
**Hai para reader kesayangan, sempatin klik jempol sama kasih komen dulu ya sebelum membaca. Happy reading all 🤗🤗**
"Aduh!" keluhku sambil meringis.
"Kenapa, Nduk?" tanya Bune seketika. Sementara Pakne memandangku dengan sorot khawatir.
"Ini Bune, perut saya rasanya tegang sekali. Terus seperti mules kaya yang mau BAB. Tapi sudah hilang kok mulesnya", jelasku merasakan sensasi yang aku rasakan pada area diperutku.
"Apa sudah mau lahiran ya, Nduk?" tanya Bune was-was.
Aku menggigit bibir bingung akan menjawab apa. Aku tak pernah punya pengalaman melahirkan sebelumnya, jadi aku tidak tahu apakah rasa yang menderaku beberapa saat yang lalu adalah tanda-tanda menjelang persalinan.
"Bisa jadi, Bune. Bapak siapkan mobil saja dulu, kita ke rumah sakit" tukas Pakne.
"Jangan dulu, Pakne. Siapa tahu Wulan cuma kebelet saja" ujarku menenangkan.
"Tidak apa-apa, Pakne siapkan saja. Sepertinya sudah mendekati itu. Firasat Pakne jarang meleset soalnya", ujar Pakne lalu bergegas masuk ke rumah.
Aku dan Bune menyusul masuk ke dalam rumah. Sesaat kemudian nampak Pakne keluar dari kamarnya dengan memegang sebuah kunci mobil dan bergegas menuju garasi.
"Kamu bisa naik ke atas, Nduk? Bune temani ya? Lebih baik Bune tidur sama kamu di atas malam ini" ujarnya dengan raut khawatir.
"Ga perlu, Bune. Wulan tidak apa-apa kok", kataku menolak dan dengan nada menenangkan.
Pakne menghampiri kami yang masih saling bernegosiasi di dekat tangga.
"Kok masih pada disini?" tanya Pakne keheranan.
"Bune mau nemenin Wulan malam ini tidur di kamarnya, tapi Wulan ga mau ini lho Pakne. Bune khawatir ada apa-apa nanti" jawab Bune mengadu, mencoba mencari dukungan.
"Tapi Wulan khawatir Bune kesempitan, istirahatnya nanti jadi ga nyaman" ujarku kembali menolak. Usahaku meyakinkan Bune bahwa aku baik-baik saja tidak berhasil.
"Betul kata Bunemu, Nduk. Nanti kalau merasa ada apa-apa Bune bisa langsung tahu dan membantu" tukas Pakne mendukung usulan Bune.
Akhirnya aku mengalah, karena baru saja hendak mendebat rasa mulas yang sama kembali mendera. Tidak lama, hanya sekitar dua menit kemudian hilang rasa mulasnya. Akhirnya dengan dituntun Bune aku menaiki tangga dengan perlahan.
Aku tidak dapat istirahat dengan tenang malam ini, karena rasa sakit dan mulas yang frekuensinya semakin sering. Dari yang awalnya muncul setiap sekitar setengah jam, kini muncul sepuluh menit sekali.
__ADS_1
Pukul 01.15 dini hari tiba-tiba aku merasa kasurku terasa basah, bersamaan dengan rasa mulas yang muncul kembali.
Aneh. Apa mungkin aku mengompol? Pikirku. Tapi tidak ada bau pesing tercium. Aku mengernyit heran. Air ketuban. Pikirku seketika, saat ingatan pada sesi kontrol terakhir dengan Dokter Ibrahim muncul. Beliau mengatakan, jika pecah ketuban terjadi atau timbul flek aku diminta segera berangkat ke rumah sakit.
Akhirnya aku membangunkan Bune yang sudah terlelap disebelahku.
"Bune, Bune. Maaf mengganggu istirahatnya" ujarku dengan suara pelan.
Bune terbangun dan mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha menyesuaikan diri.
"Kenapa, Nduk? Sakit lagi?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Iya, Bune. Ketubannya juga sudah pecah" jawabku sambil meringis menahan sakit.
"Lhoalah, sudah pecah?! Aduh, piye iki? Sek, sek. Bune arep nangeni Pakne dhisik. Barang perlengkapan gawe lahiran wes cemepak 'kan?" tanya Bune dengan panik.
(Lhoalah, sudah pecah?! Aduh, bagaimana ini? Tunggu, tunggu. Bune akan membangunkan Pakne dulu. Barang perlengkapan untuk lahiran apa sudah disiapkan?)
"Sampun, Bune. Wulan letak belakang pintu", tunjukku pada tas yang kumaksud. Dua buah tas ukuran sedang sudah kupersiapkan sejak sebulan lalu. Satu tas untuk perlengkapan bayi baru lahir, satu tas berisi perlengkapanku.
(Sampun : sudah)
Akhirnya aku dan Bune menuruni tangga dengan tertatih-tatih. Saat sampai di bawah kami berpapasan dengan Ce Fani. Ce Fani adalah salah satu orang yang merasa simpati akan nasib yang menimpaku.
"Mau lahiran ya, Lan?" tanyanya khawatir. Kulihat tas tabung khas yang dimiliki anak arsitektur tersampir di punggungnya.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum lemah.
"Nak Fani, bisa titip Wulan sebentar? Ibu mau membangunkan Bapak dulu biar bisa mengantar ke rumah sakit" ujar Bune.
"Oh, boleh Bu. Mari sini saya pegangi Wulannya"
"Aku tuntun ke ruang tamu ya, Lan. Kamu tunggu Bapak siap-siap sambil duduk di sofa" Ce Fani langsung menuntunku tanpa persetujuanku.
Setelah duduk di sofa, aku berbasa-basi mengajak Ce Fani berbincang.
"Libur semester ga pulkam Ce?"
__ADS_1
"Udah di Salatiga sampai kemarin, lalu dihubungi teman alumni buat bantu-bantu. Ada proyek kecil-kecilan. Orang yang ngehandle sebelumnya lagi berduka, anaknya kemarin meninggal. Kasian, dia juga alumni Petra. Istrinya meninggal beberapa bulan lalu karena pendarahan hebat saat melahirkan anaknya. Anaknya lahir prematur, hampir tujuh bulan. Jantung bocor, dan bisa bertahan hidup hanya enam bulan saja" jelasnya panjang lebar.
"Ikut berduka dengarnya, Ce", ucapku dengan raut berduka. Detik berikutnya aku mendesis karena rasa sakit yang kembali menggulung.
"Sakit ya?" tanya Ce Fani dengan raut khawatir.
Aku hanya mengangguk sambil meremas pinggiran sofa dengan mulut yang kukatupkan.
"Aku salut sama kamu, Lan. Tidak banyak wanita yang mau memilih jalan seperti kamu. Aku doakan sehat selamat ya, sampai lahiran nanti" ucapnya tulus.
Aku tersenyum menanggapi. Tak berselang lama, Pakne dan Bune muncul dengan tergesa-gesa. Dengan dibantu Ce Fani, aku naik ke bangku tengah dalam mobil Innova abu-abu milik Pakne. Bune menemaniku di bangku tengah, sementara Pakne menyetir.
Sampai di rumah sakit, aku langsung dibawa ke UGD. Bidan jaga segera menanganiku. Aku didudukkan pada sebuah kursi roda dan digiring ke sebuah ruangan dengan label "Verlos Kamer" pada pintunya. Dalam ruangan tersebut terdapat tiga ranjang dengan sekat tirai sebagai pembatas yang kondisinya masih terbuka
Bidan menutup tirai di sekeliling ranjangku, lalu membantuku melepaskan celana yang kukenakan, dan menggantinya dengan sarung yang sudah aku persiapkan di dalam tas. Setelahnya aku diminta berbaring pada ranjang pasien dan bidan mempersiapkan observasi persiapan prosesku melahirkan.
"Saya cek bukaan dulu ya, Bu. Dokter Erna sudah dihubungi, sedang dalam perjalanan kemari" ujar bidan tersebut sembari memasang sarung tangan latex pada tangan kanannya.
Mendengarku mendesis kesakitan, bidan langsung mengarahkan perhatiannya padaku.
"Frekuensi kontraksi sudah tiap sepuluh menit. Mestinya ga lama ini" kata bidan tersebut sambil mengamati jam dinding yang tergantung dalam ruangan tersebut.
"Sabar ya, Bu. Lahiran anak pertama ya? Tarik nafas dalam-dalam, hembuskan lewat mulut perlahan. Latihan pernafasan biar nanti lahiran mudah dan lancar. Usahakan jangan menangis agar nanti tidak kehabisan tenaga saat mengejan", lanjut bidan yang melihat buku-buku jariku yang memutih menahan sakit.
Aku tidak menjawab satupun perkataan bidan karena terlalu sibuk menahan rasa sakit yang menderaku. Aku mengatupkan kedua bibirku erat-erat, menahan suara. Aku takut jika ada suara yang lolos, maka aku tidak akan dapat menahan diri untuk tidak berteriak.
"Ditekuk kakinya lalu dibuka lebar, Bu" pinta bidan padaku.
Bidan memaskukkan jarinya kedalam kewanitaanku. Aku rasakan nyeri saat tangannya menerobos masuk.
"Sudah bukaan lima, Bu. Sabar ya. Sebelum subuh mungkin sudah lahir anaknya. Saya permisi dulu untuk siap-siap, ya" kata bidan sambil melepas sarung tangan latexnya dan membuang di tong sampah kecil di bawah ranjang.
Tepat saat tirai dibuka, pintu ruangan VK juga membuka. Bune masuk dengan raut muka khawatir. Bune tak sanggup berkata-kata melihat kondisiku yang pucat menahan sakit.
Lalu tiba-tiba.
Bruk!!
__ADS_1
Apa yang terjadi?