
Berkumpulnya keluarga tak dinyana menjadi ajang yang memudahkanku dan Bune untuk mencari orang yang bisa membantu kami di warung bakso.
"Mbak, nanti warung baksonya gimana?" tanya Dendi, keponakan Pakne yang tinggal di Kediri. Dendi baru saja lulus sekolah dan sedang bingung mencari-cari pekerjaan.
"Nanti rencananya mau cari pegawai" jawabku singkat.
"Kalau saya yang jadi pegawainya boleh ga? Cari kerjaan di Kediri susah sekali, Mbak" ujarnya menawarkan diri.
"Kerjanya berat lho. Bangun subuh-subuh, tutup malem-malem. Yakin ta?"
"Saya siap, Mbak!"
"Saya diskusikan dulu sama Bune" ujarku.
Setelah berdiskusi dengan Bune akhirnya kami bersepakat untuk menerima Dendi. Dendi akan tidur di bekas kamar Bune dan Pakne. Sementara Bune tidur bersama aku dan Langit. Bune berkata tak sanggup tidur sendiri.
Acara sampai tujuh harian kematian Pakne berlangsung lancar. Pada hari sabtu, sanak saudara sudah pulang ke rumah masing-masing.
Hari Minggu, kami sudah mulai membuka warung bakso kami. Pelanggan membludak, merindukan cita rasa Bakso Barokah yang khas.
Untunglah tidak komplain dari para pelanggan walaupun pengolahnya sudah ganti tangan. Rupanya Bune sudah sangat mahfum dengan resep-resep Pakne.
Pukul 22.30 akhirnya kami sudah di kamar masing-masing setelah seharian berdagang. Aku sedang memilih pakaian yang akan kukenakan untuk bssok.
Pats! Tiba-tiba listrik padam.
Badanku seketika gemetar hebat.
Bu Nimas sendiri sedang menyelimuti Langit yang telah tertidur.
"Aduh" pekik Bu Nimas. Kaget karena tiba-tiba keadaan menjadi gelap.
Lamat-lamat terdengar olehnya suara rintihan seseorang.
"Jangan, kumohon jangan"
"Lepaskan aku!"
"Kumohon jangan lakukan itu! Maafkan aku, kasihani aku"
Huhuhuhu
"Wulan? Nduk? Kamu gapapa?" tanya Bu Nimas khawatir. Meraba-raba pinggiran ranjang.
Lalu tiba-tiba lampu terang benderang. Rupanya hanya pemadaman sementara.
Langit masih tidur dengan nyaman. Bu Nimas melihat putrinya sedang duduk memeluk lutut di depan lemari. Tatapan matanya nyalang dan kebingungan.
"Wulan, kamu gapapa, Nak?" tanya Bu Nimas khawatir.
Pertanyaan Bune seketika menyadarkanku. Aku berdiri tergesa, berpura-pura merapikan rambut.
"Ah, ng..nggak apa-apa, Bune. Wulan, anu sa..saya baik-baik saja" ujarku gelagapan.
"Ya sudah, ayo kita tidur. Sudah malam" Bune masih menatapku dengan tatapan khawatir campur curiga.
"Kalau butuh teman cerita, bilang sama Bune ya"
Aku hanya mengangguk dengan senyum lemah. Lalu berbaring di sebelah kanan Langit.
Pukul 04.00 jam weker berbunyi. Kami memulai aktifitas pagi. Dendi menggantikan Pakne, bersama Bune ke pasar.
"Masak pindang bandeng sama acar kuning ya, Nduk. Tadi Bune beli bandeng cabut duri di pasar" Bune menyerahkan belanjaan kepadaku. Sementara Dendi membawa keperluan membuat bakso di warung.
"Siap, bos!" selorohku.
__ADS_1
Pukul enam lewat masakan sudah siap, lalu aku menatanya di meja makan.
Aku masuk kamar hendak bersiap berangkat kerja. Tampak olehku Langit menggeliatkan diri.
"Eleuh, eleuh. Anak ibu baru bangun. Tukang mbangkong nih yaa" ujarku sambil menowel hidung.
"Yuk, ibu mandiin" aku menggendong Langit ke kamar mandi dan memandikannya. Setelah Langit selesai, giliranku mandi lalu mematut diri di depan cermin.
Pukul tujuh kurang aku memanggi Bune dan Dendi untuk sarapan. Sedang asyik makan bersama, handphone yang kuletakkan di atas meja makan disebelah piringku berdering.
Nomor tak dikenal.
"Ya, halo. Selamat pagi?"
"Saya sudah di depan rumah kamu" jawab suara pria di seberang sambungan.
"Ini siapa?" tanyaku bingung.
"Saya Ronald"
"Aduh" gumamku sambil menepuk dahi.
"Sebentar ya, Pak" jawabku tergesa.
"Bune, Wulan berangkat dulu. Pak Ronald sudah di depan" aku bergegas menuju kamar, hendak mengambil tas dan sepatu.
"Diajak sarapan dulu Pak Ronald-nya" tukas Bune.
Aku mengindahkan ucapan Bune. Tidak ingin membuat orang lain menunggu terlalu lama.
Tapi saat aku keluar kamar, Pak Ronald sedang berjalan bersama Dendi menuju meja makan.
"Waduh, terima kasih sekali, Bu. Tapi maaf, saya tidak biasa sarapan" tolak Pak Ronald pada Bune.
"Ini Wulan yang masak. Yakin ga pengen cobain masakan pegawainya?" seloroh Bune.
"Silahkan duduk" ucap Bune menunjuk kursi kosong di sebelah Langit.
Aku hanya bisa pasrah. Pergi ke dapur untuk mengambil piring beserta peralatan makan.
"Hhmm enak ya, Bu. Calon istri idaman ini" ucap Pak Ronald dengan mulut sambil mengunyah makanan.
"Om, om. Tata Tatung, talok muyutnya penuh ndak boyeh ngomong" ucap Langit mengingatkan.
Uhuk uhuk, Pak Ronald tersedak. Aku segera menyodorkan segelas air padanya.
"Eh, iya. Maaf yaa" ucap Pak Ronald sambil nyengir pada Langit.
Setelah kami semua selesai makan, aku segera membereskan meja dan mencuci piring.
"Memang Nak Ronald belum punya pasangan?" terdengar olehku suara Bune yang bertanya Pak Ronald. Sementara Dendi sudah kembali ke warung untuk melanjutkan proses persiapan dagang hari ini.
"Saya bujang lapuk, Bu. Padahal tahun depan saya sudah 30 tahun" kata Pak Ronald sambil terkekeh.
"Memang ada kriteria tertentu?" Bune tampak menginterogasi.
"Tidak ada, Bu. Cuma belum ketemu yang cocok saja. Tapi sepertinya udah mulai ketemu nih" seloroh Pak Ronald.
Aku yang sudah selesai mencuci piring segera mengajak Pak Ronald bergegas berangkat.
"Mari, Pak. Saya sudah selesai. Bune, Wulan berangkat dulu" aku mencium punggung tangan beliau.
"Nak ganteng, Ibu kerja dulu ya. Langit yang anteng sama Uti. Oke?" ucapku sambil mencium kedua pipi dan kening priaku itu.
"Yangit pintey, Bu. Mesti anteng talok juayan" celotehnya menggemaskan.
__ADS_1
"Mari, Bu" pamit Pak Ronald.
Beberapa menit kemudian BMW putih sudah meluncur menembus jalan.
Manjil suga eobseodo dwae
(tak masalah jika aku tak bisa menyentuhmu)
aneul sudo eobsodo dwae
(tak masalah meskipun aku tak bisa memelukmu)
Lonely love, yes, I love you
(kesepian cinta, ya, aku mencintaimu)
nae unmyeong cheoreom
(seperti takdirku)
Geudael neukkil su isseoyo
(aku bisa merasakanmu)
(T Yoon Mirae - Touch Love, Ost The Master's Sun)
Sebuah lagu mengalun dari stereo set BMW yang kutumpangi. Sebuah soundtrack drama korea populer tahun lalu yang pernah kutonton ketika senggang.
Tak terasa aku ikut bersenandung.
"Suka drakor?" tanya Pak Ronald sambil tersenyum.
"Eh, iya. Lumayan, Pak" jawabku singkat.
"Saya juga suka. Tapi bukan yang ceritanya terlalu menye-menye gitu. Ini salah satu drakor favorit. Gong Hyo Jin - Seo Ji Sub" ujarnya menjelaskan.
"Iya, Pak" jawabku sambil manggut-manggut.
"Tahu nomor HP saya dari mana, Pak?" lanjutku.
"CV kamu" jawabnya singkat.
"Oohh"
"Nanti langsung ikut saya ke ruangan. Biar saya serah terima sama Pak Hermawan nanti"
Sampai di parkiran, aku langsung keluar dari BMW pak Ronald. Beberapa karyawan yang datang bersamaan dengan kami tampak keheranan menatapku yang keluar dari dalam mobil Pak Ronald.
Aku berjalan menjajari Pak Ronald. Beberapa pasang mata menunjukkan sorot mata bertanya-tanya.
Saat di lift tak terhindarkan lagi, bisik-bisik dan kasak kusuk mulai terlihat.
"Sapa tuh?"
"Ceweknya Pak Ronald?"
"Cakep pisan (juga)"
Begitulah bisik-bisik yang terdengar sepanjang kami berada di lift. Aku yang mendengar hal tersebut merasa risih, dan hanya mampu menggosok tengkuk dengan gugup.
Aduh, masa hari pertama kerja sudah jadi bahan gosip sih?? Pikir Wulan tak berdaya.
**********************************************
~*mbangkong merupakan bangun tidur saat matahari sudah terang (nyaris siang). Dalam bahasa orang Surabaya dan sekitarnya bangun di atas jam tujuh pagi bisa dikatakan sudah siang.
__ADS_1
~menye-menye sebangsa sikap melankolis berlebihan*