Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 21 (Bagai) Tersambar Petir


__ADS_3

Ujian akhir berlangsung selama tiga hari. Pada hari terakhir ujianku ini, aku merasa resah. Gejala mual dan muntah aku alami lagi kemarin dan hari ini, padahal aku sudah memakan biskuit setelah bangun tidur. Aku sedikit tidak berkonsentrasi saat mengerjakan ujian.


Begitu ujian selesai, aku langsung bergegas pulang. Sejak kejadian itu, teman-teman sering berkasak-kusuk bahwa aku sudah berubah. Selalu menghilang saat jam istirahat, dan langsung bergegas pulang saat bunyi bel pertanda waktu sekolah telah usai. Aku memang sengaja melakukan hal itu, karena aku menghindar dari semua orang.


Gosip Deni yang telah memperkosaku juga telah beredar, tapi dengan versi berbeda. Entah siapa yang memulai, tapi beredar kabar aku menggoda Deni sekaligus bersama Genk Kece. Para teman disekolahku sudah memberikan cap "wanita murahan" atau "piala bergilir" kepadaku. Aku tak mau ambil pusing dengan ocehan mereka, maka dari itu aku lebih memilih menghilang dan menghindari kontak sebisa mungkin dengan siapapun.


Dalam perjalanan pulang aku masih merasa resah. Mengingat kembali kapan terakhir kali aku mendapatkan menstruasi. Seingatkanku sekitar dua minggu setelah kejadian malam itu, akan tetapi hanya berupa flek. Aku berpikir itu dikarenakan aku sedang stress. Aku mengenyahkan jauh-jauh pikiran terburukku. Tapi tetap saja aku tidak bisa merasa tenang.


Saat melihat apotek di seberang jalan dalam perjalananku menuju rumah aku memutuskan untuk menghampirinya.


Dengan takut-takut aku membuka pintu kaca apotek tersebut. Seorang penjaga wanita dibalik counter obat-obatan tersenyum ramah padaku.


"Emm, mbak. Saya mau beli alat tes kehamilan. Anu, eh itu. Kakak saya yang udah nikah tadi titip sama saya", ujarku malu-malu.


"Oohh testpack? mau yang model gimana?", tanya pegawai apotek tersebut.


"Ha?" aku melongo tak paham.


Melihatku yang kebingungan akhirnya pegawai tersebut mengeluarkan beberapa jenis testpack, dari yang pulang murah dan sederhana sampai yang paling mahal. Pegawai apotek menjelaskan akurasi hasil pengukuran alat yang menurutku tak jauh berbeda.

__ADS_1


Akhirnya aku memutuskan membeli tiga jenis, dari yang murah dan simple, yang harganya sedang, dan yang paling mahal. Aku melakukannya agar memperoleh perbandingan hasil agar lebih akurat. Aku segera memasukkan alat yang kubeli ke dalam tas, ke bagian tas terdalam. Seolah aku takut ada orang yang akan menemukannya jika tidak kusimpan baik-baik.


Sesampainya di rumah aku langsung masuk ke kamarku. Seperti biasa aku langsung mengganti pakaian seragamku dengan pakaian santai. Sesudahnya aku mengeluarkan alat yang kubeli di apotek tadi. Tak lupa aku mengunci pintu kamarku. Entah apa alasannya, aku merasa takut kalau sampai ada yang memergokiku sedang memegang testpack.


Kubaca secara perlahan langkah-langkah penggunaan alat. Lebih kurang sama, untuk hasil terbaik menggunakan urine pertama di pagi hari saat bangun tidur. Tapi ada alat yang urinenya harus diteteskan dan ada pula alat yang harus di rendam dalam urine. Karena tak bisa digunakan saat ini juga, akhirnya aku memutuskan untuk menyimpannya di dalam laci meja belajarku.


Karena tak ada yang bisa kulakukan lagi mengingat ujian telah berakhir, maka aku memutuskan untuk menonton televisi di ruang tamu. Di ruang tamu aku tidak menonton televisi, aku hanya mengganti-ganti channel berkali-kali. Sampai akhirnya aku merasa bosan lalu mematikannya.


Aku bingung bagaimana harus menghabiskan waktu. Rasa resah dan khawatir mendominasi pikiranku. Akhirnya aku memilih untuk menurunkan tas bepergian ukuran besar dari atas lemari. Aku memasukkan beberapa baju yang akan aku bawa ke Surabaya nanti. Baju-baju yang bisa dikatakan layak pakai untuk kukenakan saat menuntut ilmu sebagai seorang mahasiswa. Pakaianku rata-rata sangat sederhana. Untuk pakaian bepergian aku hanya mempunyai empat helai celana jeans panjang dan beberapa helai kemeja dan kaos berkerah. Memilah ini dan itu sedikit mengalihkan pikiranku dari rasa gelisah.


Sudah menjelang pukul tiga sore saat aku memutuskan mengakhiri aktifitas packing-ku. Aku segera bebersih rumah kemudian menyiapkan makan malam.


"Minggu depan Pak Darma dan Deni akan datang kemari untuk melamarmu. Deni serius padamu, dia bilang sudah menyukaimu sejak lama. Tapi kamu selalu jual mahal", kata ibuku.


Aku memutar bola mataku jengah.


"Deni bukan menyukaiku, dia hanya terobsesi padaku. Dia merasa tertantang karena sepertinya aku satu-satunya wanita yang tak sudi meliriknya!" jawabku pedas pada ibu.


"Apapun itu terserah. Pokoknya setelah kelulusan kau akan menikah dengan Deni", kata ibuku datar.

__ADS_1


Aku hanya diam tak menanggapi. Aku sedang malas berdebat.


Kami menyelesaikan makan malam dalam diam. Setelah makan malam aku membereskan meja dan mencuci piring.


Sisa malam itu aku habiskan dengan membaca kembali novel Harry Potter favoritku untuk mengisi waktu. Aku membaca dengan tidak konsentrasi.


Aku tak tahu pukul berapa persisnya aku tertidur, sepertinya jauh lewat tengah malam. Tiba-tiba saja aku terbangun dengan nafas terengah dan keringat dingin pada pukul empat subuh. Seperti biasa aku meminum segelas air putih lalu beranjak ke kamar mandi. Saat hendak membuka pintu kamar, aku teringat akan alat yang aku beli di apotik. Aku segera menyambarnya, dan mengambil sebuah gelas sekali pakai di dapur lalu kemudian menuju kamar mandi dan menguncinya.


Setelah menampung air seniku dalam gelas aku segera membuka salah satu plastik pembungkus testpack. Aku memulai tes dengan menggunakan alat yang paling murah. Sesuai petunjuk yang tertera pada kemasannya aku mencelupkan alat sampai pada batas yang ditentukan.


Beberapa saat menunggu, muncul satu buah garis berwarna merah muda lalu disusul garis samar berwarna merah muda yang nyaris tak terlihat. Aku membekap mulutku yang nyaris berteriak.


Tidak!! Tidak mungkin!! Garisnya samar sekali, bisa jadi salah. Batinku panik. Gelas yang aku pegang nyaris jatuh karena tanganku yang gemetaran.


Aku menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan untuk menenangkan diri. Aku mencobanya pada alat kedua dan ketiga secara bersamaan karena metodenya urine diteteskan pada alat tes. Beberapa saat aku menunggu hasilnya muncul. Akhirnya hasil pada dua alat muncul nyaris secara bersamaan. Satu alat memunculkan lambang positif dan satu alat yang lainnya memunculkan dua garis. Satu terang, satu samar. Walaupun samar garis kali ini cukup jelas terbaca.


Aku jatuh terduduk di lantai karena lututku terasa sangat lemas sehingga tak mampu menopangku berdiri. Air mata tanpa dapat kutahan lolos ke pipiku. Duniaku rasanya runtuh. Pikiranku kalut sekali. Apa yang harus aku lakukan? Berkali-kali terlintas untuk aku melakukan aborsi. Tapi bersamaan dengan itu ada rasa takut, tak tega, besalah, dan berdosa. Aku bingung sekali rasanya. Beribu pertanyaan tak terjawab muncul berkali-kali di benakku.


Tuhan, kenapa ini harus terjadi padaku? Tuhan, kenapa takdir sekejam ini padaku? Tuhan apa salahku sehingga Kau menimpakan semua ini padaku? Itulah hal yang berkali-kali Wulan teriakkan dalam hatinya. Tak percaya. Sedih. Marah. Kecewa. Tak berdaya. Bingung. Kalut. Perasaan yang berkecamuk Wulan rasakan pada saat yang bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2