Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 34 Jeratan Takdir?


__ADS_3

Sudah pukul delapan lewat saat aku sampai di warung bakso orang tua angkatku. Warung tampak sarat akan pengunjung saat aku memarkir motorku di depan warung. Bune kaget saat melihat rambutku yang sudah kupangkas menjadi pendek.


"Lho, Nduk? Rambutnya kok?? Eman tenan sakjane" katanya menyayangkan.


(Eman tenan sakjane : Sayang sekali sebenarnya)


"Surabaya panas, Bune. Ga sanggup saya, sumuk" jawabku dengan mengibas-ngibaskan tanganku di depan wajahku.


(sumuk : gerah)


"Gimana hasil dari dokter tadi, Nduk? Ibu dan bayinya sehat?" tanya Pakne dari balik rombong baksonya.


"Sehat, Pakne. Kata dokternya calon bayinya panjang, tinggi kaya saya nanti", jawabku dengan senyum lebar.


"Aduuhh, kepengen cepet lahir rasanya. Bune ga sabar kepingin segera timang-timang" tukas Bune dengan gemas.


"Masih lama, Bune. Perkiraan lahirnya masih tanggal 27 Februari nanti. Kalau mundur tanggal 28 Februari, ulang tahun saya sama anak saya bisa barengan, Bune" selorohku.


"Wah, 28 Februari tho. Harus Bune catat ini, biar bisa ngerayainnya" ucap Bune sembari mencari bolpoin dan sebuah buku kecil di area rombong bakso.


Kulihat Bune mencatat tanggal lahirku di buku kecil tersebut. Aku menebak itu adalah buku catatan-catatan penting milik Bune. Aku merogoh-rogoh tas kecil yang aku bawa untuk mencari kertas foto hasil USG. Aku beranjak menuju area di balik rombong bakso, tempat Bune dan Pakne sedang duduk.


"Ini foto hasil USG tadi Bune, Pakne. Bayinya masih keciiiiilll sekali, jadi belum begitu jelas. Tadi katanya tangan sama kakinya udah mulai terbentuk, tapi di foto ini Wulan ga tau yang mana. Hehehe" ujarku menjelaskan dengan cengiran di akhir penjelasanku.


"Pak, berapa? Bakso campur 2, es jeruk 1, jeruk hangat 1, lontong 2, sama krupuk rambak 4 bungkus?" tanya seorang pria yang hendak membayar makanan yang telah selesai disantapnya.


Karena Pakne dan Bune tengah asyik memandangi foto hasil USG, jadi aku berinisiatif untuk menghampiri dan menerima tagihan dari si pembeli karena aku sudah hafal harga tiap menunya.

__ADS_1


"Semuanya Rp. 44.000 ya, Mas" jawabku.


"Eh, mbak yang tadi di Dokter Ibrahim kan? Wah, rambutnya beda sekarang. Padahal tadi masih panjang. Lebih segar kelihatannya, Mbak" kata pria yang ternyata tadi aku temui di dokter kandungan.


"Oh, iya Mas. Istrinya mana?" tanyaku sambil melongok, mencari sosok istrinya.


"Masih menikmati baksonya, Mbak. Mbak siapanya Pak Jaka? Kok ga pernah keliatan disini sebelumnya? Saya langganan sejak dulu, sejak kuliah di Petra. Meski udah lulus tiga tahun yang lalu, masih sering mampir kemari" ujarnya bercerita.


"Keponakan saya, Mas Adit. Tapi sudah saya anggap anak saya sendiri" kata Pak Jaka menimpali dari belakangku.


”Ooohh" komentarnya singkat.


Setelah pria bernama Adit tadi membayar, pria tersebut kembali untuk menemani istrinya.


"Dia salah satu langganan disini, sampai Pakne kenal sama dia. Dia orangnya supel, ramah, senang ngobrol sama orang. Sejak masa pacaran sama wanita yang jadi istrinya sekarang itu, Adit sering sekali kesini. Makanan favoritnya dia bilang" kata Pakne menjelaskan.


Aku hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Pakne.


"Kok lama?” tanya istri dari pria bernama Adit.


"Ngobrol sebentar sama Pak Jaka" jawab pria tersebut.


"Rasa baksonya dari dulu ga berubah ya, Mas? Enak, sedepnya pas. Makanya Mas Adit favorit disini. Tiap makan bakso pasti kesini. Kaya ga ada warung bakso lain,"


"Tempat bakso lain, lewat. Bakso Barokah seng ada lawaaann" seloroh pria tersebut.


"Sayang, jangan sering-sering makan baksonya ya. Dokter bilang tadi tekanan darah kamu agak tinggi, kurangi asin-asin dan berlemak" ujar pria tersebut menasihati istrinya.

__ADS_1


"Ngidam ini, Mas. Nanti anakmu ngileran lho. Mau?" ancam istrinya


"Bisa aja bikin alasan nih, ya!" pria tersebut berkata gemas sambil mencubit pelan pipi istrinya, sementara istrinya tergelak atas perlakuan tersebut.


"Eh, Yang. Wanita yang kita temui tadi di Dokter Ibrahim ternyata keponakannya Pak Jaka lho" ujar pria tersebut menginformasikan temuannya pada sang istri.


"Keliatannya masih muda gitu. Ada keperluan apa ya kira-kira di dokter kandungan?" tanya istrinya penasaran.


Sang suami hanya mengangkat satu bahu sambil mencebikkan bibirnya pertanda tidak begitu peduli akan hal tersebut.


Sluuuurrrppp


Terdengar suara sedotan yang menyedot habis sisa minuman dalam gelas.


"Udah abis, Mas. Aduh kenyang banget! Yuk, pulang" ajak wanita tersebut pada suaminya.


Si pria tidak menjawab ajakan istrinya dan hanya mengulurkan tangan untuk menggandeng istrinya.


"Pak Jaka, kami pulang dulu ya!" teriak pria tersebut dari meja tempatnya duduk yang berjarak tiga meter dari rombong bakso.


"Iya, Mas Adit. Hati-hati di jalan!" ujar Pakne.


Warung mulai sepi saat waktu menunjukkan lewat pukul sembilan malam. Dagangan masih tersisa sedikit. Aku mulai mencicil membantu berbenah, agar saat waktunya tutup nanti pekerjaan tidak terlalu menumpuk. Kumulai dari mencuci piring, lalu dilanjutkan membersihkan meja yang sudah kosong.


21.45 sudah tidak ada pembeli yang datang atau sedang makan di tempat. Akhirnya Pakne dan Bune mulai berbenah dan menyimpan sisa dagangan ke dalam lemari pendingin di dapur.


"Nduk, hasil USG masih Bune pinjam ya? Bune belum puas ngeliatin calon cucu Bune, nih" ujar Bune saat kami telah menutup warung sepenuhnya.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Seperti halnya diriku, rupanya Bune juga sudah jatuh cinta pada janin dalam kandunganku ini. Aku menuntun motorku yang aku parkirkan di depan warung tadi. Kami menyeberang menuju rumah dengan perasaan berbunga-bunga menanti kelahiran seorang bayi yang akan mengisi hari-hari kami dengan keceriaan.


Hari ini Wulan bertemu dua kali dengan seorang pria tanpa disengaja. Mitos mengatakan dipertemuan yang ketiga kali, berarti ada takdir yang menjerat di antara kalian. Benarkah? Takdir seperti apa yang menjerat antara Wulan dan Adit? Jika memang benar takdir, semoga itu bukanlah takdir yang buruk.


__ADS_2