Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 78 Masa Lalu Deni


__ADS_3

Setelah mencekoki Langit dengan informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, Deni menuju rumah Nia. Gadis itu izin tidak masuk kerja hari ini karena merasa lelah. Kemarin malam, semalam suntuk Deni menggempur tubuh mungil Nia dengan berbagai variasi gaya. Nia mengaku tubuhnya serasa tak bertulang setelah empat ronde permainan bersama Deni malam itu.


Tapi Nia tak menolak ketika Deni mengajaknya keluar siang ini. Deni bilang akan membelikannya beberapa potong baju cantik untuk dirinya. Setelah nyaris setiap hari selama seminggu ini Nia memberikan layanan di atas ranjang akhirnya Deni mengajaknya 'kencan'. Biasanya Deni hanya akan mengantarkan Nia pulang dari pabrik setelah sebelumnya mampir dulu untuk short time di motel, hotel murahan, atau di rumah Deni.


Deni membawa Nia makan siang di sebuah cafe kecil. Selama menanti pesanan datang, mereka berbincang mesum tentang rencana gaya apa saja yang belum mereka praktekkan. Nia terkikik-kikik mesum, dan mencubit manja lengan Deni yang duduk di sebelahnya. Deni meraih tangan Nia lalu menekankan tangan wanita itu pada kelelakiannya.


"Nanti ini dibelai, ya? Jangan lupa sedotan mautnya juga" bisik Deni mesum di telinga Nia.


Muka Nia memerah, dan mencoba menarik (dengan tidak bersungguh-sungguh) tangannya dari pegangan tangan Deni.


"Mas Deni, iiihh. Nanti ada yang lihat" desis Nia manja dan berpura-pura sebal.


Pramusaji datang membawakan pesanan mereka. Terpaksa mereka menghentikan aktifitas mesum untuk sementara. Dari cafe Deni mengajak Nia ke pusat perbelanjaan satu-satunya di kota mereka.


Deni merasa setidaknya harus memberikan sedikit apresiasi atas pelayanan Nia padanya. Selama ini dia hanya mengeluarkan seratus sampai dua ratus ribu untuk melakukan short time mereka. Deni menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah, dan membiarkan Nia berkeliling sendiri.


"Tenagaku aku simpan untuk nanti sepulang dari sini" Deni mengedipkan sebelah matanya dan mere*mas bokong Nia untuk meredam protes wanita itu.


"Mas Deni nakal" jawab Nia sambil mencubit gemas lengan Deni dan lalu berkeliling pusat perbelanjaan seorang diri.


Deni tak pernah meminta Nia menjadi kekasihnya. Mereka melakukan perbuatan itu tanpa adanya status sama sekali. Tapi memang begitulah Deni, tak pernah sekalipun meminta wanita-wanita yang didekatinya untuk menjadi kekasihnya.


Tak semua wanita yang didekati Deni mau berakhir di ranjang bersamanya. Saat wanita itu menolak, keesokan harinya Deni akan mendekati mangsa yang lain.


Perangai Deni yang suka mempermainkan wanita tak lepas dari andil orang tuanya. Sejak ibunya meninggal, Pak Darma sangat memanjakan Deni.


Saat itu Deni berusia sepuluh tahun. Hari itu Deni pulang sekolah lebih awal karena guru di sekolahnya ada rapat.


Mbok Darmi, asisten rumah tangganya tidak nampak dimanapun. Saat Deni melewati kamar orang tuanya untuk menuju kamarnya sayup-sayup Deni mendengar suara aneh dari kamar orang tuanya.


Deni mendekatkan telinga ke pintu kamar orang tuanya yang tertutup. Deni semakin mengernyitkan kening.


"Ah ah, iya sayang... yang keras, harder baby.."


"Uuhh aahhh, iya, tusuk disana.. punyamu nikmat sekali, tak seperti punya suamiku"


Itu suara mama. Apa maksudnya? Pikir Deni kecil.


Deni yang merasa penasaran mengintip kamar orang tuanya dari lubang kunci. Deni tak berani membuka pintu kamar itu.


Pemandangan yang dilihatnya membuat jantungnya berpacu. Deni tak mengerti mengapa jantungnya berdetak sedemikian cepat, dan mengalirkan darah di area ***********. Membuatnya bereaksi, menegang, dan mengeras.


Deni masuk kamarnya sendiri, lalu menelepon papanya yang sedang di ada di pabrik dengan ponsel Nikia-nya.

__ADS_1


"Pa, mama ada di kamar sama Om Damar. Mereka telanjang, ga pakai baju. Mama nungging, terus Om Damar pantatnya maju mundur dibelakang mama. Mama bilang ah uh ah uh gitu, Pa. Enak katanya. Mereka sedang apa, Pa?" tanya Deni polos. Deni mengenali pria yang sedang menunggangi mamanya itu karena mereka bertetangga.


Pria yang bernama Damar adalah pria berusia di awal 30-an, seorang pengangguran yang istrinya bekerja sebagai salah satu karyawan di pabrik papanya.


Pak Darma yang mendengar laporan Deni langsung bergegas pulang.


Sampai di rumah, Pak Darma menggedor pintu kamarnya yang diselot dari dalam. Darah Pak Darma mendidih mendengar suara desa*han istrinya dari dalam kamar itu.


"P e l a c u r murahan, buka pintunya!" teriak Pak Darma sembari mendobrak pintu kamar itu. Deni yang mendengar teriakan ayahnya keluar dari kamarnya. Terbengong dan bingung hendak berbuat apa.


Pasangan di dalam langsung gelagapan. Pria bernama Damar langsung mengenakan pakaiannya yang telah berserakan di lantai kamar itu.


Sementara istri Pak Darma menutupi tubuhnya dengan selimut dengan raut ketakutan.


Pada dobrakan ketiga, akhirnya selot terlepas dan pintu terbuka. Damar yang sedang mengenakan kaosnya, wajahnya langsung memucat.


"Mas, maaf. Saya bisa jelaskan" gagap Damar.


"Mau menjelaskan apa kamu, hah?!" Pak Darma melayangkan tinjunya beberapa kali pada wajah pria selingkuhan istrinya .


"Pergi kamu!" usir Pak Darma setelah membuat wajah Damar bengkak disana sini.


Istri Pak Darma hanya bisa meratap.


Setelah puas memukuli Damar, Pak Darma memandang garang istrinya.


"Dasar p e l a c u r" pekik Pak Darma sambil melayangkan tamparan di pipi istrinya.


"Maafin mama, Pa" ratap istri Pak Darma.


"Wanita murahan sepertimu pantasnya mati" Pak Darma meraih leher istrinya dan mencekiknya.


Istri Pak Darma gelagapan dan memukul-mukul lengan suaminya, tapi tangan kokoh itu bergeming dan semakin mengeratkan cengkeramannya.


"Pa, jangan, Pa" Deni kecil meratap tapi tak berani mendekat.


Pak Darma yang kesetanan tak mampu mendengar ratapan putranya.


Suara desa*han istrinya terus berdengung di telinganya dan menjadi bahan bakar untuk semakin menguatkan cekikan pada leher istrinya.


Krakk! Suara leher istrinya patah. Lidah istrinya telah menjulur, liur menetes dan wajahnya ungu kemerahan.


Suara leher patah itu menyadarkan Pak Darma, tapi terlambat. Istrinya sudah tak bernyawa.

__ADS_1


Dengan cepat Pak Darma melepaskan leher istrinya. Tubuh istri Pak Darma melorot dan jatuh lunglai di atas ranjang. Suara isakan Deni kini mampu menembus gendang telinga Pak Darma.


Pak Darma lalu menutup pintu kamarnya, dan menggendong Deni ke kamar anaknya.


"Deni, jangan cerita sama siapapun tentang yang kamu lihat tadi. Kalau kamu cerita, nanti Papa dipenjara. Kamu mau Papa dipenjara?" ancam Pak Darma pada putranya.


Deni kecil menggeleng. Pak Darma meninggalkan Deni di kamarnya dan menunggu Mbok Darmi.


Mbok Darmi datang dengan membawa belanjaan dari pasar. Sudah setahun nyonya majikannya bertingkah aneh. Belanja ke pasar yang biasanya seminggu sekali, berubah menjadi dua atau tiga hari sekali. Dan Mbok Darmi selalu diminta pergi saat jam sepuluh siang ke atas. Sebelum jam itu, ada saja yang diminta oleh nyonya majikannya untuk dikerjakannya.


"Mbok, belikan peralatan mengkafani mayat. Lalu panggil rukat. Minta tukang gali kubur untuk menggali makam" titah Pak Darma.


"Lho, siapa yang meninggal Tuan?"


"Nyonya" jawab Pak Darma singkat.


"Hah??" Mbok Darmi benar-benar terkejut.


"Sudah, kamu ga usah banyak tanya. Kerjakan apa yang saya perintahkan" hardik Pak Darma.


Pak Darma mengkafani sendiri istrinya, tanpa dimandikan. Sudah ada kotoran yang keluar dari a n u s istrinya*. Pak Darma mengelap apa adanya, dan mengkafani juga apa adanya.


Setelah istrinya dimakamkan tanpa disholati, Pak Darma mengeluarkan semua barang yang mengingatkan pada istrinya dari dalam kamar ke halaman belakang. Sprei, baju-baju istrinya, ranjang, peralatan make up, foto-foto, apapun yang memuat tentang istrinya.


Disiramkannya bensin, lalu dibakarlah barang-barang itu. Pak Darma menunggu sampai semua barang itu menjadi abu. Asap membumbung, membawa kenangan beserta perasaan Pak Darma pada wanita yang pernah sangat dicintainya itu.


Sejak kejadian itu Pak Darma bersumpah untuk tidak menikah lagi. Tidak ada orang yang berani menanyakan bagaimana Nyonya Wiratmaja bisa tewas. Pun pria bernama Damar tak berani menceritakan kejadian itu. Khawatir skandal perselingkuhannya bakal terbongkar. Seminggu kemudian Damar memboyong anak istrinya untuk pulang ke kampungnya di Trenggalek, menghindar dari amukan Pak Darma.


Pak Darma sangat merasa bersalah karena membuat Deni melihat nyawa ibunya yang direnggut oleh ayahnya sendiri. Untuk menebus rasa bersalah itu, Pak Darma memanjakan Deni dengan memberikan apapun yang diminta oleh Deni.


Bahkan saat Deni yang berusia 15 tahun dan bertanya bagaimana rasanya bercinta, Pak Darma membawakan seorang wanita bayaran yang dinilainya bersih setiap dua minggu sekali. Walaupun harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk memenuhi permintaan anaknya itu, bagi Pak Darma itu bukanlah masalah besar.


"Mas Deni ngelamun apa? Sampai ga sadar Nia udah dateng. Ngelamun yang jorok-jorok ya?" seloroh Nia.


Deni yang sedang menyesap rokoknya sambil melamunkan tentang masa lalu, meletakkan rokoknya pada asbak di atas meja. Merengkuh bahu Nia yang duduk disebelahnya dan mendekatkan bibir ke telinga gadis itu.


"Jorok-jorok tapi suka 'kan? Udah ga sabar denger desa*han kamu. Ini junior juga pengen dijepit dari tadi" bisik Deni dan mere*matkan tangan Nia ke barang kebanggaanya.


"Nia juga ga sabar, Mas. Mas Deni hebat, bikin Nia kelepek-kelepek. Yuk, langsung" ajak Nia.


*****************************************


Maaf dipotong, karena udah kepanjangan. Lanjutannya langsung ke bab berikutnya yaa 😘😘

__ADS_1


~* penjelesan : saat dicekik atau gantung diri, leher akan menerima tekanan hebat. Tekanan itu menyebabkan penyumbatan udara dan pembuluh darah ke otak atau tekanan pada syaraf vagus. Lalu perut dan dada akan kejang karena diafragma berkontraksi dengan hebat.


Kontraksi diafragma kian menjadi-jadi dan bisa mengakibatkan keluarnya s p e r m a atau bahkan feses.


__ADS_2