
Setelah makan malam, Adit langsung kembali ke kamarnya untuk mandi. Pikiran akan kemungkinan Wulan hamil, benar-benar mengusiknya. Dan Adit memutuskan untuk menanyakan itu pada Wulan.
Akhirnya setelah mandi, Adit keluar villa dan mencari beberapa cemilan untuk menemani obrolannya dengan kekasihnya itu. Adit membelokkan langkahnya pada gerai IndoMei. Mengambil tiga kaleng kopi dingin varian rasa berbeda, dua kotak jus buah kemasan, dua bungkus keripik, sebungkus kacang atom dan sebungkus biskuit keju.
Beberapa orang tampak merokok di teras villa. Adit menyapa sopan, lalu menyerahkan sebungkus kacang atom dan keripik kepada mereka sebagai sopan santun.
"Wah, Suwon (makasih) Mas!" Tukas salah satu dari mereka.
Adit hanya menanggapi dengan senyum dan anggukan.
Tok tok. Adit mengetuk pintu kamar Wulan
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan Wulan sedang memegang ponselnya, dengan posisi ponsel tepat di depan wajah. Rupanya Wulan sedang melakukan panggilan video call.
Setelah sempat mengobrol sebentar dengan Langit, Adit yang mengakhiri panggilan video call pada ponsel Wulan.
Begitu panggilan terputus, Wulan langsung menanyakan maksud kedatangannya.
"Mau ngobrol apa, Mas? Ga harus serius, dua rius atau tiga rius juga boleh" selorohku pada Mas Adit.
"Ga laper?" Ujar Mas Adit basa-basi.
"Baru juga makan" jawabku dengan kening mengernyit.
Mas Adit memilih berdiri dan mengacak barang bawaannya tadi.
"Mau minum apa? Aku ada beli kopi kalengan dingin sama jus kemasan" tawar Mas Adit.
"Kopi aja, Mas"
Mas Adit lalu mengulurkan sekaleng kopi. Membuka bungkus keripik kentang, dan mengambil beberapa potong keripik. Kemudian mengangsurkannya padaku. Aku menggeleng menolak.
Kraus Kraus Kraus
Suara keripik yang dikunyah Mas Adit. Hampir lima menit menunggu, Mas Adit masih sibuk dengan keripiknya. Aku menanti dengan sesekali menyesap kopiku.
"Aku minta maaf, atas kecerobahanku semalam. Gituan di tempat terbuka seperti itu" Mas Adit akhirnya berbicara.
"Gapapa, Mas. Seru juga" aku kaget sendiri atas apa yang baru saja kukatakan. Begitupun Mas Adit, tampak mengernyitkan dahinya. Mungkin tak menyangka akan jawabanku.
Lalu kami berdua terkekeh malu-malu.
"Aku juga minta maaf karena begitu sembrono, keluar di dalam" Mas Adit melanjutkan pernyataannya.
"Hhmmm" aku hanya bergumam menanggapi, tak tahu harus menjawab apa.
"Kamu...ga takut hamil?" Tanya Mas Adit dengan raut gelisah.
Raut Mas Adit yang gelisah, entah kenapa membuat perasaanku kesal.
"Kalau sampai hamil emang kenapa? Mas malu? Ga mau tanggung jawab?" Ketusku dan mencecarnya dengan prasangka.
"Bukan, bukan itu maksudku!" Ujar Mas Adit.
"Aku gapapa kok kalau Mas Adit malu. Kalau emang jadi, aku bisa ngerawatnya sendiri. Dulu aku juga bisa ngebesarin Langit tanpa sosok seorang ayah!"
Deg! Adit kini paham, kenapa nada bicara Wulan berubah menjadi ketus dan penuh prasangka. Rasa gelisah yang terpancar pada wajah Adit disalahartikan oleh Wulan. Rupanya gadis itu masih trauma atas penolakan orang-orang atas keputusannya untuk melahirkan Langit dulu.
"Bukan begitu, sayang. Tolong dengarkan aku dulu" ujar Mas Adit begitu lembut. Yang berhasil sedikit meredam rasa kesalku.
"Kita nikah. Mau, ya?" Ajak Mas Adit dengan lembut. Seolah sedang membujuk anak kecil yang sedang merajuk.
Menikah? Sontak aku membayangkan pernikahan itu dan membayangkan life after marriage. Ada kebahagian, sekaligus juga kebimbangan di dalamnya.
__ADS_1
"Lalu kita LDR-an?" Aku menyuarakan kebimbanganku.
Belum sempat Mas Adit menjawab pertanyaanku, aku sudah kembali menyuarakan kebimbanganku.
"Aku 'kan ga mungkin ninggalin kerjaanku demi ngikutin Mas Adit moving kesana kemari ngerjain proyek. Aku tahu kerjaan Mas Adit gimana. Mas Adit ga seterusnya stay di kantor. Suatu saat pasti diminta ngerjain proyek di satu tempat dan diminta mengawasi disana. Masak iya aku izin ga masuk kerja berbulan-bulan karena mesti nemenin Mas" cerocosku.
"Aku juga ga mau kita LDR-an. Aku sudah bilang, aku mau selalu dekat dengan orang yang aku sayang" jawab Mas Adit.
"Terus?" Tanyaku pura-pura tak mengerti. Padahal aku tahu arah pembicaraan Mas Adit.
"Tak bisakah?" Tanya Mas Adit dengan tatapan memohon.
"Apa? Resign?" Tanyaku dengan nada yang mulai meninggi.
Mas Adit diam.
"Ga, Mas! Ga bisa! Mas 'kan tahu sendiri bagaimana perjuanganku untuk mendapatkan posisiku sekarang. Aku ga bisa ngerelain karirku, Mas" ujarku berkeras.
"Lalu kalau benar-benar jadi, kamu mau gimana? Mau kamu gugurin?" Cetus Mas Adit dengan nada yang mulai terdengar kesal.
Aku terhenyak.
"Aku...bukan begitu. Kita...kita bisa beli morning after. Banyak dijual di online shop sekarang" aku sudah gila. Bagaimana bisa ide bodoh itu terlontar dari mulutku.
"Kamu!" Adit kehabisan kata-kata. Adit benar-benar merasa marah dan direndahkan. Apakah Wulan benar-benar tak memiliki rencana masa depan dengannya? Di satu sisi, ia juga tak mungkin serta merta meminta Wulan untuk meninggalkan pekerjaannya. Adit tahu benar bagaimana perjuangan kekasihnya itu.
"Sudahlah, kita bicarakan lagi lain kali saja" ujar Adit mengalah. Benar kata Pak Adi, Wulan adalah tipe wanita karir.
"Mas, aku..." Sorot mata Wulan penuh penyesalan. Membuat emosi Adit reda seketika.
"Sudahlah!" Cetus Adit, lalu merengkuh Wulan. Dipeluknya gadis itu dengan penuh sayang beberapa lamanya.
"Tidurlah, sudah malam!" Perintah Mas Adit, lalu mengecup dahiku dalam.
"Selamat tidur, Mas" ujarku dengan tersenyum.
"Sleep tight" lalu Mas Adit beranjak menuju pintu. Aku mengekorinya, hendak mengantar sampai depan pintu.
"Love you" ucap Mas Adit saat aku hendak menutup pintu.
"Love you, too" balasku dengan tersipu.
Keesokan harinya Mas Adit sama sekali tak membahas masalah itu kembali.
Hari ini adalah hari terakhir kami di Bali. Jadwal kami hanya ke Joger, Puppies Lane (Gang Puppies) yang berada di Legian, lalu Pasar Seni Kuta. Setelah dari sana, kami akan langsung ke Bandara Ngurah Rai untuk terbang ke Juanda. Intinya jadwal kami hari ini adalah berburu dan berbelanja oleh-oleh.
Setelah sarapan di Karma Kandara Villa untuk terakhir kali, kami check out dan memasukkan barang bawaan pada bagasi minibus.
Aku duduk berdua dengan Mas Adit. Aku menyandarkan kepalaku pada bahu Mas Adit selama dalam perjalanan. Menaut jemari tangannya dengan jemariku. Aku bersikap manis untuk menebus rasa bersalahku semalam.
Setelah puas berbelanja, pukul 13.00 tepat kami sudah berkumpul kembali dan langsung ke Bandara Ngurah Rai. Pesawat dijadwalkan pukul 15.10, sehingga kami harus sudah check on dan melalui boarding pass maksimal pukul 14.00.
Untunglah pesawat tidak delay seperti hari keberangkatan. Pukul 15.50 kami sudah sampai di Bandara Juanda.
"Emejing. Ga sampai sejam" selorohku sambil memeluk lengan Mas Adit.
"Waktu di Bali sejam lebih cepat, sayang. Di Bali jam tiga, disini masih jam dua" jelas Mas Adit mengingatkan.
"Iya, tahu" aku terkekeh.
Di Bandara aku dan Mas Adit berpisah dengan semua pekerja proyek. Acara di Bali memang disiapkan oleh Pak Reza sebagai acara perpisahan. Masing-masing kembali ke daerahnya, untuk mempersiapkan datangnya proyek baru.
"Kalau nikah jangan lupa undangannya"
__ADS_1
"Jangan lama-lama. Ditunggu kabar baiknya"
"Buruan, Mas. Suka banyak yang nikung di belokan"
Begitu pesan-pesan mereka pada kami. Yang hanya kami jawab dengan tawa dan 'iya, iya' saja.
Sampai di rumah, kami disambut oleh Bune, Ibu dan Langit. Mereka langsung membongkar oleh-oleh dariku dan Mas Adit.
Mas Adit menumpang mandi dan makan malam di rumah, dan tentu disambut hangat oleh semuanya. Setelah makan malam, Mas Adit memesan ojol dan pamit pulang.
Saat menunggu ojol kami berbincang sebentar.
"Lusa, aku berangkat ke Surabaya. Pak Bos udah nyuruh balik" cetus Mas Adit.
"Iya. Besok aku bantu packing ya?" Tawarku.
Mas Adit mengangguk.
Ojol datang tak lama kemudian. Setelah mencium keningku sekilas, Mas Adit pulang ke kontrakannya.
Dua hari kemudian, pukul sembilan pagi Mas Adit sudah berangkat ke Surabaya. Mas Adit berjanji seminggu sekali akan datang ke Pasuruan.
Pembicaraan tentang pernikahan sama sekali terlupakan. Atau mungkin Mas Adit tak ingin mengungkitnya lagi.
Hari berikutnya surat penunjukkan dari dewan direksi masuk ke emailku. Aku ditunjuk sebagai manajer operasional cabang Pasuruan dan juga masih memegang jabatan Manager Accounting. Aku tak percaya, karirku akan melesat secermelang ini. Rangkap jabatan, rangkap tanggung jawab, dan rangkap pula kesibukannya. Dan sudah bisa dipastikan aku akan menetap di Pasuruan.
Pembicaraan mengenai pernikahan benar-benar tak pernah disinggung oleh Mas Adit sampai dua bulan berikutnya. Akupun berpura-pura lupa. Bahkan saat Mas Adit berkunjung ke Pasuruan aku sama sekali tak mengungkitnya.
Biarlah. Toh, belum tentu jadi. Pikirku menghibur diri. Aku masih berkubang dalam euforia kenaikan jabatan dan mulai beroperasinya pabrik baru, yang sudah berjalan tiga minggu ini. Aku puas, target produksi selalu terpenuhi tiap minggunya.
Pagi ini aku bangun dengan tubuh sangat lemas. Merasa sedikit mual, tapi tidak sampai muntah. Aku beripikir positif, mungkin aku sedang kelelahan.
Tapi pikiran positifku terusik saat aku melihat kalender di meja kantorku. Tanpa aku sadari, periodeku terlambat dua bulan. Untuk meredakan rasa penasaranku, aku membeli dua buah test pack sepulang kerja.
Paginya, aku langsung menampung urine dan mengujinya. Satu alat menunjukkan dua garis dan satu alat menunjukkan lambang positif.
Aku bahagia, sekaligus bingung. Aku harus segera mendiskusikan masalah ini dengan Mas Adit.
Keluar dari kamar mandi, aku langsung mendial nomor Mas Adit. Pada dering ke empat panggilan dijawab olehnya.
"Ya, sayang" suara Mas Adit terdengar parau.
"Aku mau diskusi sama Mas Adit. Penting!" Ujarku menekankan kata penting.
"Nanti sore aku kesana. Aku juga mau mendiskusikan sesuatu sama kamu" Jawab Mas Adit.
Sudah pukul empat kurang tapi Mas Adit belum ada muncul. Tadi pukul 14.30 Mas Adit mengabari sedang dalam perjalanan. Hari ini Sabtu, jam kerja Mas Adit setengah hari sampai pukul 13.00.
Aku menunggu gelisah. Harusnya Mas Adit sudah sampai. Aku menyalakan TV untuk mengusir gelisah. Dan tepat saat itu menayangkan breaking news yang muncul sejam sekali.
"Berita terkini pemirsa" kata host berambut sebahu memulai beritanya.
"Sebuah kecelakaan nahas terjadi di jalan tol Pasuruan-Surabaya di KM 30. Sebuah truk pengangkut beras dari arah Pasuruan menabrak pembatas jalan dan roboh, menimpa tiga buah mobil dari arah berlawanan, dari arah Surabaya. Berikut selengkapnya"
Shoot berganti ke liputan di lapangan disertai pembacaan keterangan.
"Diduga supir mengantuk, truk pengangkut beras roboh dan menimpa tiga buah mobil dari arah berlawanan. Supir truk tewas di tempat dan kernet terluka parah. Korban lain yang tewas di tempat seorang balita bernama Azzahra Humaira Razak, dan ibunya Deviani Setia Ningrum sedang dilarikan ke rumah sakit terdekat. Korban luka berat yang juga dilarikan ke rumah sakit adalah Aditya Perdana dan Rohman Surapraja. Empat orang lain mengalami luka ringan"
Deg! Wulan tak mampu mendengar host membawakan berita di TV. Aditya Perdana? Mas Adit? Kepala Wulan terasa pening dan nyaris oleng.
*********************************************
~morning after, atau morning after Pill adalah pil kontrasepsi yang diminum setelah berhubungan maksimal 3x24 jam sesudahnya untuk mencegah proses kehamilan.
__ADS_1