
"Ehheeeemm!!" Suara dehaman mengagetkan aku dan Mas Adit, dan sontak membuat kami terbangun.
"Eh, Mama!" Mas Adit tampak gugup.
Aku beringsut turun dari ranjang pasien. Lalu dengan kikuk menyalami Mama, Papa, Bune dan Ibu. Aku sadar tatapan mereka yang menusuk bak sinar laser.
"Kamu sudah ingat?" Tanya Papa. Mereka berempat awalnya tercengang melihat Adit dan Wulan tidur saling berpelukan. Satu-satunya penjelasan logis atas pemandangan yang mereka lihat pagi ini adalah, bahwa Adit sudah mendapatkan kembali ingatannya.
Para orang tua memang sudah janjian bertemu di rumah sakit. Mereka ingin berbincang mengenai rencana dan langkah-langkah kami kedepannya. Setelah Langit diantar ke sekolah, Ibu dan Bune langsung menuju rumah sakit.
"Sudah, Pa. Semalem" jawab Mas Adit sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kalian ini! Adit ingatannya sudah kembali, malah asyik mesra-mesraan. Peluk-pelukan! Bukannya ngabarin orang tua yang lagi khawatir!" Tukas Mama bersungut-sungut.
"Ma..maaf, Ma" aku hanya bisa berucap maaf.
Mama lalu beringsut mendekati Mas Adit.
"Mama sudah nunggu dari kemarin-kemarin, nih! Kamu berani-beraninya ngehamilin anak orang sebelum ikatan resmi! Tanggung jawab kamu! Dalam waktu sebulan ini, kamu udah harus nikahin Wulan! Apa segitu ga tahannya sampe ga bisa nunggu?! Kamu bener-bener, ya!" Mama bicara panjang lebar sambil menjewer telinga Mas Adit.
"Aaaaawwww ampun, Ma. Ampuuuunn!" Pekik Mas Adit kesakitan.
Aku meringis ngilu menyaksikan manuver Mama yang tak terduga. Aku mengangkat tangan, mencoba melerai tapi tak kuasa. Bune dan Ibu hanya bisa melongo dibuatnya. Sementara Papa geleng-geleng kepala sambil terkekeh.
"Sampun, Bu, sampun. Kita bicarakan baik-baik, nggih. Kasian Nak Aditnya" akhirnya Bune mencoba menengahi.
(Sampun : sudah, nggih/inggih : iya)
Mama melepaskan telinga Mas Adit dengan muka mengkerut. Mas Adit menggosok-gosok telinganya yang memerah.
"Maafkan anak saya yang ga bisa menjaga Wulan ya, Bu. Malah main nyosor aja!" Sinis Mama sambil mendelik pada Mas Adit.
"Mereka berdua salah, Jeng. Ga akan jadi kalau mereka berdua ga berperan" Ibu menggeleng-gelengkan kepala kepadaku.
"Kalian memang sudah dewasa, tapi bukan berarti bisa berlaku seenaknya. Kita hidup dengan adat ketimuran yang kental. Selayaknya kita menjunjung nilai-nilai ketimuran itu" timpal Bune lembut.
Aku hanya bisa menunduk malu. Mas Adit menggosok tengkuknya dengan ekspresi serba salah.
"Lalu bagaimana rencana kalian ke depan? Masalah pernikahan sudah pasti harus segera dilangsungkan sebelum perut Wulan semakin membesar" cetus Papa.
"Kami memang pasti menikah, Pa. Wulan akan resign dari pekerjaannya dan ikut Adit ke Jakarta. Aku akan segera menjalani fisioterapi agar aku bisa menikahi Wulan dengan penampilan gagah, bukan dengan menggunakan kursi roda" jawab Mas Adit.
"Jakarta?" Tanya Mama
"Resign?" Tanya Ibu bersamaan dengan Mama.
"Iya, Bu. Memang sudah waktunya. Kalau Wulan nikah, Wulan pasti ikut kemana suami pergi. Mas Adit dan Wulan ga mau kalau hidup terpisah setelah menikah" jawabku.
"Kamu ga sayang ninggalin kerjaan kamu? Langit gimana? Ibu baru sebentar kenal sama Langit, masak iya kamu tega misahin kami?" Rajuk Ibu.
"Hidup itu memang tentang pilihan, Bu. Tinggal bagaimana kita bijak memilih mana yang terbaik untuk kita. Ibu dan Bune boleh ikut ke Jakarta. Mas Adit tidak keberatan sama sekali. Kami sudah membicarakannya semalam" terangku kepada Ibu.
"Sebelum kecelakaan aku nerima tawaran untuk menggantikan posisi manager tim lapangan untuk cabang Jakarta, Ma. Aku memutuskan untuk menerima tawaran itu. Bayangkan kalau Adit masih jadi tim lapangan. Bagaimana nasib sekolah Langit? Wulan tentu tak mungkin dipisahkan dari Langit, begitupun Adit. Masak iya, Langit harus pindah sekolah tiap Adit ngawasin proyek di satu tempat" giliran Mas Adit panjang lebar menjelaskan.
"Bagus kalau kalian sudah membuat keputusan. Sekarang kita akan bahas masalah teknis pernikahan. Mengingat kondisi kamu sekarang, tentu kita akan sulit mengikuti tradisi yang biasanya. Tidak mungkin kita mengadakan acara lamaran, ijab dan resepsi pada waktu yang berbeda-beda. Saran papa, langsung lamar manten saja" cetus Papa.
__ADS_1
"Saya setuju dengan pendapat Pak Wisnu" jawab Bune. Tampak Mama dan Ibu tampak manggut-manggut menyetujui usul tersebut.
"Masalah itu kami serahkan pada yang tua-tua saja" tukas Mas Adit.
Akhirnya pembicaraan diakhiri dengan adanya visit dokter. Dokter mengucapkan selamat atas pulihnya ingatan Mas Adit. Setelah menjalani pemeriksaan menyeluruh, jika kondisi Mas Adit semakin membaik, dua hari lagi Mas Adit sudah diizinkan rawat jalan.
"Saya jadwalkan untuk fisioterapinya. Agar Mas Adit bisa segera kembali beraktifitas normal seperti sediakala" ucap Dokter Rangga.
"Apa bisa rawat jalan dan fisioterapi di Surabaya, Dok?" Tanya Mama
"Tentu, tentu. Saya bisa merekomendasikan dokter terbaik rekan saya di sana"
Lalu setelah menuliskan beberapa catatan, akhirnya dokter Rangga berlalu.
Setelah kami berbincang, akhirnya diputuskan pernikahan akan digelar tepat sebulan setelah hari ini.
Keesokan harinya, aku menulis email kepada Direktur Utama dan jajaran direksi perusahaanku, bahwa aku mengajukan resign. Aku menuliskan email dengan perasaan campur aduk. Sedih, tapi bahagia. Bahagia, tapi sedih. Sesekali air mataku jatuh saat menulis email surat pengunduran diriku. Tak lama setelah email terkirim, Pak Reza langsung meneleponku.
"Wulan, kenapa sepagi ini saya mendapatkan surat cinta seperti ini. Saya sedih sekali membacanya" kata Pak Reza dari seberang panggilan. Nada suaranya terdengar begitu sedih.
"Iya, Pak. Maaf harus mendadak seperti ini. Sayapun sedih harus meninggalkan perusahaan, Pak. Saya mencurahkan segenap tenaga, daya dan upaya untuk membangun karir saya disini"
"Tidak adakah yang bisa mengubah keputusan kamu?" Tanya Pak Reza penuh harap.
"Kalau ada pria sebaik Pak Reza yang bersedia menjadi pengganti calon saya, mungkin saya akan berubah pikiran" selorohku.
"Kalau begitu, saya jadikan istri kedua saya mau, ya?" Pak Reza membalas berseloroh lalu terbahak.
Akhirnya Pak Reza akan menandatangani surat resignku, lalu menyiapkan pengganti secepatnya. Aku diminta menyelesaikan pekerjaanku yang tersisa dan juga menyiapkan materi sertijab.
Berikutnya giliran Diva meneleponku.
"Mas Ronald ember juga, ya" Diva terkekeh. Sudah pasti surat resignku juga telah diterima Mas Ronald
"Sama siapa? Si arsitek itu 'kan? Sudah kuduga, kamu emang ada main sama dia!"
"Enak aja ada main! Kayak pelakor aja aku ini. Dia itu masih single" protesku.
Diva kembali terkekeh. Akupun bercerita ngalor ngidul dengan Diva.
"Selamat, aku turut berbahagia" ucap Diva pada akhirnya.
Sepulang dari tempat kerja, aku mengajak keluargaku makan malam di luar. Aku sudah menginfokan pada Bune siang tadi.
Setelah semua siap, kami berempat berangkat. Kami makan di restoran all-you-can-eat menu Jepang.
"Sayang, kalau Ibu menikah sama Om Adit, Langit keberatan tidak?" Tanyaku lembut pada Langit disela acara makan kami.
"Artinya, Om Adit jadi ayah Langit?" Tanya Langit antusias.
Aku mengangguk dan tersenyum.
"Mau mau, Bu! Kapan ibu nikah sama Om Adit?"
"Satu bulan lagi. Lalu, Langit keberatan tidak kalau harus pindah sekolah lagi?" Tanyaku dengan nada hati-hati.
__ADS_1
"Pindah sekolah lagi?" Langit terdengar sedih. Ia pasti sedih harus berpisah dengan kembali dengan teman-temannya.
"Iya, karena kalau ibu menikah dengan Om Adit, ibu akan ikut ama Adit ke Jakarta. Langit mau ga ikut ibu ke Jakarta? Kalau langit tidak bersedia kita akan cari jalan keluarnya bersama" aku menyelipkan nada permohonan padanya.
"Gapapa, Bu. Kemana saja, asalkan sama Ibu. Yangti dan Uti?" Tanya Langit.
Aku memandang ke arah mereka.
"Jakarta jauh, Nduk" ujar Bune ragu.
"Yangti ikut. Yangti masih pengen kenal lebih dekat sama Langit. Yangti pengen melihat Langit tumbuh jadi laki-laki gagah" jawab Ibuku.
"Bune ikut, ya?" Bujukku sambil memegang tangannya.
"Apa tidak apa-apa, Nduk?"
"Mas Adit sama sekali tidak keberatan. Malah senang kalau ada yang nemenin Wulan"
"Baiklah, Bune juga ikut" putus Bune akhirnya.
Kami menyelesaikan makan malam kami sambil bercengkrama. Merancang masa depan indah bersama.
Keesokan harinya, kami mengantar kepulangan Mas Adit ke Surabaya. Mas Adit dibawa ke Surabaya agar Mama dan Papa bisa menemani saat Mas Adit menjalani fisioterapi. Kali ini giliranku yang akan secara berkala mengunjungi Mas Adit ke Surabaya.
Sudah dua minggu Mas Adit pulang ke Surabaya, tapi aku baru satu kali berkunjung ke sana. Kesibukanku dalam mencapai target untuk menyelesaikan beban pekerjaan yang menumpuk membuat sering lembur dan sulit dihubungi. Sampai suatu malam, Mas Adit protes kepadaku melalui video call.
"Hai, Mas. Aku kangen" ujarku dengan manja.
Bukannya nada bermanis-manis yang aku dapat sebagai balasan, justru terlihat muka Mas Adit yang tampak kusut.
"Kamu akhir-akhir ini sulit sekali dihubungi!" Cetus Mas Adit dengan raut kesal.
Sudah hampir pukul sebelas malam saat aku sampai di rumah, dan melakukan panggilan video.
"Iya, Mas. Kerjaanku banyak banget. Semuanya harus selesai sebelum pernikahan. Belum lagi menyiapkan materi untuk Sertijab" terangku.
"Belum lagi kamu sering pulang malam! Kamu tahu sendiri jalanan disana selalu sepi kalau sudah malam. Kalau ada apa-apa sama kamu gimana?! Sementara aku ga bisa jagain kamu!" Nada suara Mas Adit mulai meninggi.
"Mas ga usah nyolot gitu, lah! Aku ga suka!" Akupun terpancing emosi. Rasa lelah ikut menjadi pemicu emosiku naik.
"Kamu itu ga sendiri sekarang! Inget, ada calon anak aku yang sedang tumbuh dalam rahim kamu!!" Muka Mas Adit tampak memerah karena amarah.
"Aku tahu, Mas! Ini juga anak aku! Mas pikir aku anak kecil yang ga bisa jaga diri!!" Aku balas membentak.
"Aku khawatir sama kamu dan calon anak kita!!" Bentak Mas Adit.
"Sudahlah Mas, aku capek!" Ujarku lelah.
"Istirahatlah. Kita bicarakan lagi saat pikiran kita sudah sama-sama dingin" tukas Mas Adit lalu mengakhiri panggilan telepon.
Tanpa terasa air mataku menetes. Ini adalah pertengkaran pertama kami. Aku sebenarnya menyadari bahwa aku juga salah. Sekedar membalas pesan, apa sulitnya. Tapi ego, mencegahku untuk mengucap maaf. Aku tidak suka dibentak seperti itu.
Wulan pikir, selama ini Mas Adit-nya dalah orang yang sabar. Apakah ini sisi lain dari seorang Aditya Perdana? Pikir Wulan. Wulan jadi berpikir untuk mempertimbangkan kelanjutan pernikahannya dengan Adit.
**********************************************
__ADS_1
~*Sertijab, serah terima jabatan
~Lamar manten, suatu kondisi dimana prosesi lamaran dilanjutkan langsung pada pernikahan. Dalam adat Jawa, biasanya urutan orang mempersiapkan pernikahan adalah lamaran (pihak laki-laki bertandang ke rumah perempuan itu melamar) - balenan (pihak perempuan membalas bertandang ke rumah pihak dan membicarakan tanggal pernikahan) - lalu pernikahan*.