Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 44 Karma Bermunculan


__ADS_3

Tiga Tahun Kemudian


Surabaya, Januari 2014


Siang ini aku sedang menyesap caramel macchiato disebuah caffe yang terletak tepat di seberang kampusku, Starbak. Sembari aku menekuni laptop di depanku. Skripsiku yang berjudul "Analisis Harga Jual Produk Menggunakan ABC System (Activity Based Costing System) Pada Sebuah Home Industry Cookies" sudah masuk bab-bab akhir. Jika skripsiku disetujui oleh dospem-ku (dosen pembimbing) maka bulan depan aku bisa maju ke meja hijau. Dan jika sidangku lulus, Maret nanti aku bisa diwisuda. Aku bersyukur bisa menempuh pendidikan sarjanaku hanya dalam kurun waktu tujuh semester.


Tak terasa, bulan depan Langit akan berusia tiga tahun. Aku tak menyangka mengasuh Langit bisa menjadi obat untuk mimpi buruk yang selama ini menghantuiku. Sejak Langit lahir alarm alamiku tak lagi mimpi buruk itu, tapi suara tangis Langit yang malam-malam minta menyusu. Hanya bisa dihitung dengan jari berapa kali mimpi itu menghampiriku tiga tahun ke belakang ini.


Sudah tiga tahun berlalu, tapi Ryo tak sekalipun menampakkan batang hidungnya. Meski saat terakhir bertemu dia bilang ingin mengunjungiku sesekali. Tapi aku tidak peduli.


Terlalu asyik menekuni pembuatan skripsi, hingga membuatku tidak menyadari bahwa ada seseorang yang memperhatikan dan sedang menghampiriku.


"Wulan?" suara seorang laki-laki yang berdiri di depanku.


Seketika aku mendongak, terkejut sekaligus takut saat mendengar suara itu. Suara salah satu bajingan itu.


Netraku membelalak melihat sosok Angga yang sedang menggandeng seorang pria di sebelahnya. Pria tinggi, tampan, rambut dicat semi pirang dengan belahan pinggir. Pemandangan yang sebenarnya aneh jika orang lain melihat bagaimana cara Angga yang kemudian berbisik pada pria tersebut. Lalu si pria tersebut pergi dan duduk di meja yang tak jauh dari tempatku.


"Hai, Lan" ujarnya gugup menyapaku.


"Aku duduk, ya" ujarnya sekali lagi saat tak mendapat respon dariku, dan langsung duduk tanpa menunggu izinku.


Aku masih tak meresponnya. Perasaanku saat ini lebih didominasi oleh perasaan takut. Bayangan malam itu berkejaran dalam pikiranku. Degup jantungku sudah tak karuan sejak mendengar suara Angga, begitu juga keringat dingin sudah mulai bermunculan.


"Itu tadi pasanganku. Aku... seorang g a y" ujarnya gamblang.


"Aku minta maaf" ucapnya lirih.


"Pergi!" sergahku kasar.


"Izinkan aku meminta maaf, Lan. Kurasa ini karmaku. Bukan tentang aku yang seorang g a y, itu aku sudah menyadari sejak lama. Tapi aku menutupinya dengan bersedia menjadi jongos Deni"


"Kamu tahu, aku terjebak hubungan toxic dengan pasanganku ini. Nenek meninggal tahun kemarin karena terkena serangan jantung saat aku mengenalkan Deta. Beliau tak percaya, cucu kebanggaannya adalah seorang g a y. Deni dan lain-lainpun menjauhiku saat mengetahui fakta itu" jelasnya, tak mengindahkan perintahku.


"Aku tak peduli!" desisku sengit.

__ADS_1


"Aku mencintai Deta, begitupun Deta. Tapi Deta sangat pencemburu. Dia tak segan menghajarku jika dia melihatku bersama pria lain, walaupun itu hanya untuk sekedar berbincang. Sesi bercinta kami juga tak pernah absen dari pukulannya. Tapi aku tak bisa lepas darinya. Aku terlalu mencintainya. Mungkin ini hukuman yang seumur hidup harus kujalani akibat perbuatanku padamu"


Aku tetap bergeming. Melihatnya dengan mata nyalang.


"Kau tahu yang lebih lucu lagi? Saat ini Aldo sedang meregang nyawa karena mengidap HIV-AIDS di rumah sakit Surabaya sini. Aku kemari dalam rangka menjenguknya, tak menyangka bertemu denganmu disini. Salah satu wanita penghibur yang disewa Aldo ternyata menderita HIV dan kau tahu sendiri kelanjutannya"


"Aldo bilang dia ketagihan , tapi tidak ingin menikah muda. Maka jalan pintaslah yang dia tempuh. Menyewa jasa wanita bayaran. Tanpa dia berpikir mengenai bahaya resiko penyakit menular" lanjut Angga tak menggubris sama sekali apa yang aku ucapkan tadi.


"Kurasa ini karma bagi kami. Aku hanya ingin maafmu dengan menceritakan ini. Aku tak mau jika suatu saat aku mati karena dihajar Deta tapi aku belum mendapatkan maaf darimu" Angga terus saja mencerocos di bawah tatapan mataku yang nyalang.


"Aku tak sudi. Dan kalian pantas mendapatkannya" desisku sengit.


"Hanya itu yang bisa kukatakan. Aku tahu kamu wanita baik. Maafkan aku" ucap Angga kembali meminta maaf.


Aku menggigit bibirku keras, berusaha menahan teriakan dan amarah. Terasa asin karena darah, saking kuatnya aku menggigit membuat bibirku tergores.


"Semudah itu kamu meminta maaf! Cih!" Aku mendecih kasar.


"Ada yang akan berubah dengan kamu meminta maaf? Sekarang silahkan pergi sebelum aku berteriak" tukasku dengan suara tertahan.


"Bukan urusanmu! Dan jangan sekali-kali! Jangan sekali-kali berpikir atau bahkan menyebutnya sebagai anakmu!! Langit anakku, hanya anakku!" ucapku sengit.


"Namanya Langit?" tanya Angga tersenyum.


"Pergi!" teriakku sambil berdiri dari dudukku dan menggebrak meja. Aku sudah tak bisa menahan amarah. Orang-orang yang berada disana tampak menolehkan pandangannya pada kami. Aku sudah tak peduli.


"Oke, oke. Aku pamit" ujar Angga, kemudian berlalu.


Setelah Angga pergi, aku terduduk seketika. Rasanya lututku tak mampu menopang beban tubuhku lagi. Air mata telah lolos.


Aku menenggelamkan wajahku pada buku-buku referensi penulisan skripsi yang berserakan di meja. Aku menangis tersedu. Bahuku berguncang karena sedu sedanku.


Beberapa saat lamanya aku menangis di Caffe Starbak. Aku tahu aku pasti menjadi tontonan, tapi aku acuh. Aku hanya ingin meredakan rasa sesak dalam dadaku.


Setelah merasa sedikit tenang, akhirnya aku mengangkat wajahku. Kubereskan buku-buku dan laptopku. Yang kubutuhkan saat ini hanya memandang priaku, Langitku. Penyemangatku di kala gundah seperti ini.

__ADS_1


Langit pasti sedang di warung saat ini, menemani Uti dan Kakungnya berjualan. Aku melirik jam tanganku, sudah hampir pukul dua siang.


Aku lapar. Menangis cukup menguras energi ternyata.


Aku beranjak dari caffe menuju motorku yang terparkir. Tak lupa membawa segelas milkshake coklat untuk Langit, dan dua buah chocolate croissant untuk Pakne dan Bune.


Teringat olehku bahwa Pakne menitip mie cakalang yang terletak 300 meter dari kampusku. Walaupun berlawanan arah, aku tak keberatan dititip. Namun sayang, saat hendak membeli ternyata warung mie cakalang tersebut tutup. Aku segera menelepon Pakne untuk mengabarkan.


"Halo, ada apa, Nduk?" suara Pakne terdengar diseberang sambungan setelah dering yang kedua.


"Mie cakalangnya tutup, Pakne" ujarku menginfokan.


"Ya udah becok aja gapapa"


"Haa?" aku melongo bingung mendengar pengucapan Pakne yang aneh.


"Cakalang 'kan tutup, ya udah becok aja gapapa" ujar Pakne menjelaskan.


Sontak aku terkekeh mendengar candaan Pakne yang garing tersebut.


"Pakne garing, ah. Wulan on the way pulang, ada yang mau dititip?"


"Diapersnya Langit sisa dikit" teriak Bune menimpali. Rupanya panggilan sedang dalam mode loud speaker.


"Siap, Bos!" ujarku tergelak.


Hari ini rasanya perasaanku seperti roller coaster. Baru saja menangis tersedu, tapi kini tertawa berkat canda dari orang tuaku.


Aku melajukan motor pulang. Tak sabar ingin bertemu dengan priaku dan menikmati semangkok bakso super pedas.


********************************************


Mohon maaf author kemarin tidak bisa update, dikarenakan sedang tidak enak badan. Tapi alhamdulillah, sudah membaik hari ini.


Mohon dukungannya terus untuk Wulan ya, dengan like dan komennya. Biar Wulan semangat menggapai cita-cita di tengah terjalnya ujian yang silih berganti.

__ADS_1


Diusahakan hari ini bisa up 2 bab, kalau bisa 3 demi reader2 tercinta 🤗🤗


__ADS_2