
**Mohon maaf untuk para reader sekalian atas keterlambatan update dan hanya bisa up 1 bab saja untuk hari ini. Seharian ini sibuk jadi guru les online utk ponakan yg jauh dimatoš¬
Happy reading all**
Kami saling pandang beberapa saat lamanya.
"Ngaco, ah!" Aku segera mengalihkan pandangan, tak betah berlama-lama ditatap sedemikian intens oleh Mas Adit.
Damned! Adit memaki dalam hati.
Kemana rasa bersalahmu terhadap Anin dan Aluna?! Tak sepantasnya kau berkata demikian pada gadis lain sementara kau harus menjalani hukumanmu seumur hidup atas kesalahanmu pada Anin dan Aluna!
Adit memaki dan mengingatkan dirinya sendiri. Menyesali kebodohan yang baru saja dilakukannya.
"Mas, coba baca nih penawaranya!" pintaku pada Mas Adit, berusaha memecah kekakuan.
Mas Adit membaca kertas tersebut lalu menatapku heran.
"Ini perusahaan atau badan amal?"
"Bos aku baik 'kan? Makanya aku betah kerja sama Pak Reza" ucapku membanggakan Dirut-ku itu.
"Kalau gini sih, udah pasti pada setuju mereka. Kalau aku sih, iyes" selorohnya menirukan juri salah satu ajang pencarian bakat.
"Besok temani ke rumah Pak Darma, ya?" pintaku.
"My pleasure" jawab Mas Adit.
Hari Sabtu tiba.
And all those things I didn't say
Wrecking balls inside my brain
I will scream them loud tonight
Can you hear my voice this time?
This is my fight song
Take back my life song
Prove I'm alright song
My power's turned on
Starting right now I'll be strong
I'll play my fight song
And I don't really care if nobody else believes
'Cause I've still got a lot of fight left in me
(Fight Song ~ Rachel Platten)
__ADS_1
Ya inilah perjuanganku. Inilah puncak perjuanganku. Ketika semua orang dan keadaan memaksaku untuk memilih jalan yang tampak mudah, tapi aku memilih jalan yang terjal dan berliku.
Dengan hanya bermodal keyakinan akan apa yang menurutku benar, aku membuktikan pada diriku sendiri. Aku bisa menunjukkan pada mereka yang telah berbuat semena-mena terhadapku, bahwa mereka telah memilih lawan yang salah.
Pukul 09.55 aku sudah memarkirkan mobilku di halaman rumah Pak Darma. Ada beberapa motor yang juga terparkir di halaman rumah itu. Aku yakin itu adalah motor para "juri" yang akan membantu mengambil keputusan.
Tok Tok. Aku mengetuk pintu rumah Pak Darma.
Seorang wanita paruh baya membuka pintu. Aku yakin wanita itu adalah asisten rumah tangga, karena Pak Darma sudah menduda sejak Deni masih kecil.
"Silahkan masuk, Mbak. Sudah ditunggu" kata ibu tersebut.
Aku mengangguk sopan, dan Mas Adit mengekoriku.
Di sofa ruang tamu, sudah duduk Pak Darma dan Deni, lima orang yang juri, dan juga seseorang dengan pakaian dinas warna coklat. Setelah perkenalan, ternyata orang tersebut adalah Kepala Desa.
Kabar pengerjaan proyek yang didemo pada hari Minggu kemarin, ternyata sampai didengar oleh perangkat desa ini.
Setelah perkenalan dan penjelasan singkat, akhirnya aku mengeluarkan selembar nota kesepakatan yang telah aku buat.
"Nota kesepakatan ini saya buat dengan benar-benar memikirkan kesejahteraan Desa Karang Gayam. Saya lahir dan dibesarkan selama 18 di desa ini. Saya paham betul permasalahan yang banyak dihadapi oleh warga desa ini. Setelah hampir 11 tahun merantau ke Surabaya, saya kembali untuk membawa kemaslahatan untuk desa ini"
"Silahkan dibaca dan dipahami. Saya harap Anda sekalian mampu memberikan keputusan yang terbaik" ujarku sambil memberikan tiga lembar kertas, dengan isi yang sama pada tiap lembarnya.
Enam orang berhimpit-himpitan, 2 orang membaca selembar kertas. Sementara Pak Darma dan Deni menanti dengan sorot angkuh.
Sikap Pak Naryo menjadi salah tingkah setelah membaca nota kesepakatan tersebut. Pak Naryo mengangsurkan kertas tersebut kepada Pak Darma.
Aku memperhatikan wajah mereka berdua, khususnya Pak Darma. Wajahnya berubah-ubah warna. Dari pucat, kemudian kebiruan lalu berubah kemerahan. Jika tidak sedang menjaga image, tentu aku akan tertawa terbahak-bahak.
Sementara Deni meremat kertas yang ada ditangannya.
"Siapa yang saya rampok, Pak?" ujarku polos, pura-pura tidak mengerti.
"Pokoknya proyek itu harus dihentikan!" bentak Pak Darma. Tak sanggup berkata-kata lagi.
"Keputusan ada di tangan dewan juri" ucapku santai.
"Silahkan bapak-bapak sekalian membuat penilaian. Terkhusus Pak Kades, apa bisa Bapak yang menandatangani nota kesepakatan ini. Saya rasa jabatan Anda dapat merepresentasikan seluruh aspirasi warga Desa Karang Gayam" ujarku kalem.
"Tawaran dari perusahaan Mbak Wulan, sangat-sangat bermanfaat bagi desa ini. Saya pribadi akan dengan senang hati menandatangani nota kesepakatan ini" ucap Pak Kades bersemangat.
"Saya setuju dengan Pak Hadi" ternyata Pak Kades tersebut bernama Pak Hadi.
Tiga orang yang lain turut membeo. Sementara Pak Naryo hanya bisa bungkam. Pak Darma yang geram langsung masuk ke kamarnya. Sementara Deni tetap duduk dengan wajah murka dan masygul.
Setelah nota kesepakatan ditandatangani, aku dan Mas Adit pamit pergi.
"Jadi proyek sudah bisa dilanjut 'kan, bapak-bapak sekalian?" tanyaku dengan senyum paling menawan.
"Bisa, Mbak. Bisa. Saya jamin, tidak akan ada gangguan dari warga setelah ini. Semoga pembangunan pabrik bisa lancar dan pabrik dapat segera beroperasi" jawab Pak Kades.
"Kami permisi kalau begitu"
__ADS_1
Aku melenggang dari rumah Pak Darma dengan perasaan puas dan bangga yang membuncah. Jadi begini rasanya balas dendam. Aku yakin, setelah pabrik siap beroperasi, karyawan di pabrik Pak Darma akan berduyun-duyun pindah.
Tanpa pegawai perusahaan bisa gulung tikar, karena pegawai adalah salah satu aset perusahaan. Satu-satunya jalan bagi Wiratmaja mempertahankan karyawannya adalah dengan menaikkan upah. Satu hal yang tak mungkin dilakukan, mengingat bagaimana kikirnya seorang Darma Wiratmaja.
Sepanjang perjalanan kembali ke proyek bibirku terus mengulum senyum.
"Aku masih belum terlalu paham, sebenarnya kenapa kita harus membuat kesepakatan di rumah pria tadi. Dan juga apa maksud dengan perampokan tadi?"
"Di desa ini, sebelumnya Pak Darmalah yang paling berkuasa. Dia adalah satu-satunya pemilik usaha besar di desa ini. Usaha-usaha lain, hanya berupa home industry seperti pabrik tahu-tempe, pabrik keripik pisang"
"Pabrik yang sedang kita dirikan ini akan menjadi saingan pabrik milik Pak Darma. Tapi tentu saja Pabrik Pak Darma bukanlah saingan bagi PT. Textile Globalindo" ujarku dengan senyum selebar pemeran Joker dalam serial Batman.
Aku juga menjelaskan tentang usaha sampingan Pak Darma yang meminjamkan uang pada warga desa dengan bunga tak masuk akal. Mas Adit ikut geram setelah mendengar ceritaku.
"Siang ini kita makan-makan, Mas. Sama pekerja proyek. Merayakan keberhasilan kita meraih hati warga desa" ajakku pada Mas Adit.
"Siap, Bos!"
Aku mentraktir semua orang makan di sebuah rumah makan yang menyajikan masakan khas Padang. Kami bercengkrama. Aku meminta kerja sama mereka agar proyek dapat berjalan sesuai target dan selesai tepat waktu.
Hari sudah sore saat kami kembali ke lokasi proyek. Aku pamit pulang.
"Kita akan kembali bekerja keras hari Senin esok. Tetap semangat ya rekan-rekan sekalian" ucapku sebelum pergi.
Mereka menjawabnya dengan semangat.
Aku bersenandung mengikuti alunan musik dari stereo mobilku. Ketika sebuah mobil menyalip dan berhenti hanya lima meter didepanku. Otomatis aku seketika mengerem untuk menghindari terjadinya tabrakan.
Kuperhatikan mobil itu, seseorang turun dari dalam mobil sport tersebut.
Deni brengsek! Makiku.
Deni menggedor-gedor kaca jendela mobilku. Kalau saja jalanan tidak terlalu ramai aku mungkin tak akan menggubris tindakan Deni.
Beberapa pengendara melambatkan laju kendaraannya untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Karena tak ingin terlalu menarik perhatian, akhirnya aku membuka pintu mobilku dan turun.
"Apa maumu?!" hardikku kasar.
"Dasar ******! Berani kau, hah?!" Deni mencengkram tanganku dan berusaha menarikku masuk ke mobilnya.
Aku berusaha bertahan dan bergeming.
"Lepaskan atau aku akan teriak!" ancamku.
Deni mengawasi sekitar. Banyak pengendara motor atau mobil yang melambatkan laju kendaraan.
"Kalau kau tidak ingin merasakan amukan massa, lepaskan sekarang juga!" sergahku kasar. Aku tak akan pernah merasa terintimidasi lagi.
Deni akhirnya melepaskan tanganku.
"Tunggu pembalasanku. Kau pasti akan bertekuk lutut padaku! Saat hari itu datang, aku akan menikmati tubuhmu dengan cara paling brutal yang tak pernah kau bayangkan!" ancam Deni.
"Silahkan kau bermimpi!" ujarku sinis.
__ADS_1
Aku kemudian pergi meninggalkan Deni. Aku mengemudikan mobilku dengan perasaan tak karuan. Walaupun aku tampak berani berhadapan dengan Deni, tapi sebenarnya tubuhku sudah banjir keringat. Dan detak jantungku berdebar kencang seolah ingin meloncat keluar dari dadaku.
Pembalasan apa yang akan dilakukan oleh Deni pada Wulan?