
Seperti yang telah direncanakan, aku dan ibu berangkat satu minggu setelah pengambilan ijazah. Kami memilih naik motor, karena motor tersebut nantinya akan aku gunakan saat di Surabaya nanti. Disamping itu, tak banyak barang yang kami bawa. Masing-masing satu tas bepergian ukuran besar yang hanya berisi baju-baju kami.
Saat mengunci pagar, aku memandang sejenak rumah yang selama 18 tahun aku tempati. Ada rasa haru saat akan meninggalkannya. Kupandangi sejenak suasana desaku. Kenangan manis dan pahit aku alami disini.
Aku tak akan kembali sebelum aku sukses. Aku akan membuat kalian membayar luka-luka yang kalian torehkan kepadaku. Janjiku dalam hati.
Perjalanan Pasuruan-Surabaya tak terlalu lama, tak sampai dua jam perjalanan. Aku mengantar ibu sampai Bandara Juanda. Tak ada pelukan perpisahan layaknya ibu dan anak yang akan berpisah. Karena begitulah ibuku yang tidak terlalu bisa mengekspresikan kasih sayang. Setelah ibuku masuk ke dalam bandara, aku melanjutkan perjalananku.
Berbekal surat penerimaanku, aku mencari universitas tempatku akan melanjutkan pendidikan. Setelah beberapa kali bertanya pada orang yang kutemui di jalan, akhirnya aku sampai ditempat tujuan.
Tampak olehku sebuah bangunan warna putih, bertingkat dan dengan gaya arsitektur yang rumit. Aku memasuki gerbang kemudian memarkirkan motorku pada area parkir yang tersedia.
"Pak, kalau calon maba mau daftar ulang gimana ya?" tanyaku pada seorang tukang parkir.
"Mbak masuk aja ke gedung itu, nanti naik ke lantai dua", jawabnya sambil menunjuk gedung yang dimaksud.
"Makasih, Pak"
Aku memasuki gedung putih yang ditunjuk oleh bapak tadi. Sudah banyak calon-calon mahasiswa yang mengantri untuk melakukan daftar ulang. Aku mengambil nomor antrian, dan menunggu pada bangku yang tersedia.
Aku sedang sibuk mengamati interior kampus. Tak sadar ada seseorang yang duduk disebelahku.
"Ehem", suara seorang pria disebelahku.
Aku sedikit terlonjak, lalu menoleh ke arahnya. Seorang pria etnis tionghoa duduk disebelahku. Aku hanya tersenyum ramah dan mengangguk pada pria tersebut.
"Daftar ulang ya, mbak?" tanyanya.
"Iya mas, eh, ko", ujarku gelagapan. Ini adalah pertama kali aku berinteraksi dengan seorang pria berkulit putih dan bermata sipit.
"Ambil jurusan apa mbak?" tanyanya lagi
"Akuntansi bisnis", jawabku singkat.
"Wah, samaan dong", ujarnya semangat.
"Hmmm", aku hanya bergumam menanggapi.
__ADS_1
"Boleh kenalan?" tanyanya sambil mengulurkana tangan.
"David"
Aku menerima uluran tangan pria bernama David tersebut lalu menyebutkan namaku.
"Salam kenal ya. Beruntung ketemu teman satu jurusan pas daftar ulang. Teman satu jurusan pertama nih, cakep lagi" seloroh David.
Aku hanya tersenyum. Tepat pada saat itu nomor antrianku dipanggil.
"Aku duluan. Nomor antrianku sudah dipanggil", pamitku.
Tanpa menunggu responnya aku berlalu pergi. Aku merasa tak nyaman. Entah apa alasannya.
Saat melakukan proses daftar ulang, aku menanyakan hal-hal penting pada petugas. Seperti peraturan kampus, jadwal kuliah, gedung jurusan Akuntansi Bisnis, dan juga mengenai kondisiku.
"Bu, mahasiswi hamil apa masih boleh kuliah?” tanyaku.
"Adik hamil?", tanyanya heran.
Aku mengangguk sebagai jawaban.
"Terima kasih untuk penjelasannya, Bu", ujarku tersenyum.
Setelah melakukan proses daftar ulang aku berniat bergegas mencari kost-kost-an. Kulihat David sedang duduk di depan petugas daftar ulang, jadi aku memutuskan untuk langsung pergi tanpa pamit. Ada perasaan lega karena aku tak perlu berinteraksi lagi dengan pria tersebut.
Saat aku tiba diparkiran, aku langsung menuju tempat motorku terparkir. Aku keluar gedung kampus saat tengah hari. Perutku terasa lapar.
Aku melajukan motorku perlahan, sambil mengamati rumah-rumah disekitar kampus yang sekiranya menerima kost untuk putri. Sebenarnya tepat di depan kampus ada gedung apartemen, tapi aku yakin biaya sewanya pasti mahal. Uang dari mana aku bisa menyewa apartemen.
Aku menemukan sebuah warung bakso sekitar 200 meter dari kampus. Aku berhenti dan memasuki warung tersebut dan memesan semangkuk bakso dan lontong beserta es teh.
Di seberang jalan terdapat rumah besar bertingkat dan halaman yang asri karena banyak pot-pot berisi tanaman bunga-bungaan berbagai jenis. Papan kecil tergantung pada pagarnya. Papan tersebut bertuliskan "Terima Kost Putri". Aku berniat mencoba bertanya pada kost tersebut setelah selesai makan.
Selesai makan dan membayar, aku langsung menyebrang jalan. Aku menggoyangkan lonceng yang tergantung pada pagar rumah tersebut. Beberapa menit menunggu tidak ada penghuninya yang keluar. Justru sebuah tepukan pada bahuku dari arah belakangku.
"Nyari kost-an, Dik?” tanya seorang ibu paruh baya padaku. Aku mengenalinya sebagai ibu penjual bakso diwarung tempat aku makan tadi.
__ADS_1
"Eh, iya Bu", jawabku.
"Saya ibu kost-nya, mari masuk. Kita ngobrol di dalam", ajak ibu tersebut padaku.
"Panggil aja Bu Nimas. Silahkan duduk", kata Bu Nimas saat kami telah sampai di ruang tamu rumah kost.
"Ada tiga kamar yang lagi kosong. Dua kamar VIP, satu kamar biasa. Kalau kamar VIP kamar mandi dalam, tempat tidur spring bed dan menggunakan AC. Tarifnya Rp. 800.000/bulan. Sementara kamar biasa ada di lantai dua. Kamar mandi umum, disediakan 3 kamar mandi di lantai atas. Kipas angin, lemari, dan kasur busa. Ditiap lantai juga disediakan dapur dan lemari es bersama. Sewanya Rp. 500.000/bulan" kata ibu kost menjelaskan.
"Sepertinya saya mau yang kamar biasa aja Bu. Tapi, apa disini menerima penghuni yang tengah hamil?" tanyaku.
Bu Nimas mengangkat kedua alisnya dengan heran.
"Maksudnya, kamu sedang hamil? Maaf, suami kamu dimana?"
"Iya Bu. Tapi maaf, saya hamil karena diperkosa" jawabku. Aku menunjukkan surat dari kepolisian beberapa waktu lalu. Surat yang telah kurobek itu kusatukan kembali karena merasa bahwa suatu saat aku akan membutuhkannya. Dan inilah saatnya.
Setelah membaca sejenak surat tersebut, lalu Bu Nimas menatapku dengan sorot iba.
"Ya, ampun, Nak. Kasihannya dirimu. Dari laporan kamu, empat orang yang melakukannya?", tanya Bu Nimas dengan suara tercekat.
Akhirnya aku menceritakan singkat kejadian yang menimpaku dan kondisiku saat ini pada Bu Nimas. Aku juga sedikit bercerita tentang rencanaku ke depan. Bahwa aku akan mencari kerja sambilan dan menyewa baby sitter untuk menjaga anakku setelah anak ini lahir.
"Ibumu tega sekali meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini. Kalau ibu yang menjadi orang tua kamu, tentu ibu tak akan meninggalkanmu. Ibu ini sudah puluhan tahun menikah, tapi sampai saat ini belum dikaruniai momongan. Mungkin ini jalan Tuhan buat kamu dan Ibu, Nak. Kamu boleh tinggal gratis disini. Nanti kalau anak kamu sudah lahir, Bu Nimas boleh bantu ngemong anak kamu?" ujar Bu Nimas.
"Aduh, Bu, tidak usah. Sungguh saya tidak bermaksud apa-apa. Saya hanya ingin sedikit maklum dan pengertian dari Ibu dengan kondisi saya yang saat ini hamil tanpa seorang suami" jawabku sungkan.
"Tidak apa, Nak. Sungguh. Kalau kamu mengijinkan Ibu juga ingin menjadi orang tua angkat kamu. Mungkin ini memang takdir Tuhan mempertemukan kita"
Aku terharu mendengar penuturannya. Akupun akhirnya bersedia dengan tawaran tinggal gratis di rumah kost tersebut dengan syarat, Bu Nimas tak perlu lagi menyewa asisten rumah tangga untuk bersih-bersih. Aku yang akan membersihkan kost tersebut setiap hari.
Bu Nimas menunjukkan kamar yang akan aku tempati. Kamar berukuran 3x4 meter yang bersih dan nyaman, terletak tepat di sebelah tangga. Bu Nimas mempersilahkan aku untuk beristirahat, kemudian pamit untuk membantu suaminya menjaga warung baksonya.
Wulan merasa semua hal yang ia lakukan hari ini dimudahkan oleh Tuhan. Apakah ini ganjaran atas keikhlasan Wulan menerima cobaan dalam hidupnya? Hanya Tuhan yang tahu.
****************************
Hai-hai para reader baik hati yang sudah berkenan membaca novelku. Othor ucapin terimakasi sebanyak-banyaknya, sebanyak bintang di langit 🤗
__ADS_1
Mohon maaf untuk update yang terlambat hari ini, karena seharian sibuk sama anak yang mulai pertemuan tatap muka. Tapi pasti selalu diusahain untuk update setiap harinya
Ngingetin juga untuk like dan komennya ya para reader kesayangan 😘😘🤗🤗