
Setelah mengantar Mas Adit pulang, aku langsung melajukan mobil pulang ke rumah. Padahal tadi aku sudah makan dimsum, tapi terasa lapar lagi. Aku berniat menyantap seporsi bakso yang sudah lama tidak kumakan. Apalagi jika bukan Bakso Barokah.
"Den, bakso campur satu, ya. Bungkus aja. Aku makan di rumah" pesanku pada Dendi. Istri Dendi kini tengah hamil delapan bulan.
"Siap, Mbak" jawab Dendi.
"Cewek apa cowok?" Tanyaku pada Ragil, istri Dendi.
"Cewek, Mbak" jawab Ragil dengan senyum bangga.
Aku mengelus perutku sendiri. Dalam hati bertanya-tanya jenis kelamin anak yang sedang kukandung. Akibat kecelakaan, aku dan Mas Adit belum sempat memeriksakan kandunganku ke dokter.
"Ini, Mbak!" Dendi menyerahkan sebungkus bakso.
"Thanks. Aku langsung ke rumah, ya" pamitku pada Ragil dan Dendi.
"Monggo" Jawab Ragil singkat.
Aku sempat menyapa beberapa penghuni kost yang berpapasan denganku. Dan mereka balas tersenyum ramah padaku.
Tampak Bune dan Ibu sedang berdiskusi serius di meja makan. "Udah pada makan?" Tanyaku pada mereka sambil menyalami mereka berdua, lalu mengambil mangkok di dapur. Bune dan Ibu mengangguk mengiyakan.
Aku melongok sebentar ke kamar Langit, hanya absen. Sekedar ingin tahu kegiatannya saat ini. Tampak Langit sedang menekuni ponselnya, bermain game.
"Hai, Bu!" Sapa Langit setelah mengalihkan perhatiannya sedetik demi melihat siapa yang membuka pintu kamarnya.
"Have fun" ujarku sambil menutup pintu kamarnya kembali.
"Gimana, Nak? Permintaan keluarga Adit sedikit sulit kita penuhi" tanya Ibu saat aku sudah mendudukkan diri di kursi meja makan.
"Iya, benar. Rumah tidak akan cukup untuk menampung orang sebanyak itu" tukas Bune mendukung.
"Apa langsung di gedung aja? Abis akad langsung resepsi. Jadi ga perlu pindah-pindah tempat lagi" ujarku memberi solusi. Sejujurnya aku mendukung pendapat Papa Wisnu.
"Rumah kamu dimana, Nduk? Tradisi lamaran itu dimaksudkan bahwa pihak pria meminta izin kepada orang tua untuk meminang sekaligus permintaan untuk membawa dan bertanggung jawab terhadap calon mempelai wanita setelah si gadis keluar dari rumah orang tuanya" Bune tidak menyetujui pendapatku.
__ADS_1
Aku menyimak sambil menyuapkan bakso ke dalam mulutku.
"Kalau di rumah ini gimana? Saya lihat halamannya luas, teras, dan ruang tamu cukup memadai" cetus Ibu.
"Jangan, Bu Retno. Ndak enak saya sama sampean. Wulan anak kandung sampean, semestinya lamaran di rumah Pasuruan" jawab Bune sungkan.
"Tapi 'kan Bu Nimas sudah menganggap Wulan sebagai anak sendiri. Buat saya, tidak masalah Wulan mau lamaran dimana. Rumah Wulan ya bisa di Pasuruan, juga bisa di rumah ini" kata Ibu.
"Gimana, Nduk?" Tanya Bune meminta pendapatku.
"Wulan oke!" Jawabku setuju.
"Kalau gitu pihak keluarga Adit segera dikabari" ujar Ibu.
"Siap!" Aku mengambil sikap hormat, lalu melahap kembali baksoku.
Akhirnya satu kesepakatan telah diperoleh. Aku segera mengabari Mas Adit, dan langsung disambut hangat oleh Papa dan Mama. Ucapan terima kasih mereka haturkan karena berkenan repot-repot memenuhi permintaan mereka.
Senin paginya, aku dan Langit berangkat kembali ke Pasuruan. Hanya aku dan Langit karena Bune dan Ibu akan mempersiapkan te-tek bengek urusan pernikahan.
Setelah mengajari ini dan itu pada manager operasional baru, aku akan ke sekolah Langit dan mengurus kepindahannya. Aku dan Mas Adit telah memilih sekolah baru di Jakarta yang terdekat dengan kantor tempat Mas Adit. Pihak perusahaan juga telah menyewakan rumah disekitaran kantor. Sesampainya di Jakarta, Mas Adit berniat mencari lahan untuk dibangun rumah yang sesuai dengan kriterianya.
Dalam sesi LDR-an kami, Mas Adit bercerita akan membangun rumah dengan banyak kamar. Tapi tak ingin rumah yang terlalu besar, agar aku tidak terlalu lelah saat akan membersihkan. Aku menolak kehadiran ART karena nantinya aku tidak akan bekerja. Jika kami menyewa jasa ART, di rumah nanti kegiatanku apa? Apa hanya makan dan tidur? Bisa-bisa penyakitan aku. Begitu selorohku pada Mas Adit.
Aku yang bingung dengan konsep rumah impian Mas Adit, hanya bisa mengiyakan. Toh Mas Adit adalah arsiteknya. Pasti ia akan merancangkan rumah terbaik untuk kami.
Rumah Pasuruan kami sewakan kembali. Perabotan akan diangkut pada hari Sabtu terakhirku di Pasuruan dengan jasa ekspedisi untuk dibawa ke Jakarta. Kami berpikir untuk menghemat dengan tidak membeli semua perabotan serba baru untuk mengisi rumah baru. Toh perabotan dari rumahku dan rumah lama Mas Adit masih sangat baik dan layak pakai.
Tak terasa hari Sabtu tiba. Urusan kepindahan sekolah Langit dan mengangkut perabotan telah selesai pada sore harinya. Aku dan Langit langsung bertolak ke Surabaya. Acara pernikahanku dan Mas Adit akan diadakan pada hari Minggu keesokan harinya.
Sampai di rumah sekitar pukul tujuh malam, aku dibuat terbengong. Sudah ada ratusan kursi plastik yang di tata di halaman, teras dan garasi. Di ruang tamu sudah digelar karpet dan meja ruang tamu diletakkan di tengah ruangan.
Aku menyalami Bune dan Ibu yang sedang bercengkrama bersama keluarga inti Bune, Pakne dan Ibu. Mereka duduk lesehan di karpet yang digelar pada area kosong di depan-depan kamar kost yang saling berhadapan. Anak-anak kecil sedang sibuk bermain sendiri bersama saudara-saudara sebayanya.
"Ini, nih calon pengantin" seloroh Bulek Tini, adik Ibu dari Banyuwangi.
__ADS_1
"Ayo, kita makan malam sama-sama. Yang ditunggu sudah datang" ajak Bune.
"Lho, pada nungguin ta?" Tanyaku heran.
"Iya" jawab Ibu sambil berdiri dan diikuti oleh beberapa orang kerabat mengikuti. Hendak membantu menyiapkan makan malam.
Makanan ditata di tengah-tengah karpet. Bakso dan sate menu makan kami malam ini. Kami makan dengan suasana hangat.
"Mobil para penghuni kost dan anak-anaknya kemana Bune? Kok ga kelihatan?" Tanyaku yang dari tadi tidak melihat ada penghuni kost yang berseliweran.
"Bune sewakan kamar hotel dekat-dekat sini. Cuma satu malam ini!" Ujar Bune menambahkan kalimat terakhir melihat raut sungkan di wajahku.
"Ga usah menghubungi Adit. Tadi ibu sudah kabari kalau kamu dan Langit sudah sampai di rumah. Calon Penganten harus dipingit, biar kangennya tumpah-tumpah" seloroh Ibu.
"Ah, Ibu ini!" Ujarku malu-malu.
"Abis ini langsung istirahat. Malam ini Bune, Ibumu, Langit dan kamu tidur sempit-sempitan di ranjang king size kamu" cetus Bune.
Aku mengangguk memahami. Kamar Langit dan Bune akan dihuni saudara-saudara yang menginap. Sebagian menggelar kasur lantai. Beginilah kalau keluarga sudah berkumpul. Terkadang timbul perasaan Bune ingin mengosongkan dan tidak menyewakan kamar-kamar di rumah ini agar bisa digunakan sebagai kamar tamu. Tapi mengingat bahwa moment-moment berkumpul seperti ini hanya terjadi sesekali, rasanya sayang jika harus membiarkannya kosong saat tidak ada moment kumpul-kumpul.
Selesai makan malam, beberapa orang bergotong royong mencuci piring. Ada yang menyiapkan kasur lantai sebagai tempat beristirahat untuk malam ini. Aku, si calon pengantin dilarang melakukan pekerjaan apapun. Aku sedang dimanja saat ini.
Selesai makan malam, aku langsung ke kamar. Mandi, lalu berganti dengan pakaian santai. Langit sedang bermain dengan para sepupu sepantaran.
"Nanti kalau sudah selesai acara, periksakan kandungan ya, Nduk" kata Bune sambil berjalan masuk dalam kamar. Ibu menyusul tak lama setelahnya.
"Tidurlah. Besok subuh sudah harus bangun. Langit biar Ibu urus buat ganti piyama" perintah Ibu.
Aku hanya mengangguk, lalu merebahkan diri. Syukurlah mabuk di awal kehamilanku sekarang tidak terlalu parah. Rasa mual memang melanda sepanjang hari, tapi tidak sampai muntah-muntah hebat. Aku yang kelelahan segera tertidur dengan lelap.
Pukul 04.00 alarm ponselku berbunyi. Bune dan Ibu juga tampak beranjak bangun. Kami saling berpandangan lalu tersenyum.
Aku menuju kamar mandi dan langsung mandi. Pukul lima nanti pihak MUA akan datang dan meriasku. Sebuah kebaya putih model off shoulder dan jarik instan telah digantungkan pada pegangan pintu lemari saat aku keluar kamar mandi. Hatiku berdesir dan berdebar melihat kebaya yang akan menjadi gaun pengantinku.
Inikah hariku? Hari dimana aku melabuhkan hati dan cintaku. Batin Wulan penuh haru mengingat betapa terjal perjalanan hidupnya.
__ADS_1