Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 61 Salam dari Deni


__ADS_3

Dengan setengah memaksa aku menarik tanganku yang masih digenggam oleh pria yang mengaku bernama Aditya Perdana.


"Maaf, sepertinya ini pertama kali kita bertemu" ujarku dengan sedikit ketus.


"Wajahmu tampak tidak asing. Kita pasti pernah bertemu sebelumnya" ucapnya yakin.


Aku tak menanggapi ucapannya.


"Ada kendala?" tanyaku.


"Tidak ada. Kecuali seorang pria tua aneh yang sering datang kemari dengan berkacak pinggang disamping mobilnya. Tapi tak melakukan apapun"


Aku mengangkat alisku.


"Pria tua aneh?" tanyaku kembali.


Adit hanya mengangguk. Aku tak mempunyai gambaran tentang pria tua aneh yang dimaksud.


"Sampai dimana progressnya, Pak?"


"Panggil saja, Mas. Aku belum setua itu. Lagipula sepertinya usia kita tak terpaut jauh" pinta pria itu.


"Kurang sopan rasanya, Pak" elakku.


"Justru tidak sopan memanggil pria yang usianya tidak terpaut jauh dengan sebutan 'pak'. Saya 33 tahun, usiamu pasti tak lebih dari 25 tahun" jelasnya.


"29 tahun" aneh. Seharusnya tak perlu aku menyebutkan usiaku padanya.


"Hhmmm" dia hanya bergumam.


"Baiklah kalau itu keinginan Anda. Mas Aditya, sudah sejauh mana progressnya?" tanyaku kembali ke topik pembicaraan.


"Adit. Mas Adit saja"


"Seperti yang bisa kamu lihat, kami sedang menguruk lahan bekas sawah seluas 3 hektar ini. Baru jalan seperempatnya karena kami baru mulai bekerja sepuluh hari yang lalu" ujar Mas Adit menjelaskan.


Aku hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasannya.


"Kalau saya mulai bekerja nanti, dimana ruangan kerja saya?" tanyaku. Aku tak melihat bangunan lain selain bangunan yang berukuran 4x5 m meter ini.


Hanya ada dua meja dan dua kursi yang saling berjejer dengan jarak 50 cm antara satu meja dengan meja yang lain.


"Itu mejamu" tunjuknya pada meja yang diatasnya hanya terdapat seperangkat printer dan masih tampak rapi. Berbanding terbalik dengan meja di sebelahnya yang tampak banyak kertas bertebaran diatasnya.


"Tak ada ruangan lain?" tanyaku merasa rikuh.


"Tak ada" jawabnya singkat.


"Kamu mau dibuatkan ruangan tersendiri?" tawarnya.


"Sudahlah, tidak perlu. Aku hanya merasa kurang privasi jika tidak memiliki ruangan sendiri" Entah bagaimana tanpa kusadari aku tertular gaya bicaranya ber 'aku-kamu'.


"Itu mejamu?" tanyaku tampak ngeri melihat meja yang berantakan.

__ADS_1


Mas Adit mengangguk.


"Beginilah aku kalau sedang bekerja. Tapi setelahnya akan aku rapikan sendiri" ujarnya acuh.


"Dan jangan pernah sekali-sekali menyentuh atau mencoba merapikan mejaku. Aku akan bingung jika ada barangku yang tidak terdapat pada tempat dimana aku biasa meletakkannya" Mas Adit mulai memberi aturan main bekerja bersamanya.


Aku hanya mengangguk mematuhi.


"Maaf, mau minum kopi atau teh?" tawarnya padaku setelah sekian lama berbincang.


Aku mendengus lirih.


"Tidak, terima kasih. Aku hanya ingin mampir" aku menolak tawarannya.


"Jam berapa para pekerja akan pulang?"


"Kami bekerja tiap hari Senin sampai Sabtu dari pukul delapan pagi sampai pukul empat sore. Tapi aku biasa lembur sampai malam-malam." jawab Mas Adit.


"Baik. Kalau begitu saya permisi sekarang. Sudah sore" ucapku pamit.


Aku beranjak menuju mobilku dengan Mas Adit yang mengekor untuk mengantar kepergianku.


"Pria tua aneh itu datang lagi. Aku kenal betul dengan mobilnya" tukasnya sambil menunjuk sebuah mobil bermodel hatchback berwarna merah dengan dagunya.


Aku tak punya gambaran tentang siapa pemilik mobil itu. Aku tak mau ambil pusing, dan langsung memencet key remote mobilku.


"Aku permisi, Mas. Besok aku sudah aktif kerja disini" ujarku sambil membuka pintu mobilku.


Aku berkendara santai menuju rumah. Sebelumnya berkeliling kota hendak mencari menu makan malam.


Beberapa saat mengamati rumah dari luar pagar, pria tersebut tak berniat masuk atau mampir. Baru saja hendak berbalik, suara seorang anak kecil mengejutkannya.


"Om siapa?" tanya Langit pada pria yang berdiri di depan pagar rumahnya tersebut. Langit telah turun dari sepeda BMX birunya.


"Om teman yang punya rumah ini" jawab pria tersebut dengan senyum sarkas.


"Teman Ibu?" tanya Langit


"Ibumu siapa?" pria tersebut balik bertanya.


"Ibu Langit namanya Wulan" jawab Langit.


Senyum semakin terkembang di wajah pria tampan tersebut.


"Masuk dulu, Om. Ibu sedang pergi" ujar Langit sopan.


"Mungkin lain waktu" jawab pria tersebut.


"Salam untuk ibumu, ya" tukas pria itu sambil mengacak rambut Langit sesaat.


Langit tampak tidak suka dan menepis tangan pria yang tidak dikenalnya tersebut dari kepalanya. Pria tersebut malah tergelak atas penolakan Langit.


"Kau persis ibumu" kata pria itu dengan seringai yang membuat dahi Langit mengernyit.

__ADS_1


"Tapi om siapa?" tanya Langit kembali. Ingin mengetahui identitas pria yang mengaku teman ibunya.


"Sini om bisikin" pinta pria tersebut yang telah menunduk, hendak mendekatkan wajah pada telinga Langit.


Langit menurut. Sesaat kemudian, dahi Langit semakin mengernyit karena tak mengerti. Tak paham maksud kata-kata pria yang dibisikkan di telinganya.


Pria tersebut ngeloyor pergi meninggalkan Langit yang masih mengernyit. Meninggalkan Langit dengan segudang tanya. Langit akhirnya masuk dan berjanji menyampaikan salam dari pria itu untuk Ibunya.


Sudah hampir maghrib saat aku memarkir mobilku di halaman rumah. Pintu rumah terbuka, dan Langit tampak asyik menikmati sepiring pisang goreng sambil menonton TV di ruang tamu.


Aku melepas sepatu dan meletakkannya pada rak.


"Uti mana?" tanyaku pada Langit dan mengecup puncak kepala anakku.


"Di dapur. Lagi goreng pisang" jawab Langit sambil mengunyah pisang goreng dan meletakkan punggung tanganku di dahinya


"Hayo, mulut penuh ga boleh ngomong" ujarku memperingatkan.


"Maaf, Bu" ujarnya sambil nyengir setelah menelan makanan yang ada dimulutnya.


"Ibu bawa apa?" tanyanya melihat bungkusan yang aku bawa.


"Penyetan bebek, buat makan malam" jawabku sambil berlalu dan menuju dapur.


Harum vanili tercium saat aku mendekati dapur. Aku mendekati Bune yang sedang memasukkan adonan tepung dan pisang ke dalam wajan.


"Bune" aku meraih tangan beliau dan menyalaminya.


"Eh, sudah pulang, Nduk?"


Aku mencomot sepotong pisang goreng dari piring di sebelah kompor.


"Wulan mandi dulu ya, Bune. Terus kita makan malam"


Pukul tujuh kami bertiga telah duduk di meja makan. Aku sedang mencabik sepotong daging bebek saat Langit berkata.


"Bu, tadi ada teman ibu titip salam"


"Teman ibu?" tanyaku heran. Tak bisa menebak siapa kira-kira orang itu.


"Om-om gitu" kata Langit.


"Terus dia bilang dia siapa?" tanyaku.


Langit menggeleng.


Aneh.


"Terus titip salam apa?"


"Salam kangen. Dari pria yang pertama tahu bagaimana rasanya seorang Wulan. Gitu katanya"


"Dia juga bilang seharusnya Langit kenal siapa om-om itu" jawab Langit dengan polos, tanpa menyadari peribahan ekspresi sang Ibu.

__ADS_1


Sementara Wulan, tubuhnya mulai gemetar dan wajahnya memucat. Pria brengsek itu! Beraninya dia kemari dan mendekati anaknya.


__ADS_2