
Mas Adit mendudukkanku di ranjang dengan lembut, kemudian kami saling bertatapan dengan pandangan yang sarat akan rasa cinta dan kekaguman.
"Love you forever" gumamku.
"Till the death do us part" balas Mas Adit, lalu me-lu-mat bibirku. Lembut, lalu perlahan semakin memabukkan. Lidah membelit lidah, bibir saling menghisap diselingi gigitan-gigitan lembut. Tanganku bermain dan me-re-mas rambut Mas Adit. Tangan Mas Adit satu mengusap punggungku dan satunya berpegang pada tengkukku.
Mas Adit menaikkan dasterku, lalu melepas ciuman kami. Mas Adit menarik lepas kaos dan celana kolornya. Sepuluh detik yang terasa begitu lama, aku tidak rela kenikmatan ciuman kami terjeda. Kini penutup tubuh kami hanya tersisa underwear bagian bawah. Aku sedikit menyesal mengenakan CD dengan motif kekanakkan malam ini, CD dengan motif keroppi. Kupikir kami akan melewatkan malam ini hanya dengan tidur.
Mas Adit mendaratkan kembali bibirnya padaku. Me-lu-mat, menyesap, menghisap, menggigit dan saling membelit. Aku gelagapan, seolah lupa caranya bernafas. Ciuman Mas Adit begitu membuatku mabuk kepayang. Lalu mas Adit beralih ke leherku, memberi sesapan dan gigitan lembut di sana, disertai re-ma-san dan pilinan pada puncak dadaku. Meninggalkan beberapa bercak tanda kepemilikan. Aku hanya bisa men-de-sah pasrah sembari terus bermain dengan rambutnya.
Saat cumbuan Mas Adit berpindah ke dadaku, nafasku terasa kian memburu. Walaupun sudah pernah dua kali merasakan bercinta, setiap kali rasanya selalu berbeda. Yang sama hanyalah debar menyesakkan sekaligus menyenangkan. Membuat kami ingin melanjutkan ke tahap yang lebih lagi, lagi dan lagi.
Cumbuan Mas Adit beringsut ke perutku, tak lama lalu langsung menuju area intiku. Aku malu dan memprotes dengan mencoba merapatkan pahaku. "Mas, mau ngapain?" Tanyaku malu. Mas Adit memegang kedua lututku lalu membentangkannya lebar-lebar. Aku terkesiap, lalu dengan mengedipkan sebelah mata, berikutnya wajah Mas Adit terbenam pada area intiku.
"Oh...!" Nafasku tercekat ketika lidah basah Mas menari di bawah sana. Satu kata yang dapat melukiskan perasaanku sekarang, melayang! Ini pengalaman pertamaku diperlakukan seperti ini, dan permainan mulut Mas Adit sungguh membuatku gila. Aku menjerit tertahan dan menggerakkan pinggulku mengimbangi permainan suamiku. Lalu tiba-tiba, sesapan kuat membuatku tak mampu menahan ledakan dahsyat yang mendesak untuk dikeluarkan.
Kepalaku mendongak, tubuhku melenting, dan mulutku mengerang lirih. Gila! Aku mencapai klimaksku hanya dari permainan mulut Mas Adit. Mas Adit bangun, dan tampak menyeringai puas.
"Enak?" Tanya Mas Adit dengan senyum menawan. Aku hanya bisa mengangguk dengan nafas terengah dan mata yang sayu.
Mas Adit melepas sendiri underwearnya, tampak miliknya sudah terlihat gagah menantang. Tanpa ba-bi-bu, Mas Adit mengarahkan pusakanya pada gerbang milikku. Mas Adit menggesekkan sesaat miliknya, lalu secara perlahan mendorong masuk sedikit demi sedikit.
"Uufffhh..." Aku merasakan sensasi itu sambil menggigit bibir bawahku dan menatap wajah tampan Mas Adit lekat-lekat. Saat tatapan mata kami bertumbukan, Mas Adit menghentakkan pinggulnya sedikit kasar, membuat mataku membelalak akibat sensasi nikmat yang mendera secara tiba-tiba.
Kemudian tanpa dikomando Mas Adit mulai mengayun dengan tempo bervariasi. Membawaku menuju nirwana keindahan cinta. Membuatku meracau menikmati hunjamannya. Aku tak kuasa menahan puncakku sekali lagi.
Bosan posisi konvensional, Mas Adit beringsut berbaring di sebelahku. Lalu memposisikan tubuh miring saling membelakangi, dan dari belakang Mas Adit melakukan manuvernya. Sekali lagi, aku dibuat melayang-layang menuju langit ketujuh.
Semakin lama semakin cepat Mas Adit mengayun, peluh sudah membasahi tubuh kami berdua. "Sayang suka posisi ini?" Tanya Mas Adit dengan nafas memburu.
"Aaahh, iya Mas. Apapun aku suka, oh ehmm" aku menjawab diiringi de-sa-han.
"Mas hebat. Aku cinta Mas Adit, ah yeah, sh*it aku hampir, Mas..." Aku kembali mengerang dan meracau.
"Nice baby, Mas juga mau sampai" jawab Mas Adit dengan nafas mendengus di telingaku disertai gerakan mengayun yang semakin cepat. Tangan Mas Adit semakin keras meremati dadaku.
Puncak gunung hasrat yang kami daki semakin dekat. Lalu secara hampir bersamaan, kami telah menggapai puncak itu.
Hah hah hah hah. Nafas kami berdua terengah bersahut-sahutan. Aku menolehkan wajahku pada Mas Adit yang, dan Mas Adit menyambutnya dengan ******* pada bibirku sebentar.
"Love you. Kamu hebat" cetus Mas Adit.
"Love you, too. Mas Adit juga perkasa, bikin aku melayang berkali-kali" balasku dengan senyum malu-malu. Menerbitkan suara kekehan darinya.
Adit membawa istrinya dalam dekapannya, kemudian membelai-belai rambut sang istri. Akhirnya Adit merasa kembali menjadi pria yang sesungguhnya. Mampu membawa wanitanya melayang menuju puncak hasrat berkali-kali. Ditambah pujian bertubi-tubi dari sang istri selama sesi percintaan panjang mereka barusan, membuat Adit merasa semakin jumawa.
"Sayang ngantuk?" Tanya Adit melihat mata Wulan yang mulai terpejam.
"Heehm" deham Wulan singkat.
__ADS_1
"Tapi aku masih pengen" Adit mulai merabai paha dan pinggang Wulan secara bolak-balik.
Mata istrinya sontak terbuka lebar, "Mas ga capek? Badanku rasanya ga ada tulangnya, Mas. Lemas"
"Masa?" Adit justru memainkan kembali bagian inti Wulan yang basah oleh laharnya.
"Eehhmm, Mas ih. Mas abis minum obat kuat kah? Baru juga istirahat!" Wulan bersungut, tapi merespon dengan membelai pusaka suaminya.
Adit meremas bokong sang istri, "Mana ada!" Jawabnya. Lalu bangun dan kembali memposisikan diri di depan Wulan. Setelah tubuh mereka menyatu sempurna, Adit membawa kedua betis istrinya menumpu pada pada pundaknya. Dengan berpegangan pada betis indah itu, Adit kembali mengayun dengan tempo bervariasi.
Wulan hanya bisa men-de-sah dan meracau. Menikmati setiap sentuhan suaminya, sambil sesekali memujinya. Tak lupa Wulan juga akan mengatakan jika dirinya merasa tak nyaman saat merasakan pergerakan suaminya.
Adit juga sesekali akan bertanya, apakah posisi yang mereka lakoni nyaman untuk istrinya sebelum ia mempercepat gerakan.
Lagi dan lagi, mereka digulung ombak gai*rah. Rasanya tiada bosan dan lelah saat badai kenikmatan itu menghampiri mereka. Padahal peluh sudah membasahi tubuh mereka. Wulan baru tahu, semakin dalam ia menggali sumur gai*rah, rasanya air penyejuk cinta mereka terasa belumlah cukup. Membuatnya hanyut dalam lubang sumur gairah yang ia gali. Membuatnya ingin terus menggali dan menggali, demi mereguk kenikmatan tiada akhir.
Hampir pukul tiga dini hari akhirnya mereka menyelesaikan ronde ketiga mereka. "Aku capek, Mas. Tapi aku suka. Saranghae" gumamku mengantuk.
"Aku belum, masih kuat ronde selanjutnya" goda Mas Adit.
Aku mencubit hidungnya lembut, "Mas, ih! Besok-besok lagi. Sumpah ga sanggup lagi. Ampun, aku, ampun"
"Apa ku bilang! Aku pasti bikin kamu ampun-ampun, sayang. Tadi juga bilang ga sanggup, tapi dielus dikit goyang lagi" Mas Adit terkekeh sambil meremas bokongku.
"Kasian adek kalau diguncang-guncang terus, Mas. Bisa pusing dia" ujarku mengelak, merasakan gelagat Mas Adit yang serius ingin melanjutkan ronde berikutnya.
Dan benar saja, kami bangun kesiangan. Itupun karena mendengar ketukan pada pintu. "Bu! Ibu tumben belum bangun!" Langit berseru sambil mengetuk-ngetuk pintu. Langit khawatir apakah ibunya sedang sakit, sehingga sudah pukul 07.30 ibunya belum juga keluar kamar.
"Iya, sayang. Maaf ibu kesiangan!" Jawabku setengah berteriak.
"Ibu mungkin capek, Le. Ayo sarapan dulu kalau sudah lapar!" terdengar suara lirih Bune dari balik pintu.
Setelah merasa Langit sudah berlalu, aku dan Mas Adit saling berpandangan. lalu kami berdua nyengir bersamaan.
"Aku mandi dulu, Mas!"
"Bareng aja, menghemat waktu" tukas Mas Adit lalu menyeretku ke kamar mandi.
Dan, siapa bilang jika pasutri apalagi pengantin baru mandi bersama akan menghemat waktu? Jawabnya adalah, nonsense! Hampir satu jam kami berada dikamar mandi. Karena jelas, acara kami di kamar mandi berubah menjadi mandi plus plus. Padahal Mas Adit berjanji untuk melakukan quickly. Tapi janji tinggal janji, karena akupun menikmatinya.
Setelah mandi kami langsung menuju meja makan. Semua masih hadir dan tampak berbincang, tapi mereka sudah selesai sarapan.
"Maaf kami kesiangan" ucapku sungkan, sambil menarik sebuah kursi. Mas Adit duduk di sebelahku. Aku menuangkan segelas air putih untuk suamiku.
"Gapapa, biasa pengantin baru!" Jawab Ragil.
"Emang kenapa kalau pengantin baru?" Tanya Langit dengan polosnya.
"Capek karena kemarin habis seharian acara" jawab Mas Adit santai.
__ADS_1
"Tapi aku kok ga capek, Yah?" Langit betanya bingung, kenapa Ibu dan ayahnya yang seharian kemarin hanya duduk bisa merasa lelah.
"Itu karena Langit masih berjiwa muda, banyak energi, full power" jawab Mas Adit, kemudian mengusal rambut Langit, dan Langit manggut-manggut menanggapi perkataan ayahnya.
Aku mengambil piring dan mengambil dua centong nasi untuk Mas Adit. "Mas mau makan apa dulu? Sup miso mau?"
"Boleh. Nanti abis gitu nasi sama koloke, capcai aja" jawab Mas Adit.
Aku menyiapkan permintaan suamiku. Akupun mengambil menu yang sama.
"Jadi kapan periksa kandungan, Lan? Ibu ga sabar pengen tahu jenis kelamin cucu Ibu" Tanya Ibu antusias.
"Nanti malam, Bu. Tiga hari kedepan Wulan menginap di rumah Mas Adit. Mau bantu packing, sekalian pamit sama Papa Mama"
"Apa saja yang perlu kita siapkan, Nduk?" Tanya Bune.
Mas Adit yang menjawab, "Cukup baju-baju dan keperluan lain yang dirasa penting Bune. Perabotan sudah ditata sama rekan saya di sana"
Setelah sarapan, aku mengajak Langit ke rumah opa dan oma-nya. Papa dan Mama senang sekali, ngunduh mantu sekaligus bonus cucu, begitu kata mereka.
Setelah berpamitan pada Ibu, Bune, Ragil, dan Dendi, kami bertiga bertiga berangkat.
"Cucu Oma sudah Dateng! Ayo sini ikut Oma, Oma kemarin ada banyak beli mainan buat Langit" ujar Mama menyambut kami, lalu menyeret Langit ke kamar tamu.
Papa mengajak aku dan Mas Adit berbincang sejenak, kemudian Papa mengikuti jejak Mama bermain bersama Langit. Setelah Papa meninggalkan kami, Mas Adit membimbingku menuju kamarnya semasa bujang. Rumahnya dulu bersama mendiang Anin sudah dijual sebagai tambahan biaya pembangunan rumah baru di Jakarta.
Dikamarnya, Mas Adit kembali hendak berbuat nakal padaku. "Jangan ah, Mas. Malu sama Papa Mama"
"Bentar aja, plissss. Janji quickly" rengeknya dengan memelas.
Aku memutar bola mataku, dan sekali lagi aku yang kalah setelah (lagi-lagi) terbuai akan sentuhan dan belaian Mas Adit.
Untunglah kali ini benar-benar dilakukan dengan cepat. Kami selesai berpakaian tepat saat Mama mengetuk pintu kamar Mas Adit, berniat mengajak makan siang di luar. Papa dan Mama mengajak kami makan di tempat favorit Langit. Setelah makan siang kami langsung menuju tempat praktek dokter kandungan.
"Selamat Ibu, janinnya usianya sudah 15 Minggu 5 hari. Semua sehat ya, pertumbuhan janin sesuai usia kandungan. Mau tahu jenis kelaminnya?" Tanya dokter dengan senyum ramah, dan dijawab dengan anggukan oleh kami.
"Laki-laki, Pak, Bu. Ini burungnya sudah mulai terbentuk"
Kami semua mengucap syukur bahwa seorang calon bayi laki-laki akan segera hadir ditengah-tengah keluarga kami. Ditambah, dokter menyatakan bahwa ibu dan bayi dalam kondisi sehat. Aku berharap kehamilanku lancar sampai proses persalinan kelak.
Akhirnya, hari Senin tiba. Hari kepindahan kami ke Jakarta. Pukul delapan pagi, kami sudah berada di Bandara Juanda untuk check in penerbangan pukul 09.35.
Setelah menempuh perjalanan dengan pesawat selama 1,5 jam, akhirnya kami sampai di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Di sana sudah ada rekan Mas Adit yang menunggu kedatangan kami.
Dalam perjalanan dari bandara ke rumah kontrakan Wulan memperhatikan suasana sekitar. Kata orang, Jakarta kota metropolitan, kota nomor satu di Indonesia. Dalam hati Wulan berkata, "Welcome to Jekardah"
****************************************
jadi ya buibu, yang ingin saya sampaikan dari bab ini adalah, jangan sungkan atau malu kalau lagi main 'dokter-dokter'an sama paksuami menyatakan pendapat. kalau ga nyaman, bilang ga nyaman. kalau suka, bilang suka. dan jangan lupa kasi pujian buat suami. dengan pujian itu, suami merasa dianggap 'laki'. dijamin paksuami pasti jadi makin cinta 😁😁
__ADS_1