Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 20 Tidak Disetujui


__ADS_3

Pulang sekolah aku merasa riang sekali. Sepanjang perjalanan dari sekolah ke rumah aku bersenandung hingga tak merasa lelah meski berjalan pada siang hari yang terik. Tak terasa aku telah sampai didepan pintu gerbang rumahku. Saat aku hendak membuka pintu gerbang nampak olehku sebuah surat yang terselip disana. Aku mengambilnya, pengantar surat pasti menyelipkan disana karena tak mendapati orang yang bisa menerimanya.


Setelah masuk ke dalam rumah aku langsung menuju kamarku untuk berganti pakaian. Surat yang terselip di pagar dan surat penerimaanku kusimpan rapi dalam laci meja belajarku. Aku menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.


Setelah mengacak-acak isi lemari pendingin, aku memutuskan untuk membuat menu ala japanesse food, chicken egg roll lengkap dengan salad. Hatiku sedang riang, setidaknya aku ingin mendengar ucapan selamat dari ibu. Selesai memasak aku langsung bebersih rumah dan kemudian mandi. Ibu sudah pulang rupanya, terlihat motornya tampak sudah terparkir di teras. Saat aku tengah menjemur handuk, ibuku keluar dari kamarnya, dengan membawa seperangkat baju ganti.


"Ada acara apa nih, menu makan malamnya kok special?", tanya ibuku terheran-heran.


"Aku ceritain sambil makan malam ya, Bu", jawabku pada beliau. Setelah seminggu lebih tak bertegur sapa, aku menyadari tak selayaknya aku bersikap demikian. Bagaimanapun beliau adalah ibuku yang seharusnya aku hormati.


Kami mengawali makan malam kami dengan saling diam. Aku berinisiatif untuk memulai percakapan karena memang akulah yang ingin memberi kabar.


"Bu", ujarku memecah keheningan.


"Ya?", jawab ibuku.


"Aku diterima di UK Petra Surabaya dengan beasiswa penuh. Biaya pendidikan penuh selama delapan semester", jawabku dengan senyum lebar.


"Batalkan saja penerimaan itu", kata ibuku datar.

__ADS_1


Bukan ucapan selamat yang kudapat seperti yang aku bayangkan. Aku menautkan keningku tak mengerti. Aku tak mampu menanggapi ucapan ibuku tadi. Jujur aku kecewa.


"Kamu ga mikir gimana biaya hidup kamu nanti disana? Kost-kost-an, makan, mengerjakan tugas dan laporan, kebutuhan sehari-hari, siapa yang mau kasih biaya? Ibu tak sanggup, gaji ibu cuma cukup untuk kehidupan sehari-hari", ujar ibuku menjelaskan.


"Wulan ga akan nyusahin Ibu. Wulan ada tabungan lumayan. Wulan mungkin akan cari kerja sampingan juga disana. Wulan cuma butuh dukungan dari Ibu", aku berusaha meyakinkan ibu.


"Ibu kan sudah bilang, setelah lulus Deni akan menikahimu. Jadi istri Deni kau tinggal melayani Deni sebagai istri yang baik dan tak perlu susah-susah sekolah lalu mencari pekerjaan. Ibumu ini seorang sarjana hukum, tapi lihat ibu sekarang! Hanya seorang buruh pabrik dengan gaji jauh dari kata layak dibandingkan waktu kerja! Perempuan itu tak perlu sekolah tinggi-tinggi, nanti larinya juga ke dapur" ibu bersungut-sungut menjelaskan padaku. Rupanya pengalaman hidup ibu membuatnya menjadi trauma.


"Nasib orang tidak ada yang tahu, Bu. Aku yakin aku bisa menjadi orang sukses", jawabku penuh keyakinan.


"Terserah padamu. Yang pasti setelah lulus kau akan menikah dengan Deni. Titik!"


Aku meninggalkan meja makan setelah perdebatan sengit itu. Ibu tak menahanku sama sekali. Rupanya keputusan ibu sudah bulat untuk menikahkan aku dengan Deni. Hilang sudah harapanku akan dukungan dari ibu.


Aku merasa kecewa sekali pada ibuku. Orang yang seharusnya mendukungku justru malah meruntuhkan mentalku. Ditengah rasa kecewaku aku teringat pada surat yang terselip di pagar tadi.


Aku mengambilnya dari laci. Aku tak sempat mengamatinya saat aku membawanya masuk tadi. Ternyata surat dari kepolisian, terlihat dari logo yang tertera pada amplopnya. Inti dari surat itu mengatakan bahwa kasusku tidak dapat bergulir ke kejaksaan karena kurangnya saksi dan bukti. Tepat seperti yang aku perkirakan, kasusku akan mandeg sampai di laporan saja. Tentu saja ada campur tangan Pak Darma dan kroco-kroconya. Aku merobek surat itu. Aku tak mau ambil pusing lagi.


Akhirnya aku memutuskan untuk belajar persiapan ujian akhir. Aku tak perlu lagi mengkhawatirkan masalah penerimaanku di universitas. Lama aku mengerjakan latihan-latihan soal, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat.

__ADS_1


Sebenarnya aku enggan untuk tidur, karena mimpi buruk selalu menghantui tidurku. Setidaknya aku tak memerlukan alarm lagi untuk membangunkanku, pikirku kecut.


*******************************


Sebulan berlalu setelah kejadian malam itu. Hari ini adalah hari pertama UASBN tingkat SMA/SMK sederajat digelar. Aku menyikapinya dengan santai karena aku sudah merasa cukup membekali diri untuk menghadapi UASBN.


Pagi ini aku terbangun pukul tiga pagi dengan tubuh yang dibanjiri keringat dingin. Aku membuka-buka sebentar bukuku untuk memantapkan lagi persiapanku. Saat adzan subuh terdengar aku menyudahi belajarku dan beranjak memulai aktifitas pagiku.


Aku sedang mengupas bawang putih saat aku merasa perutku tiba-tiba merasa mual dan bergejolak. Karena merasa tak dapat menahannya, aku langsung menuju bak cuci piring. Hanya air yang kumuntahkan, karena aku memang belum sempat mengunyah apapun pagi ini. Badanku terasa lemas sekali. Akhirnya aku tak sanggup melanjutkan acara memasakku.


Apa aku masuk angin ya? Aku harus mandi air hangat biar ga tambah parah. Gumamku dalam hati. Akhirnya aku menyiapkan sepanci air panas untuk kugunakan mandi.


Sambil menunggu air mendidih, aku menyiapkan mie instan dan nugget untukku dan ibu sarapan. Setelah semuanya siap aku menata makanan di atas meja makan, kemudian mandi.


Di kamar mandi aku kembali muntah-muntah. Rasa pahit terasa di lidahku karena aku memuntahkan cairan kekuningan dari lambungku. Apa aku terserang maagh ya? Aku berspekulasi sendiri dalam hatiku. Sepertinya pagi ini aku tak bisa mandi berlama-lama.


Setelah persiapan pergi ke sekolah selesai aku menuju meja makan untuk sarapan. Semenjak aku berjalan kaki ke sekolah, ibu dan aku tak pernah sarapan bersama lagi. Aku harus berangkat lebih pagi agar tak terlambat, dan saat aku pamit untuk berangkat sekolah biasanya ibu masih berada di dalam kamarnya.


Aku berangkat dalam kondisi bugar ke sekolah. Aneh sekali, setelah sarapan badanku rasanya kembali seperti biasa. Tak ada rasa mual ataupun lemas. Mungkin benar aku terserang maagh tadi pagi. Dalam hati aku berjanji, saat bangun tidur besok aku akan mengemil setidaknya beberapa keping biskuit setelah minum air putih.

__ADS_1


Wulan menuju sekolah dengan perasaan mantap. Setelah UASBN dan penerimaan ijazah terlaksana, Wulan berencana akan langsung berangkat menuju Surabaya. Mempersiapkan diri untuk status baru yang akan dirinya sandang, mahasiswa. Wulan tersenyum cerah mengingat dirinya yang akan segera menjadi seorang mahasiswa.


__ADS_2