
Aku sampai di depan sebuah rumah sederhana bercat putih dengan plang "Dr. Ibrahim Hadiningrat, SPoG" di depan pagarnya. Tampak masih sepi, karena sepertinya masih baru buka. Hanya ada dua pasangan suami istri selain diriku. Satu pasangan yang istrinya sedang hamil tua, dan satu pasangan lagi istrinya dengan kehamilan yang belum begitu terlihat.
Aku mendaftarkan diri pada bagian resepsionis. Wanita muda di balik meja resepsionis tersebut memintaku menunggu sampai namaku dipanggil dan mengatakan dokter tengah bersiap.
"Aninda Deviani, silahkan masuk" kata wanita muda mengumumkan.
Pasangan yang istrinya dengan kehamilan belum terlihat berdiri dan masuk ke ruangan. Sang suami tampak merangkul bahu istrinya dan menuntunnya masuk. Aku memperhatikan mereka, dan muncul secercah perasaan iri dan sedih dalam hatiku. Aku segera menepis perasaan itu jauh-jauh. Beberapa pasien berdatangan saat pasien pertama dan kedua di periksa.
Saat pasangan pertama keluar dan digantikan oleh pasangan kedua. Aku memperhatikan pasangan tersebut yang duduk di seberangku untuk merapikan bawaan dan obat yang diterima dari dokter. Sang istri tampak sumringah memandang secarik kertas kecil yang dipegangnya. Wajahnya cantik dengan rambut hitam potongan sebahu berlayer. Sang suami tampan dengan garis rahang tegas, alis hitam tebal dan wajah yang dihiasi jenggot tipis. Mungkin karena belum bercukur.
"Mas Adit, bener kan Anin bilang anaknya cewek", kata sang istri.
"Iya..iya.. Nanti-nanti bikin cowok ya, biar lengkap" jawab sang suami
"Ish, yang ini aja belum lahir!" ucap sang istri dengan bibir yang dimanyunkan.
Sang suami tertawa renyah melihat tingkah istrinya. Aku yang sejak tadi memperhatikan interaksi antara keduanya rupanya tak luput dari perhatian tajam sang suami. Saat mereka berdiri dan beranjak hendak pergi, sang suami berkata "Mari mbak, kami duluan".
"Ah,eh. Iya mas, mbak silahkan" jawabku gelagapan dengan senyum canggung karena tak menyangka akan disapa.
Pasangan pertama berlalu, dan 10 menit kemudian pasangan kedua keluar dari ruang periksa.
"Wulan Febriana, silahkan masuk" terdengar namaku dipanggil.
Aku memasuki ruangan dengam hati berdebar. Tampak seorang dokter pria dengan beberapa rambut yang sudah beruban disana-sini.
"Duduk, mbak Wulan", ucap sang dokter sambil membaca berkas pendaftaranku.
__ADS_1
Aku tersenyum gugup dan duduk di kursi yang disediakan.
"Periksa kehamilan, ya?"
"Iya, Dok"
"Kapan tanggal pertama haid terakhirnya?"
"Maaf, Dok. Lupa", jawabku, teringat penjelasan Bidan Lastri bahwa flek yang terjadi saat 2 minggu setelah kejadian itu ternyata bukanlah darah menstruasi seperti dugaanku.
"Gapapa. Silahkan berbaring disana" kata dokter sambil menunjukkan sebuah ranjang dibelakangku.
Aku melepas sepatuku kemudian berbaring pada ranjang yang dimaksud.
Dokter memasangkan alat pengukur tekanan darah pada pergelangan tanganku. Beberapa saat alat bekerja mengukur tekanan darahku dan dokter mengamati hasilnya.
"118/80, normal ya. Tolong diangkat sedikit bajunya, lalu kakinya ditekuk" instruksi dokter.
"Ini calon bayinya ya, Bu. Tangan dan kaki mulai terbentuk, ini yang seperti tunas. Ini kepalanya. Yang lain-lain belum begitu terlihat karena memang masih kecil sekali. Dari ukuran janin, usia kehamilan 9 week. Kita dengarkan detak jantungnya sekarang" terdengar bunyi berdetak cepat. Aku mendengarkan detak jantung calon bayiku dan penjelasan dokter dalam diam.
"Sehat, detak jantungnya calon bayinya bagus. 132/menit. Saya bersihkan dulu lalu bisa merapikan kembali pakaiannya", lanjut dokter dan merobek sebuah kertas kecil yang keluar mesin USG.
Dokter sudah kembali duduk di kursinya, kemudian aku menyusul setelah merapikan pakaian.
Dokter Ibrahim menyerahkan selembar foto hitam putih padaku dan menjelaskan dengan menunjuk beberapa tulisan.
"Ini hasil foto USG ya, Bu. Ini HPL-nya sekitar 27 Februari 2011, bisa maju atau mundur. Ini panjang janinnya sekitar 3,5 cm, bakalan tinggi ini seperti mamanya. Kemudian berat janinnya juga bagus hampir 40 gram ya. Jenis kelaminnya belum kelihatan, mungkin nanti kontrol berikutnya baru terlihat. Ada yang ingin ditanyakan, Bu?” tanya dokter Ibrahim mengakhiri penjelasan.
__ADS_1
"HPL itu apa, Dok?" tanyaku ragu.
"Oohh, Hari Prakiraan Lahir. Ada mual muntah?"
"Biasanya bangun tidur sampai menjelang pukul delapan pagi, Dok"
"Ga rewel ya berarti bayinya. Morning sickness hal yang lumrah bagi trimester awal kehamilan. Saya kasi kapsul penambah darah saja, ya. Kalau ada susu untuk ibu hamil boleh diminum kalau tidak ada alergi" kata dokter sambil menyiapkan beberapa strip obat untukku.
(Morning sickness adalah kondisi mual muntah pada trimester pertama kehamilan yang biasanya terjadi di pagi hari. Meskipun tidak menutup kemungkinan ada beberapa wanita yang merasakan mual muntah sepanjang hari)
"Obatnya diminum sehari satu kali. Saya resepkan untuk satu bulan atau separuh dulu?"
"Langsung satu bulan gapapa, Dok. Ada pantangan makan, Dok?"
"Makanan bergas, tolong dihindari dulu mengingat morning sicknessnya. Seperti ubi, brokoli, kol. Supaya mual muntahnya tidak bertambah parah. Kalau mual muntahnya tambah parah dan susah makan jangan diikutin ya, Bu. Makan sedikit-sedikit tapi sering. "
Dokter menyerahkan obat yang telah dibungkus plastik klip kepadaku.
"Berapa biayanya, Dok?" tanyaku sambil menerima obat.
"Rp. 250.000, Bu" jawab dokter lugas
Aku menyerahkan sejumlah uang pada dokter lalu pamit undur diri. Dokter berpesan agar kami, aku dan janinku sehat sampai saat lahiran nanti.
Aku keluar dari ruang periksa dengan senyum sumringah. Sekarang aku paham perasaan wanita bernama Aninda tadi.
Aku mampir ke salon untuk memotong rambutku. Aku memutuskan memotong rambut panjangku mengingat Surabaya yang selalu terik saat siang hari. Dari salon aku berencana mampir ke toko retail serba ada untuk membeli susu khusus ibu hamil. Uang dari hasil tabungan, pemberian Ibuku, dan hasil kontrak rumah masih tersisa sangat banyak.
__ADS_1
Aku keluar dari salon dengan model potongan bob shaggy dengan panjang sebahu. Pihak salon merasa sayang saat memotong rambut sepinggangku yang terawat. Di deretan salon ada sebuah toko retail dan aku mampir seperti yang aku rencanakan.
Wulan menaiki motornya kembali ke rumah dengan perasaan ringan dan bahagia. Dia tak menyangka bahwa melihat calon bayinya dari mesin USG membuatnya merasa segembira ini. Wulan juga merasa bersalah dulu pernah nyaris membunuh makhluk yang tak berdosa yang sedang tumbuh dalam rahimnya. Wulan tak sabar melihat bagaimana reaksi Bune dan Pakne jika melihat hasil foto USG yang dia bawa.