Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 25 Dilema


__ADS_3

Keesokan harinya, pukul delapan lewat aku sudah berada di boncengan motor ibu menuju ke Bangil. Perjalanan cukup lancar, tidak ada macet dan kendala sama sekali.


Hampir satu jam perjalanan akhirnya kami sampai di depan sebuah rumah luas bercat kuning gading, beserta halaman yang luas pula. Ada plang bertuliskan "Bd. Lastri Handayani, A.Md. Imunisasi. Periksa Kehamilan. KB. Melahirkan 24 jam".


Seorang wanita yang kutilik dari wajahnya, pasti berusia di awal dua puluhan, menyambut kedatangan kami.


"Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa dibantu?"


"Bidan Lastri ada mbak? Bilang aja Retno, teman SMA-nya mau ketemu", kata ibuku.


"Oh, ada Bu. Sebentar ya, saya panggilkan. Silahkan dulu, Bu, Mbak", ujarnya kepada ibu dan aku.


Aku duduk dan mengamati sekeliling. Di dinding terdapat beberapa gambar. Salah satu yang menarik perhatianku adalah gambar tahapan perkembangan janin dari bulan ke bulan beserta penjelasannya. Dalam hati aku takjub, dan refleks mengelus perutku. Keraguan kembali menyusup di hatiku.


Sepuluh menit menunggu, akhirnya Bidan Lastri muncul.


"Retno, apa kabar? Sudah lama ga ketemu. Ini anak kamu? Wah sudah jadi anak gadis sekarang, dulu waktu di bawa kesini masih SD kalau ga salah"


Samar-samar aku mengingat dulu ibu memang pernah mengajakku kemari. Saat itu tepat seminggu setelah pemakaman ayah. Baru sekarang aku tahu tujuan ibuku saat itu datang kemari.


"Iya, Las. Ini anak aku, Wulan" ibuku memperkenalkan diriku kembali.

__ADS_1


"Ada keperluan apa nih tiba-tiba datang kemari?", tanya Bidan Lastri akhirnya.


"Ehmm, begini, Las. Aku bisa minta bantuan sekali lagi ga?"


"Maksud kamu, bantuan aborsi?", tanya Bidan Lastri menatapku. Menebak bahwa pasti dirikulah yang membutuhkan tindakan aborsi.


Akhirnya ibu menceritakan kejadian yang menimpaku. Aku menambahkan bahwa aku tidak bisa mendapatkan tindakan pencegahan karena tidak adanya bukti tentang kejadian malam itu. Aku melirik ibu, dan terbersit rasa bersalah pada wajahnya.


"Ya ampun, Retno. Kasihannya anakmu. Tapi gimana ya, Ret. Aku takut kalau sampai ketahuan. Taruhannya lisensi dan ijin praktikku bakalan dicabut", ujar Bidan Lastri khawatir.


"Aku janji ga bakalan ada yang tahu, Las. Lagipula kalau sampai ada yang tahu aku dan anakku bisa kena karena melakukan tindakan ilegal. Tapi ini demi masa depan anakku, Las", kata ibuku memohon.


"Janji ya, Retno?" tanya Bidan Lastri.


"Baiklah kalau begitu, aku periksa anakmu dulu. Nak, kapan hari terakhir kamu haid?" tanya Bidan Lastri padaku.


"Sekitar dua minggu setelah kejadian, Bu. Sekitar tanggal 13 Mei kemarin", jawabku mantap


"Haidnya deras?" tanya Bidan Lastri dengan nada heran.


"Hanya berupa flek, Bu"

__ADS_1


"Sepertinya itu bukan darah menstruasi, tapi itu adalah darah implantasi. Itu adalah proses penempelan janin pada dinding rahim. Sebagian wanita akan mengalami flek dan kram perut seperti gejala PMS. Sehingga sebagian orang salah mengira flek tersebut sebagai darah menstruasi. Kalau begitu saya langsung periksa saja. Silahkan tiduran disana", jelas Bidan Lastri kemudian menunjuk tempat tidur single di belakangku.


Aku beranjak berdiri dan menuju tempat tidur yang ditunjuk oleh Bidan Lastri. Bidan tersebut menutup kelambu melingkar disekitar tempat tidur.


"Bajunya diangkat sedikit, ya. Terus kakinya ditekuk" kata bidan memberi instruksi.


Kemudian bidan mulai menekan-nekan lembut perutku bagian bawah. Bidan Lastri mengoleskan cairan kental dan bening yang terasa dingin di kulitku. Bidan Lastri menempelkan sebuah alat dengan sedikit menekan pada perutku. Awalnya terdengar suara gemerisik, setelah digeser-geser terdengar bunyi berdetak cepat yang sesaat kemudian menghilang lalu timbul lagi.


Setelah di periksa, bidan membersihkan sisa cairan bening dengan tissue dan memintaku merapikan pakaian.


Setelah kami kembali duduk, Bidan Lastri mulai menjelaskan hasil pemeriksaan tadi.


"Dilihat dari tinggi fundus, perkiraan usia kehamilan 5-7 minggu. Bayinya sebenarnya sehat, detak jantungnya sudah mulai terdengar walau belum begitu jelas. Kehamilannya masih sangat muda, tidak akan ada banyak efek samping setelah proses aborsi. Mari langsung ke ruang bersalin untuk segera proses" ajak bidan tersebut padaku.


Aku mulai gelisah dan menggigiti bibirku. Dalam perjalanan menuju ruang bersalin aku membatin dan naluriku menolak. Aku mengingat kembali gambar tahap perkembangan janin yang aku lihat tadi.


Tujuh minggu, berarti sekarang janin sudah sebesar biji kacang polong atau kacang tanah. Janin sebesar itu sudah ada detak jantungnya? Berarti dia hidup? Batinku berkecamuk. Haruskah aku membuang makhluk hidup yang sedang bertumbuh ini? Tapi apa yang harus aku lakukan jika aku tidak membuangnya?


Aku *******-***** tanganku yang mulai berkeringat. Aku gugup sekali saat diminta duduk di kursi berwarna hitam yang disamping kanan dan kirinya terdapat tempat untuk meletakkan kaki.


Jantungku berdebar tak karuan saat bidan menyiapkan berbagai peralatan untuk proses aborsi. Haruskah? Haruskah? Otak dan naluriku saling bertabrakan. Otakku menyuruhku untuk memikirkan masa depan dan gunjingan orang jika tahu aku hamil di luar nikah. Sementara naluriku mengingatkan bahwa apa yang sedang ada dalam rahimku adalah makhluk hidup, yang tidak berdosa dan tidak berdaya.

__ADS_1


Tegakah Wulan melakukan tindakan aborsi tersebut? Mampukah Wulan membunuh sesuatu yang tidak berdaya dan bahkan belum bisa dikatakan hidup?


__ADS_2