
Hari Minggu pagi yang cerah, secerah hatiku. Aku berhasil mengalahkan seorang Darma Wiratmaja dengan telak.
Setelah menjemur pakaian, aku membantu Bune memasak. Aku bangun sedikit kesiangan pagi ini. Euforia karena berhasil mengalahkan keluarga Wiratmaja aku tumpahkan semalam suntuk dengan menyaksikan drama korea sampai jam 3 dini hari.
Alhasil aku bangun saat matahari sudah mengintip malu-malu di ufuk timur. Menghasilkan semburat jingga yang mempesona.
"Masak apa, Bune?" tanyaku lalu mengupas kentang yang terletak disebelah kompor.
"Sarapan sama spaghetti saja, ya? Makan siang sama malem, Bune masak selat solo"
"Heehm" aku menjawab dengan gumaman dan kemudian mengupas kentang.
"Permisiiii!" sayup-sayup terdengar suara dari arah pintu ruang tamu.
"Mas Adit?" tanyaku heran saat melihat pria itu tengah berdiri di depan pintu rumahku dengan pakaian khas orang yang hendak bersepeda. Pintu aku buka hanya seperempat, dan aku masih bersembunyi di baliknya. Hanya kepalaku yang tampak melongok.
"Langit sudah bangun? Aku pengen ngajak Langit gowes boleh?" tanyanya sambil nyengir.
"Masuk dulu, Mas" gumamku, lalu membuka pintu dengan lebar untuk mempersilahkan Mas Adit masuk
Tanpa pamit, aku langsung bergegas masuk ke dalam karena merasa risih akan pakaian yang aku kenakan saat ini. Sebuah daster satin dengan renda brukat di bagian dada warna merah, tanpa lengan, setengah jengkal di atas lutut.
Damned! Indah sekali!
Adit hanya bisa melongo dan memaki dalam hati melihat penampilan Wulan pagi itu.
Sejurus kemudian Adit tersenyum nakal.
Aku beruntung. Batin Adit.
Sejenak Adit melupakan rasa bersalahnya kepada Anin dan Aluna.
Aku berganti pakaian dengan kaos oblong longgar dan celana training ¾. Dalam hati aku bersungut-sungut.
Pagi-pagi udah bertamu. Baru jam 06.30 ini! batinku gemas.
"Siapa, Nduk?" tanya Bune saat aku akan menaiki tangga, ke kamar Langit.
"Mas Adit, Bune. Mau ngajak Langit gowes katanya" jelasku, lalu naik ke lantai atas.
Tok tok. Aku mengetuk pintu kamar Langit lalu membukanya.
Tampak Langit sudah bangun dan berkutat dengan handphonenya.
"Anak Ibu, bangun tidur bukannya mandi malah main game" ujarku sambil menowel hidungnya.
Langit merasa terganggu dan menjauhkan wajahnya dari tanganku.
"Aaahh, Ibu. Kentang nih, dikit lagi menang" jawab Langit tanpa melihat padaku sedikitpun.
"Ada Om Adit dibawah. Mau ngajakin gowes. Mau?"
"Om Adit? Gowes?" Langit langsung memekik dan mengalihkan mata dari handphonenya.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum kecut. Sejak kapan priaku ini bisa antusias terhadap kehadiran orang lain?
"Aduh, mati!" pekiknya.
"Ah, biar deh di-report afk. Bodo, ah!" gumam Langit sambil beranjak dari ranjang.
"Langit mau gowes sama Om Adit, Bu" ujarnya bersemangat.
"Eits, rapihin dulu tempat tidurnya. Mandi juga" perintahku padanya. Sejak kecil aku selalu menanamkan disiplin pada putra semata wayangku itu.
"Mandinya nanti abis gowes, Bu" jawab Langit sambil melipat selimutnya.
"Ya udah turun, terus sarapan dulu. Uti ada nyiapin spaghetti"
Langit mencuci muka ke kamar mandi lalu berganti dengan pakaian olah raga. Bukan pakaian khusus gowes, karena aku tak pernah membelikannya yang seperti itu.
Aku dan Langit turun bersama.
Di meja makan Mas Adit sudah duduk bersama Bune. Empat piring spaghetti sudah tersaji di meja makan.
"Bune ngajakin Nak Adit sarapan" ucap Bune saat aku duduk di salah satu kursi.
__ADS_1
"Wulan ga ada tanya apa-apa lho, Bune" jawabku geli.
Mas Adit menggaruk puncak kepalanya yang tak gatal. Langit sedang mengaduk spagettinya, mencampur pasta dengan sausnya.
"Pagi, Om" sapa Langit lalu mengarahkan kepalan tangannya pada Mas Adit. Mas Adit menyentuhkan kepalan tangannya. Mereka bertos gaya pria, menggunakan kepalan tangan.
"Pagi juga, jagoan" balas Mas Adit.
Setelah berdoa sejenak kami mulai acara sarapan bersama.
"Ehhmm, sausnya enak. Kayanya bukan saus bolognesse yang ada di toko sejenis IndoMei gitu. Dagingnya berasa, rasanya juga lebih strong" kata Mas Adit, seolah dirinya adalah seorang juri ajang kompetisi chef.
"Anak gadis saya ini yang bikin" seloroh Bune bangga.
Aku tak memberikan reaksi. Hanya sibuk menggulung pasta dengan garpuku.
"Nanti pulangnya mampir, ya! Ibu bekali selat solo buat makan siang sama makan malam" pinta Bune.
Setelah makan, Langit langsung mengajak Mas Adit pergi bersepeda.
"Om, ayo. Keburu siang. Nanti panas" ajak Langit tak sabar.
Aku dan Bune meneruskan acara memasak yang terjeda karena sarapan.
"Sepertinya Langit akrab dan merasa nyaman dengan Nak Adit, Nduk" kata Bune sambil mengaduk-aduk ayam kecap. Aroma kayu manis dan biji pala semerbak harum.
"Hhmmm" aku hanya menanggapi dengan gumaman.
"Cocok jadi ayah untuk Langit" lanjut Bune.
Aku yang saat itu sedang memotong kentang ke bentuk potato wedges sontak menghentikan aktifitasku.
Aku menatap Bune lekat. Aku melihat raut prihatin pada wajah beliau.
"Wulan ga pernah kepikiran untuk mencari ayah untuk Langit, Bune. Wulan ga bisa" jawabku lalu kembali memotong kentang.
"Belum bisa. Kamu cuma butuh bertemu pria yang tepat, Nduk" koreksi Bune.
Aku hanya mengedikkan bahuku. Tak berani menatap ibuku itu.
"Langit butuh sosok seorang ayah. Kasihan, dia tak pernah mengenal apa itu sosok seorang ayah" desak Bune.
Adit dan Langit sudah bersepeda hampir satu kilo jauhnya. Peluh sudah membasahi tubuh kedua pria beda generasi itu.
"Istirahat dulu, Om" tunjuk Langit pada salah satu gerai IndoMei Point.
Kami memarkirkan sepeda di teras IndoMei lalu masuk ke dalamnya.
Langit mengambil sebotol air mineral dan susu kotak dingin, sementara Adit mengambil sebotol minuman isotonik dingin. Langit juga mengambil sebungkus keripik.
Langit dan Adit, duduk di teras IndoMei dan menikmati minuman dan makanan yang baru mereka beli.
Seorang pria berjalan santai menghampiri mereka. Pria yang saat itu hendak membeli sebuah alat pencukur, merasa mendapat kejutan menyenangkan pagi itu.
"Kamu anak Wulan, kan?" tanya pria itu.
Adit mengenalinya sebagai pria yang dibenci dan ditakuti oleh Wulan. Deni.
"Ada apa?" tanya Adit dingin.
"Aku tak ada urusan denganmu" jawab Deni kasar.
"Om temannya Ibu, kan? Yang pernah datang kerumah?" tanya Langit.
"Ternyata ingatanmu bagus" ucap Deni sambil mengacak rambut Langit.
Sekali lagi seperti saat pertemuan pertama mereka, Langit tak terima kepalanya disentuh orang lain.
Langit menepis tangan Deni dengan sorot tak nyaman.
"Ibu bilang, ga boleh berbincang sama orang asing" ucap Langit lalu beringsut menjauhi Deni.
"Ibumu tak menceritakan siapa aku padamu, kids?" tanya Deni dengan seringai kejam.
Langit menggeleng.
"Dasar j a l a n g" gumam Deni.
__ADS_1
Adit tak ingin Langit semakin mendengar umpatan yang dilontarkan Deni tentang ibunya. Walaupun Adit tak yakin Langit paham apa yang digumamkan Deni barusan, Adit tetap tak ingin membiarkan Langit mendengar kata-kata kasar dari Deni.
"Langit bisa tolong beliin Om Adit sosis bakar sama Nasi Krawu di dalam IndoMei? Om Adit lapar lagi" pinta Adit pada Langit. Adit sebenarnya hanya beralasan, ingin menjauhkan Langit dari percakapan mereka.
Langit menerima uang dari Adit lalu masuk ke dalam gerai.
"Kamu pacarnya Wulan?" tanya Deni angkuh.
Adit tak menjawab. Lebih memilih menunggu kata-kata Deni selanjutnya.
"Kalau kamu pacarnya, pasti sering begituan 'kan sama Wulan? Dia nikmat 'kan? Kamu pasti ketagihan sama anunya. Wulan ga cerita asal-usul Langit" cerca Deni dengan seringai menjijikkan.
Apa mungkin pria ini ayah Langit? Adit berspekulasi dalam hati.
"Jaga bicaramu! Wulan bukan wanita seperti itu" ucap Adit tegas.
"Sok suci! Cuih!" Deni meludah ke arah kaki Adit.
Adit berjengit saat ludah itu hampir mengenai sepatunya. Emosinya sedikit lagi akan meledak.
"Sekali j a l a n g, tetap j a l a n g!" caci Deni.
Adit sudah tak mampu menahan emosinya. Darahnya mendidih mendengar Wulan direndahkan sedemikian rupa. Adit merangsek maju dan mencengkram kerah kaos Deni.
"Jaga bicaramu, dasar brengsek!" Adit mendelik pada Deni. Siap melancarkan tinjunya ke rahang pria itu.
Deni mencengkram lengan Adit sebagai bentuk perlawanan, berusaha melepaskan cengkraman tangan Adit. Mereka berdua saling melotot.
"Om kenapa? Bertengkar" tanya Langit melihat dua orang pria dewasa yang saling mencengkram dengan ekspresi marah pada wajah keduanya.
Adit langsung melepaskan tangannya pada kerah Deni. Dan Deni memasukkan tangannya pada kantung celana bahan selututnya.
"Gapapa. Ayo pulang" ajak Adit pada Langit.
"Sosis sama nasi krawunya ga dimakan dulu, Om?" tanya Langit.
"Nanti di rumah" jawab Adit singkat.
"Namamu Langit 'kan?" tanya Deni pada Langit yang telah menaiki sepedanya.
"Salam kangen untuk ibumu, ya!" kata Deni sambil tersenyum.
Sepanjang perjalanan pulang mengantarkan Langit, Adit lebih banyak diam. Kemungkinan bahwa Deni adalah ayah Langit memenuhi kepalanya.
Sudah hampir jam sembilan pagi saat Langit dan Adit memarkirkan sepeda mereka di samping mobil Erempat Wulan. Wulan sedang duduk di ruang tamu sambil menonton drama korea dari laptonya. Rambutnya tergerai dan setengah basah.
Cantik sekali. Pikir Adit terpesona.
"Eh, pria Ibu sudah pulang. Ehhmm, bau acem! Mandi, gih!" perintahku pada Langit.
Langit hanya mengangguk lalu masuk.
"Tunggu bentar, ya. Selatnya lagi disiapin sama Bune" ujarku pada Mas Adit.
Aku berlalu ke dapur, hendak menginfokan pada Bune bahwa Mas Adit sudah datang.
"Sudah Bune siapkan di dapur. Kamu kasih aja. Bune masih jahit baju sobek" jawab Bune yang sedang bersandar pada headboard dan memang tampak sedang sibuk menjahit.
"Ini, Mas" tukasku sambil menyerahkan totebag yang isinya adalah selat solo, lengkap dengan condiment-nya.
"Thanks" gumam Mas Adit.
"Aku langsung pulang, ya?" pamit Mas Adit padaku.
"Ga nunggu Langit selesai mandi dulu?" tanyaku berbasa-basi, tapi mengantarkannya ke pintu depan.
"Gerah" jawab Mas Adit singkat.
Saat Wulan hendak menutup pintu, Adit memberanikan diri bertanya. Adit menahan pintu itu agar tak ditutup oleh Wulan
"Lan, apa Deni ayah Langit?" tanya Adit lirih. Tapi pasti terdengar oleh Wulan.
Mata Wulan membulat sempurna, dan wajahnya memucat. Sorot marah dan terluka terpancar dimatanya.
Rupanya aku menanyakan hal yang salah pada Wulan. Sesal Adit dalam hati.
**********************************************
__ADS_1
~afk, merupakan singkatan away from keyboard. Dalam bahasa gaming, adalah istilah yang umumnya dipakai atau ditunjukkan oleh seseorang yang sedang tidak bisa ikut bermain karena jauh dari keyboard atau gadgetnya.