Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 81 Saingan (Lain) Muncul


__ADS_3

**Kemarin Senin, yak? yang masih punya remahan vote voucher, author boleh dibagi dong 🤭 jangan lupa, jempolnya dipencet juga yaa... Tentyuuu 😘😘**


"Eheemm" Mas Ronald berdehem geli. Menyadarkan dua pria yang saling melemparkan tatapan tajam. Mereka akhirnya saling melepas genggaman tangan.


"Lembur, Mas?" tanyaku basa-basi. Sudah tahu lembur, masih nanya. Aku mengomeli diriku sendiri dalam hati.


"Iya" jawab Mas Adit singkat.


Diva mulai mencolek-colek lenganku. Penasaran dengan pria tinggi dan atletis didepannya. Matanya berbinar melihat ketampanan Mas Adit.


"Dek Diva sayang, liatnya kesini aja ya?" Mas Ronald yang berdiri di sebelah istrinya, merengkuh wajah Diva dan menolehkan ke wajahnya sendiri.


Bune menutup mulutnya, menahan tawa. Aku melengos, melihat-lihat sekitar.


"Mau pada kemana?" tanya Mas Adit.


"Mau ke Taman Dayu, Om. Mau berenang. Om, ikut ya? Om Adit ajarin Langit renang" cerocos Langit.


Haduh, ini anak. Malah main ajak aja. Ga tahu lagi ada yang perang syaraf apa?!


"Om Brika juga bisa ngajarin Adit renang, lho!" timpal Brika tak mau kalah. Tapi Langit tak menyahuti.


Langit memang seperti itu. Tak bisa langsung dekat dengan orang yang baru ditemuinya. Sepertinya Mas Adit adalah pengecualian.


"Iya, ikut aja Mas" Diva tersenyum cerah.


"Mobilnya cukup?" tanya Mas Adit memastikan.


"Cukup, Mas. Temenin brika di belakang. Kasian dia di belakang ga ada temen ngobrol" kembali Diva yang menjawab sambil tersenyum penuh arti.


"Ayo, deh. Ga mau mengecewakan jagoan satu, nih" Mas Adit akhirnya memutuskan.


Setelah pamit pada Pak Adi, kami akhirnya berangkat.


Mas Ronald menyupiri kami. Diva dan Renila di depan. Aku, Langit dan Bune di bangku tengah. Sementara Mas Adit dan Brika di belakang. Mereka duduk saling berjauhan. Masing-masing mepet ke ujung yang berlainan, berusaha mengambil jarak sejauh mungkin.


Selama beberapa menit perjalanan, tak ada yang berbicara. Langit sibuk dengan gadgetnya sendiri. Diva meninabobokan Renila yang sudah mulai rewel ingin tidur siang. Hanya musik random yang terdengar dari stereo. Pop, ballad, RnB, rock, bahkan sesekali dangdut.


"Lagu-lagu kamu random banget, Lan. Segala ada" komentar Mas Ronald saat mendengar lagu dangdut 'Jaran Goyang'


"Hahaha. Lagu kalau aku lagi stress itu, Mas" jawabku membela diri.


Mas Ronald langsung menggantinya. Sebuah lagu korea mengalun.


"Mending ini" gumam Mas Ronald


"Lan, gimana urusannya Deni? Aku belum sempet ke rumah sakit lagi" tanya Mas Adit dari bangku belakang.


"Tadi aku mampir ke rumahnya, Mas. Bilang sama ART-nya. Selanjutnya udah bukan urusan kita lagi" jawabku menyandarkan kepala di pintu mobil agar bisa melihat Mas Adit yang duduk di belakang kursiku.


"Urug tanah dikit lagi selesai. Kalau ga ada kejadian luar biasa kaya kemarin, minggu depan kita udah bisa pasang pondasi" Mas Adit menjelaskan progress pembangunan pabrik.


"Atur aja, Mas. Pokoknya bisa sesuai target. Mas Adit yang lebih ngerti kalau masalah itu"


"Kapan proyek selesai, Lan?" tanya Brika tak mau kalah. Mencari topik obrolan denganku.


"Target enam bulan selesai. Kalau molor, mungkin tujuh atau delapan bulan. Setelah itu, mesin-mesin jahit dan lain-lain masuk"


"Abis itu kamu balik Surabaya?" tanya Brika penuh harap.


"Belum tahu. Tunggu keputusan Pak Reza selaku pimpinan tertinggi"

__ADS_1


Selama aku berbincang dengan Mas Adit, Brika terlihat menatap Mas Adit tajam. Giliranku menanggapi Brika, Mas Adit menatap Brika garang. Aku jadi merinding dibuatnya.


Bukankah belum pasti


Kamu juga kan jadi


Dengan dirinya


Dia yang menentukan


Apa yang kan terjadi


Tak usah mengaturku


Dia untukku, bukan untukmu


Dia milikku, bukan milikmu


Lihatlah nanti, lihatlah saja


Biarkan aku mendekatinya


Kamu, tak akan mungkin, mendapatkannya


Karena dia, berikan aku


Pertanda juga


Janganlah kamu banyak bermimpi, ooh


(Dia Milikku~Yovie & Nuno)


Diva terbahak mendengar lirik lagu itu.


"Cocok apanya, Nak Diva?" Bune berseloroh menanggapi.


"Ada yang lagi rebutan, tuh" sindir Diva.


Mas Ronald tekekeh. Brika dan Adit saling membuang muka, menatap ke arah jalan.


Aku menjambak pelan rambut Diva yang ada di depanku.


"Malu-maluin aja, sih!" bisikku pada Diva.


Diva hanya terkekeh.


Setelah empat puluh menit berkendara akhirnya kami sampai di Taman Dayu Waterpark.


Mas Adit dan Brika berebut ingin membayarkan tiket untukku, Langit dan Bune. Aku memutar bola mataku kesal.


"Sudah, bayar sendiri-sendiri semua!" ucapku kesal. Aku lalu menyerahkan uang tiket bagianku kepada Mas Ronald.


Mereka berdua tampak mengkerut.


Setelah Mas Ronald membayar tiket masuk, kami semua masuk ke dalam waterpark. Air kolam berwarna biru tampak melambai-lambai agar kami segera menceburkan diri ke dalamnya.


Renila dan Langit tampak bersemangat. Diva langsung menggantikan baju pada Renila dengan dibantu Bune. Para lelaki sudah pergi terlebih dahulu untuk berganti pakaian.


Setelah Mas Ronald kembali, aku dan Diva segera berganti pakaian renang.


Saat aku dan Diva kembali, para pria sedang menungu kedatangan kami. Bune memilih menjaga barang dan tidak ikut berenang.

__ADS_1


Diva mengenakan pakaian renang model one piece warna biru tua. Aku menggunakan tankini model racer back hitam, dan celana berbahan lycra yang hanya menutup separuh pahaku.


Padahal menurutku penampilan Diva lebih seksi, dengan perut yang sedikit menyembul akibat kehamilannya. Tapi tak ada yang melirik Diva.


Dua pria sedang menatapku tak berkedip, membuatku rikuh.


Jika tidak sedang rikuh mungkin aku akan mengagumi penampilan kedua pria itu. Mas Adit dan Brika sama-sama berotot, tapi mas Adit lebih berisi. Otot bisep, trisep, dan otot-otot di dada dan perutnya terbentuk sempurna.


Brika juga berotot, tapi lebih sempurna Mas Adit. Kulit Mas Adit yang kecoklatan tampak eksotis dibanding kulit Brika yang putih.


Hei, kenapa pikiranku jadi melantur begini! hardikku pada diri sendiri.


Dimana-mana pakaian renang ya press body. Masak iya aku renang pakai gamis. Aku bersungut-sungut dalam hati saat melihat Mas Adit dan Brika yang menatapku lekat.


"Woi, kedip, woi!" Diva tergelak melihat Mas Adit dan Brika.


"Ayo, Langit ibu yang ajari renang" ajakku pada Langit.


"Ga mau. Sama Om Adit aja. Ibu 'kan cuma bisa renang gaya batu" ledek Langit.


"Eh, menghina yaaa" ujarku. Tapi Langit tak peduli, malah menyeret Mas Adit yang masih sibuk menatapku.


"Ayo, balapan!" ajak Mas Ronald sambil merangkul leher Brika.


Aku dan Diva berenang di kolam yang lebih dangkal bersama Renila. Kami bermain air dengan riang.


Setelah hampir satu jam berenang, Renila tampak mulai kedinginan.


"Lan, aku ajak Nila udahan dulu, ya. Udah keriput semua tangannya"


"Oke" jawabku singkat.


Aku yang masih belum puas, menuju kolam yang lebih dalam. Tiga kali bolak balik gaya bebas cukup mebuatku lelah.


Aku duduk di pinggiran kolam untuk melepas lelah. Aku lihat dari seberang kolam lain, Langit melambai kepadaku. Aku membalas lambaian tangan priaku itu.


Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang.


Aku menoleh, seorang pria menjulang berdiri di depanku. Aku memicingkan mata karena sinar matahari menyilaukan pandanganku.


"Ryo?" tanyaku sambil berdiri.


"Hai, apa kabar" tanya Ryo.


"Baik. Kamu? Sama siapa?" aku mengulurkan tangan hendak menjabat tangannya.


Tapi Ryo justru menarik tanganku lalu memelukku. Sontak aku meronta.


"Aku rindu" kata Ryo singkat.


"Lepas! jangan kaya gini" sergahku padanya.


Dari kejauhan Adit dan Brika bisa melihat Wulan yang sedang dipeluk oleh seorang pria.


"Om ke ibu kamu, dulu. Kayanya ibu kamu lagi butuh bantuan" Adit memicingkan mata. Adit bisa melihat bahwa Wulan tidak membalas pelukan pria itu, tapi justru terlihat ingin menjauhkan tubuh pria itu.


Adit dan Brika sama-sama bergegas mendekati Wulan.


"Ryo, tolong!" Wulan sudah hampir memekik.


Tapi Adit lebih cepat sampai di tempat Wulan. Adit menarik kasar lengan Ryo.

__ADS_1


"Dia sudah minta lepas" hardik Adit.


Adit merasa kesal. Satu belum bisa disingkirkannya. Muncul satu lagi yang seenaknya main peluk!


__ADS_2