Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 106 Bumi Dwianugrah Perkasa


__ADS_3

"Haduh, Mas, ampun aku sama Bu Linda. Banyak maunya. Pusing aku!" Keluh Dani pada managernya, Adit.


Adit mengurut keningnya resah, jarang-jarang anak buahnya mengeluh sedemikian rupa. Apa memang kliennya yang bernama Bu Linda sangat rewel dan cerewet? Bu Linda adalah orang yang akan membangun sebuah hotel bintang empat di kawasan Jakarta Timur. "Sepelik apa masalahnya?"


"Kemarin desain lobby minta direvisi, saya turutin. Terus udah saya ubah sesuai kemauan dia, katanya ga sesuai sama tema yang ingin dia usung. Kurang nendang katanya. Dia minta revisi lagi, saya anya-tanya beliau, ternyata balik ke desain awal. Abis itu ballroom sama restoran minta revisi juga. Saya turutin, tapi masih aja belum puas, katanya kurang sreg sama yang dia bayangin. Pusing aku, Mas. Kalau Mas Adit yang handle desainnya gimana?" Keluh Dani panjang lebar.


"Ya udah, minta Bu Linda kemari ketemu saya kalau beliau ga sibuk. Atau kamu atur jadwal lah, saya 'kan lebih sering stay di kantor" Adit menengahi, tak tega melihat anak buahnya dilanda kebingungan.


Keesokan harinya Bu Linda datang pukul sepuluh sesuai kesepakatan, dan langsung diarahkan menuju ruang kerja Adit.


"Selamat siang Bu Linda, silahkan duduk" sapa Adit dengan ramah pada seorang wanita keturunan bermata sipit serta berkulit putih, sembari berdiri dari kursi kerjanya dan menunjuk sofa pada ruangannya.


"Siang, Pak Adit" balas Bu Linda yang saat itu mengenakan midi dress dengan bagian dada yang cukup terbuka, lalu mendudukkan diri pada sofa yang dimaksud.


"Bagaimana, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Adit setelah ia duduk di seberang wanita itu.


"Jadi gini, saya kok susah sekali klik sama desain yang ditawarkan sama bawahan Anda. Entah saya yang kurang bisa menjelaskan, atau bawahan Anda yang tidak bisa menangkap maksud yang saya inginkan" jawab Bu Linda kalem.


"Dari apa yang saya tangkap dari Dani, Bu Linda minta dibuatkan bangunan model futuristik dengan sentuhan klasik, benar, Bu? Oh iya, sebelumnya, mau minum apa?" Tanya Adit sopan.


"Wah, ga usah, Pak. Saya ga bisa lama. Jam dua belas harus jemput suami saya di Bandara. Mengenai desain, iya benar itu yang saya inginkan. Apa terlalu sulit untuk dipenuhi?"


"Sebenarnya desain yang anda minta konsepnya bertabrakan, meski sama-sama menunjukkan kesan mewah. Hanya saja, untuk desain futuristik kesan mewah yang ditampilkan adalah mewah yang atraktif dengan dominasi bentuk asimetris dan aerodinamis, sementara desain klasik menampilkan kesan mewah yang elegan dengan dominasi bentuk yang simetris. Yang saya takutkan, malah tidak matching jika kita harus memaksa dua konsep berbeda dalam satu bentuk bangunan" terang Adit, dan di jawab anggukan oleh Bu Linda.


"Bagaimana kalau kita bedakan dari segi desain bangunan dan desain interior?" Cetus Adit menawarkan solusi.


"Maksudnya gimana ya Pak?"


"Silahkan Ibu Linda pilih, mau bentuk bangunan futuristik atau klasik? Kalau Bu Linda pilih bentuk bangunan futuristik, kita bisa memberikan sentuhan klasik pada desain interiornya. Berlaku sebaliknya. Jadi ketika orang melihat hotel Anda dari luar, tertarik pada bentuk bangunannya yang atraktif, tapi ketika memasuki hotel Anda pengunjung akan dibuat terpesona pada sisi elegan dari sentuhan klasik" jelas Adit panjang lebar.


"Wah, boleh juga ide Pak Adit. Selama ini saya selalu ingin memasukkan konsep klasik sekaligus futuristik. Saya rasa ini win win solution untuk keinginan nyeleneh saya, ya?" Tukas Bu Linda sambil terkekeh.


"Saya ada beberapa portofolio desain seperti yang saya kemukakan. Anda ingin melihat-lihat sebentar?" Tawar Adit.


"Boleh, boleh" jawab Bu Linda cepat.


Adit lalu berdiri dan mengambil laptopnya. Karena mereka harus mendiskusikan desain dari laptop Adit, terpaksa mereka duduk bersisian dengan jarak yang cukup dekat.


Adit menjelaskan beberapa desain yang ia miliki pada Bu Linda, dan wanita itu tampak menyimak dengan baik. Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lewat.


"Sisanya kirim ke email saya saja, Pak. Saya harus pergi sekarang" kata Bu Linda sambil langsung berdiri dari duduknya.


Adit baru sempat berdiri dan hendak menyalami Bu Linda, ketika tubuh Bu Linda mendadak limbung.


"Aduduh, saya pusing sekali. Hipoglikemia saya kambuh ini, dari semalam saya ga makan" keluh Bu Linda sambil memegangi kepalanya.


Adit reflek memengangi bahu Bu Linda, hendak membantu mendudukkan wanita itu kembali. Tapi, belum sampai mereka kembali duduk, tubuh Bu Linda kembali limbung dan Adit yang tidak siap jatuh terjerembab pada sofa dengan posisi Bu Linda di atas dirinya.


Tiba-tiba pintu terbuka, dan tampak sosok Wulan yang hendak berseru, "Sur...!", lalu pintu menggebrak menutup.


Adit tidak sempat berkata apapun, hanya sempat melihat wajah marah, kecewa dan sedih istrinya. "Gawat!" Gumam Adit lalu dengan lembut mendorong tubuh Bu Linda yang lemas dan membaringkannya di sofa.


"Maaf ya, Pak" lirih Bu Linda.

__ADS_1


"Gapapa, Bu. Saya tinggal dulu. Nanti biar OB bawakan teh hangat sama cokelat kemari" pamit Adit. Lalu Adit bergegas mengejar istrinya.


"Gas, bilang OB sediain teh hangat sama cokelat untuk tamu di ruangan saya!" Perintah Adit sambil lalu pada Bagas.


"Baik, Mas" jawab Bagas, yang walaupun bingung tetap menjalankan perintah sang atasan.


Adit bergegas menyusul Wulan, dan ternyata istrinya itu telah hampir mencapai gerbang perusahaan. Adit mencoba menahan Wulan dan berusaha menjelaskan, tapi istrinya sudah kepalang emosi dan berprasangka sehingga tidak mau mendengar apapun yang ia coba katakan.


Tapi tiba-tiba, Wulan mengaduh kesakitan dan terlihat air mengalir keluar membasahi kaki dan gaun Wulan. Adit panik, dan hendak menolong istrinya.


"Jangan sentuh! Aku ga mau Mas pegang-pegang aku" Wulan menyentakkan bahu yang hendak direngkuh Adit.


Adit yang sudah merasa gemas dan panik, langsung membopong istrinya menuju tempat ia memarkirkan mobil yang tak jauh dari tempat mereka berdebat.


Aku tak menyangka Mas Adit akan menggendongku, seketika memekik lalu meraih leher agar tidak jauh. "Mas, apa-apaan sih! Turunin! Aku ga mau dipegang-pegang sama tukang selingkuh!" ucapku ketus.


"Kamu salah paham, dan aku ga selingkuh!" kata Mas Adit tegas. 


Seorang satpam datang menghampiri. "Ada apa, Mas Adit? Istrinya sakit?" tanya satpam tersebut. Para pegawai di kantor Mas Adit memang sudah mengenaliku karena aku sudah tiga kali bertandang kemari bersama Mas Adit.


"Kayaknya mau lahiran, Pak. Ketuban sudah pecah" jawab Mas Adit, diiringi keluhku karena rasa mulas hebat yang kembali mendera.


"Tolong ambilkan kunci mobil saya di ruangan saya, Pak. Ada di meja dekat galon!" pinta Mas Adit. Saking paniknya, rupanya suamiku melupakan kunci mobil yang masih berada di ruangannya.


"Aduuuhh, Mas sakit banget ini! Semua salah Mas! Istri lagi hamil besar malah ada main sama cewek lain di kantor!" rengekku, lalu menggigit pundaknya. Menumpahkan rasa kesal sekaligus menahan rasa sakit yang kembali datang menghampiri.


"Aku ga selingkuh sayang. Plis, dengerin Mas ngomong dulu" ucapnya lembut. Peluh sudah membasahi keningnya, karena pasti ia lelah membopongku beberapa lamanya.


"Ga, aku ga mau denger! Perutku sakit banget, Mas! HPL masih tiga minggu lagi tapi ketuban udah pecah. Semua karena Mas! Aku kesakitan gini juga karena Mas Adit!" aku kembali menangis. Kusembunyikan wajahku di ceruk lehernya, sampai-sampai tidak menyadari kedatangan satpam tadi, lalu tiba-tiba saja aku sudah didudukkan pada kursi penumpang.


Sampai di pintu masuk IGD Mas Adit segera menyambar kursi roda yang tersedia di depan pintu masuk, kemudian mendudukkanku di atasnya.


"Sus, tolong! Istri saya mau melahirkan!" Seru suamiku pada seorang suster. Suster tersebut sigap membantu, kemudian Mas Adit pamit sebentar untuk memarkir mobilnya ke tempat parkir.


Setelah memarkirkan mobil Adit langsung menuju tempat untuk mengurus masalah administrasi. Kemudian bergegas menuju ranjang tempat istrinya berbaring menunggu kedatangan dokter Dewanti.


Tak lama, dokter datang. Setelah bertanya kronologi kejadian dan memeriksa kondisi Wulan, dokter langsung memerintahkan untuk langsung ke ruang VK.


"Barusan saya periksa sudah bukaan enam ya, Pak. Prediksi saya, maksimal dua jam lagi sudah bukaan lengkap" tukas dokter menginfokan.


"Mas pergi, aku ga mau ditungguin sama Mas. Mas jahat! Aduuduuhhh, sakit sekali dok" aku meracau sembari mengeluh.


"Iya, sabar ya, Bu. Jangan nangis, kumpul-kumpul tenaga buat lahiran nanti" saran dokter Dewanti.


"Iya, Bune? Sudah sampai? Langsung ke ruang bersalin saja!" Aku mendengar percakapan Mas Adit di telepon. Rupanya Bune sudah sampai di rumah sakit.


Tak lama muncul Bune sambil membawa dua buah tas ukuran sedang dengan tergopoh-gopoh. "Ibumu nunggu Langit pulang sekolah, Nduk" ujar Bune.


"Bune udah dateng, Mas pergi aja!" Usirku pada Mas Adit. Mukanya tampak sekali frustasi.


"Lho, ada apa ini? Suami mau nunggu persalinan kok disuruh pergi, Nduk?" Tanya Bune bingung.


"Dia selingkuh, Bune!" Aduku, lalu meringis kembali kesakitan.

__ADS_1


"Sama sekali tidak, Bune. Semua hanya salah paham" sanggah Mas Adit. Lalu ponselnya terdengar berdering, Mas Adit melihat sekilas, tapi tidak menerima panggilan itu.


"Kenapa ga diangkat? Dari cewek itu 'kan?! Kenapa, Mas takut tertangkap basah?! Peduli sama perasaanku?! Ga perlu! Angkat aja, angkat!!" Aku merasa sakit menjadi berkali-kali lipat karena rasa sakit hati, membuat air mataku jatuh menganak sungai.


Entah merasa tertantang atau karena ingin membuat klarifikasi, akhirnya Mas Adit menerima panggilan itu dengan mode loud speeker.


"Ya?" Jawab Mas Adit dengan suara kaku.


"Pak Adit, mohon maaf atas kejadian tadi. Kalau boleh tahu, apa yang membanting pintu tadi kekasih atau istri Anda?" Suara seorang wanita terdengar dari seberang panggilan.


"Istri saya, Bu" jawab Mas Adit singkat. Sementara aku, dan yang hadir termasuk dokter, bidan dan suster tampak menyimak.


"Waduh, saya benar-benar merasa tidak enak. Istri Pak Adit pasti tadi salah paham. Saya harap, sampaikan ucapan permintaan maaf saya pada istri Anda. Saya juga sudah cerita sama suami mengenai kejadian tadi. Suami saya ingin meminta maaf secara pribadi, apa bisa?"


"Ya, Bu" kembali hanya jawaban singkat yang dilontarkan Mas Adit.


"Perkenalkan, saya Hutomo, suami dari Linda. Saya minta maaf pada Pak Adit, terutama karena sampai menimbulkan salah paham. Istri saya memang bandel, sudah tahu punya hipoglikemia, malah sering lupa makan kalau sudah sibuk. Mungkin suatu saat kita bisa makan siang atau makan malam bersama sebagai bentuk permintaan maaf kami?" Kini suara laki-laki yang terdengar.


"Tidak apa, Pak. Tidak perlu sungkan. Kita bisa bicarakan lagi nanti. Sekarang saya masih harus mendampingi proses persalinan istri saya" jawab Mas Adit.


"Wah, benarkah? Selamat kalau begitu. Semoga persalinan istri Anda lancar" kata pria di seberang panggilan.


"Tentu Pak, terima kasih" Mas Adit lalu mengakhiri panggilan. Aku menyimak dengan tegang sembari sesekali mendesis kesakitan akibat kontraksi, juga meremas lengan kemeja Mas Adit.


"Nah, sekarang sudah clear ya, Bu?" Sudah siap untuk berjuang mengeluarkan seorang jagoan?" Celetuk dokter Dewanti.


Sementara Bune aku lihat dari ekor mataku, memilih keluar dari ruangan, mungkin tak tega seperti saat dulu aku melahirkan Langit. Aku yang malu memilih menenggelamkan wajahku pada dada bidang Mas Adit.


"Bukaan sudah lengkap. Mengejan sesuai instruksi saya, ya, Bu. Tangan memegang lipatan paha" perintah dokter.


Aku hanya bisa menuruti instruksi dokter tersebut, sambil menangis dalam dada bidang Mas Adit "Kenapa Mas ga bilang?"


"Hahaha, kamu ini. Yang ga kasi kesempatan Mas ngomong siapa, ya?" Jawab Adit lembut sembari mengelus pungung istrinya. Dari tadi sebenarnya Adit susah sangat frustasi dan ingin marah-marah, tapi tidak sampai hati melihat kondisi istrinya yang tengah kesakitan.


"Sakit ini, Mas. Hu...hu..." Keluh istrinya.


"Dorong, Bu!" Timpal dokter.


Dan istrinya mengejan sekuat tenaga sampai buku-buku jari yang mencengkeram kemejanya memutih.


"Istirahat sebentar, boleh dikasi minum istrinya" saran dokter.


Adit mengangsurkan sebotol air mineral dengan sedotan, dan istrinya meminum sedikit, kemudian mengaduh kembali.


Sekali lagi dokter menginstruksikan, "Lebih kuat, Bu. Kelapanya sudah kelihatan"


Dan akhirnya, setelah hampir tiga puluh menit berjuang mendorong sang jagoan keluar dari rahimnya, bayi laki-laki itu, buah cintanya dengan sang istri, lahir dengan selamat ke dunia.


"Terima kasih, sayang, terima kasih" Adit menciumi wajah istrinya bertubi-tubi. Terakhir Adit me-lu-mat bibir Wulan dengan singkat.


"Selamat. Bayi laki-laki, lahir pada pukul 16.05, berat lahir 3300 gram, dan panjang badan 52 cm" tukas Dokter Dewanti.


"Namanya siapa?" Tanya Wulan dengan suara lemah. Wulan merasa dirinya kehabisan tenaga.

__ADS_1


"Karena kita sudah punya Langit, kita beri nama anak kedua kita Bumi Dwianugrah Perkasa. Artinya Pemberian baik kedua yang gagah perkasa" tukas Adit dengan nada takzim.


__ADS_2