Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 30 Pakne dan Bune


__ADS_3

"Ibu tadi baru saja mau memanggilmu, Nduk. Ternyata kamu yang muncul duluan, mungkin kalian sudah punya apa itu yang kata anak-anak muda sekarang? Ah, iya cem-istri itu. Haduh bapak tidak bakat ngomong-ngomong Bahasa Inggris gitu, belepotan jadinya. Jangan tegang gtu, Pak Jaka ga gigit kok” kata Pak Jaka memulai pembicaraan diselingi candaan sehingga tidak menjadi kaku. Warung bakso belum begitu ramai, karena masih maghrib. Mungkin sebagian besar orang lebih memilih menunaikan ibadah terlebih dahulu.


"Chemistry, Pak", ujarku mengoreksi ucapan beliau.


"Iya iya, itu maksud Pak Jaka. Hahaha" jawabnya kemudian tertawa renyah.


Aku tersenyum menanggapi candaan Pak Jaka. "Ada perlu bicara apa ya, Pak?" tanyaku kemudian.


"Ibu tadi sudah cerita, jadi Pak Jaka tidak mau menanyakan lagi perihal itu. Bapak percaya pada naluri Ibu. Yang mau Bapak tanyakan, kamu bersedia menjadi anak angkat kami?", tanya Pak Jaka dengan sorot mata serius.


"Apa saya nanti tidak merepotkan, Pak, Bu? Sungguh, saya tidak punya maksud lain ketika bercerita mengenai diri saya" jawabku khawatir.


"Ibu percaya, Nak. Maka dari itu Ibu terenyuh mendengar cerita kamu. Di usia yang begitu muda, tapi kamu bisa begitu tabah menjalani takdir Tuhan. Mungkin ini juga jalan yang diberikan oleh Tuhan pada Bapak dan Ibu yang menantikan kehadiran momongan. Tapi kami diberikan paket komplit langsung, seorang anak angkat beserta calon cucu" kata Bu Nimas menimpali.


"Saya takut mengecewakan Bu Nimas dan Pak Jaka nantinya. Apalagi saat ini saya sedang hamil tanpa suami. Saya takut, Bu Nimas dan Pak Jaka jadi bahan pergunjingan orang. Apalagi kalau sampai berimbas pada usaha Bu Nimas dan Pak Jaka", tukasku penuh rasa kekhawatiran.


"Bapak dan Ibu justru bangga, Nduk. Bapak justru bangga jika punya anak yang tegar dan tabah seperti kamu. Rata-rata gadis seusia kamu pasti akan memilih aborsi jika hamil di luar nikah. Hati Bapak miris kalau baca berita-berita bayi dibuang atau praktek aborsi ilegal. Bapak yakin ini jalan yang Tuhan pilihkan untuk menjawab doa-doa Bapak. Masalah usaha, rejeki Tuhan yang atur", ujar Pak Jaka.


"Apa benar tidak apa, Pak, Bu?" tanyaku masih ragu.


"Ikuti kata hatimu, Nak", kata Bu Nimas


Aku berpikir sejenak. Banyak kekhawatiran dalam benakku. Ibu kandungku sendiri malah berkata bahwa ia akan malu jika anaknya hamil tanpa seorang suami, meskipun penyebabnya adalah diperkosa. Sementara orang yang baru kutemui hari ini, justru memintaku menjadi anak angkat mereka. Justru bangga akan keputusan yang aku buat.


Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, akhirnya aku memutuskan. "Sebelumnya saya benar-benar merasa sangat berterima kasih atas kebaikan Bu Nimas dan Pak Jaka. Saya terharu sekali. Di saat semua orang mencemooh dan mencibir saya, termasuk ibu kandung saya sendiri. Justru Bu Nimas dan Pak Jaka yang bangga dan mendukung keputusan yang saya buat. Saya tak tahu bagaimana lagi harus mengungkapkan rasa terima kasih saya. Saya akan merasa bangga bisa menjadi anak Bu Nimas dan Pak Jaka".


"Kalau begitu, panggilnya jangan Bu Nimas, Pak Jaka gitu lagi. Ibu-Bapak boleh. Atau mau Mama-Papa biar lebih keren? Atau Mommy-Daddy biar kaya orang-orang bule gitu? Hahaha", kata Pak Jaka berkelakar.


Plak. Bu Nimas memukul gemas paha suaminya. "Aduh, Bapak. Awak dhewe iki wong Jowo. Ora usah aneh-aneh. Mengko wong podho guyu kabeh, wong iki rupane podho ireng mlenges tapi sok Mommy-Daddy!" kata Bu Nimas mengomel.


(Aduh, Bapak. Kita ini orang Jawa. Tidak usah aneh-aneh. Nanti orang-orang pada tertawa semua, orang ini rupanya hitam legam tapi sok Mommy-Daddy!)


"Yo ora ireng mlenges pisan tho, Bu. Sawo mateng, Bu, sawo mateng", kata Pak Jaka memprotes ucapan istrinya.


(Ya tidak hitam legam juga lah, Bu. Sawo matang, Bu, sawo matang)

__ADS_1


"Yo wes sawo mateng. Tapi ojo kematengen, mengko bosok" Bu Nimas bersoloroh.


(Ya sudah sawo matang. Tapi jangan terlalu matang, nanti busuk)


Aku tertawa renyah pada dua orang yang kini menjadi orang tua angkatku ini. Perdebatan seru nan mesra, pemandangan yang tak pernah kudapati pada kedua orang tuaku, semasa ayahku masih hidup. Beginikah keluarga harmonis? Pikirku.


"Saya manggil Pakne dan Bune boleh? Saya merasa hangat jika memakai panggilan demikian", ujarku memberi saran.


"Wah boleh-boleh. Pakne suka dengernya. Mulai sekarang Pakne mau memanggil Bune juga sama Ibu. Hehehe" seloroh Pakne.


Aku mengulurkan tanganku bergantian pada Pakne dan Bune. "Ijinkan Wulan berbakti kepada Pakde dan Bune,ya?” ujarku dengan nada takzim.


"Ya, Nak", kata Bune sambil mengelus rambutku.


"Bu, bakso campur satu. Baksonya aja porsi separoan dua. Pakai lontong semua, ya", seru seorang wanita yang tampak membawa anak laki-laki dan perempuan yang tampak seumuran. Mungkin kakak beradik dengan selisih yang tidak jauh berbeda.


"Minumnya apa, Bu?” tanyaku cekatan.


"Hmm, es blewah ada?"


"Ada, Bu. Mau berapa gelas es blewahnya?" aku lanjut bertanya.


"Dua ya, Mbak", jawab pelanggan tersebut.


Pelanggan satu persatu berdatangan dan mulai memadati warung "Bakso Barokah" saat memasuki waktu makan malam. Ada yang memilih makan di tempat, ada yang memilih dibungkus. Aku membantu semampuku. Terkadang menyiapkan minuman, terkadang membereskan meja atau membantu mencuci gelas dan mangkok kotor.


Jam sepuluh lewat akhirnya dagangan habis dan kami mulai berbenah. Aku yang sejak jam delapan tadi disuruh oleh Bune untuk beristirahat menolak, aku berniat membantu sampai warung tutup. Ditengah-tengah acara berbenah masih ada satu atau dua orang pelanggan yang menghampiri karena berniat membeli bakso. Dengan terpaksa kami mengecewakan pelanggan karena tidak dapat melayani. Rupanya warung bakso orang tua angkatku ini memang laris, karena memang rasanya enak dan sedap.


Setelah warung tutup sepenuhnya, kami bersama menyebrang jalan untuk menuju rumah kost sekaligus rumah tinggal Pakne dan Bune.


"Sekarang istirahat saja dulu, Nduk. Pasti capek sekali rasanya. Besok kita lanjut ngobrolnya. Pakne dan Bune masih pengen tahu rencana ke depan kamu mau bagaimana" saat kami sudah masuk ke dalam ruang tamu yang merupakan ruang untuk menerima tamu penghuni kost.


"Saya pamit ke atas dulu ya, Pakne, Bune"


"Iya, Nak. Kamar Bune ada di ujung ya, kamar dengan pintu warna coklat muda. Kalau ada apa-apa, ketuk saja jangan sungkan" kata Bune sembari menunjuk kamarnya.

__ADS_1


"Injih, Bune. Leres, maturnuwun", jawabku.


(Iya, Bune. Baik, terima kasih)


Aku memperhatikan, pintu-pintu kamar penghuni kost adalah coklat tua. Sepertinya sengaja dibedakan untuk membedakan antara kamar penghuni dan induk semang.


Saat aku beranjak ke lantai dua, aku berpapasan dengan salah satu penghuni kost yang langsung menyapaku ramah.


"Penghuni baru, Mbak?” tanyanya sambil tersenyum ramah.


"Eh, iya. Kenalkan, saya Wulan mbak, eh ce", jawabku, lagi-lagi gelagapan saat berinteraksi dengan etnis Tionghoa.


"Hahaha, santai aja Mbak. Aku ga masalah kok dipanggil apa aja. Stephanie, biasa dipanggil Fani" ucapnya mengulurkan tangan.


Aku bersalaman dengannya. "Salam kenal, ce" kataku tersenyum.


"Petra juga? Semester berapa?"


"Iya Ce, maba. Jurusan Akuntansi Bisnis"


"Hmm, dua tahun di bawahku. Aku semester lima, Arsitektur. Kamarnya di mana? Lantai satu apa dua?”


"Lantai dua, Ce"


"Aku di lantai satu. Ga bisa bobo kalau ga pake AC, Surabaya puanas" ucapnya sambil nyengir.


"Aku anak desa, Ce. Ga pernah pakai AC. Mungkin bisa masuk angin kalau pakai AC" selorohku.


"Kost masih sepi, karena masih libur semester. Aku anggota BEM, jadi panitia MOS. Makanya ga pulkam ke Salatiga. Ya udah, udah malem nih. Kamu istirahat ya, aku juga mau istirahat"


"Iya ce, selamat istirahat"


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lewat saat aku sampai di kamar. Aku mengganti bajuku karena berkeringat setelah bantu-bantu di warung bakso Pakne dan Bune. Sudah malam, aku malas mau mandi lagi.


Wulan merebahkan tubuhnya yang letih sambil memikirkan perkataan Pak Jaka mengenai rencana Wulan kedepannya. Wulan sendiri belum mempunyai pandangan jelas untuk masalah itu. Sambil menanti lelap membuai, Wulan mulai memikirkan dan menata rencana-rencananya. Akankah rencana Wulan terealisasi dengan mudah dan tanpa halangan?

__ADS_1


__ADS_2