Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 45 Tak Ada di Sisimu Saat Kau Butuh Aku


__ADS_3

"Ibuuuu!" seru seorang bocah balita saat melihatku memarkirkan motor di depan warung. Bocah tersebut menghampiriku dan memelukku.


"Halo, Langitnya Ibu. Tadi nakal apa pinter nemenin Uti sama Kakung jualan?" Tanyaku meraih dan menggendongnya.


Balita berambut hitam lurus dan tebal itu tampak seperti diriku versi laki-laki. Mulai dari mata, telinga, hidung, bibir, alis, bahkan lesung pipi yang tercetak dipipi kanannya ketika ia tersenyum atau tertawa. Setiap hari aku dibuat terkagum-kagum melihat Langit, putraku, priaku.


"Pinteeeeyyy yaahh. Yangit 'tan ndak peynah nakay" ucapnya dengan cadel. Gemas sekali aku mendengarnya.


"Ahahaha! Pintey anak Ibu" ujarku menirukan ucapan cadelnya.


"Pintey, Ibu. Butan pinteeyy" ujarnya memprotes.


"Iya, iya, pintar" aku terkekeh.


"Ibu bawa oyeh-oyeh apa?" tanyanya melihat bawaanku yang kutenteng.


"Mau?"


"Mauuuuuu" serunya girang


"Ada chocolate croissant buat Bune dan Pakne" tukasku sambil menyalami ibu dan bapakku itu.


"Wah, tahu aja Bune lagi pengen yang manis-manis"


"Ini buat Langit, chocolate milkshake. Eh, tapi sudah maem belum?" ujarku menjauhkan gelas yang baru saja hendak kusodorkan.


"Cudah, cama bakco"


"Bakco lagi, bakco lagi. Tadi 'kan Ibu ada masak sayur bayam sama ayam goreng tepung" ujarku sambil mencubit lembut pipinya.


"Tapi Yangit ndak cuka cayuy" katanya dengan merengut.


"Makan sayur bagus untuk Langit, biar cehat dan kuat" jelasku dengan mengangkat sebelah lengan yang bebas.


"Becok-becok Yangit maem cayuy" janjinya dan mengulurkan jari kelingkingnya padaku.


"Janji, ya?" kataku menyambut kelingking mungil Langit.


"Diminum milkshakenya ya" aku mengusal lembut rambutnya dan mendudukkan di kursi.


"Mataci Ibu"


Aku berjalan ke balik rombong bakso dan mengambil mangkok bersama dengan peralatannya. Kupotong-potong lontong, dan memasukkan kelengkapan bakso ke dalam mangkok.


"Tadi Langit diomelin, sekarang Ibunya malah ngebakso juga" seloroh Bune sambil mengunyah croissant.


"Lagi kepengen yang pedes-pedes, Bune" jawabku sambil lalu.


Kutuang sambal bakso secara serampangan. Kuah yang tadinya bening dan encer kini berubah menjadi kemerahan dan mengental karena sambal.


"Hati-hati perutnya, Nduk" ujar Pakne mengingatkan.


Aku hanya nyengir dan menyuapkan sesendok penuh bakso kedalam mulutku. Hatiku masih dipenuhi amarah, beginilah caraku mengalihkan emosi. Bune sudah hafal dengan tabiatku yang satu ini.


"Ada apa, Nduk? Sudah lama ga lihat kamu makan bakso sampai kayak gitu?" tanya Bune.


"Ada pria brengsek yang ngaku-ngaku sebagai ayahnya Langit, Bune" jawabku bersungut-sungut.


"Pria itu?"


"Salah satu dari mereka" jawabku dengan bersungut-sungut.

__ADS_1


Bune hanya mengelus pundakku prihatin, rupanya mengerti maksudku.


"Alon-alon, mundak keselek" Pakne kembali memperingati yang melihatku makan dengan grusa-grusu.


(Pelan-pelan, nanti tersedak)


"Uhuk..uhuk..uhuk.." tak ayal, baru saja diperingati, aku benar-benar tersedak. Mataku berair karenanya.


"Ibu, mimik" seru Langit menyodorkan milkshakenya.


Aku tersenyum dan meraihnya. Menyesap sedikit dan mengembalikan minuman tersebut kepada Langit.


"Mamaci tayangnya, Ibu" ujarku sambil menowel hidungnya.


"Dinin, Bu!" ujarnya protes karena tanganku yang dingin sehabis memegang gelas milkshake.


Kami bertiga terkekeh melihat tingkah Langit.


.


.


.


Surabaya, Maret 2014


"Wulaaann! Jangan lupain aku yaaa. Aduh, ngiri aku. Kamu bisa diwisuda duluan. Ini juga kebaya brokat warna gold-nya cakep bener" seru Diva yang menyongsongku di depan pintu auditorium kampus.


Hari ini adalah hari wisudaku. Hanya lima orang dari angkatanku yang akan diwisuda, menempuh waktu studi hanya tujuh semester. Akan tetapi hanya aku yang lulus dengan IPK magna cumlaude dan predikat Lulus dengan Banyak Pujian, yakni 3.92 dari skala 4.00. Sehingga nantinya aku akan mewakili jurusanku sebagai wisudawan terbaik untuk wisuda angkatan ke-102.


Aku hanya tersenyum lemah menanggapi seruan Diva.


"Aih..aih.. yang magna cumlaude kok keruh gitu mukanya?" tukas Diva yang melihat ekspresiku yang tak nampak bahagia.


"Aduh, si Ganteng masuk rumah sakit? Sakit apa?"


Aku mengedikkan bahu dan menggeleng.


"Bune belum menghubungi lagi. Aku takut Langit kenapa-napa, Va" ujarku dengan air mata yang mulai menggenang.


"Ssshhhh.. Jangan nangis. Make up cakep-cakep gini nanti luntur. Jadi mereka bertiga ga bisa datang?" Diva mencoba menenangkan.


Aku hanya menggeleng.


"Masuk dulu gih! Acara bentar lagi mau mulai" tukas Diva.


Aku mengangguk lalu memasuki ruang auditorium.


Sepanjang acara aku benar-benar tidak bisa berkonsentrasi. Berkali-kali mengecek gawai yang beberapa bulan lalu dibelikan oleh Pakne. Sebuah smartphone seri lanjutan dari yang sebelumnya, Sumsang Galaksi S4. Pakne bilang, HP-ku harus di upgrade, karena aku belum membeli yang baru sejak kelahiran Langit dulu.


"Lulusan terbaik Jurusan Akuntansi Bisnis Wisuda ke-102, Wulan Febriana Lestari" gaung suara rektor dari balik altar podium di atas panggung.


Tepat saat namaku dipanggil, handphone-ku bergetar dan memunculkan nama "Bune" pada layarnya. Pikiranku terpecah, antara menuruti panggilan rektor atau menerima panggilan telepon Bune.


"Ya, Bune?" Akhirnya aku memutuskan, mengangkat telepon. Tak kupedulikan ratusan pasang mata yang menatapku karena aku tak kunjung naik ke podium.


"Langit typhus. Acaramu sudah selesai, Nduk?" tukas Bune menginformasikan.


"Belum. Wulan kesana sekarang" ucapku tegas.


"Selesaikan dulu acara wisudanya. Ada Bune dan Pakne disini. Ini harimu. Percayakan Langit pada kami" ujar Bune.

__ADS_1


"Tapi..." aku hendak memprotes, tapi sekali lagi namaku terdengar untuk yang ketiga kali.


"Selesaikan dulu", lalu Bune menutup sambungan telepon.


Aku naik ke atas panggung dengan penglihatan kabur. Air mata mulai berlinang. Saat anakku sakit, aku tak bisa menemaninya. Ibu macam apa aku ini?! Rutukku dalam hati.


Setelah menerima ijazah dan bersalaman dengan Pak Rektor, aku menjelaskan kondisiku.


"Maaf, Pak. Saya tidak bisa memberikan kata sambutan sebagai wisudawan terbaik. Anak saya sakit"


"Saya ikut prihatin. Dihapus dulu air matanya. Kita foto sebentar. Hari bersejarah harus ada kenang-kenangan" ucap Pak Rektor dengan menyodorkan sebungkus tissue.


Setelah menyanggupi berfoto sebentar, aku langsung bergegas pergi.


Diva sudah menungguku di pintu keluar Auditorium.


"Ayo aku antar ke rumah sakit"


"Makasih, Va. Kamu teman terbaik" ujarku memuji.


Kami langsung menuju RS. Sahabat Keluarga, setelah sebelumnya menelepon Bune memastikan dimana tepatnya Langit dirawat di ruang Anak II-AA.


Perjalanan 25 menit terasa sangat lama. Diva menurunkan di pintu masuk rumah sakit, sementara dia akan memarkirkan motornya dulu.


Aku masuk ke dalam rumah sakit dan mencari-cari ruangan tempat Langit dirawat.


Di depan pintu ruangan, aku bisa mendengar suara Langit yang tersedu.


"Uti, Yangit ndak mau ditucuk jayum. Cakiiitt" ujarnya memelas.


"Sabar ya, Le. Cuma kaya digigit semut kok" tukas Bune mencoba menenangkan.


"Halo, Langit, anak Ibu yang paling ganteng" seruku mendekat dan berusaha tegar. Aku tak boleh terlihat menangis saat seperti ini.


"Ibuuuu" rengeknya.


"Ssshhh.... Ibu disini" ujarku menenangkan dan memeluknya.


"Sambil dipangku anaknya boleh, Bu" kata dokter pria paruh baya di sebelah suster.


Aku mematuhi nasihat dokter.


"Dek Langit, liat om Dokter sini"


"Langit umur berapa sekarang?"


"Tida tahun, Om" jawab Langit masih sambil terisak.


"Tiga tahun itu begini, ya?" ujar dokter sambil menunjukkan lima jarinya.


"Itu yima. Tida itu bedinii" ujar Langit sambil menunjukkan jari yang benar.


"Langit pintar. Kalau dirumah, Langit suka main apa?"


"Yangit cuka main mobi-mobiyan. Cama nemenin Uti Kakung jualan Bakco"


"Wah, hebat dong" ucap dokter memuji. Tak terasa, infus sudah terpasang di tempatnya.


"Habis ini Langit istirahat ya, biar cepet sembuh"


Setelah itu dokter pamit pergi. Aku menidurkan Langit dengan mendendangkan sebuah lagu untuknya.

__ADS_1


Setelah Langit tertidur, aku menatap Langit dengan air mata berderai.


Maafkan Ibu, Nak. Jika bisa, pindahkan saja penyakitmu pada Ibu. Batinku pilu, tak tega melihat jarum infus yang terpasang di tangannya.


__ADS_2