayaan ulang tahun kamu" usul Pakne.


"Wulan boleh undang teman kuliah?" tanyaku, berniat mengundang Diva. Teman yang selalu mendukungku, dan bersedia pasang badan terhadap omongan buruk orang lain tentangku.


"Boleh. Kamu hubungi saja teman kamu. Biar Pakne siapkan. Mau makan sesuatu?"

__ADS_1


"Apa saja" jawabku.


"Bune?" tanya Pakne pada sang istri.


"Gurame pesmol, Pak. Sudah lama ga makan itu"


"Siap, Paduka Ratu" seloroh Pakne.


Bune hanya bisa tersenyum malu-malu.


Beberapa saat kemudian, suster mengembalikan Langit yang telah dimandikan dan kemudian aku susui. Tak lupa aku menghubungi Diva dengan cara mengirimkan pesan singkat padanya, yang tak lama kemudian langsung di balas akan kesanggupannya dan menanyakan alamat rumah sakit tempatku melahirkan.


Setelah maghrib, Diva sampai di kamar tempatku dirawat. Begitu masuk, Diva langsung heboh dan memelukku mengucap selamat.


"Wulan sayang, selamat. Aduh senengnya, aku jadi Onty sekarang. Halo baby ganteng, Onty bawa hadiah buat si ganteng" kata Diva sembari menggoyang-goyankan bawaan yang dibawanya di depan Langit yang tertidur disisiku.


"Makasi Onty cantik", ucapku dengan senyum lebar. Tampak Langit tetap tidur anteng, tak terusik akan kedatangan Diva yang heboh.


"Bu, selamat sudah jadi Uti" lanjut Diva memberi selamat pada Bune dan mencium punggung tangan Bune.


"Iya, Nak. Belum makan kan? Sekalian makan malam sama-sama ya. Pakne mungkin sedang perjalanan kemari"


Tak berapa lama kemudian Pakne muncul dengan membawa beberapa bungkusan. Juga tampak sekotak cake yang pada kotaknya terdapat merek outlet yang cukup ternama.


Bune membantu Pakne yang membuka bungkus makanan yang tadi dibeli oleh suami. Terlalu banyak sebenarnya jika hanya untuk berempat. Ada gurame pesmol, ayam bakar bumbu rujak, bebek panggang madu, kakap bakar,pepes udang, tumis sawi, tumis kangkung dan tumis jamur tiram. Semuanya tampak menggiurkan. Tak lupa juga Pakne membelikan beberapa bungkus untuk pasien yang sekamar denganku.


Tengah asyik membuka bungkusan makanan, suster datang membawakan makan malam.


"Wah, sudah mengadakan pesta sendiri rupanya" seloroh sang suster.


"Eh, Suster. Mari Sus, ikut makan bersama" tawar Bune.


"Terima kasih, Bu. Tapi maaf, saya sudah makan" tolak suster halus.


"Tidak ada pantangan makan 'kan, Sus?" tanya Diva.


"Ga ada, Mbak. Justru ibu menyusui harus banyak makanan bergizi. Terutama yang mengandung protein. Pedas juga tidak apa, asalkan secukupnya dan bayinya tawar" jelas Suster.


Setelah suster berlalu, kami melanjutkan acara kami. Saat Pakne mengeluarkan cake dan memasang lilin dengan angka 19 di atas cake dengan topping lelehan coklat, krim dan strawberry, Diva menyatakan keheranannya.

__ADS_1


"Lho, Wulan ulang tahun?"


Pakne dan Bune hanya tersenyum, dan aku mengangguk.


"Ya ampun, kok ga bilang? Tahu gitu aku siapin kado juga buat mamanya si ganteng" tukas Diva.


"Kamu datang aja aku udah seneng kok, Va. Makasih" jawabku tulus.


Setelah selebrasi singkat dengan menyanyikan lagu "Happy Birthday to You" dan "Tiup Lilinnya" akhirnya kami berempat makan bersama. Sisa makanan dan menu dari rumah sakit akhirnya dibungkus untuk kemudian dibawa pulang oleh Pakne.


Pukul sembilan malam akhirnya Diva pamit. Aku memberitahu Diva bahwa aku akan izin tidak masuk kuliah selama seminggu untuk pemulihan. Jadi, jika ada dosen yang mengabsen mahasiswanya satu per satu, Diva bisa menyampaikan bahwa aku izin sakit.


.


.


.


Tiga hari di rumah sakit aku akhirnya diijinkan pulang, setelah Dokter Erna visit pada pukul 10.00. Kemudian Pakne segera menyelesaikan urusan administrasi dan menebus obat. Sementara Bune membantuku mengemas barang-barang. Pukul 12.00 siang kami berempat akhirnya sudah berada dalam mobil Innova abu-abu Pakne.


"Kamar kamu sekarang di lantai bawah ya, Nduk. Sebelahan dengan kamar kami. Maaf kalau kami tidak mendiskusikannya denganmu terlebih dahulu" kata Pakne menginformasikan sambil menyetir.


"Lho, bukannya kamar itu dikost-kan?" tanyaku dengan sungkan. Sudah terlalu banyak kebaikan yang kuterima dari mereka.


"Kamar itu lebih sering kosong daripada terisinya. Mungkin calon penghuni merasa sungkan jika harus bersebelahan kamar dengan induk semang. Sejak kamu masuk sampai sekarang juga belum ada yang nempati 'kan. Ada beberapa orang yang menanyakan. Tapi begitu tahu kamarnya bersebelahan dengan induk semang, pada mundur. Jadi daripada kosong terus menerus lebih baik ditempati anak Bune saja" jelas Bune panjang lebar dengan terkekeh.


"Sudah ada box bayi dan beberapa perlengkapan bayi juga di dalam kamar itu. Kamar di lantai bawah semuanya kamar mandi dalam, jadi kamu ga repot kalau mau memandikan Langit" timpal Pakne.


"Wulan malu sekali rasanya. Wulan yang ibunya Langit lupa mempersiapkan semuanya dengan matang. Malah Uti sama Kakungnya yang sibuk. Maafkan Ibu ya, Nak" ujarku mengelus pipi Langit dengan jari telunjukku.


"Ibunya lupa, 'kan ada Uti sama Kakungnya. Lagipula kami senang melakukannya" tukas Bune.


Setelah 20 menit berkendara akhirnya kami sampai. Saat Pakne menghentikan mobil di depan gerbang rumah, diseberang jalan, tepatnya di depan warung bakso, nampak seseorang yang tengah duduk di atas motornya. Aku memperhatikan orang tersebut karena aku merasa mengenalnya. Siluetnya tidak asing bagiku.


Saat Pakne turun dari mobil untuk membuka gerbang, orang tersebut tampak mendekati Pakne.


Dan benar saja, saat orang tersebut alias pria tersebut, membuka helmnya untuk menyapa Pakne aku membelalakkan mataku tak percaya. Untuk apa dia datang kesini? Bagaimana dia bisa datang kesini?


Siapakah pria tersebut?

__ADS_1


__ADS_2