Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 10 Tipu Muslihat


__ADS_3

Deni melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dari jendela mobil, aku memperhatikan mobil memasuki Desa Karang Gayam, hanya saja menjauh dari arah menuju rumahku dan menuju area persawahan di pinggiran desa. Di pinggiran desaku memang masih banyak sawah-sawah, dan sebagian besar pemiliknya adalah nenek Angga. Angga adalah seorang yatim piatu, karena kecelakaan merenggut nyawa kedua orang tuanya.


Aku mulai merasa was-was. Aku bertanya takut-takut pada Deni, "Den, kita mau ngapain kemari? Ini sudah malam, sebaiknya tolong antarkan aku langsung ke rumah."


"Hahahaha. Deni terbahak mendengar nada suaraku yang bergetar.


"Kemana sikap sok jual mahalmu tadi, hah?!" tanya Deni arogan.


Aku hanya bisa diam, sementara rekan-rekan Deni hanya bisa terkikik menikmati rasa takutku. Aku tak ingin memprovokasi mereka agar kondisi tak semakin runyam untukku.


Lima belas menit berkendara, Deni menghentikan laju mobilnya. Disebelah kiri jalan ada gubuk yang biasa digunakan para petani untuk beristirahat makan siang sembari melepas penat karena sepagian bercocok tanam.


Deni dan kawan-kawannya turun dari mobil. Aldo menurunkan sandaran bangku tengah agar aku bisa turun dari mobil, tapi aku bergeming.


"Turun!" perintah Deni.


"Aku..Aku di mobil aja Den. Banyak nyamuk", ujarku berkilah.


"Turun dan jangan membantah! Atau aku akan melakukan hal yang lebih keji padamu!", ancam Deni.


Aku tak mampu melawan dan hanya pasrah menuruti kemauan Deni. Aku di giring oleh Genk Kece untuk duduk di gubuk pinggir sawah. Tanganku bersedekap di dada untuk menghalau dinginnya malam yang mulai menusuk.


"Kamu malam ini temenin kita, Lan. Ya, ikutan minum seteguk-dua teguk juga pastinya" ujar Deni sambil terkekeh.


Aldo mulai mengedarkan kaleng bir kepada kami satu per satu. Aku yang tak pernah meminum hal seperti itu berusaha menolaknya. "Aku ga bisa minum beginian, Den. Ga pernah".


"Minum!" satu kata mutlak dari Deni.


"Tapi abis aku minum ini pulang kan?", tanyaku memastikan. Aku tak ingin terjebak dengan mereka jika mereka mabuk dan hilang kendali.

__ADS_1


"Hhmm..", Deni hanya bergumam sambil tersenyum sinis.


Aku mulai menenggak bir tersebut. Rasanya seperti minum soda, tetapi ada sensasi sedikit rasa pahit dan panas pada kerongkonganku.


"Uhuk uhukk!" Aku terbatuk saat menelan minuman tersebut.


"Hahaha", Genk Kece tergelak melihatku yang tak terbiasa minum minuman beralkohol.


"Sambil minum aku mau sambil cerita, Lan. Tadi motor Ryo dan Lisa abis bensin bersamaan kan? Kamu ga curiga? Jadi gini ceritanya..."


*Flashback On*


"Rek, dengerin aku ngomong sekarang. Aku punya rencana, dan kalian wajib bantu aku. Aku mau bikin perhitungan sama Wulan. Seenaknya aja dia nolak aku tapi nerima gembel macam Ryo" kata Deni.


"Apaan?" Tama bertanya semangat.


"Do, kamu jago utak-atik motor kan? Aku mau kamu sedot bensin motor Lisa dan Ryo. Bikin motor mereka abis bensin di tengah jalan. Tama nemenin Aldo ke parkiran, awasin sekitar sementara Aldo kerja.", Deni mulai memberikan instruksi. "Aku sama Angga ke Ci*kl* K beli bir. Aku mau ajak kalian senang-senang bikin perhitungan sama Wulan. Ga sampai mabuk kok, Tam", Deni menambahkan kalimat terakhir dalam instruksinya setelah melihat raut kekhawatiran pada Tama.


"Oke, aku paham. Nanti biar aku yang turun dan mempersilahkan Wulan naik mobil. Sebelum Ryo atau Lisa nyusul naik, aku akan mendorongnya dan langsung masuk mobil kembali. Kamu langsung tancap gas ya, Den!" Aldo bersemangat mendengar penjelasan Deni. Jujur saja , Aldo tidak senang pada wanita sok jual mahal seperti Wulan.


Tama dan Angga hanya mengangguk-angguk setuju.


"Abis itu balik kesini, Den?" Angga bertanya untuk memperjelas dimana titik kumpul setelah masing-masing menjalankan instruksi. Deni hanya mengangguk memberi jawaban.


Setelah Deni memberikan instruksi, Genk Kece berpisah untuk melaksanakan tugasnya masing-masing.


Angga dan Deni hanya butuh waktu 20 menit untuk kembali ke food court karena Ci*kl* K berada di lantai yang sama. Sementara Aldo dan Tama kembali setelah 45 menit. Tampak di tempat meja Wulan ketiganya baru selesai makan siang.


"Ayo kita ikuti mereka", ajak Deni pada kawan-kawannya.

__ADS_1


Genk Kece mulai membuntuti Wulan dan Ryo yang berpisah dengan Lisa. Saat di eskalator Deni yang berada tepat dibelakang Wulan menepuk bahu Wulan.


*Flashback off"


"Kurang ajar kau, Den!" aku memekik berang saat mengetahui cerita dibalik motor Ryo dan Lisa yang kehabisan bensin secara bersamaan. Aku memang merasa aneh, tapi tak sampai berpikir bahwa ada orang yang secara sengaja mengerjai kami.


"Jangan marah, Lan. Kita cuma becanda aja kok." kata Tama menenangkanku.


"Lagian apa bagusnya Ryo? Mending Deni kemana-mana, Lan", Aldo menimpali. Sementara Angga hanya diam memandangiku sambil sesekali menyesap birnya.


"Aku ga paham kalian ngomong apa!" mulutku yang ketus kembali setelah mendengar pengakuan Deni.


Deni menenggak habis bir dalam kaleng yang dipegangnya. Lalu memberi kode pada rekan-rekannya agar mendekat. Genk Kece mendekat pada Deni, dan bicara dengan berbisik. Samar-samar aku mendengar percakapan mereka. Berpura-pura memandang keadaan sekeliling agar tak tampak bahwa aku menguping bisik-bisik mereka. Tak tampak bintang sama sekali di langit, tampaknya langit mendung. Pantas saja malam ini begitu dingin.


"Kalian pegangi Wulan. Aku mau nikmatin dia lebih lama lagi. Giliran kalian setelah aku", Deni berbisik pada rekan-rekannya.


"Maksud kamu, Den?" tanya Aldo memastikan, apa benar pikirannya sama dengan apa yang dimaksud Deni.


"Alah, gitu aja minta dijelasin! Aku ajak kalian menikmati surga dunia. Kalian pasti penasaran, kan?" Deni menyeringai.


"Tapi, Den...", Tama takut-takut tapi mau. Tama juga ngiler akan penampilan Wulan yang sebenarnya juga merupakan tipenya.


"Aku ga mau, Den. Aku takut", Angga menolak ajakan Deni. Baru kali ini Angga tidak mengiyakan apa yang diucapkan Deni.


"Kalian bakal ter**gs*ng juga begitu ngeliat aku begituan sama dia. Ayo!" ajak Deni untuk segera melakukan eksekusi.


Aku yang samar-samar mendengar bisik-bisik itu berdiri ketakutan. Aku hendak berlari, tapi kalah cepat dengan gerakan Deni yang segera mencengkram pergelangan tanganku. Dia menyeretku ke gubuk pinggir sawah dan memdorongku.


"Den, aku mohon jangan. Jangan lakukan itu, Den" ucapku memelas, air mata telah mengalir menyadari ketidakberdayaanku. Aldo dan Tama masing-masing memegangi kakiku satu-satu, sementara Angga memegangi kedua tanganku dengan posisi tubuhku yang telah terlentang. Dan Deni segera mengeksekusi tubuhku.

__ADS_1


Wulan berteriak minta tolong. Minta tolong pada siapapun atau apapun yang mampu menolongnya. Tapi tak sedikitpun harapan Wulan terkabul. Tubuhnya dicabik-cabik sedemikian rupa, begitupun masa depannya.


__ADS_2