Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 109 Memenuhi Janji


__ADS_3

Tiga Tahun Kemudian


PoV Langit


"Mas, sudah siap untuk keperluan daftar ulangnya?" Tanya ibuku sembari menyuapi adikku, Bumi yang kini berusia hampir lima tahun. Ibu akan mengantarku daftar ulang masuk ke salah satu SMA favorit di Jakarta.


"Sudah Bu. Langit bisa pergi sendiri, kasian adek kalau ditinggal" ujarku berusaha menolak.


"Turuti Ibu kalau ga mau kena omel" ucap Ayah sambil menyeruput kopinya.


Ibuku memutar bola matanya, sementara Yangti dan Uti terkekeh.


"Ayah berangkat kerja dulu" pamit ayah, lalu mencium Bumi, kening ibu, kemudian keningku. Kemudian menyalami Uti dan Yangti.


"Hati-hati, ya, Ayah!" Ucap Ibu sambil mencium punggung tangan ayah. Sejak Bumi sudah mulai bisa berbicara, Ibu merubah panggilan pada ayah, dari 'Mas' menjadi 'ayah'. Karena pernah suatu kali, adikku yang berusia 1,5 tahun memanggil ayah dengan sebutan 'Mas'. Kini panggilan 'Mas' disematkan padaku. Mungkin ibu tidak mau kalau Bumi akan memanggil namaku saja.


Tak lama kemudian, aku dan Ibu sudah siap berangkat ke SMA baruku.


"Mas, ayo berangkat. Keburu macet" ajak Ibu yang telah siap mengenakan maxi dress motif floral, dengan perutnya yang membuncit. Ya, Ibu kini tengah hamil 32 Minggu anak ke-3 dan ke-4nya. Sebentar lagi aku akan mempunyai dua adik perempuan kembar.


Bumi awalnya merengek meminta ikut, tapi dengan sedikit iming-iming buah tangan es krim dan diizinkan menonton YouTube akhirnya Bumi bersedia ditinggal bersama kedua neneknya.


Yang diwanti-wanti Ibu ternyata terjadi. Bukan Jakarta kalau tidak macet. Hampir setiap jalanan di Jakarta pasti macet. Satu jam lebih berkendara hanya untuk 4 km perjalanan.


"Bu, Mas boleh minta sesuatu?" Tanyaku saat kami menunggu antrian untuk menyerahkan berkas.


"Apa, Mas?"


"Mas pengen punya motor. Jadi kalau pergi-pulang sekolah, Mas bisa naik motor sendiri, Ga ngerepotin Ibu atau ayah" tukasku mencoba meyakinkan.


Ibu memandangku lekat-lekat. "Jalanan di Jakarta ga seperti di Surabaya. Ibu khawatir kamu kenapa-napa. Tanya ayah saja"


Aku hanya bisa tersenyum kecut. Semakin dewasa aku semakin menyadari bahwa ayahku saat ini adalah ayah sambung, dan bahwa aku berbeda dengan adik Bumi. Ada perasaan sungkan jika aku ingin meminta sesuatu pada beliau. Padahal tanpa memintapun lebih sering ayah memberikannya padaku.


Beberapa saat kemudian, nomor antrian kami akhirnya dipanggil. Aku dan Ibu langsung menuju meja pendaftaran.

__ADS_1


Pukul sebelas lewat urusan sekolahku akhirnya selesai. "Kita cari makan siang dulu, ya, Mas. Mas mau makan apa?"


"Mas pengen burgernya Karls, Bu" jawabku. Setelah memesan, kamipun duduk di salah satu meja yang masih kosong. Tinggiku kini melebihi ibu. Banyak orang salah mengira jika aku jalan berdua dengan Ibu, bahwa aku sedang jalan dengan kakakku. Di usia ibu yang kini menginjak 34 tahun, kecantikannya tidak memudar sama sekali.


"Masih ingat janji Ibu dulu? Saat waktunya tiba, Ibu akan menceritakan semuanya. Mas masih ingin tahu mengenai hal itu?" cetus Ibu saat baru saja aku menggigit burgerku. Mendengar pertanyaan Ibu, pikiranku melayang pada saat aku menanyakan mengenai seorang pria yang mengaku sebagai ayahku.


Aku mengunyah burgerku perlahan, kemudian menelannya dengan susah payah. Tenggorokanku terasa begitu kering saat ini. Kemudian aku menyesap colaku, sambil mengangguk perlahan.


Ibu mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tas tangannya. "Ini adalah hasil tes DNA. Didalamnya tertera, siapa ayah kandungmu"


Aku tak tahu harus berbuat apa. Jujur aku tak menyangka bahwa inilah saatnya. Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaanku saat ini. Ada rasa bimbang, kenapa sampai harus ada tes DNA untuk mengetahui siapa ayah kandungku. Apakah ayah kandungku dulu tak mau mengakuiku sebagai anaknya?


"Sebelum Ibu mulai bercerita, Ibu mau Mas berjanji. Berjanjilah! Setelah ibu menceritakan asal-usulmu, Mas tidak akan pernah menyalahkan diri sendiri. Mas tidak akan merasa, bahwa Mas tidak diinginkan" ucap Ibu sambil menatapku lekat-lekat.


Kenapa? Dugaan bahwa ayah kandung tidak mau mengakuiku semakin kuat. Sekali lagi aku mengangguk, demi mengetahui cerita asal-usulku.


Akhirnya Ibu membeberkan segalanya. Tak ada air mata saat Ibu bercerita, walaupun aku dapat menangkap sirat terluka dimatanya. Jadi inilah alasannya kenapa Ibu dulu begitu sedih saat aku bertanya perihal 'ayah'.


Emosi pertama yang menguasaiku adalah amarah. Kenyataan bahwa Ibu adalah korban perkosaan dari empat orang pria amoral membuatku murka.


Tanpa terasa air mataku menetes. Aku begitu shock, marah, kecewa, sedih atas fakta mengenai diriku.


"Mas kenapa nangis? Maaf Ibu membuat Mas sedih. Mas jangan pernah berpikir bahwa Mas tidak diinginkan. Saat Ibu pertama kali mendengar detak jantungmu, Ibu langsung jatuh cinta padamu. Ibu mencintai Mas Langit sejak Mas masih bertumbuh dalam rahim Ibu" aku tak mampu berkata apapun. Aku bingung dengan kenyataan yang baru saja dibeberkan oleh Ibu.


"Mas berhak tahu. Ibu tidak akan melarang Mas mengetahui siapa ayah kandung Mas. Tapi satu yang Ibu minta, tolong jangan pernah katakan pada Ibu siapa pria itu. Bagi Ibu, Langit adalah anak Ibu sendiri" aku mengangguk kaku, lalu meraih amplop di atas meja.


Aku bingung. Kuputuskan bahwa aku belum siap menerima kenyataan yang memilukan ini. Aku memasukkan amplop tersebut ke dalam tas ranselku.


"Ayo dimakan lagi burgernya" perintah Ibu. Aku menjadi lebih banyak diam, dan sepertinya ibu memaklumiku. Aku memakan burgerku dengan setengah hati, karena selera makanku telah menguap.


"Dimana mereka saat ini, Bu?" Akhirnya rasa penasaran mengalahkanku.


"Dua mendekam di tahanan, Angga dan Deni. Tama dan Aldo sudah wafat. Tama karena terkena sirosis hati. Cangkok lever yang dilakukan tidak membuahkan hasil yang diinginkan, dan Tama meninggal tepat saat kita berangkat ke Jakarta. Ibu menerima kabarnya dari Lisa, istri Tama, bahwa Tama menyampaikan permintaan maaf yang sedalam-dalamnya sebelum ia menghembuskan nafas terakhir. Dan Aldo meninggal sudah lama sekali karena terjangkit HIV" jawab Ibu panjang lebar.


Kembali aku terhenyak. Rasanya aku tak sanggup bertanya apa-apa lagi. Informasi-informasi yang aku dapatkan benar-benar membuat perasaanku semakin tak karuan.

__ADS_1


Sampai di rumah, aku langsung pamit untuk langsung masuk kamar. Aku memikirkan banyak hal. Aku jadi berandai-andai, seandainya Ibu menikah dengan salah satu pelakunya. Apa yang akan terjadi? Akankah aku bisa mengenal sosok ayah kandungku? Apakah adil bagi Ibu jika aku mengetahui siapa ayahku, seolah aku merasa kasih sayang dari Ibu masih terasa belum cukup. Apakah juga akan adil bagi ayah Adit yang selama ini begitu menyayangiku tanpa sedikitpun membedakan perlakuan dengan Bumi?


Kebimbangan menggelayutiku. Tanpa sadar aku meraih ponselku, dan mengetikkan keyword pada laman pencarian 'jika korban perkosaan dinikahkan dengan pelakunya'. Begitu banyak artikel yang muncul, dan aku meng-klik artikel teratas.


Aku membaca artikel tersebut, dan tertohok pada salah satu pendapat seorang pakar dalam artikel tersebut, 'Dr Natalia Kanem, direktur eksekutif UN Population Fund (UNFPA), yang menerbitkan laporan itu pada pertengahan April lalu, mengatakan undang-undang seperti itu 'sangat salah' dan 'merupakan cara mengendalikan perempuan'. Penolakan hak tak boleh terlindung di dalam hukum. Undang-undang 'Menikah dengan pemerkosamu' menggeser beban bersalah kepada korban dan seolah membersihkan satu tindakan kejahatan'©


Aku kembali meng-klik artikel lain, masih berusaha membenarkan pengandaianku. Jujur aku ingin tahu siapa ayah kandungku. Kembali artikel lain mengungkapkan hal serupa, 'jika terjadi perdamaian akan berpotensi dicontoh yang lain untuk melakukan hal yang sama. Itulah yang dimaksud dengan mengorbankan si korban dan juga membuat orang lain untuk melakukan hal yang sama,' terang seorang pakar bernama Imam Nahei, Komisioner Komnas Perempuan.™


Aku masih belum puas, lalu meng-klik artikel lain yang berjudul 'Menikahkan Korban Pemerkosaan dengan Pelaku Adalah Pemikiran Paling Ugal-Ugalan', ditulis oleh seorang bernama Dimas Purna Adi Siswa. Judul artikel yang paling membuat keningku berkerut.


Penulis tersebut menuliskan empat pandangannya yang melatari judul artikel tersebut, dan yang paling membuatku memantapkan diri akan keputusanku adalah pandangan keempat sang penulis '#4 Coba samakan pemerkosaan seperti kejatahan yang lain# Sekarang begini, mengapa kok ya kejahatan pemerkosaan ini seakan-akan kejahatan yang dapat pengecualian atau impunitas buat pelakunya? Maksudnya gimana? Alih-alih menyembuhkan luka korban pemerkosaan dengan benar, ini pelaku mendapat tempat yang istimewa untuk hidup berdampingan dengan korban'


'Coba lihat kejahatan lain, mana ada misalkan koruptor disuruh hidup miskin bersama rakyatnya yang sudah ia peras betul uangnya. Atau kasus begal, memangnya pernah lihat pelaku begal disuruh ngerawat korban? Kalau tidak, coba kasus pembunuhan, pernah lihat pelaku pembunuhan disuruh ngegantiin posisi korban jadi anggota keluarganya?'®


Setelah membaca artikel-artikel tersebut, dengan hati mantap, aku mengambil segelas air dari nakas. Membuka segel amplop, lalu mengeluarkan selembar kertas terlipat. Tanpa membuka lipatan kertas tersebut, aku mencelupkan keseluruhan kertas dalam air di gelas tersebut.


Aku mengamati kertas yang lebur dalam air dengan perlahan. Setelah kertas tersebut benar-benar lebur dan hancur, aku membuangnya dalam kloset.


"Aku tak butuh tahu siapa ayah kandungku. Seorang pria bejat dan amoral! Benar kata Ibu, aku hanya anak seorang Wulan Febriana Lestari. Dan kini aku sudah mempunyai ayah yang begitu menyayangiku dan ibuku. Masa lalu kelam, baiknya terkubur selamanya bersama kotoran!" Gumamku sendiri. Aku lalu menekan tombol flush, dan lenyaplah masa lalu kelam itu.


Aku keluar kamar dan mencari ibuku. Ternyata beliau sedang di dapur bersama kedua nenekku. Aku menghampirinya, lalu memeluk Ibu erat-erat. Ibu sempat terdiam sesaat, lalu beberapa detik kemudian membalas pelukanku dan mengelus punggungku.


"Bu, ayah pulang jam berapa? Mas mau ngerayu ayah buat dibeliin motor" Langit nyengir dengan sangat lebar. Dia sudah memutuskan, baginya ayah Adit bukanlah ayah sambung. Ayah ya ayah, tidak peduli dia ayah sambung atau ayah kandung.


********************************************


Dikutip dari berbagai sumber.


© Artikel dari BBC News Indonesia, terbit 2 Mei 2021, dengan judul artikel 'Menikah dengan Pemerkosa' undang-undang di 20 negara yang membebaskan pemerkosa.


™ Artikel dari tirto.id, terbit 26 Mei 2021, dengan judul artikel 'Korban Perkosaan Akan Alami Trauma Ganda Jika Dinikahi Pelaku'


® Artikel dari mojok.co, terbit pada 28 Mei 2021


Bab ini tuh sebenernya mau jadi last episode manteman sekalian. Namun apa daya, udah kepanjangan untuk menambahkan PoV Deni.

__ADS_1


Jempol jangan kelewat yaaa 🤗🤗 vote vouchernya yang masih nganggur plissss 😘😘


__ADS_2