
Pukul 03.34 saat aku terbangun oleh alarm alamiku, apalagi jika bukan mimpi buruk. Aku tak pernah terbiasa akan mimpi buruk itu sekalipun selalu menghantui tidurku.
Aku bergegas bangun dan mengambil peralatan bersih-bersih. Membersihkan kost menjadi tugasku, seperti yang aku syaratkan pada Bune sebelum menerima tawaran untuk tinggal gratis di kost-an ini.
Saat aku beranjak membersihkan lantai bawah, aku melihat Bune dan Pakne keluar dari kamarnya sambil membawa sebuah tas rajut dari bahan janur.
"Selamat pagi, Pakne, Bune", kataku menyapa mereka.
"Pagi, Nduk. Rajin sekali jam segini sudah bersih-bersih?" kata Pakne.
"Sudah biasa, Pakne. Mau ke pasar?" tanyaku.
"Iya, Nak. Ada mau titip sesuatu? Atau pengen masak apa gitu? Biar Bune sekalian belanjanya"
"Apa saja, Bune. Saya ga rewel kok", jawabku.
Baru saja berkata demikian, perutku terasa mual. Aku menutup mulut menahan muntahan yang mendesak ingin dikeluarkan.
"Mual, Nak? Kamar mandi di sebelah sana", tunjuk Bune.
Setelah memuntahkan isi perutku, aku keluar dari kamar mandi. Tampak Bune masih menungguku keluar dari kamar mandi, tapi tidak tampak Pakne.
"Sudah baikan, Nak?" tanya Bune dengan raut khawatir.
"Tidak apa-apa, Bune. Biasanya mual muntah hilang sendiri nanti di atas jam delapan pagi. Kembali lagi saat bangun tidur malam", jawabku menenangkan. "Pakne kemana?” tanyaku.
"Oh, lagi manasin motor di depan. Kamu benar tidak ada yang dititip?"
"Tidak ada, Bune. Nanti biar saya yang masak ya, Bune" tawarku.
"Iya, boleh..boleh. Bune ke pasar dulu, takut kesiangan. Nanti ga dapat daging yang bagus buat bakso. Kamu jangan memaksakan diri kalau memang tidak bisa bersih-bersih, Nak", tukas Bune
"Wulan ga apa-apa kok, Bune"
Setelah Bune pamit, aku melanjutkan bersih-bersih. Tampak langit yang kemerahan di ufuk timur saat aku baru saja menyelesaikan acara bersih-bersih. Kemudian aku melanjutkan mandi.
__ADS_1
Aku menunggu Bune pulang dari pasar di teras kost-kost-an. Pukul 6.30 akhirnya Bune pulang dari pasar. Membawa belanjaan untuk perlengkapan dagang bakso dan memasak menu hari ini.
Untuk perlengkapan bakso dibawa oleh Pakne ke warung, karena disana tersedia dapur khusus untuk mempersiapkan dagangan. Sementara untuk keperluan memasak hari ini dibawa ke dapur bersama di lantai satu.
Aku meminta ijin kepada Bune untuk memasak sendiri agar Bune bisa membantu Pakne mempersiapkan dagangan. Bune lalu meninggalkanku di dapur dan pergi untuk membantu Pakne. Kedepan inilah rutinitasku setiap hari agar meringankan beban Pakne dan Bune.
Hampir pukul delapan saat aku selesai memasak. Aku menata hasil masakan di meja makan yang terletak bersebelahan dengan dapur. Sebuah meja persegi panjang yang tak terlalu besar yang dikelilingi empat kursi. Sayur asam, ikan layur goreng, tahu, tempe, terong lengkap bersama sambalnya. Setelah semua siap, aku memanggil Pakne dan Bune di warung agar bisa segera sarapan bersama.
Kami makan sembari berbincang.
"Kamu kapan mulai masuk kuliah, Nduk?" tanya Pakne sambil menyendok sesendok penuh sambal.
"Awal Agustus nanti, Pakne. Tanggal 3 Agustus. Masih sepuluh hari lagi" jawabku.
"Sudah siap semua keperluannya?"
"Sudah, Pakne."
"Ibu kamu sudah lama jadi TKW?", kali ini Bune yang bertanya
Bune manggut-manggut mendengar jawabanku. Lalu kembali bertanya, "Kandungan kamu usia berapa bulan? Kok belum kelihatan?"
Aku sudah membuka mulut hendak menjawab saat pintu kamar salah satu penghuni kost membuka. Tampak Ce Fani sudah rapi dengan jeans panjang ketat dan kaos berkerah warna pink, beserta tas laptop yang diselempangkan ke bahunya.
"Pagi, Pak, Bu. Pagi juga Wulan. Sarapan bareng rupanya", kata Ce Fani menyapa kami di meja makan.
"Pagi juga", jawab kami serempak
"Ayo mari sarapan bareng, Dek Fani", ajak Bune.
"Ada sayur asam sama ikan layur, lengkap sambal. Wulan yang masak", sambung Pakne.
"Terima kasih, Pak, Bu. Tapi maaf, sudah terlambat mau rapat BEM". Lain waktu mungkin" ujarnya dengan senyum penuh penyesalan.
"Hati-hati dijalan, Ce" ujarku.
__ADS_1
Setelah Ce Fani berlalu, kemudian kami melanjutkan perbincangan kami yang terputus.
"Saya juga kurang tau, Bune. Terakhir saya ke bidan bersama Ibu saya sekitar tiga minggu, usia kehamilannya sekitar 5-7 minggu", jawabku untuk pertanyaan Bune tadi.
"Bagaimana kalau nanti sore kamu ke dokter kandungan. Ada praktek dokter kandungan dekat sini, sekitar 500 meter. Mau Bune temani?” tawarnya padaku.
"Tidak perlu, Bune. Takut nanti warung ramai, Pakne tidak ada yang membantu" tolakku.
"Tapi Bune takut kamu kesasar. Ini 'kan baru hari kedua kamu di Surabaya, dan belum pernah kemana-mana", kata Bune khawatir.
"Dekat 'kan, Bune? Nanti saya bisa tanya-tanya sama orang yang saya temui di jalan" ujarku menenangkan.
"Lalu rencana kamu ke depan mau gimana, Nduk?" sambung Pakne.
"Saya berencana mau cari kerja sambilan Pakne. Tapi mungkin nanti menunggu lahiran, karena saya yakin tidak ada majikan atau perusahaan yang bersedia menerima wanita yang sedang hamil", jawabku.
"Kerja di warung bakso Pakne mau? Kebetulan Pakne dan Bune mulai kewalahan. Memang mau cari orang buat bantu-bantu. Pasti tetap Pakne gaji kok", tawar Pakne padaku.
"Sungkan saya, Pakne. Sudah dapat tempat berteduh dan makan gratis" tolakku merasa segan.
"Lho kamu 'kan anak Pakne dan Bune, menyediakan papan dan pangan itu sudah menjadi tanggung jawab kami" ujar Pakne.
"Itu juga kamu ga gratis, Nduk. Kamu membantu bersih-bersih dan memasak. Sangat meringankan bagi Bune", kata Bune menimpali.
"Itu tugas saya sebagai seorang anak Bune" balasku. Karena mereka sudah menganggapku anak sendiri maka akupun harus menganggap mereka sebagai orang tuaku sendiri.
"Satu lagi, ga perlu cari pengasuh kalau bayi kamu sudah lahir. Kasih Bune kesempatan merawat seorang bayi, ya?” kata Bune dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, Bune. Wulan terima kasih sekali", jawabku sambil mengelus tangannya.
"Nanti kalau penghuni kost ada yang nanya, bilang saja kamu keponakan Pakne. Terus kalau ada yang nanya masalah kehamilan kamu, suruh langsung tanya sama Pakne ya!" tukas Pakne tegas.
Aku hanya mengangguk dengan tersenyum. Aku tahu Pakne berkata demikian karena Pakne ingin melindungiku.
Wulan merasa sangat beruntung bertemu orang-orang baik dalam hidupnya. Hidup yang dipenuhi cobaan dan ujian. Ternyata apa yang menurut kita buruk, menjadi kebaikan bagi orang lain. Kehamilan yang tak diharapkan oleh Wulan, menjadi penyejuk harapan yang selama ini gersang bagi pasangan Pak Jaka dan Bu Nimas.
__ADS_1