Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 12 Berkumpul


__ADS_3

Deni melajukan mobilnya dengan diam. Ada sedikit rasa was-was dalam hati, karena Deni tahu bahwa Wulan bukanlah wanita yang akan diam saja ditindas. Wulan pasti akan melapor pada polisi.


Kekhawatiran Deni rupanya disuarakan oleh Tama,"Kita gila, Den. Kita gila! Gimana bisa tadi kita menggilir Wulan?" Tama mengerang frustasi.


"Berisik banget sih! Kalian juga melenguh menikmati tubuh Wulan! Kalau sudah enak ga usah berisik!", bentak Deni.


Mereka berempat kembali terdiam tenggelam dengan pikiran masing-masing. Sesaat kemudian, "Tapi begituan apa emang selalu enak gitu ya, Den? Kami bertiga ga sampe lima belas menit udah keluar, kok kamu bisa sampai setengah jam lebih Den?" Aldo mengatakan apa yang ada dipikirannya.


"Emang selalu seperti itu, tapi nikmatnya beda-beda. Barang Wulan paling legit dari yang pernah aku cobain. Sensasi waktu menjebol segel itu, nikmatnya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata! Kalian harus sering latihan agar tidak keluar dengan cepat. Hahaha", Deni terbahak memberikan nasihat sesat pada rekan-rekannya.


"Kalau nenek tahu, bisa-bisa hak warisku dicabut", kata Angga. Dia khawatir jika tak mendapat warisan dari neneknya.


"Warisan mulu kau pikirin. Pikirin gimana kalau kita bakal mendekam di penjara!" sergah Tama kasar.


"Kamu lupa siapa Pak Darma, Tam? Papaku tidak akan membiarkan putra kesayangannya mendekam di penjara. Kalian bertiga tenang saja. Papa pasti akan menemukan jalan keluar", kata Deni menenangkan kawan-kawan dan dirinya sendiri.


Sudah jam 01.00 dini hari, akhirnya mobil berhenti di rumah Deni. Aldo, Deni dan Angga mengambil motornya masing-masing yang terparkir di garasi rumah Deni. Mereka bertiga pamit pulang.


Deni berdebar akan datangnya esok pagi. Bagaimana dia harus meminta bantuan penyelesaian masalah yang dia buat pada papanya.


>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<

__ADS_1


Rasanya baru sebentar Deni tertidur, tapi tiba-tiba selimutnya sudah ditarik oleh Pak Darma.


"Bangun kau bajingan kecil! Apa yang sudah kau perbuat pada anak gadis orang, hah?! Apa kurang tiap dua minggu sekali Papa membawakanmu p*l*c*r ke rumah?!!" Pak Darma berteriak berang. Pak Darma berang bukan karena memikirkan nasib anak gadis orang yang telah dirusak oleh putranya, tapi Pak Darma berang kepada gadis yang berani melaporkan anaknya dan merusak reputasi keluarga Wiratmaja.


Deni gelagapan menghadapi ayahnya yang entah dari mana menerima kabar tersebut. Padahal dia berencana akan bicara baik-baik besok pagi dan meminta bantuan papanya menyelesaikan masalah tersebut.


"Papa udah tahu? Tahu dari siapa, Pa?" Deni mencicit, takut menghadapi kemarahan ayahnya.


"Pak Hasto barusan telepon Papa. Dia bilang, bawahannya melaporkan bahwa seorang gadis datang ke kantor polisi. Mengadukan kasus perkosaan. Dia mengaku diperkosa oleh empat orang pria. Oleh kalian berempat!!", Pak Darma membentak putra semata wayangnya.


"Papa mau ke rumah Pak Hasto. Kau telepon temanmu, Aldo dan Angga. Minta Pak Beni dan Bu Dewi untuk datang ke rumah Pak Hasto. Beni pasti tak akan suka nama anaknya masuk dalam headline surat kabar yang dia kelola! Kau diam di rumah, jangan keluar satu jengkalpun dari rumah ini. Bikin ulah saja kerjaan kamu dari dulu!" Pak Darma mengomeli kesal putranya.


>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<


Plak! Plak! Suara tamparan terdengar mendarat di pipi kanan dan kiri Tama.


"Bapak! Belum tentu anak kita salah. Buktinya belum ada, hasil visum juga belum keluar. Jangan main pukul!" Bu Ani terdengar membela anak kesayangannya. Bu Ani tak rela anaknya ditampar didepan matanya, sekalipun oleh bapaknya sendiri.


"Kamu bikin Bapak malu terus. Baru bulan kemarin kamu keciduk bawahan Bapak lagi mabuk-mabukan bareng Deni dan kawan-kawanmu. Sekarang lebih gila lagi! Kalian berempat menggilir seorang gadis! Bapak ga habis pikir dimana otakmu!" Pak Hasto membentak anaknya. Jam 03.10 dini hari dia menerima telepon dari kantor polisi bahwa anaknya bersama tiga orang lainnya dituduh telah memperkosa seorang wanita.


"Deni yang ngajakin, Pak. Awalnya Deni bilang cuma mau ngerjain Wulan, menakut-nakuti Wulan. Deni ga terima Wulan menolak cintanya.Tama juga ga tau bagaimana ceritanya kami berempat jadi hilang kendali", Tama mencoba menjelaskan duduk perkara pada Bapaknya.

__ADS_1


"Astaga, Tama. Berarti benar kamu memperkosa gadis itu?" Bu Ani terperanjat mendengar pengakuan putranya. "Pak, lakukan sesuatu. Ibu ga mau anak Ibu mendekam di penjara. Anak Kapolsek mendekam di penjara, mau ditaruh mana muka kita, Pak?" Bu Ani melanjutkan bicaranya, berusaha melindungi anaknya.


"Kamu diam di kamar! Bapak mau bicara dengan Pak Beni, Pak Darma dan Bu Dewi. Bikin malu Bapak saja kerjaanmu!


Di ruang tamu rumah Pak Hasto, sang empunya rumah dan para orang tua pelaku berdiskusi sengit mengenai masalah tersebut.


"Cucuku anak yang sopan dan tak pernah aneh-aneh. Anak Retno itu pasti mengada-ada saja. Tidak mungkin Angga cucuku berbuat hal seperti itu!"


"Gadis itu bilang ada saksi yang melihat Deni membawa paksa dirinya. Dia juga sudah melakukan visum. Habislah kita! Mau ditaruh dimana muka kita sekarang!" Pak Hasto berkata berang membayangkan keluarganya akan jadi bahan gunjingan warga. Seorang Kepala Polisi Sektor, anaknya memperkosa teman sekolahnya. Tak bisa dilukiskan bagaimana nanti malunya.


"Aku tak mau nama anakku muncul dalam headline news koran yang aku terbitkan sendiri. Mau ditaruh mana mukaku di depan anak-anak buahku?!"


"Saya punya ide bapak-bapak dan ibu. saya mendapat ide dari ucapan Bu Dewi. Kita buat gadis itu menuduhkan hal yang mengada-ada. Kita sebarkan gosip, Wulan wanita murahan yang mau dengan siapa saja. Masalah saksi akan saya buat mereka tak mau bersaksi atau berbalik menyerang dirinya. Urusan hasil visum saya juga sudah ada rencana. Kalian tenang saja. Semua pasti beres", Pak Darma menenangkan para orang tua tersebut.


Mendengar perkataan Pak Darma ketiga orang lainnya sedikit merasa lega. Mereka tahu siapa Pak Darma. Semua masalah pasti teratasi bila dia sudah bertitah.


Entah rencana apa yang dibuat Pak Darma untuk mengatasi masalah yang telah ditimbulkan oleh anaknya. Yang pasti hal itu tidak akan menguntungkan Wulan sama sekali. Rupanya benar kata pepatah "buah jatuh jauh dari pohonnya". Begitulah Deni dan Pak Darma.


**************************


Sedikit info ya reader-reader sekalian, bahwa cerita ini tidak ada unsur humornya karena emang authornya kurang bisa melucu 😂

__ADS_1


Jadi mohon maaf kalau cerita novel yang saya buat ini kesannya selalu serius 😁


Reader-reader kesayangan, tolong jangan lupa kasi like dan komen yaa.. vote juga boleh kalau ada sisa..


__ADS_2