Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 53 Manuver Pak Ronald


__ADS_3

**Hai para reader sekalian... terima kasih sangat untuk like dan komennya. Termasuk juga buat yang masukkin karyaku ke list favorit, bikin aku makin semangat update πŸ€— Lope lope sekebon pisang punya tetangga πŸ€­πŸ˜…


Terus ikuti kisah Wulan menggapai impian yaa.. HAPPY READING ALL😘😘**


Aku terbengong saat klakson dari sebuah BMW putih berhenti di depan lobby. Karena aku tak kunjung beranjak, kaca mobil di bagian pengemudi menurun membuka.


"Wulan, ayo! Malah bengong" tukas Pak Ronald.


"Eh, oh, iya Pak" ucapku dan bergegas menghampiri BMW putih tersebut.


"Rumah kamu Kutisari 'kan?" tanyanya sambil mulai memajukan persneling mobil.


"Kok tahu, Pak?"


"Ada di CV kamu 'kan?"


"Ooohhh" aku hanya bisa ber-oh ria.


Hening kemudian.


Baru sekitar lima menit mobil melaju, aku memekik panik.


"Pak, berhenti, Pak"


Pak Ronald menepikan mobilnya di deretan ruko sepanjang Jl. Bratang.


"Ada apa?"


"Kunci motor masih saya bawa, Pak. Gimana orang mau anter motor saya nanti? Saya jalan balik ke kantor dulu ya, Pak" ujarku menjelaskan.


"Lah, ngapain? Kita putar balik saja. Lagian kok bisa kunci motornya tetep dibawa"


"Bapak 'kan nyuruh saya nyerahin STNK saja. Saya juga ga kepikiran, Pak" ucapku malu akan keteledoran sendiri tapi masih mencoba mencari kambing hitam.


"Ya sudah, kita putar balik saja"


"Jangan, Pak. Saya jalan balik saja, paling cuma 300 meter ini" aku sungkan, tak ingin merepotkan.


"Hmm, motor biasa dipakai ga di rumah? Kalau Senin minggu depan berangkat kerja bareng saya saja gimana?" tawar Pak Ronald.


"Waduh, jangan Pak" aku semakin sungkan.


"Rumah kita searah. Rumah saya di Makarya Binangun. Saya biasa lewat Kutisari, menghindari macet di Bundaran Waru sama Taman Pelangi" ujarnya menjelaskan.


Aku bingung hendak menjawab apa. Motorku memang jarang dipakai di rumah, kecuali untuk ke kampus (saat aku masih kuliah).


"Senin bareng saya saja, ya. Sekarang kita kemon" Pak Ronald memutuskan tanpa meminta persetujuanku.


"Tapi, Pak..."


Pak Ronald tak mengindahkan protesku dan langsung melajukan mobilnya.


Beberapa saat lamanya kami hanya saling diam.


"Nyalain musik, ya? Biar ga sepi" Pak Ronald mengutak-atik stereo mobilnya saat kami berhenti di perempatan lampu merah.


It might seem crazy what I am 'bout to say


Sunshine she's here, you can take a break


I'm a hot air balloon that could go to space


With the air, like I don't care, baby by the way


Huh (Because I'm happy)


Clap along if you feel like a room without a roof


(Because I'm happy)


Clap along if you feel like happiness is the truth


(Because I'm happy)

__ADS_1


Clap along if you know what happiness is to you


(Because I'm happy)


Clap along if you feel like that's what you wanna do


(Happy by Pharrell William)


Sebuah lagu populer mengalun. Pak Ronald tampak mengetukkan jemarinya mengikuti irama musik.


"Lagunya aku banget. Happy satu mobil sama wanita cantik" seloroh Pak Ronald.


Aku diam, bingung hendak menanggapi apa. Aku hanya bisa tersenyum kikuk lalu mengalihkan pandangan keluar kaca mobil.


"Dulu waktu interview, kamu bilang seorang ibu tunggal?" Pak Ronald bertanya sambil melajukan mobilnya, berkonsentrasi pada jalan.


"Iya, Pak" jawabku singkat.


"Umur berapa anaknya?"


"Tiga tahun"


"Laki-laki atau perempuan?


"Laki-laki"


"Maaf, suaminya...kemana?" Pak Ronald bertanya ragu.


"Ga ada, Pak" aku hanya menjawab singkat-singkat pertanyaan HRD-ku itu.


"Ga ada maksudnya?" alisnya bertaut, bingung.


Iya tahu kalau ibu tunggal itu ga ada suaminya. Maksudku, janda ditinggal mati, atau janda cerai? Sungut Ronald dalam hati.


"Mmm, ya ga ada Pak suaminya. Maaf, privasi" ujarku dengan sirat perasaan enggan.


Aku memang enggan membagi kisahku pada orang lain. Terutama yang baru saja aku kenal seperti Pak Ronald.


Suasana hening kembali. Aku kembali mengamati jalan. Mengitung jumlah kendaraan yang kami lewati dalam hati, untuk membunuh waktu.


Aku tak kunjung menjawab penyataan sekaligus pertanyaan itu. Jujur aku bingung harus menjawab apa.


"Diam berarti iya" Pak Ronald menyimpulkan seenaknya.


"Eh, bukan gitu, Pak" aku refleks menyanggah kesimpulan seenaknya itu.


"Lalu?"


"Saya belum kenal Pak Ronald" kilahku. Alasan klasik tak berdasar, pikirku kecut.


"Maka dari itu kita mendekat, agar saling kenal"


"Saya cuma perempuan dengan satu anak" aku masih mencoba berkelit.


"Memang kenapa kalau kamu perempuan dengan satu anak?" Pak Ronald mencecarku.


"Pria seperti Pak Ronald bisa mendapat yang lebih baik dari saya"


"Pria seperti saya?"


"Tampan, mapan, baik" jawabku menjelaskan.


"Syukurlah kalau itu penilaian kamu terhadap saya" ujarnya nyengir.


"Belokan depan ke kanan, Pak. Lalu ikutin jalan" aku memberi arah.


"Saya serius, Lan" Pak Ronald melanjutkan obrolan yang terputus.


"Pak Ronald ga punya istri atau pacar?" selidikku.


"Mungkin ga, kalau saya punya istri atau pacar tapi bilang pengen dekat sama kamu?"


"Who knows (siapa yang tahu)!" ujarku sambil mengangkat bahu.

__ADS_1


"Hahaha. Memang saya ada tampang playboy ya?" Pak Ronald tergelak dengan pemikiranku.


Aku hanya menjawab dengan senyum kikuk.


"Jangan-jangan penerimaan saya karena nepotisme?" tanyaku spontan, bergidik pada kemungkinan itu.


"Ya enggak lah. Pak Manager Accounting terkesima sama IPK kamu. Dan langsung jatuh cinta pada saat sesi interview" jawab Pak Ronald.


Aku menghembuskan nafas lega.


"Rumah pagar hitam, Pak"


Saat berhenti di depan rumah, tampak Pak Ronald tampak terkesima.


"Besar juga" gumamnya.


"Rumah kost-kost-an, Pak. Usaha orang tua" ujarku menjelaskan.


"Oohh"


"Mari masuk, Pak"


Pak Ronald mengekor di belakangku. Mengangguk hormat pada tamu dan sanak keluarga yang sedang duduk berbincang pada kursi-kursi plastik yang ditata di pelataran.


"Silahkan duduk. Saya panggil Bune dulu, Pak" aku permisi, dan menunjuk sofa ruang tamu yang dipindahkan di teras.


Pak Ronald hanya mengangguk.


"Bune, ada tamu. HRD perusahaan Wulan" ucapku menyalami Bune yang sedang menyuapi buah semangka pada Langit.


"Ibuuuu" ucap Langit turun dari kursi dan memelukku.


Aku menggendongnya dan membawa Langit ke depan menemui tamu kami. Bune mengikutiku ke teras.


"Pak, Ibu saya. Biasa saya panggil Bune. Bune, Pak Ronald. HRD PT. Textile Globalindo"


Mereka berdua saling berjabat tangan.


"Jagoan kecil ini siapa namanya?" tanya Pak Ronald menyapa Langit yang menyembunyikan wajah pada pundakku.


"Yangit, om" jawab Langit malu-malu.


"Saya permisi ke belakang dulu" aku berpamitan dan membawa Langit masuk ke dalam rumah.


"Saya ikut berbela sungkawa, Bu" suara Pak Ronald terdengar saat aku meninggalkan mereka.


Setelah meletakkan Langit di kamar, aku menyiapkan dua cangkir teh hangat dan jajan pasar sebagai suguhan.


Membawanya ke depan. Tampak Pak Ronald sedang mengobrol bersama Bune.


"Silahkan, Pak"


"Makasih" Pak Ronald mengangguk dan tersenyum. Menyesap sedikit teh hangat dan mengambil kue lapis.


Setelah beberapa saat bercengkrama, Pak Ronald pamit untuk kembali ke kantor.


Sepeninggal Pak Ronald, Bune menatapku penuh selidik.


"Ganteng, Nduk" seloroh Bune.


"Ya namanya laki-laki. Kalau perempuan, cantik Bune" aku mengimbangi selorohan Bune.


"Bune lihat dia tertarik sama kamu. Terlihat jelas bagaimana dia memandang kamu"


"Cuma atasan, Bune. Wulan tak mau menjadi lebih dari itu"


"Yakin?" selidik Bune.


"Lihat ke depannya saja, Bune" ucapku diplomatis. Ingin segera mengakhiri percakapan yang membuatku jengah.


Akankah ada romansa antara Wulan dan Ronald Adhiyasa? Apakah Ronald adalah pria tepat yang bisa menyembuhkan rasa trauma Wulan?


********************************************

__ADS_1


~Nepotisme merupakan suatu tindakan seseorang yang memanfaatkan jabatan atau posisi untuk mengutamakan kepentingan keluarga atau kerabat di atas kepentingan umum dengan memilih orang bukan atas dasar kemampuannya tetapi atas dasar hubungan keluarga atau kedekatan.


__ADS_2