
"Aku kemari ingin meminta pertolonganmu, Lan" ujar Lisa dengan wajah memelas.
"Bantuan?" tanyaku dengan tatapan sinis. Bune sudah masuk untuk memberi privasi padaku dan Lisa berbincang berdua.
"Aku mendengar desas-desus kamu kembali ke desa ini dengan membawa seorang anak laki-laki. Boleh kutahu itu anak siapa?" tanya Lisa.
"Anakku. Hanya anakku!" jawabku tegas.
"Kamu masih belum tahu siapa ayah kandung anakmu?"
"Sudah kubilang, Langit anakku. Hanya anakku. Aku tak peduli dan tak mau tahu siapa ayahnya" jawabku dengan nafas tersengal. Pertanyaan Lisa sungguh melukaiku.
Lisa diam.
"Kau hanya ingin bertanya itu? Silahkan pergi jika hanya itu yang ingin kau katakan" usirku dengan ketus.
"Belum, aku belum selesai" ujar Lisa sambil *******-***** tangannya.
"Nama anakmu Langit?" tanya Lisa.
Aku diam tak menyahuti. Menunggu hal apa yang sebenarnya hendak disampaikan Lisa.
"Mas Tama terkena sirosis hati" ujar Lisa.
Aku hanya mengangkat alisku. Menunggu Lisa mengungkapkan apa yang sebenarnya maksud kedatangannya kemari.
"Izinkan aku bercerita sedikit. Aku dan Mas Tama menikah tiga bulan setelah kelulusan. Tapi sampai tahun kedua pernikahan kami, kami tak juga dikaruniai momongan"
"Oh, selamat. Maaf aku tak bisa menghadiri pernikahanmu" sindirku pada Lisa.
Lisa tak terpengaruh atas sindiranku dan tetap melanjutkan ceritanya.
"Atas desakan kedua mertuaku akhirnya aku dan Mas Tama memeriksakan diri. Ternyata dokter memvonis bahwa aku mengalami endrometriosis tingkat berat yang menyebabkanku kesulitan mendapat momongan"
"Aku sudah melakukan segala jenis pengobatan dan terapi hormon, tapi hasilnya nihil. Aku sudah meminta cerai pada Mas Tama, tapi dia tidak bersedia. Dia merasa berhutang budi padaku. Pernikahanku dan Mas Tama bukan berlandaskan cinta, tapi perasaan hutang budi"
__ADS_1
"Setelah mengetahui kondisiku, Mas Tama sering mabuk-mabukkan. Tiada hari tanpa alkohol. Sampai akhirnya sekarang Mas Tama mengalami sirosis hati akibat kebiasaannya minum-minum. Pak Hasto sudah meninggal dua tahun lalu, dan Bu Ani sudah tua. Tak mungkin menjadi pendonor. Golongan darahku tak sama dengan Mas Tama, jadi aku tak bisa menjadi pendonor"
"Mas Tama harus segera mendapatkan donor jika ingin bertahan" ucap Lisa dengan air mata yang mulai berlinang.
"Lalu apa maksudmu?" aku mulai paham dengan jalan pemikiran Lisa.
"Izinkan Langit menjalani tes DNA. Jika benar Langit anak Mas Tama, aku mohon padamu izinkan Langit menjadi donor bagi Mas Tama. Aku hanya butuh izinmu, Lan" Lisa memelas padaku.
Aku tertawa sinis.
"Apa kau sedang melucu, Lis?" tanyaku dengan sinis.
Lisa diam.
"Bersahabat denganku beberapa tahun apa tak membuatmu memahami sifatku?" tanyaku berapi-api pada Lisa.
Lisa tetap diam.
"Jangan harap aku mengizinkan Langit tes DNA, apalagi menjadi donor bagi Tama. Aku tak pernah mau tahu siapa ayah dari Langit. Bagiku Langit hanya anakku seorang" ucapku dengan sengit.
"Kau gila! Seandainya pun Langit benar anak Tama, apa kau pikir aku akan rela tubuh anakku disayat oleh pisau bedah? Tidak, Lisa. Aku tak akan pernah rela"
"Kumohon, Lan. Maafkan aku dan Mas Tama. Apapun, apapun akan kulakukan asal kau mengizinkan Langit mendonorkan hatinya" Lisa bangkit dari duduknya dan mulai berlutut.
"Tidak, Lisa. Sekarang silahkan pergi. Tidak ada lagi yang bisa kubicarakan denganmu! Keputusanku sudah final" usirku.
Perlahan Lisa bangkit dari posisi berlututnya. Matanya menatapku nyalang.
"Kamu memang selalu sombong. Kau tahu alasan apa yang sebenarnya mendorongku mengkhianatimu?"
"Memang benar aku mencintai Mas Tama, dan aku tidak tega jika sampai dia harus dipenjara. Tapi alasan utamaku adalah karena aku sudah muak padamu. Aku muak selalu dibanding-bandingkan dengan dirimu. Aku muak selalu dibayangi oleh kecantikan dan kepintaranmu!"
"Kau yang selalu cantik dan pintar tak akan pernah mengerti perasaanku. Kau tak akan tahu kesedihanku saat aku sering memergoki pria yang aku sukai mencuri-curi pandang pada sahabatku. Kau juga tak akan pernah mengerti bagaimana orang selalu meremehkanku saat aku bersanding denganmu!" Lisa mencurahkan segala isi hatinya selama ini.
"Lalu itu salahku? Aku tak pernah memintamu menjadi sahabatku. Kau yang pertama mendekatiku dan mengajakku berteman" aku tak sudi dikambinghitamkan atas perasaan minder Lisa. Aku tak sudi dikambinghitamkan atas pengkhiatan Lisa padaku.
__ADS_1
"Dasar wanita sombong. Aku menyumpahimu agar kau tak akan pernah bahagia" ucap Lisa dengan penuh amarah. Lisa pergi tanpa pamit.
Setelah suara motor Lisa tak terdengar aku terduduk di kursi ruang tamu.
Ya Tuhan, kenapa hari ini begitu berat untukku. Aku meratap. Entah apa yang aku ratapi.
"Temanmu sudah pulang, Nduk?" tanya Bune.
Aku hanya mengangguk.
Tanpa banyak bicara Bune merengkuhku dalam pelukannya. Bune mengelus punggungku dengan sabar. Membiarkan aku menumpahkan semua kesdihanku.
"Langit mana, Bune?" tanyaku setelah puas menangis dipelukan ibuku.
"Main game di kamarnya" jawab Bune singkat. Bune tak pernah menuntutku bercerita. Biasanya aku sendiri yang akan menceritakan beban yang menghimpit dadaku.
Seperti saat ini, aku menceritakan semua yang terjadi padaku hari ini. Bune mendengarkan ceritaku dengan seksama, tak sedikitpun menyela.
"Tidak apa, Nduk. Apapun keputusan sudah benar. Mengetahui siapa ayah Langit tidak akan mengubah apapun, justru akan semakin menyakitimu"
"Bune tahu sampai saat ini masih ada trauma dalam hatimu. Lakukan apa yang menurutmu benar. Lagipula tidak ada jaminan bahwa Langit adalah anak Tama. Keputusanmu sudah benar" Bune mendukung keputusan yang kuambil.
Aku merasa sangat berterimakasih pada beliau. Beliau memang ibu terbaik yang pernah kumiliki.
Setelah puas menumpahkan segala isi hatiku, aku pamit untuk beristirahat. Aku butuh tidur untuk menyegarkan hati dan pikiranku. Sebenarnya aku sudah siap saat memutuskan untuk kembali ke desa ini, bahwa kejadian-kejadian semacam ini pasti akan mengusikku. Tapi ketika aku dihadapkan pada kejadian yang sesungguhnya, hatiku tetap merasakan pedih dan tercabik. Luka dan pengkhiatan itu begitu dalam.
Wulan berharap, esok tidak ada lagi kejadian yang akan menguras emosinya. Hari ini begitu melelahkan bagi Wulan.
********************************************
~Sirosis hati merupakan tahap akhir dari penyakit liver. Kondisi ini ditandai dengan jaringan hati yang sehat diganti dengan jaringan parut yang rusak secara permanen. Akibatnya, fungsi hati tidak bekerja dengan baik.
~Endometriosis merupakan kondisi ketika jaringan yang membentuk lapisan dalam dinding rahim tumbuh di luar rahim. Jaringan yang disebut endometrium ini dapat tumbuh di indung telur, usus, tuba falopi (saluran telur), ******, atau di rektum (bagian akhir usus yang terhubung ke anus).
Sebelum menstruasi, endometrium akan menebal sebagai tempat untuk menempelnya sel telur yang sudah dibuahi. Bila tidak dalam kondisi hamil, endometrium tersebut akan luruh, lalu keluar dari tubuh sebagai darah menstruasi.
__ADS_1
Pada kasus endometriosis, jaringan endometrium di luar rahim tersebut juga ikut menebal, tetapi tidak dapat luruh dan keluar dari tubuh. Kondisi tersebut dapat menimbulkan keluhan nyeri, bahkan dapat menyebabkan kemandulan atau infertilitas wanita.