
**Bab ini saya dedikasikan untuk semua wanita yang membaca novel ini. Terkhusus mereka yang pernah menjadi korban pelecehan. Jangan pernah takut apalagi malu untuk speak up. Kamu tidak sendiri. Aku dan semua wanita mendukungmu. Kamu tidak perlu malu dan takut, karena yang seharusnya malu dan takut adalah pelaku**
"Permisi, Pak. Kami ingin melakukan pengaduan" cetus Mas Adit pada seorang petugas.
"Tindak pidana? Silahkan ikuti saya" jawab petugas itu tegas.
Petugas itu membawaku dan Mas Adit pada sebuah bilik dengan seorang petugas lain yang duduk di balik meja, dengan seperangkat komputer untuk mencatat aduan.
"Selamat siang" sapa ramah sang petugas dengan nama Pramono terjahit di dada kanannya.
"Selamat siang, Pak. Saya ingin mengadukan kasus percobaan perkosaan disertai kekerasan. Selain itu saya juga ingin melanjutkan kasus sebelas tahun apa mungkin masih bisa?" Jawabku kepada petugas tersebut.
"Kasus sebelas tahun yang lalu?" Tanya petugas sedikit kurang mengerti.
Akhirnya aku menceritakan kasus yang pernah menimpaku pada masa lalu. Petugas tersebut menyimak dengan baik semua yang aku sampaikan.
"Jadi, begitu ceritanya. Masih bisa kasusnya kalau mau dilanjutkan. Bukti-bukti sudah cukup kuat. Terutama hasil visum ini. Zaman sekarang sudah canggih, sangat mudah mencari dokter wanita yang melakukan visum pada Anda. Kita bisa meminta dokter tersebut untuk menjadi saksi ahli dalam kasus Anda"
"Berdasar pasal 285 KUHP mengenai kasus kesusilaan hukuman maksimal adalah 12 tahun penjara. Kasus penganiayaan diatur dalam pasal 351 KUHP, ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara, dengan denda maksimum sebesar Rp. 4500, dilipatgandakan 1000 kali sesuai Pasal 3 Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 tahun 2012"
"Mengenai strafsactie, atau gugurnya penuntutan hukuman karena lewat waktunya, diatur dalam pasal 78 KUHP. Untuk kasus seperti pemerkosaan masa daluarsa adalah setelah dua belas tahun. Jadi kasus Anda berhak mengajukan tuntutan di muka hakim agar dijatuhi hukuman" jelas Pak Pramono, yang kami simak dengan saksama.
"Terlebih saya sarankan Anda melakukan tes DNA, untuk membuktikan anak itu adalah benar perbuatan dari salah satu pelaku" saran petugas tersebut.
"Tidak! Tidak perlu! Saya tidak ingin anak saya diseret dalam masalah ini" sergahku.
"Tidak apa-apa jika itu yang Anda inginkan. Saya hanya menyarankan agar Anda bisa mendapat bukti yang lebih lagi untuk menjerat para pelaku" tukas petugas itu dengan lembut.
"Saya rasa bukti-bukti ini saja cukup, Pak" ujarku berkeras.
"Baik. Saya sudah mencatat laporan Anda. Saya minta kesediaan Anda untuk hadir jika sewaktu-waktu kami panggil untuk kami mintai keterangan lebih lanjut" ucap petugas.
"Baik, Pak. Terima kasih" aku dan Mas Adit lalu pamit.
Dalam beberapa menit perjalanan dari kantor Polsek dengan mobilku berlangsung dengan hening. Aku merasa malu karena telah membeberkan kisah masa laluku pada Mas Adit. Beberapa kali aku melirik Mas Adit yang tampak sangat fokus dalam mengemudi. Dan ini adalah kali ketiga aku melihat Mas Adit menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Mas Adit kenapa? Kok geleng-geleng terus?" Tanya Wulan memecah keheningan.
Adit gelagapan. Jujur saat ini pikiran Adit sedang dipenuhi bagian atas tubuh Wulan yang menurutnya sangaaaatt...seksi.
"Gapapa" jawab Adit singkat dengan wajah memerah bak kepiting rebus.
Adit merutuki pikirannya sendiri yang melayang kesana-kemari. Sesekali merasa marah jika teringat kisah Wulan. Sesekali merasa 'terbakar' saat mengingat bagian atas tubuh Wulan.
Adit tak bisa menepis pikiran mesumnya sendiri. Jujur ini adalah kali pertama setelah sebelas tahun Adit tak melihat pemandangan tubuh seorang wanita. Adit merasa dirinya bodoh, picik, dan kurang ajar.
"Mau cari makan siang dulu?" Cetus Mas Adit setelah beberapa menit lamanya kami larut dalam kebisuan.
Kulirik jam digital pada dashboard, pukul 13.15. Pantas aku merasa lapar. Tadi pagi aku belum sempat sarapan, dan hanya beberapa biji mengemil t a i koceng.
"Boleh, Mas" jawabku.
"Mau makan apa?"
"Terserah" jawabku pasrah.
"Tunggu aku buka warung dulu ya" ujar Mas Adit dengan senyum jahil.
"Di sekitaran sini ga ada warung 'terserah' atau menu 'terserah', Neng" ujar Mas Adit lalu terkekeh.
"Garing, Mas" cetusku, tapi tak urung ikut tergelak karenanya.
"Dimana-mana cewek sama. Kalau ditanya mau makan apa, mesti jawabnya 'terserah'. Kalau ga, 'apa aja'. Giliran ditawari ini atau itu, bilangnya 'ga ah, ga selera'. Atau ga, 'ga ah, kolesterol. Nanti aku gemuk'. Boleh nampol cewek yang begitu ga?" Tanya Mas Adit gemas.
Aku kembali dibuat tertawa olehnya. Sejenak melupakan keresahan dalam hatiku.
"Makan bakso aja, deh. Kalau lagi bete gini, pengennya makan bakso yang pedeeeeeesss pakai banget. Mas Adit gapapa 'kan?" Usulku.
"Boleh. Suka bakso ya?" Jawab Mas Adit.
"Favorit. Tiap hari makan bakso juga ayo!" Selorohku.
__ADS_1
"Noted!" Gumam Mas Adit.
Aku dan Mas Adit akhirnya makan di salah satu kedai bakso pinggir jalan yang kami lalui.
Pesanan kami datang dan kami meracik bakso sesuai selera kami.
"Kamu tak ingin mempertimbangkan saran polisi tadi, Lan?" Tanya Mas Adit sambil menatapku lekat, di sela acara makan siang kami.
"Saran yang mana?" Tanyaku pura-pura tidak tahu, sambil menyibukkan diri dengan memotong sebuah bakso.
"Tes DNA" tukas Mas Adit.
"Aku ga mau tahu, Mas! Bagiku Langit adalah anakku sendiri. Aku tidak mau tahu siapa ayah kandung Langit" Jawabku tegas. Mataku sudah terasa panas. Aku mengerjapkan mataku untuk menghalangi air mata yang sudah nyaris jatuh.
"Bukan untukmu, tapi untuk Langit" cetus Mas Adit.
Aku mendongakkan wajahku yang tadi menunduk menatap mangkuk bakso. Tidak mengerti apa maksud dari ucapan Mas Adit.
"Langit berhak tahu siapa ayah kandungnya. Saat dewasa nanti, biarkan Langit yang menentukan apakah ia memilih untuk mengetahui siapa ayahnya atau tidak. Kamu tidak mungkin merahasiakan asal usul Langit selamanya, bukan?" Ujar Mas Adit.
"Aku..." Aku bingung hendak mengatakan apa. Aku juga berpikir apa yang Mas Adit juga benar.
Tapi ada perasaan tidak rela dalam hatiku. Dengan mengetahui identitas siapa ayah kandung Langit, aku merasa diriku akan semakin terluka.
"Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Begini saja, biarkan Langit menjalani tes DNA. Kamu tidak perlu tahu hasil tes tersebut. Biarkan Langit menjadi anakmu seorang selamanya, bagi dirimu. Hasil tes bisa disimpan oleh ibumu atau Bu Nimas"
"Tapi jika Langit bertanya suatu saat nanti, Langit berhak mengetahui jati dirinya. Jika saat dewasa nanti Langit bertanya tentang asal-usulnya, ceritakan yang sejujurnya. Saat itu Langit bisa menilai, apakah ia perlu mengetahui siapa ayahnya atau tidak" jelas Mas Adit panjang lebar.
Aku diam beberapa lamanya.
Mengaduk-aduk kuah baksoku yang sudah merata, dan sesungguhnya tak perlu diaduk sama sekali. Menyesap es jerukku, lalu berkata lirih.
"Aku akan memikirkannya, Mas. Terima kasih untuk sarannya"
Keputusan apa yang akan dibuat oleh Wulan?
__ADS_1
**************************************************
~Semua pasal-pasal dalam bab ini berasal dari https://m.hukumonline.com. Author sendiri tidak memiliki background hukum sama sekali, karena authornya lulusan teknik kimia 😅